Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 21 - Ancaman dari Ana


__ADS_3

Bab 21 DPT


Ana dan Risa menyusun rencana agar bisa kabur dari Kerajaan Garuda. Sayangnya, saat Ana membuka pintu kamar, dia melihat sosok Jaya dalam bentuk pocong. Roh Jaya telah keluar dari tubuhnya dalam bentuk pocong. Akan tetapi, wajah Pocong Jaya tidak menyeramkan. Pria itu masih terlihat tampan. Meskipun begitu, Ana tetap tak sadarkan diri kemudian kala melihat pocong Jaya.


"Nona Ana, bangun!" Jaya berjongkok mendekati Ana.


"Duh, ribet banget baju ini!" Jaya kemudian mengeluarkan tangannya dan menepuk pipi Ana.


Perempuan itu terjaga dan mencoba untuk meyakinkan diri membuka matanya. Ia terperanjat kala melihat wajah tampan seorang pria sedang tersenyum hangat di hadapannya.


"Pergi! Pergi! Jangan hantui aku!" pekik Ana.


"Nona Ana, jangan nakutin saya, dong! Kamu bilang tadi kamu lihat pocong, ya? Dia ada di sini ya mau nakutin kita?" tanya Jaya dengan polosnya.


"Kamu pocongnya Jaya!" pekik Ana lagi sembari mencoba untuk menghindari Jaya.


"Hah? Aku pocongnya?!" Jaya menunjuk dirinya sendiri tak percaya.


"Ngaca sana kalau nggak percaya!" seru Ana.


Jaya bangkit dan menghampiri cermin di lemari kamar Ana. Tak ada apa pun yang ia lihat di sana.


"Aku nggak lihat apa-apa, Nona Ana," ucap Jaya.


"Ya itu semua karena kamu pocongnya, makanya bayangan kamu nggak ada di cermin," sungut Ana akhirnya setelah meyakinkan diri kalau Jaya tak menakutkan.


Toh, wajah pria itu memang masuk kriteria pria tampan untuk Ana. Perempuan berparas ayu itu bangkit dan mendekati Jaya. Ia mengamati Jaya seraya memutarinya.


"Jadi, sekarang aku hantu?" tanya Jaya seraya mengamati kedua tangannya dan tubuhnya sendiri.


"Hmmm, coba ikuti aku! Aku akan memastikan sesuatu tentangmu," ucap Ana seraya menarik tangan Jaya yang terasa dingin itu.


Namun, Jaya kesulitan untuk berjalan sehingga ia harus terbiasa untuk melompat.


"Tunggu! Kenapa aku bisa menyentuhnya?" Ana kembali menoleh pada Jaya.


Dia melepas genggaman tangannya lalu menusuk pipi Jaya dengan ujung telunjuknya. Tak puas meyakinkan hati sampai di situ, Ana lantas menampar pipi Jaya.


Plak!


"Awww! Aku salah apa sampai Nona Ana menamparku?" tanya Jaya tak mengerti.

__ADS_1


"Wow, aku bisa menyentuhmu rupanya meskipun kau dalam bentuk seperti ini," lirih Ana.


Akan tetapi, Ana melayangkan kembali tamparan kerasnya ke pipi Jaya.


"Awww! Nona Ana kenapa, sih?! Ini sakit tau!" seru Jaya.


"Ini karena kau membuatku bangkrut! Kau tahu tidak kalau video mesum kita sudah tersebar dan membuatku bangkrut? Kalau saja malam itu aku tak bertemu denganmu, mungkin saja aku sudah semakin sukses dan bisa menjadi usahawan muda nomor satu di Kota Metropolitan," sungut Ana.


"Vi-video apa? Video mesum yang bagaimana?" Jaya tak mengerti.


Ana lantas meraih ponselnya dan menunjukkan video tersebut pada Jaya.


"Astaga! Ini kita? Wah, kau benar-benar wanita yang ganas," ucap Jaya.


"Sialan! Kalau saja wajahmu yang tampak di video ini, pasti orang-orang akan tahu bagaimana kau sangat menikmatinya dan menyukainya, ya kan?" Ana menarik ikatan pocong Jaya dengan kesal.


"Tentu saja saya suka!" sahut Jaya dengan yakinnya.


"Hissssh, dasar pocong mesum! Ayo, ikut! Aku mau memastikan sesuatu dulu!" Ana lantas mengajak Jaya ke sebuah ruangan di mana Jaya dirawat.


Tubuh Jaya masih berbaring di kamar tersebut dengan beberapa alat bantu yang menempel. Detak jantungnya juga masih terasa.


"Jadi aku masih hidup?" tanya Jaya.


"Ya, untuk saat ini kau masih hidup. Tapi, aku tak tahu bagaimana dengan dirimu nantinya," jawab Ana.


Tiba-tiba, Widi masuk ke dalam ruangan mengejutkan Ana.


"Nah, dia ada di sini!" seru Widi.


Tak berapa lama kemudian, beberapa pengawal datang untuk menangkap Ana.


"Ada apa ini, Mbak Widi?" tanya Ana tak mengerti.


"Maaf, Tuan Putri. Kanjeng Ratu mencari Anda dan meminta kami untuk menangkap Anda," ucapnya.


"Hah? Menangkap aku? Atas dasar apa?" Ana mencoba memberontak.


"Mbak Risa sudah ada di ruang tengah, Tuan Putri. Anda bisa menjelaskan semuanya di sana nanti," ucap Widi.


Kedua pengawal tadi lantas mencengkeram Ana dan membawa paksa perempuan itu untuk mengikuti langkah Widi.

__ADS_1


"Heh, mau dibawa ke mana istriku itu?" Jaya mencoba mengejar dan memukul tangan salah satu pengawal, tetapi ia tak bisa menyentuhnya.


Ana bahkan terperanjat dengan yang ia lihat barusan. Jaya tak bisa menyentuh para pengawal dan Widi, tetapi Jaya bisa menyentuhnya. Entah kenapa bisa terjadi seperti itu. Kini, langkah Ana terpaksa mengikuti tarikan para pengawal.


Ratu Melati dan Raja Sumardjo menyambut kehadiran Ana dengan tatapan yang tajam setajam silet.


Aksi Ana dan Risa yang hendak melarikan diri, rupanya sudah diketahui oleh dayang kepercayaan Ratu Melati yang bernama Widi tersebut. Widi mengadukan aksi Ana dan Risa pada sang ratu.


Ratu Melati lalu memerintahkan pengawal untuk menangkap Risa lebih dulu. Risa sebenarnya memelas memohon pertolongan dari Widi. Namun, wanita itu lebih memilih setia pada sang ratu ketimbang membela Risa. Lalu, Risa yang tertangkap akan diadili.


"Kau tau hukuman bagi para pencuri?" tanya Ratu Melati pada Ana.


Ana menggeleng lemah.


"Dia akan dibawa ke aula kerajaan dan dipertontonkan ke khalayak ramai. Bagaimana mengadili pencuri tersebut? Ya, tentu saja dengan cara dipotong tangannya di depan aula kerajaan. Hukuman yang biasa digelar bagi para pencuri dan disaksikan para warga," ucap sang ratu penuh ancaman. Risa hanya menunduk sembari menangis dengan kedua tangan terikat ke belakang serta dalam posisi duduk berlutut. Dia sangat ketakutan.


"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu! Maafkan kami Kanjeng Ratu, aku mohon maafkan kami," ucap Ana.


"Sayang sekali, tidak ada pengampunan bagi pencuri," ucap sang ratu.


Demi menolong Risa, Ana dengan nekat meraih keris milik pengawal. Dia memohon pada Ratu Melati untuk melepaskan Risa. Ana mengaku kalau dia yang meminta Risa mencuri.


"Apa yang akan kau lakukan dengan keris itu?" tanya sang raja menatap sinis pada Ana.


"Jika kalian tidak menyanggupi untuk membebaskan Risa, maka aku akan menghilangkan nyawa si jabang bayi ini. Bayi yang kalian tunggu-tunggu untuk menyelamatkan Jaya dan kerajaan, bagaimana?" Ana mengarahkan keris tersebut ke arah perutnya sendiri.


"Ana, Jangan lakukan itu!" Risa mulai panik.


"Kau tahu kan Sa, bagaimana nekatnya aku," ucap Ana.


Ana tersenyum menyeringai penuh ancaman kala menatap sang ratu dan sang raja. Kepanikan mulai terjadi. Ratu Melati dan Raja Sumardjo juga sudah saling tatap dan tak bisa menyembunyikan rasa khawatir mereka.


"Nona Ana, jangan lakukan itu!" Jaya mendekat dan mencoba menarik keris dari tangan Ana.


"Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu, Jaya!"


Semua mata menatap Ana dengan bingung. Mereka semakin tak mengerti dengan siapa Ana berbicara.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


__ADS_2