
Bab 136 DPT
Semakin malam, pesta pernikahan Risa dan Banyu berlangsung semakin meriah.
"Hai, Tante Risa! Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku tak menyangka kalau kalian akan berjodoh," ucap Rama memeluk teman ributnya itu.
"Terima kasih ya, Rama. Aku akan mencoba menjadi Risa yang sangat bahagia sekali," ucap Risa.
"Pasti, Tante Risa Sayang. Kalian pasti akan bahagia!" seru Rama.
"Aku akan membahagiakannya, tenang saja." Banyu muncul tiba-tiba di belakang Risa.
"Selamat ya untuk kalian. Aku bahagia sekali," ucap Ibu Melati yang mengulurkan tangan pada Risa lalu memeluknya.
"Terima kasih, Ibu Ratu. Terima kasih banyak, ya." Risa sangat terharu kala memeluk wanita itu.
"Kenapa masih memanggilku Ratu? Panggil aku Ibu Melati saja," tuturnya.
Musik dansa mulai terdengar dilantunkan. Para tamu bergegas menuju lantai dansa di area tengah pesta kebun di pernikahan Risa dan Banyu kala itu.
"Sayang, ayo kita menari!" ajak Jaya yang telah kembali dan angsung menarik lengan Ana.
"Ya ampun, sayangku. Aku malu tau!" sahut Ana.
"Kenapa malu? Ikuti saja irama musik ini, kan? Lihat saja dirimu dulu. Bukankah kau dulu ratu dansa," ucap Jaya menggoda Ana.
Banyu dan Risa langsung tertawa melihat kelakuan keduanya. Mereka juga ingin berdansa dan menyusul kedua pasangan itu.
"Selamat malam para hadirin, sekarang aku akan mempersembahkan sebuah lagu romantis untuk menemani kalian berdansa," ucap seorang bintang tamu yang Ana pesan.
Grup band favorit Risa, datang mengejutkannya dan mereka sudah berada di atas panggung itu.
"Astaga! Itu Band Sasa!" pekik Risa menatap tak percaya.
__ADS_1
"Surprised! Spesial untukmu, Sa!" pekik Ana.
Risa langsung memeluknya dengan erat.
Para tamu yang membawa pasangan maupun yang bertemu pasangan baru di sana pun berebut ke area tengah lantai dansa. Mereka tersenyum dan tertawa seraya menggerakkan tubuh sesuai irama.
"Yuhuuu! Kau jangan kaku seperti robot begitu dong!" Ana kini berseru mencibir Banyu yang menari dengan tubuh terlihat kaku seperti robot.
Rama juga menertawainya.
"Ah, kau ini!" Banyu bersungut-sungut.
Jaya makin tertawa saat berdansa bersama Ana. Dia menatap wajah cantik istrinya dengan lekat.
"Sudah, biarkan saja mereka! Kita nikmati pesta malam ini," ucap Jaya mengajak Ana menjauh.
Suara pria yang bernyanyi terdengar sumbang, tetapi para tamu berusaha menikmati dan memberi semangat pada pria itu.
"Kok, suaranya jadi jelek?" gumam Ana melirik sekilas.
Semua tamu undangan kembali untuk berdansa. Para tamu pun akhirnya banyak yang mengikuti berdansa berpasangan ke area dansa. Mereka bertukar pasangan dansa dan saling tertawa saling bergantian pasangan berdansa menikmati alunan lagu yang diperdengarkan.
Suasana pesta pernikahan Banyu dan Risa sangat meriah malam itu. Keduanya saling tertawa dan menatap satu sama lain. Akhirnya mereka dapat merasakan kebahagiaan seperti itu lagi tanpa ada pengganggu. Wanita yang sedang menjadi ratu sejagat di malam pernikahannya itu memeluk sang suami dengan erat kala itu.
Sementara itu di dekat kebun, Ratu Melati memandang langit malam yang bermandikan cahaya bulan dan kerlip bintang.
"Mas, apa kau sedang melihat pernikahan kebahagiaan kami dari sana? Aku yakin kau sedang melihat kami. Lihatlah Jaya anakmu akan tumbuh menjadi Raja Garuda yang bijaksana. Menantu kita juga sangat sayang padanya. Cucu kita juga tampan dan aku yakin akan menjadi penerus Mangkulangit yang tak kalah hebatnya dengan Jaya."
Ana dan Jaya mendekati Ratu Melati.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?" tanya Jaya.
"Berbicara dengan ayah dan ibumu." Ratu Melati terlihat menyeka bulir bening di sudut matanya.
__ADS_1
"Ayahanda pasti bahagia melihat kita dari sana. Terima kasih ya Bu, terima kasih sudah menjaga ku dan Kerajaan Garuda. Terima kasih sudah merawatku dan memberikan aku kasih sayang," ucap Jaya.
"Maafkan aku ya ayahanda, aku pernah menuduh Ibu Melati jahat," ucap Ana menimpali.
Ratu Melati lantas memeluk Ana dan Jaya. Perjuangan Jaya dan Ana dalam menjaga Raja Garuda mungkin belum akan terhenti. Biar bagaimanapun juga, akan tetap ada manusia jahat yang mengincar kekuasaan nusantara.
Maka dari itu, demi menjaga Kerajaan Garuda, Jaya dan Ana serta lainnya, akan tetap selalu ada bersama kawanannya untuk mempertahankan nusantara.
Terdengar teriakan dari dalam pesta Risa dan Banyu.
"Ada gorila! Ada Gorila!"
Para tamu berhamburan pergi dari dalam area pesta. Jaya menghentikan salat satu tamu yang datang.
"Ada apa, Pak Roji?" tanya Jaya.
"Ada gorila besar, Pak! Dia ngacak-ngacak makanan tamu!" serunya lalu pergi.
Jaya dan Ana saling menatap lalu masuk ke dalam area pernikahan.
"Anaaaaaaa! Itu si Anjay bawa gorila nya ngacak-ngacak kue aku!" pekik Risa.
"Yaa Allah, Anjayaaaaaaa! Gokanaaaaaa! Apa yang kalian lakukan?!" pekik Ana seraya berkacak pinggang.
"Mbuuuu, uwe tinggi enyak!" seru Anjaya.
Dia mengatakan kalau dia sangat menyukai kue tinggi itu. Dan memang Anjaya sudah mengincar nya sedari tadi.
"Maafkan saya Paduka Raja dan Ratu, Anjaya meminta kue itu sedari tadi. Dan entah kenapa dia malah mengajukan seraya membawa Gokana untuk makan kuenya," ucap Burhan.
"Hadeh…." Ana dan Jaya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara Rama tampak tertawa seraya merekam video kelakuan Anjaya dan Gokana yang merusak kue pernikahan Risa dan Banyu.
__ADS_1
Di tengah kewalahan Ana mengurus Anjaya dan mengontrol kekuatan anak itu, dia sangat bersyukur memiliki Jaya, Risa, dan lainnya bersamanya. Dia bersyukur karena Tuhan telah mengubah dirinya menjadi orang yang lebih baik.
...***** Happy Ending *****...