Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 91 - Bertemu Eyang Setyo


__ADS_3

Bab 91 DPT


"Lagian sih, kamu masih pakai mukena. Pasti si Risa nyangka kamu setan, nih," ucap Jaya. 


"Lah, kamu sendiri masih pakai kafan pocong. Lebih serem lagi dan tampak nyata," sungut Ana.


"Iya juga ya, aku yang beneran pocong gini harusnya dia takut sama aku hihihi." Jaya tertawa kecil.


"Bantu gotong, Sayang! Bawa ke kasurnya!" pinta Ana.


"Oke," sahut Jaya.


Mendengar kegaduhan yang diciptakan Jaya dan Ana, Juna terbangun. Pria itu terperanjat kala melihat tubuh Risa melayang menuju kamarnya.


"A-ana, Ana pergi dari situ!" pekik Juna ketakutan.


"Eh, nggak usah takut. Ini Risa lagi digotong sama Jaya, suami aku," sahut Ana.


Namun, tubuh Juna sudah lunglai. Kedua kakinya gemetar saat melihat adegan Risa melayang tadi.


Ana meminta minyak kayu putih pada Siti. Tak lama kemudian, Risa akhirnya terjaga.


"Hehe, maaf ya Sa. Tadi aku yang pake mukena," ucap Ana.


"Terus itu si Juna kenapa ngegeletak duduk di situ?" tanya Risa.


Jaya asik menwrtawai Juna kala itu.


"Syok dia gara-gara lihat kamu digotong Jaya kayak orang melayang," ucap Ana seraya terkekeh kemudian.


...***...


Hujan deras turun disertai kilatan guntur menyambar-nyambar. Angin berembus kencang mengguncang ranting-ranting di dahan pohon tinggi. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki berlari menapaki tanah yang sudah berlumpur di atas jalanan yang tak rata. Di samping kiri kanan jalan tak ditemui seberkas cahaya apa pun.


Berbekal dengan perasaan kalau sedang berada di jalanyang benar, kedua orang tersebut tetap menempuh medan yang sukar disinggahi. Hanya pohon-pohon tinggi menjulang yang menjadi saksi dari dua orang pria yang baru saja melintas di bawahnya, menutupi kepala dengan selembar kain sarung dari percik hujan yang turun tiada henti malam itu.


Bersama-sama, mereka menempuh perjalanan yang sulit, berlari menuju setitik cahaya berwarna jingga dari seberang sebuah rumah besar yang berada di ujung palung.


"Eyang, nggak apa-apa kan?" tanya pria bernama Toto itu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, To. Ayo, diteruskan saja perjalanan ini!" jawabnya.


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu diketuk di rumah Siti. Ana memberamika diri membukanya. Siti juga terbangun dan bergegas keluar dari kamarnya. 


"Biar saya saja yang buka pintunya, Mbak," cegah Siti.


Gadis itu lalu membuka pintu tersebut. Tak berapa lama kemudian, terlihat seorang pria paruh baya dengan tahi lalat di dagu, mengenakan pakaian serba hitam. Di sampingnya ada pemuda jelas Siti kenal kala ia membuka pintu rumah. 


Siti terdiam sejenak memandang dua orang pria yang sedang berdiri di ambang pintu. Satu berperawakan tinggi besar dengan otot-otot di lengan, wajahnya tampan bermata tajam dengan rambut panjang dikuncir. Satunya lagi juga tak kalah tinggi, hanya badannya saja yang mulai renta. Meskipun terlihat kurus kering seperti tidak pernah diurus, tetapi justru dia lah Eyang Setyo yang sedang dicari oleh Ana.


Rupanya, Totok datang bersama Eyang Setyo, tetapi pria paruh baya itu langsung terperanjat kala melihat sosok Jaya. Wajahnya mengingatkannya akan murid kesayangannya, Raja Sumardjo.


Namun, Eyang Setyo memilih untuk tidak memerhatikan dan menanyakan sosok pocong tampan itu lebih dulu. Dengan muka lusuh Eyang Setyo dan Toto saat menatap le arah para tamu yang masih berdiri diam memandang mereka dengan


pandangan penuh curiga.


"Siapa mereka ini? untuk apa mereka datang ke rumah ini?" Toto berpandangan selama beberapa saat dengan Juna, Bayu, Ana, dan Risa sebelum salah satu dari mereka itu akhirnya berkata, "Saya Juna, kepala polisi wilayah sepuluh desa di sini, termasuk Desa Seranggan. Saya datang ke sini menemani Mbak Ana untuk menyampaikan amanat dari Mbak Mimin."


"Mimin?" Toto mengernyit.


"Mimin meninggal? Dia memang ingin mengembalikan mas kawin tetapi saya baru tau kalau dia meninggal," kata Toto meskipun masih tak mengerti maksud dari Ana yang berambut dikuncir kuda tersebut. 


Ana lalu mengangguk dan menjawab, "meninggal karena kecelakaan, Mas. Terhindar truk tronton."


"Apa? Tidak, itu nggak mungkin! Mimiiiiiiiin!" Toto berteriak seraya berlari ke luar rumah menghadap ke arah angkasa di tengah hujan deras itu.


"Biarkan saja, Eyang. Itu si Marimin yang dulu ngejar-ngejar Mas Toto. Terus dia operasi plastik biar jadi cewek," ucap Siti seraya menyerahkan handuk pada Eyang Setyo.


Mendengar nama itu, wajah si pria paruh baya tampak terkejut sebelum akhirnya beliau mengerti maksud dari si Situ. Namun, wajah khawatir diikuti ekspresi curiga masih tergambar jelas di garis wajahnya. 


"Dia yang kirim santet ke sini, kan? Genderuwo itu masih mengganggu Mbah mu?" tanyanya.


Siti menggangguk.


Eyang Setyo dan Siti melangkah masuk sembari membungkukkan badan melewati pintu rumah kayu tersebut. Di dalamnya, mereka melihat Jaya yang didekati Ana. Mereka berkumpul di ruang tengah menatap Eyang Setyo dengan sorot mata yang menelisik. Pandangannya menyelidik jauh lebih kelam dibandingkan pria paruh baya saat pertama kali melihat mereka.


"Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai. Mimin telah menanam keburukan maka akan berbalik keburukan padanya juga. Dan dia telah mendapatkannya," ucap pria paruh baya menjelaskan kepada Siti.

__ADS_1


Siti yang mengenakan daster panjang dengan rambut diikat tali berjalan menuju dapur, lalu kembali dengan sebaskom berisi beras ketan. Wajahnya tampak cemberut menatay dengan sorot mata sinis ke arah Eyang Setyo.


"Tapi, Eyang … apa ada keburukan yang Mbah Ijah lakukan? Dia kan orang baik," kata Siti.


 "Apa dia tak pernah mengatakan ke padamu kalau ia juga mengirim teluh pada Mimin dan keluarganya? Pasti tidak, kan?" Eyang Setyo lantas berdehem.


Pria paruh baya itu masuk ke kamar usang itu, lalu mendekati Mbah Ijah. Dia mengusap pundak wanita paruh baya itu dengan lembut. Wajahnya sayu sembari mencoba menenangkan.


"Bagaimanapun juga sudah tak ada pilihan. Pasrah dan ikhlas saja, itu pilihan yang tersisa," ucap Eyang Setyo.


Mbah Ijah menoleh dengan tatapan tajam, melotot. Dia mencengkeram tangan pria paruh baya itu dengan erat. Wanita tua itu lantas menggeram. Mbah Ijah bangkit, kemudian berjalan mendekati Siti. Ia melihat lebih jelas seluruh orang yang ada di dalam rumah tersebut. Sampai pandangannya tertuju pada sosok Toto. 


"Bencong saja kau tangisi! Hahahaha!" Mbah Ijah menunjuk ke arah Toto seraya tertawa.


Bayu dan Risa malah menahan tawa. Mereka menyembunyikan diri di belakang Juna dan Ana. Sementara itu Jaya sudah tak bisa menahan tawanya kala melihat situasi yang harusnya menegangkan.


"Eh, Mbah Ijah bisa ngomong ternyata," bisik Ana.


"Itu khodamnya yang dibangkitkan sama Eyang Setyo," ucap Siti yang mendengar bisikan Ana.


Padahal Ana ingin berbisik ke Jaya, tetapi Siti malah salah kira.


"Tapi, aku cinta sama dia, Mbah!" Toto bersikeras di tengah hujan deras itu.


"Cah gemblung! Guoblok mu ra ilang ilang, Tok!" Mbah Ijah menyeringai.


"Wes, ayo masuk lagi! Sudah hentikan atau Ijah akan semakin lemah." Eyang Setyo menepuk bahu Mbah Ijah.


Tiba-tiba, wanita tua itu malah bersikap seperti anak kecil yang manja. Ia berjalan maju mendekati Jaya, menatap dalam dirinya seraya menunjuk ke sebuah pintu yang ada di belakang. Pintu itu berwarna kusam dengan gagang pintu yang diikat dengan tali. Ada daun kelor yang menggantung di tali tersebut. 


"Ikut aku, Pak Lek!" ucap Mbah Ijah yang terdengar seperti nada suara anak perempuan. 


Jaya melihat pada Ana yang lantas melihat ke arah Eyang Setyo. Pria paruh baya itu mengangguk.


...******...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter. ...

__ADS_1


__ADS_2