Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 133 - Berhadapan dengan Roh Cermin


__ADS_3

Bab 133 DPT


Setelah berdebat sengit dengan Jaya, Ana akhirnya memilih untuk menemui Ratu Asih. Padahal Jaya berusaha melarang Ana untuk menolak. Namun, Ana tak mau ambil resiko. Jika ia menolah, ia takut Ratu Asih malah akan menjadi musuh mereka nantinya. Dan memiliki musuh seperti wanita itu sangat merepotkan dan membahayakan.


Ana akhirnya menyusul Jaya ke Pulau Boa bersama Risa dan ditemani Banyu. Tadinya Rama merengek untuk ikut, tetapi Ana memberinya tanggung jawab yang tak dapat dibantah. Ana meminta Rama untuk tetap di istana menjaga adiknya, Anjaya dan juga menjaga Ratu Melati.


"Silakan duduk!" Ratu Asih meminta Ana untuk duduk, sesekali ia melihat sosok Risa menemani Ana.


"Kau punya abdi dalam hantu rupanya," ucap Ratu Asih seraya menuangkan teh hijau ke cangkir Ana.


"Dia bukan abdi dalam untukku, dia sahabatku. Oh tidak, dia kakakku," ucap Ana.


Risa sampai berkaca-kaca penuh haru mendengar kasih sayang Ana padanya.


"Lalu, ada hal apa gerangan yang bisa kubantu?" tanya Ana tanpa basa-basi.


"Aku ingin kau menyelamatkan cucuku. Sebagai gantinya, aku bisa membuat reinkarnasi temanmu lebih cepat," ucapnya.


Ana menoleh pada Risa. Mungkinkah setelah Mbah Karso pernah dihidupkan, kini dia dapat melihat Risa hidup kembali? Ratu Asih lantas melayangkan senyum pada Ana setelah mendapat persetujuan.


***


Siang harinya, ia membawa rombongan Ana dan yang lainnya untuk mengikutinya. Mereka mendaki bukit dengan jalan yang terjal. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah sederhana dan menemui pria tua yang bernama Eyang Boana, kakek buyut dari Ratu Asih di mana keluarga mereka adalah penemu Pulau Boa.


Pria paruh baya itu menyambut kedatangan sang cicit. Dia juga menjamu Jaya dan lainnya. Sampai akhirnya, dia tersenyum menatap ke arah Ana.


"Darah manusia yang murni, yang memiliki kekuatan Rahwana, Gidog, dan Gokana secara bersamaan." Eyang Boana tertawa.


Ana sampai mengernyit tak mengerti begitu juga dengan Jaya.


"Kekuatan Rahwana kan ada padaku. Kekuatan Gokana ada pada putraku. Tapi, kekuatan Gidog? Bagaimana caranya?" tanya Jaya.


Ana mengangguk menanggapi.


"Istrimu terpapar kekuatan mereka dan membuatnya menetap. Sungguh langka bukan? Kamu beruntung mendapatkannya," ucap Eyang Boana.


"Haruskah gelar pemimpin ku nanti aku berikan pada Raja Jaya, Eyang?" tanya Ratu Asih.


Eyang Boana mengangguk.


Tak lama kemudian, ia masuk ke dalam kamarnya. Pria paruh baya itu menyerahkan sesuatu pada Ratu Asih.


"Bawalah cermin ini kembali bersamamu," ucap nya seraya memberi sebuah cermin berukuran 1 x 1 meter.


"Untuk apa cermin itu?" bisik Ana.

__ADS_1


"Cermin ini bisa dipakai untuk menarik cucuku kembali. Harus ada yang masuk bersamaku ke dunia dalam cermin itu dan itu hanya kamu," tukas Ratu Asih.


"Biar aku saja," sahut Jaya.


"Tidak bisa, Raja Jaya. Kalau dari kemarin bisa bersamamu kenapa aku harus repot-repot meminta istrimu untuk datang." Ratu Asih kembali tersenyum.


"Istri mu punya jiwa suci yang bisa menarik Cantika dari para arwah," tukas Eyang Boana.


Ana menepuk lengan Jaya dan menenangkannya.


"Apa kau yakin akan melakukannya?" tanya Jaya yang berada di samping Ana menatap dengan cemas.


Ana kembali mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Kalian berdua dengarkan aku. Jika kalian tak menemukan jalan untuk keluar maka kalian tak akan bisa kembali dan terjebak di dalam dunia cermin itu nantinya," ucap Eyang Boana itu.


Jaya semakin cemas mendengar.


"Aku akan melakukannya. Tapi ingat Ratu Asih, kau harus menepati janjimu!" ucap Ana dengan yakin seraya menunjuk Ratu Asih.


"Ana, tolong pikirkan lagi. Sekali kau melangkah nanti, bagaimana jika tidak akan ada lagi jalan untuk kembali?" bisik Risa berusaha menahan sahabatnya.


"Risa, percayalah padaku." Ana lantas memeluk Risa dengan erat. Ia ingin Risa kembali sebagai manusia menemaninya sampai tua nanti.


"Kau tak perlu melakukan ini, Sayang," ucap Jaya lagi.


"Baiklah, aku akan ikut masuk untuk menyelamatkan cucu Anda," sahut Ana.


"Tapi, Na–" Risa kembali mencoba menahannya.


"Tenanglah, Sa, semua akan baik-baik saja." Ana berusaha menenangkan Risa kembali.


Jaya akhirnya mengiyakan meskipun berat melepas Ana. Eyang Boana lantas segera memulai ritualnya bersama Ratu Asih. Ia membuat Ratu Asih dan Ana untuk masuk ke dalam cermin besar yang telah dibacakan mantra oleh pria tua itu. Cermin itu menjadi jalan bagi Ana dan Ratu Asih, untuk sampai ke dunia roh yang mengurung Cantika.


Satu jam menunggu di Eyang Boana, Jaya tak bisa melakukan apa pun selain melakukan apa yang pria tua itu pinta. Dia meletakkan cermin itu dan menyandarkannya di ruang tamu. Risa dan Burhan juga menunggu Ana dengan harap cemas.


Jaya bahkan sangat terkejut saat mendapati sosok roh yang menginginkan jiwa Cantika telah muncul di hadapannya. Bahkan ia menggoda Jaya dengan mengetuk-ngetuk cermin. Berharap Jaya akan marah dan menghancurkan cermin itu. Namun, Eyang Boana meminta Jaya untuk tenang.


Ana menarik paksa rambut roh dalam cermin dan mengajaknya bertarung dengannya. Sementara Ratu Asih mencoba membebaskan Cantika.


Jaya dapat melihat dengan jelas, bagaimana Ana berusaha untuk mengalahkan roh dalam cermin itu.


Sementara itu, saat keduanya bertarung dengan roh penyihir, tubuh Cantika yang selama ini telah dibaringkan di ranjang kamar dalam rumah Eyang Boana, menunjukkan reaksi.


Tubuh gadis itu menggelepar hingga terjatuh dari ranjangnya. Banyu dan Risa segera berlari menghampiri tubuh perempuan muda berusia lima belas tahun itu.

__ADS_1


Banyu memeluk tubuh Cantika yang tampak menjadi seperti mayat hidup agar tenang. Kini, nasib Cantika hanya tinggal menunggu waktu dan semua itu hanya bergantung pada perjuangan Ana dan Ratu Asih yang saat ini masih berusaha berjuang untuk menyelamatkannya di dalam cermin, alam roh penyihir itu.


"Ana, ayo kita keluar dari sini! Aku sudah mendapatkan Cantika!" seru Ratu Asih.


"Syukurlah, kalau begitu." Ana baru saja memukul telak roh jahat itu.


Lalu, ia melihat cahaya tadi di ujung depan tempat dia berdiri.


"Ayo, kita keluar lewat sana, aku yakin itu jalan keluarnya!" ajak Ratu Asih.


"Baiklah." Namun, Ana melihat sosok Risa yang berdiri menatapnya.


"Ana! Ayo, tunggu apa lagi! Cantika tak akan sanggup lebih lama lagi di sini. Dia harus kembali sekarang atau dia akan mati," ucap Ratu Asih berseru.


Ana melihat kondisi Cantika yang sudah bagaikan mayat hidup. Akhirnya dia menyetujui perintah Ratu Asih. Ratu Asih dan Cantika ke luar lebih dulu.


"Mana istriku, Ratu Asih?" Jaya langsung panik menanyakan keadaan istrinya pada Ratu Asih.


"Ana masih di dalam. Sebentar lagi dia datang," sahutnya.


Eyang Boana segera membantu Cantika ketika dia sudah tersadar. Namun, kondisinya masih lemah. Jaya dan Risa masih menatap ke arah cermin dan menyentuh sisi keemasan pada figura cermin itu.


"Ada yang aneh," gumam Jaya.


Sementara di dunia cermin, Ana melihat roh penyihir itu menghilang. Bayangan hitam itu masuk ke tubuh yang mirip Risa tadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Ana tak mengerti.


"Hmmm, rencanaku memang gagal menjaga anak itu. Tapi, tak ada salahnya mencoba menggunakanmu. Kau itu sangat lezat. Jadi, sepertinya kesempatan ini tak boleh aku sia-siakan," ucap roh jahat penunggu cermin itu.


"Maksudmu?" Ana tak mengerti.


"Aku akan membuatmu terjebak dalam cermin agar aku bisa menggantikan mu ke dunia. Aku yang akan masuk ke tubuh mu. Wah senang sekali hatiku ini karena malah mendapatkan jack pot!" serunya.


"Jadi sekarang kau mengincar tubuhku? Kau pikir aku akan mudah melepaskannta begitu saja," ucap Ana.


"Kekuatan ini sangat lezat. Aku akan mendapatkan tubuh segar ini," tukasnya.


"Baiklah, kalau kau menantang untuk melawanku," tantang Ana.


"Kau bodoh, Sayang… harusnya kau ikut Ratu Asih keluar karena portal dunia cermin dan dunia ini tak akan lama terbuka nya. Hahahaha, tapi kau tenang saja. Nanti jika aku berhasil keluar dengan tubuhmu itu, aku akan menjaga suamimu yang tampan itu dengan baik." Roh Cermin itu menyeringai.


...******...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2