
Bab 120 DPT
"Risa akan kembali ke alamnya, Sayang. Kita tak bisa mencegahnya. Begini saja, kita bawa Rama kembali ke Garuda, lalu kita buat pesta perpisahan yang berkesan untuk Risa sebelum dia kembali, bagaimana?" tanya Jaya.
"Baiklah, kalau begitu kita harus ke Pulau Merak. Kita ajak Risa biar dia merasa kalau dia belum layak pergi meninggalkan aku, bagaimana?" Ana memberikan ide yang langsung disetujui oleh Jaya.
Sang suami yang sangat merindukan kecupan cinta dari sang istri, langsung ********** dengan mesra.
Ketukan di pintu kayu itu terdengar, menghentikan cumbuan yang Jaya berikan. Ratu Melati datang menghampiri Jaya dan Ana seraya menggendong Anjaya.
"Rakyat Garuda membutuhkan Jaya, mereka sudah menunggu," ucap Ratu Melati.
"Baiklah, kali ini aku akan pastikan Kerajaan Garuda tidak akan mengalami keruntuhan lagi, Bu. Aku akan menjaga kalian dan menciptakan kedamaian di kerajaanku," ucap Jaya seraya bangkit berdiri.
"Sini Anjaya, Mommy kangen banget sama kamu," ucap Ana meminta putranya untuk dia gendong.
"Mommy?" Jaya dab Ratu Melati menatap tak percaya.
"Ibu, ibu, nggak jadi Mommy," sahut Ana meringis.
Risa tertawa seraya mengamati Ana. Ia tak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh. Ia mengusap seraya mendekat pada Ana. Risa mencoba duduk di samping sahabatnya itu.
"Kamu udah berangsur pulih dengan cepat karena kekuatan cinta yang kamu miliki bersama Jaya dan Anjay," ucap Risa.
"Anjaya, Sa! Jangan Anjay!" Ana menatapnya tajam.
"Hehehe, asik tau manggilnya. Anjaaaaayyyy!" Risa makin meledek Ana membuatnya tertawa.
"Nggak lucu! Eh, kalau kamu mau pamit kamu nggak bisa ya pergi sekarang!" cegah Ana.
"Memangnya kenapa," tanya Risa mengernyit dahi.
"Kamu kan bilang sama aku kalau kamu bisa pergi kalau aku udah bahagia, kan? Nah, aku belum bahagia," tukas Ana seraya mengerucutkan bibirnya saat menyusui Anjaya.
"Kok, belum bahagia? Kok, bisa gitu?" Risa makin tak mengerti.
"Rama belum ada di sini. Kita udah janji loh bakal jagain dia sampai dewasa dan merebut kembali kerajaan miliknya. Jadi, kamu belum bisa pergi!" titah Ana.
"Sepertinya hal itu bisa menahan aku lebih lama di sini. Ya udah kalau gitu aku akan pergi setelah Rama kembali ke sini dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun," sahut Risa.
Risa mencoba menggoda Anjaya dengan bermain cilukba tetapi bayi itu langsung menangis ketakutan.
__ADS_1
"Loh, loh, ini Tante Risa yang cantik tau! Kenapa nangis, Njay? Ana, si Anjay kenapa nangis, sih?" tanya Risa.
"Soalnya Tante Risanya jelek kayak kuntilanak kurang tidur. Tuh, mata kamu hitam gitu! Udah sana pergi, pake panggil anakku Anjay mulu lagi!" sungut Risa.
"Dih, gitu aja marah! Ya udah entar kamu make up muka aku ya. Sekarang aku mau rekaman terus tempel mata aku pakai mentimun biar nggak mata panda. Dadah Anjaaaaay!"
"Risaaaaaaaaa!" Ana memekik dengan kesal.
"Iya iya, dadah Anjaya yang ganteng!" Risa lalu menghilang menuju dapur mencari mentimun.
...***...
"Bagaimana keadaan rakyat yang terluka, Eyang?" tanya Jaya.
"Syukurlah, mereka semua yang selamat dan terluka sudah lebih baik. Lastri juga membantu saya untu sembuhkan mereka. Kami beri mereka pengobatan terbaik yang kami punya," ucap Eyang Setyo.
"Sebaiknya Eyang jangan pulang! Dirikanlah padepokan ayahku di sini. Aku membutuhkan penasehat yang baik dan jujur seperti Eyang Setyo juga. Saya harap Eyang mau mempertimbangkan permintaan saya ini," ucap Jaya.
"Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan mempertimbangkan permintaan Anda itu," ucap Eyang Setyo.
"Kenapa kau panggil aku Yang Mulia? Tetap panggil aku Nak Jaya saja," pinta Jaya sampai menahan tawanya.
Lucu juga kala Eyang Setyo memanggilnya Yang Mulia.
Eyang Setyo tersenyum dengan penuh ketulusan. Kebahagiaan begitu tersirat di wajah rentanya karena bersama Jaya, ia berhasil merebut Kerajaan Garuda kembali. Mungkin, itu adalah balas budinya pada sang murid kesayangan dulu, ayahnya Jaya.
"Baiklah, kalau begitu silakan Yang Mulia menemui para rakyat," ucap Eyang Setyo mempersilakan Jaya untuk menuju para rakyatnya.
Jaya akan berbincang dengan perwakilan dari mereka. Menyalami mereka seraya mengucapkan ucapan terima kasih karena telah bertahan membela Kerajaan Garuda bersamanya sampai saat ini.
"Aku ikut, ya," pinta Ana tiba-tiba.
"Kau masih lemah, lukamu juga belum pulih. Sebaiknya kamu istirahat saja Sayang, sama Anja," titah Jaya.
"Ummm, nggak mau ah! Lagian aku mau lihat betapa kerennya pria yang kucintai ini menjadi pemimpin rakyatnya kembali," ucap Ana.
"Anjaya mana?"
"Sama Ibu Melati," sahut Ana.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, aku akan membantumu berjalan."
__ADS_1
Tanpa permisi lagi, Ana telah melingkarkan tangannya di lengan suami tercintanya itu. Akhirnya keduanya diiringi oleh Eyang Setyo dan beberapa pengawal sang raja, melangkah menuju beranda untuk bertemu para rakyat Kerajaan Garuda.
Sesampainya beranda halaman depan, Ana memilih berdiri tak jauh dari Jaya dan mengamati pria tampan itu dengan saksama. Pria yang sangat ia cintai itu menyambut para perwakilan rakyatnya yang hadir.
Tiba-tiba, semuanya dikejutkan oleh penampakan burung garuda besar jelmaan dari Iblis Rahwana yang sengaja menampakkan diri. Burung Garuda raksasa itu tiba di beranda tersebut dan berdiri di samping Jaya.
Semua mata menatap dengan takjub ke arah seekor burung garuda yang besar dan gagah, tetapi tetap terlihat dapat bersahabat dengan Jaya, Raja Kerajaan Garuda. Burung raksasa itu juga tampak baik pada Ana.
"Wahai rakyatku semuanya!" sapa Jaya dengan suara lantang dan penuh wibawa.
Pria keturunan Mangkulangit itu kembali melanjutkan pidatonya setelah menoleh pada Ana dengan tersenyum.
"Izinkan saya untuk mengawali sambutan saya ini dengan menyampaikan penghargaan saya yang setinggi-tingginya kepada para kalian semua karena tetap bersama saya untuk merebut kembali wilayah kerajaan Garuda. Terima kasih wahai para prajurit yang rela berkorban demi peperangan melawan kekejaman Mbah Karso dan antek-anteknya! Terima kasih semuanya!" seru Jaya.
"Hidup Raja Jayanegara, hidup Raja Jayanegara!" seru para rakyat yang berada di halaman istana tersebut seraya menatap ke arah Jaya penuh kekaguman.
"Terima kasih, terima kasih sudah mempercayai perjuanganku dan perjuangan para sahabatku. Terima kasih kepada permaisuriku tercinta, ibuku tersayang, dan juga putraku." Jaya meraih Anjaya yang tadinya digendong oleh Ibu Melati.
Jaya juga meminta Ana untuk maju mendampinginya. Ia juga menoleh pada garuda raksasa yang tersenyum bangga menatap balik ke arahnya.
"Aku akan pastikan kalau aku akan mendidik putraku agar bisa membuat Kerajaan Garuda lebih sejahtera. Namun, aku tetap membutuhkan bantuan kalian. Maka dari itu bantulah aku mewujudkan kesejahteraan untuk kalian!" seru Jaya seraya mengangkat putranya lebih tinggi.
"Hidup Raja Jayanegara, hidup Pangeran Anjaya!" Para rakyat membalas seruan Jaya dengan tak kalah serunya.
Ana mengambil Anjaya dan menggendongnya. Kemudian Ratu Melati maju ke depan.
"Wahai rakyat Anathema, sambutlah kembali raja kalian, Raja Jayanegara Mangkulangit Yang Agung!" seru Ratu Melati sambil mengangkat tangan kanan Jaya ke atas penuh kebanggaan.
"Hidup Raja Jayanegara! Hidup Raja Jayanegara! Hidup Raja Jayanegara!
Hidup Raja Jayanegara! Hidup Raja Jayanegara! Hidup Raja Jayanegara!"
Seruan penuh lantang dan kebanggaan dari para rakyat terdengar bersahutan sampai membuat sang raja terharu. Ana bahkan menyambut Jaya dengan sebuah pelukan hangat dari sisi kanan saat sisi kirinya menggendong Anjaya.
"Kau memang hebat, aku mencintaimu wahai Yang Mulia," ucap Ana.
"Aku bahkan lebih mencintaimu dan Anjaya dari apa pun di dunia ini," ucap Jaya membalas pelukan Ana penuh kemesraan.
...******...
...Masih bersambung ya …...
__ADS_1
...See you next chapter!...