Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 71 - Hantu Usil di Rumah Lela


__ADS_3

Bab 71 DPT


Bu Sri meminta Ana dan yang lainnya menginap. Dia bahkan meminta Ana tetap di sana sampai kasus Lela selesai. Paling tidak sampai Indra Kartanegara berada di sel tahanan. Perasaan Bu Sri tak enak dan ia yakin keluarga Indra pasti akan datang mengintimidasi keluarganya.


Malam itu setelah para tetangga yang mengikuti tahlilan pulang, Ana sedang berada di kamar mandi. Sosok pocong wajah merah itu muncul dan berdiri di sudut. 


"Apa liat-liat?!" tukas Ana seraya menyiram pocong itu dengan air gayung.


"Aduh! Aku cuma mau nakutin doang, kok. Eh, iya aku lupa kalau kamu bisa lihat saya," ucapnya.


"Kamu mau apa di sini?" tanya Ana yang  melotot tajam ke arah pocong perempuan itu.


"Loh, kalau kamu boleh di sini kenapa saya enggak," sahut nya malah menantang Ana.


"Manusia kalau ke sini mau buang hajat. Nah, kamu sendiri mau ngapain ada di sini? Emang nggak bau apa kalau nungguin orang buang hajat?" tanya Ana.


"Saya cuma mau kenalan kok sama kalian. Apalagi pocong tampan tadi. Hai, namaku Ani," ucapnya.


"Mbak pocong, eh Mbak Ani, saya kasih tau, ya. Pocong tampan tadi itu suami saya! Jadi, kalau kita nggak mau kenalan gimana?" tanya Ana yang berada di hadapan pocong itu.


"Ih, jadi manusia kok sombong banget, sih!"


"Heh, mana ada manusia normal mau kenalan sama pocong?!" ketus Ana.


"Lah, kamu kan tadi bilang kalau pocong tampan tadi suami kamu, jadi kamu bukan manusia normal! Kalau gitu aku kenalan sama cowok ganteng yang itu aja, deh." Ani lalu mendekat ke Jaya.


"Eh, udah dibilang nggak bisa ya. Kamu nggak bisa kenalan sama dia! Dia itu suami aku! Semua yang ada di tubuhnya dan hatinya punya aku!" Ana langsung merentangkan kedua tangannya di hadapan pocong wajah merah itu.


"Terus siapa dong yang mau kenalan sama saya? Cowok itu boleh?" Pocong Ani menunjuk ke arah Bayu.


"Ada apa sih ribut-ribut gini?" tanya Risa yang menghampiri Ana bersama Bayu dan Jaya. Lela juga ikut menyusul.


"Nih, si pocong ngajak ribut!" Ana menunjuk pocong yang wajahnya merah tadi.


"Dih, aku kan cuma mau kenalan aja sama pocong itu. Terus kamu bilang nggak boleh. Sekarang aku mau kenalan sama mas yang itu!" tunjuk Ani.


Bayu langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali dan berlari ke kamar.


"Sama pocong yang di pohon jambu aja, yuk! Katanya Leli suka ada pocong juga di situ. Kayanya ganteng, baik hati, tidak sombong, dan pintar nabung. Kamu kenalan aja sama dia!" Lela meminta pocong itu agar pergi.


"Awas ya kalau kamu bohong," ancam pocong Ani.


"Kan aku bilang kata Leli. Coba aja sana, daripada nanti aku ikut ke sana terus ternyata dia naksir aku, gimana?" ucap Lela meledek Ani.


"Dih, mentang-mentang cakep, sombong!" cibir Ani.


"Emang aku cantik! Siapa dulu, anaknya Bu Sriiiiii." Lela berlenggak lenggok layaknya model.


"Percakapan hantu macam apa ini?" Ana menggelengkan kepalanya seraya melangkah menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.


"Oke deh aku ke sana dulu. Oh iya, rumah di seberang sana yang udah lama nggak digunakan. Ummm … katanya sih ada yang nempatin, tapi dianya galak banget. Apalagi sama ibu hamil. Kalian hati-hati, ya," ucap pocong Ani.


"Tunggu, Mbak Ani. Dianya itu manusia apa setan?" tanya Jaya.


"Setan, hihihihi!" Pocong Ani lalu melompat dengan cepat ke luar rumah.


"Perasaan itu ketawanya kuntilanak,  kenapa jadi dia yang ketawa ngikik," gumam Risa lalu menyusul Ana.


"Mbak Risa, minta tolong ambilkan pisang di dipan samping rumah!" titah Bu Sri.


"Oke, Bu." Risa sebenarnya terpaksa melakukannya. Namun, dia tak bisa menolak. 


Saat Risa mencari beberapa sisir yang sudah masak, mendadak ia berteriak karena melihat ada seekor biawak yang tengah berada di sana. Tak lama kemudian, Bu Sri muncul membawa gagang sapu. Ana juga datang dengan gagang pel bersama Leli. Risa tak sengaja terantuk sisi pintu saking takutnya.


"Kamu nggak kenapa kenapa kan, Sa? 

__ADS_1


Kamu pusing, nggak?" tanya Ana.


"Aduh, pusing sedikit," sahut Risa.


"Aku buatin teh manis, ya? Kayaknya Mbak Risa shock gara-gara biawak," ucap Leli.


"Nggak usah, Lel. Air putih aja." Risa menunjuk air mineral dalam kemasan gelas di meja nakas samping bufet TV. Leli segera mengambilkannya.


"Jaya ada di mana ya, Sa?" tanya Ana.


"Kayaknya keluar mau patroli katanya tadi," sahut Risa.


"Terus si Bayu ada di mana?" tanya Ana.


"Tadi ibu minta tolong buat nuang air bersih ke panci. Mungkin dia masih di belakang," sahut Bu Sri.


"Oh, gitu. Coba aku susul," ucap Risa.


Namun, saat dia hendak menghampiri Bayu ke dapur, tiba-tiba terdengar suara Bayu memanggil dari ruangan belakang.


"Kenapa, Bay?" seru Risa. 


"Coba kamu ke sini dulu, bantuin aku nyari gayung kecil yang jatuh tadi!" teriak Bayu.


Namun, belum sempat Risa menghampiri Bayu, pemuda itu sudah berlari dan langsung memeluk Risa secara tak sengaja. Ana dan yang lainnya jadi terheran-heran dengan sikap Bayu yang tiba-tiba ketakutan seperti itu.


"Kamu kenapa?" tanya Ana pada Bayu.


"Tau nih Bayu main peluk aja!" Risa mendorong Bayu agar lepas dari pelukannya.


"Di dapur ada yang lempar gayung ke aku, Sa. Terus ada juga suara perempuan, seperti berbisik. Tapi pas aku lihat sekeliling dapur, nggak ada siapa pun!" ucap Bayu sambil kembali memeluk Risa.


"Ih, lepas!" seru Risa.


"Itu ada hantu yang mau bantu kamu cari gayung kali," ucap Ana tersenyum meringis.


"Lah, emang iya nggak beres makanya kita masih ada di sini, kan?!" sungut Risa.


Ana lantas menuju ke arah dapur.


"Ana mau ke mana?" tegur Risa.


"Mau ke dapur lah, aku kepo."


Ana lalu menuju dapur sendirian, meninggalkan mereka di ruangan depan. Risa juga masih sibuk menenangkan Bayu yang masih ketakutan.


Ana lalu memperhatikan sekeliling dapur. Ia melihat setiap sudut ruangan di belakang rumah. Di dekat dapur, ada jalan masuk sejenis gang kecil yang mengarah ke kamar mandi tadi. Ana lalu mengecek semuanya, tetapi tak menemukan apa pun selain bulu kuduk yang makin meremang. Dan di situ justru hawanya makin terasa panas.


"Halo, kamu Ani ya yang ganggu Bayu? Hayo muncul!" kata Ana setengah berseru.


Tak ada apa pun yang muncul dan menghampiri. Tak ada juga sosok Ani. Ana masih memperhatikan isi dalam gudang dengan saksama. Sudut mata mengitari seisi ruangan gudang dengan sangat rinci. Suasana yang benar-benar gelap dan penuh debu.


Ana masih terus fokus memperhatikan setiap sudut di ruangan itu sampai tersadar, ada yang memegang bahunya dari belakang. Ia langsung terkejut kaget dan menoleh.


"Kamu sedang apa di sini, Nak?" tanya Bu Sri.


"Tadi ada yang gangguin Bayu, Bu," ucap Ana.


Bu Sri hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa gudang ini hanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang sudah lama tidak dipakai. 


"Jadi, kalau ada gangguan makhluk halus sepertinya wajar, ya," ucap Bu Sri.


"Oh, begitu…." Ana mengangguk - angguk.


Namun, tiba-tiba saja saat Ana mau bertanya lagi, Bu Sri malah sudah menghilang.

__ADS_1


"Wah, aku dikerjain nih." 


Ana sampai tak sengaja tersandung gagang sapu. Suara cekikikan seorang perempuan terdengar. Ana menoleh pada sosok hantu kuntilanak yang bersembunyi di atap. Kedua matanya melotot dengan tawa menyeringai.


"Oh, jadi kamu yang dari tadi gangguin aku?!" Ana bertolak pinggang lalu dia melempar sapu itu ke arah kuntilanak tadi.


"Aduh!" pekik hantu perempuan itu.


"Syukurin, luh! Awas ya kalau nanti iseng lagi. Bukan cuma sapu yang aku lempar tapi juga tabung gas!" ancam Ana.


"Dasar ibu hamil menyebalkan!" keluh hantu perempuan itu lalu pergi melayang ke rumah seberang.


...***...


"Mbak Ana, udah tidur?" tanya Leli mendekat.


"Belum, ada apa Leli?" Ana mengubah posisi tidurnya jadi duduk.


"Mbak Ana, aku mau curhat sama Kak Lela. Apa dia masih di sini?" tanyanya.


"Masih, kok. Lela bakal hilang pergi dengan tenang kalau udah dikubur," sahut Ana.


"Ummmm, Mbak Ana nggak ngantuk, kan? Nggak keberatan jadi perantara pembicaraan aku sama Kak Lela?" tanya Leli.


Ana menggeleng. Dia bersedia melakukannya. Setelah satu jak berbincang, Ana mulai ngantuk. Sehingga Risa dengan terpaksa menggantikannya untuk menjadi perantara antara Lela dan Leli. Sampai akhirnya Risa tak kuasa juga menahan kantuknya.


...***...


Jaya melihat dua orang mencurigakan muncul dari rumah di seberang. 


"Heh, kamu mau aku temenin ke sana, nggak?" Pocong Ani tiba-tiba muncul mengejutkan Jaya.


"Ih, dasar setan! Muncul ngagetin aja!" sungut Jaya. 


"Lah, kamu juga setan!"


"Aku masih hidup tau! Aku cuma kena santet jadi arwah aku keluar jadi pocong gini," ucap Jaya membela diri.


"Percaya aja lah! Eh, ayo kalau mau aku anter ke sana. Aku juga curiga sejak kapan ada manusia yang tinggal di sana. Mencurigakan, bukan?" tanya Ani seraya melompat ditemani Jaya.


"Jadi selama ini yang ada di sana itu apa?" tanya Jaya lagi.


"Kuntilanak! Dia galak tau. Suka sensi juga kalau ada ibu hamil suka digangguin. Soalnya dia mati pas lagi hamil enam bulan terus kecelakaan. Jadi semenjak itu dia benci sama ibu hamil." Ani menjelaskan. 


Jaya melihat sebuah rumah terbengkalai yang menggunakan latar khas rumah Belanda zaman dahulu. Rumah itu lumayan besar, halaman juga luas dan terasa sejuk. Ada beberapa pohon jambu biji di halaman depan dan pohon mangga di samping rumah.


Dua orang mencurigakan tadi, memarkirkan motornya di samping rumah. Lantas mereka berbincang merencanakan sesuatu.


"Sepertinya, penghuni rumah ini memiliki pengaruh kuat, hingga meskipun kita sudah berpengalaman dalam hal mistis, kita masih tetap merasakan hawanya," tukas Jaya secara tiba-tiba. 


"Ih, kok tahu? Wah, kamu kayak dukun aja," ucap Ani.


"Nggak tau keceplosan aja ngomong gitu. Eh, pemilik rumah ini ke mana?" tanya Jaya.


"Pindah ke kota. Terus yang disuruh ngerawat ya suami istri itu. Si istri meninggal pas pagi hamil, suaminya stres terus bunuh diri," kata Ani menjelaskan. 


"Terus, hantu suaminya ke mana?" tanya Jaya.


"Udah lama hilang. Katanya istrinya marah marah mulu, dia nggak tahan. Jadi suaminya milih pulang duluan, hahaha. Kasian ya istrinya gentayangan sendirian," ucap Ani.


"Lah, kocak amat itu cerita persetanan," sahut Jaya.


...******...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2