Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 70 - Pengagum Rahasia Ana


__ADS_3

Bab 70 DPT


"Selamat siang! Apa betul ini kediaman Bu Sri Lestari, ibunya Lela Sari?"


Sapa polisi tampan bernama Arjuna itu seraya memberi hormat pada si pemilik rumah. Juna tak tahu kalau ia menginjak tangan Lela.


"Aduh! Aduh! Kok dia bisa nginjek aku, sih? Aduh sakit!" pekik Lela yang akhirnya terbangun lalu bangkit berdiri.


"Iya, Pak. Betul ini rumahnya Lela. Ada apa dengan anak saya, Pak? Apa dia tertangkap di kantor polisi? Memangnya kejahatan apa yang dia buat, Pak?" tanya Bu Sri dengan panik.


"Tunggu dulu–" Ana berusaha memotong ucapan Juna tapi gagal.


"Anak ibu yang bernama Lela ditemukan tewas di gudang dekat hotel, Bu," ucap Juna padahal sempat mau dicegah oleh Ana karena curiga kalau ibunya Lela pasti akan pingsan.


Benar saja kecurigaan Ana terbukti. Bu Sri tak sadarkan diri kemudian ke arah Bayu.


"Waduh! Dia pingsan juga! Mbak Ana, ini gimana nih?" tanya Bayu yang menoleh ke Ana karena Bu Sri tepat jatuh di pelukannya.


"Ya digotong ke dalam, Bay! Masa mau dibiarin tidur di sini!" sahut Risa dengan nada yang sudah meninggi menahan kesalnya.


"Bawa ke dalam, Bay!" titah Ana.


"Bantuin dong, Pak Pol! Gara-gara bapak juga si ibu ini pingsan," sungut Bayu.


Juna lalu membantu Bayu untuk membopong tubuh Bu Sri dan meletakkannya di atas bangku dipan miliknya.


"Ibu! Ada apa dengan ibuku?!" Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun terkejut melihat ibunya dalam kondisi tak sadarkan diri terlebih lagi banyak orang asing di rumahnya.


"Dek, punya minyak kayu putih? Tolong bawa sini!" pinta Ana.


Anak perempuan itu lantas mencari minyak kayu putih dalam laci kamarnya lalu menyerahkannya pada Ana. Tak lama kemudian, Bu Sri terjaga dari pingsannya. Ia lantas mencari anak perempuan yang bernama Leli Tari.


"Li, kakakmu udah nggak ada huhuhuuuuu!" Bu Sri memeluk putri bungsunya.


"Kok, bisa Bu?" Leli ikut menangis juga akhirnya.


Juna menanyakan kenapa Ana bisa sampai di rumah tersebut. Setelah menatap ke arah Jaya, Risa, dan Bayu yang sama-sama mengangguk, akhirnya Ana menarik napas dalam. Lalu, Ana menceritakan pertemuannya dengan hantunya Lela. Termasuk kejadian pembunuhan yang menimpa Lela.


Awalnya tak ada yang percaya, bahkan Juna hanya bisa menahan tawa tetapi tetap berusaha terlihat berwibawa di depan Ana. Namun, Lela memberikan petunjuk yang hanya dia, adiknya, dan ibunya tau.

__ADS_1


"Bilang sama ibuku kalau dia suka nyanyi lagu Denpasar Moon sambil goyang ngebor," ucap Lela.


Ana dan Risa dan yang bisa melihat Lela, sempat menganga karena Lela menjelaskan sambil menirukan gerakannya.


"Aku nggak mau jelasin sambil goyang begitu, ya," ucap Ana.


"Ya nggak usah, Mbak. Cerita aja ke ibuku begitu," ucap Lela.


Ana lalu menceritakan kembali apa yang diceritakan Lela. Sampai akhirnya, Bu Sri dan Leli yakin kalau memang Lela ada di sana. Beberapa cerita yang Ana beberkan merupakan rahasia yang hanya keluarga mereka saja yang tahu. Bu Sri dan Leli tambah menangis. Lela memeluk keduanya. Ada sensasi rasa hangat di tubuh Bu Sri dan Leli ketika Lela memeluknya.


Ana lantas meminta Bu Sri untuk membawanya ke sebuah lagi yang ada kunci gembok angkanya. Berdasarkan petunjuk dari Lela, Ana dapat membuka laci tersebut. Di sana ada buku harian dan juga bukti video mesra antara Indra dan Lela yang bisa dijadikan petunjuk.


"Harusnya kamu bisa tangkap si Indra dan jadikan dia tersangka," ucap Ana pada Juna yang keduanya duduk di kursi beranda sembari menikmati teh yang disuguhkan Leli.


Sementara itu, Bayu dan Risa membantu Bu Sri untuk menyiapkan acara tahlilan bagi Lela. Jenazahnya kemungkinan akan pulang dalam waktu dua hari ke depan karena pihak polisi akan melakukan autopsi pada tubuh Lela.


"Tapi, tapi ini nggak masuk akal. Masa aku dapat petunjuk begini dari hantu?" Juna masih tak percaya dengan berdecak.


"Ya mau gimana lagi, memang itu kenyataannya," ucap Ana.


Jaya memperhatikan Ana dan Juna dari balik pintu.


"Ide bagus. Pokoknya kamu penjarakan dia seumur hidup!" tukas Ana penuh kegeraman.


"Oh iya ngomong-ngomong kamu berasal dari Kota Metro, kan? Kamu Rizkina Bunga Kusuma, salah satu desainer ternama yang terlilit hutang itu, kan?" tanya Juna tiba-tiba.


Ana yang sedang menyeruput teh hangatnya sampai menyemburkan air teh tersebut ke wajah Juna. Rekan kerja Juna sampai menertawainya. Begitu juga dengan Jaya.


"Ma-maaf, maaf." Ana berusaha mengusap wajah Juna.


"Nggak apa-apa, kok. Saya cuma baru inget pernah liat kamu di mana. Dulu, saya anak buah dari Pak Yogi yang menangani kasus kamu," ucap Juna.


"Kasus saya?" Ana tak mengerti.


"Banyak yang mengadukan kamu ke pihak polisi karena kasus penipuan dan hutang piutang," ucapnya.


"Sialan! Nama aku udah tercoreng di pihak kepolisian kota, dong?!" Ana bersungut-sungut.


"Emangnya kamu belum lunas hutangnya?" tanya Juna.

__ADS_1


"Udah, kok, Risa yang urus semuanya!" sahut Ana mulai kesal.


"Oh, kalau begitu sih urusan kamu udah beres. Saya juga nggak tau lagi lanjutnya soalnya saya pindah ke wilayah sini," ucap Juna.


Dia mengamati Ana dengan penuh takjub. Pasalnya dulu Juna sempat mengagumi Ana hanya dari melihat fotonya di kantor. Juna juga pernah mengoleksi foto-foto Ana dari majalah dan melihatnya di sosial media saat fashion show digelar.


"Apa liat-liat?!" seru Ana.


"Saya, saya penggemar Mbak Rizkina. Tapi, saya sempat pangling soalnya Mbak…," ucapan Juna tertahan.


"Kenapa? Saya lagi hamil gitu terus mukanya berubah jadi jelek gitu?" Ana terlihat sensitif.


"Bukan begitu, Mbak. Penampilan Mbak Rizkina emang berubah tetapi malah makin cantik," ucap Juna.


"Heh –" Ana yang ingin memaki jadi terhenti karena dibilang makin cantik.


"Panggil Ana aja," ucap Ana.


"Ehem ehem, udahan ya ngobrolnya! Baiknya kamu di dalam aja!" Jaya berusaha menarik Ana sampai membuat Juna keheranan.


"Ini suami saya. Maklum dia nggak kelihatan sama kamu soalnya dalam bentuk pocong. Cuma aku, Bayu, dan Risa yang bisa lihat. Ya, bisa dibilang anak indihom gitu, eh indigo maksudnya," ucap Ana.


"Ayo, masuk!" Jaya terus menarik Ana masuk.


"Jun! Ayo, balik!" seruan rekannya Juna membuat Juna akhirnya pamit undur diri.


Dia berjanji akan mengurus kasus kematian Lela sampai tuntas. Saat masuk ke dalam mobil Juna tersenyum memandangi Ana dari kejauhan.


"Oh, suaminya udah mati rupanya. Hmmm, nanti kalau hantunya udah tenang, aku siap buat nikahin dia," gumam Juna.


"Heh, kamu ngeliatin siapa? Kamu naksir sama itu perempuan? Dia lagi hamil pasti ada suaminya! Ngaco kamu!" seru Moko, rekannya Juna.


"Nggak, kok. Suaminya udah jadi pocong, kok. Nanti biar aku yang jagain dia sama anaknya," ucap Juna penuh keyakinan.


"Oalah ngono, toh! Yah, terserah kamu aja lah!" sahut Moko lalu melajukan mobilnya pergi dari rumah Lela.


...*****...


...Bersambung dulu, ya…...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2