Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 101 - Menyelamatkan Ana


__ADS_3

Bab 101 DPT


Ibu Ratu mau ke mana?" tanya Mbak Karso.


Sang ratu memilin ujung kebayanya dan menunduk, "saya mau mengajak Rama melihat Jaya. Sekalian membersihkan tubuhnya."


Ratu Melati terhenyak kala mendapati Panji berdiri tak jauh di belakang Mbah Karso. Dia tahu kalau Panji bukan orang baik. Tetapi, Ratu Melati masih mengira kalau Mbah Karso orang yang bisa dipercaya dan menolongnya.


"Ratu Ana akan segera kembali. Dia akan melahirkan di malam Jumat kliwon ini. Bawa dia ke ruang persalinan agar kita bisa mempersiapkan kebangkitan Jaya," titahnya.


"Ba-baik, Mbah Karso." Ratu Melati akhir menurut.


Seorang pengawal datang menghadap, "Ratu Ana telah kembali."


Mbah Karso menoleh ke arah Panji yang langsung tertunduk. Pria itu akhirnya pergi untuk menyambut kedatangan Ana dan yang lainnya.


Jaya menahan Ana, Risa, dan Bayu agar tak bertindak gegabah. Mereka harus mengikuti alur Mbah Karso terlebih dahulu agar bisa menyelamatkan tubuh Jaya. Mereka juga harus melindungi Ratu Melati dan juga Rama.


Selepas makan malam, seorang warga berlari memasuki istana dengan wajah bersimbah darah. Ia berteriak kalau Iblis Rahwana telah kembali. Iblis itu mengambil nyawa putranya yang berusia sepuluh tahun. Warga itu juga mengatakan kalau Iblis tersebut marah dan menuju ke istana.


Mbah Karso meminta Ana dan Risa bersembunyi bersama Ratu Melati dan juga Rama. Bayu mengawal mereka. Pria paruh baya itu bilang kalau ia dan Panji akan berjuang menghalangi Iblis Rahwana karena Ana akan melahirkan di malam Jumat kliwon. Malam itu tepat malam jumat kliwon.


"Nak Bayu, antar mereka ke rumah belakang sungai dekat hutan. Kalian sembunyi di sana!" titah Mbah Karso.


Bayu mengangguk.


Namun, sebelum mereka memutuskan pergi ke tempat yang diminta Mbah Karso, Ratu Melati memberikan ide yang lain.


"Bagaimana jika kita ke rumahku dulu. Ada tempat persembunyian di sana. Kita harus menyembunyikan Ana dan Jaya di sana," ujar sang ratu pada Ana.


"Kalau begitu aku setuju," sahut Ana.


Tiba-tiba, Ana merasakan mulas yang hebat di perutnya.


"Mama Ana, kok pipis sembarangan?" Rama menunjuk kaki Ana yang mengeluarkan cairan bening seperti air seni yang tak bisa ia duga itu.


"Ana, kamu pecah ketuban!" ucap Risa seraya menunjuk.


"Risa, bantu aku menyiapkan persalinan untuk Ana," titah Ratu Melati.


"Tanyakan pada Ibu apa dia bisa membantu persalinan Ana?" tanya Jaya.


"Ibu, apa tidak sebaiknya memanggil bidan?" tanya Ana seraya meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Kenapa harus repot memanggil bidan kalau ibu dulu seorang bidan, Ana." Ratu Melati melayangkan senyum.


"Baiklah, aku percaya pada ibu, aarrgghh!" pekik Ana.


Jaya langsung memegangi istrinya dan memapahnya ke ruang buku-buku ayahnya. Ratu Melati sempat terkejut melihat tubuh Ana yang tampak miring tapi ternyata sedang dipapah. Sampai akhirnya ia mengerti kalau arwah Jaya sedang berada di samping Ana.


"Bayu, kamu siapkan mobil sekarang!: Ratu Melati menoleh pada Bayu.


Lalu ia juga meminta Risa membawa baskom, handuk, beberapa kain dan juga gunting yang baru di kamar sang ratu. Risa mengangguk setuju.


Saat Bayu tengah menyiapkan mobil, Panji mendekat.


"Mas Bayu, mau ke mana?" tanya Panji yang menghampiri Bayu, mengejutkannya.


"Mau bantu mengawal Ratu Melati pindahan," ucapnya.


"Ke rumah belakang hutan, kan?" selidik Panji.


"I-iya, Mas Panji." Bayu mengangguk lalu segera bergegas menemui Ratu Melati.


Ada senyum yang menyeringai terlukis di wajah dingin Panji.


Ratu Melati dan Ana serta lainnya bergegas.


Firasatnya juga buruk sama seperti yang dirasakan Jaya. Kini, kandungan Ana telah pecah ketuban, Jaya berusaha memapah sang istri dan membawanya ke ruang buku ayahnya.


Saat itu, Ana kerap merasakan kontraksi yang menyakitkan dan ingin melahirkan.


Risa jadi ikut mulas karena tengah mengandung juga. Usia kandungannya sudah menginjak sepuluh minggu. Namun, dia belum tahu dan yakin dengan kehamilannya akan bagaimana nanti saat melahirkan.


Saat di perjalanan, mendadak mobil kijang yang dikendarai Bayu mati. Mobil tersebut memang menggunakan bahan bakar yang boros, sehingga Bayu harus berhenti di penjual bensin eceran sejenak.


"Di, aku tahu kenapa si Yati mati. Aku tahu juga kenapa si Umi mati juga. Itu tuh, wanita yang rumahnya deket bukit yang ditemukan dengan perut bolong," ucap si penjual bensin pada rekan yang ada di sampingnya seraya menuangkan bensin ke mobil Kijang Bayu.


"Apa maksud kamu, Yanto?" bisik Adi tak mau tertangkap jelas.


Jaya, Ana dan lainnya memperhatikan sedari tadi dan menyimak dari dalam mobil. Sosok Adi pun akhirnya ingat dengan para korban yang kawannya maksud.


"Sial, ini malam jumat kliwon. Pasti akan ada korban lagi," ucap Adi.


Dengan wajah serius temannya yang bernama Yanto itu lalu mengatakan, "Mereka mati karena diincar bayinya. Mbah Karso pernah bilang padaku tentang pesugihan yang memakan bayi. Dia minta aku hati-hati dalam menjaga istri aku."


Adi diam sebentar. Entah kenapa sekarang dia terasa familiar dengan pesugihan tersebut apalagi dia melihat sosok Ana yang tengah hamil besar berada di dalam kursi kedua mobil Kijang tersebut.

__ADS_1


"Mas, itu ada yang lagi hamil, ya?" tanya Adi pada Bayu.


Bayu mengangguk, sementara Adi tampak terkejut. Ia begitu terkejut dengan realita yang sedang ada di hadapan mereka berdua.


"Mas, jagain yang benar jangan sampai bayinya hilang!" tukas Adi memperingatkan.


Bayu sebenarnya ingin menimpali. Namun, dia memilih untuk tetap diam dan berkata, "Terima kasih."


"Kemungkinan dalang di balik peristiwa ini adalah orang besar yang ilmunya tidak main-main. Seseorang yang bisa menyaingi Mbah Karso," tutur Yanto menimpali.


Adi menyentuh bahu Yanto, bertanya dengan nada suara khawatir dan berbisik.


"Siapa kira-kira, Mas? Siapa yang ilmunya begitu tinggi sampai Mbah Karso tidak menyadarinya?" tanya Bayu yang terlanjur menceplos begitu saja.


Sampai akhirnya nama lama yang ada di dalam masa lalunya. Namun ada sedikit kekhawatiran bagi Yanto dan Adi sendiri, apakah benar orang itu terlibat dalam kasus ini, sedangkan dia sendiri sudah lama tidak melihatnya dan takut salah ucap.


"Pernah dengar nama Eyang Setyo?" tanya Yanto.


Bayu pura-pura menggeleng.


"Dia lebih kuat dari Mbah Karso." Adi berkata untuk menimpali.


Jaya lantas meminta Bayu bergegas masuk. Mobil Kijang itu kembali melaju. Namun, di perjalanan yang sebentar lagi tiba, mobil tersebut menabrak sesuatu diikuti jeritan terkejut Risa dan Ratu Melati, penumpang yang ada di dalamnya. Jaya dan yang lainnya terhenyak di tempat duduknya.


Lalu seorang wanita muncul setelah tertabrak tadi. Ia melangkah ke arah kap mobil. Dia berdiri dan menggebrak kap mobil tersebut. Lalu, jatuh kembali ke lantai.


"Bay, hati-hati," lirih Ratu Melati mengingatkan saat Bayu turun diikuti Jaya untuk melihat sosok wanita tersebut.


Tulang tangan serta kaki wanita itu tampak patah. Perempuan ini seharusnya tidak mungkin selamat, jika sempat tergilas dengan kendaraan yang dikendarai Bayu.


"Apa perlu kita telepon polisi?" tanya Risa yang bersiap menghubungi nomor kepolisian.


Namun tiba-tiba, wajah Jaya dan yang lainnya terhenyak saat melihat tubuh wanita itu tiba-tiba bergerak dengan sendirinya. Wanita itu bangkit. Bayu dan Jaya yang melihat berdecak kaget.


Keduanya melangkah mundur bersamaaan melihat wanita itu berusaha bangkit dengan mengembalikan tulang-tulangnya yang mencuat kembali ke bentuk semua.


Krek krek krek.


...******...


...To be continued...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2