
Bab 123 DPT
Datuk Misan duduk di depan sebuah cermin dalam sebuah ruangan. Sesekali matanya mengamati setiap detail lekuk wajahnya yang dipenuhi oleh keriput yang timbul akibat kutukan yang tersemat dalam perjanjiannya yang gagal bersama iblis wanita bernama Nyi Retno.
Teringat kala Datuk Misan mengirim Nyi Retno untuk memburu Rama, tetapi anak itu tak bisa digapai dan berada dalam perlindungan Ratu Merak. Nyi Retno kalah dalam pertarungan.
Namun, malam ini akan berbeda. Datuk Misan sudah menjatuhkan keputusan bahwa ia akan menunaikan janji kuno keluarganya tentang sebuah ritual penganugerahan bagi dirinya sendiri sebagai Raja Meraki.
Maka dari itu, ia harus segera menghabisi nyawa Rama. Pewaris tahta Raja Meraki yang tersisa. Tak sabar rasanya karena ia akan menyandang diri sebagai penguasa. Untuk itu, Datuk Misan melakukan persekutuan dengan Raja Jin Utara untuk menculik Rama.
Sebagai gantinya, Raja Jin Utara memintanya untuk menyerang keluarga Putri Ice karena hanya manusia yang bisa masuk ke wilayah kerajaan salju.
"Salam hormat Datuk Misan, Ratu Merak ingin menemui Anda." Salah satu abdi dalam memasuki kamar Datuk Misan setelah mengetuk pintunya.
"Hmmmm, suruh dia masuk!" titahnya.
"Baik, Datuk!" Abdi dalam itu mengangguk.
Terdengar sayup-sayup keramaian, semua bala abdi dari para pengikut baru Datuk Misan sudah berdatangan dari berbagai wilayah yang tersebar di kerajaan nusantara. Ratu Merak mulai melangkah cepat. Ada aura kesal di wajahnya.
Dari arah pintu, terdengar suara ketukan sepatu Ratu Merak berjalan masuk. Wanita itu meraih vas bunga yang ada di atas meja kamar tersebut, dan melemparkan benda itu ke samping Datuk Misan.
"Aku tak pernah menyangka kalau kau akan menyeret putraku menjadi tawanan Raja Jin Utara!" sentaknya.
"Tidak ada yang memintanya berburu paus, kan?"
"Tapi, bukan ini yang aku inginkan! P
Aku takut kalau putraku kembali dalam keadaan koma. Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal aku sudah membantumu untuk menjebak Raja Jaya dan juga Pangeran Rama! Bahkan menyeret kerajaan salju!" tudingnya.
"Tenang dulu, nanti aku akan memintanya untuk mengembalikan anakmu. Apa Putri Ice membahayakan mu? Bukankah dia sekarang ini juga ikut mengantar nyawa dengan Raja Jaya?" tanyanya.
"Iya, itu benar. Tapi, tentu saja dia membahayakan aku!" bentaknya.
Ratu Merak hanya bisa menatap Datuk Misan. Ada yang tak beres dari caranya menatap dirinya, saat itu lah pria itu mengatakan bila ada satu dari lima penguasa di Nusantara tak dapat memberikan persetujuan untuk mengkultuskan dirinya sebagai pemimpin dari para Raja, yaitu Kerajaan Garuda pastinya.
"Jadi, jika kau ingin membelot dari sekarang sebaiknya bersiaplah dengan kematianmu," ancamnya.
Mendengar hal itu, Ratu Meraki menoleh melihat wajah Datuk Misan dengan sorot mata yang dingin. Sudah lama sekali Misan tak melihat wajah wanita itu seserius ini dalam menanggapi keraguan akan kepemimpinannya.
"Aku telah kehilangan Karso, jadi aku harap sekarang ini aku juga tak akan kehilanganmu."
__ADS_1
"Jadi, ini berarti kau sedang terang- terangan mencoba menggoyang singasana kerajaanku?" tuduh Ratu Merak.
"Bukankah kau sudah tahu tanpa aku sebutkan apa akibat bila meragukan seorang sepertiku?" tanyanya.
"Aku hanya ingin anakku kembali dengan selamat," ucapnya lalu pergi.
Datuk Misan dan dua abdi dalam melangkah menuju ke ruang makan.
Meja makan panjang dengan aneka ragam makanan terbentang di hadapan para tamu yang sudah berada di tempat duduknya masing- masing.
Empat anggota kerajaan di Nusantara di bawah kepemimpinan Datuk Misan saat ini setelah Mbah Karso sudah tiada, tiba bersama dengan pasangan mereka masing-masing maupun pengawalnya.
Mereka terlihat saling menatap satu sama lain sebelum bincang-bincang dan sesekali riuh tawa yang sudah lama tidak pernah mereka rasakan terdengar menyeluruh memenuhi ruang makan tersebut. Mereka saling menyapa satu sama lain.
Sebagai pemilik kekuatan yang lebih tinggi, tak ada yang berani menghina apalagi menjatuhkan Datuk Misan kini sebagai pemimpin persekutuan kerajaan nusantara. Meski ia dikenal sebagai pemimpin bertangan besi, ketakutan yang dia tebarkan menempatkan Datuk Misan sebagai pemimpin kerajaan yang paling diperhitungkan. Padahal mereka belum mengenal Jaya dan melihat kekuatannya secara langsung.
Di tengah keramaian para petinggi kerajaan yang sedang bercengkrama saling berbagi pengalaman, tiba-tiba dari arah pintu dalam terdengar suara langkah kaki menggema. Seseorang sedang melangkah masuk. Semua mata seketika tertuju melihat Datuk Misan berjalan masuk mengenakan kain batik dengan motif bunga wijayakusuma yang sudah lama tak pernah dia tunjukkan di hadapan khalayak ramai selayaknya seorang pemimpin.
Datuk Misan tampak begitu tegar, ia sama sekali tak terintimidasi
di bawah sorot mata dingin semua orang yang saat ini melihat dirinya dengan berbagai ekspresi yang tidak dapat ditebak. Apalagi Ratu Merak, ibunya Banyu.
Semua orang berhak memiliki opini pribadi terhadap Datuk Misan. Seolah ada ikhlas dan tidak ikhlas membiarkan pria itu memimpin perkumpulan tersebut. Namun, tetap saja ada getir amarah yang sesekali ingin mengerucut keluar saat mata Ratu Merak bertemu dengan mata Datuk Misan.
Siapapun di antara mereka yang tak mau menurut, akan diancamnya menderita seperti ingin memenggal kepala mereka sendiri. Datuk Misan memiliki rencananya sendiri. Ia menyeringai kepada semua orang yang kini menyentuh gelas kaca berisi wine, mengangkatnya tinggi-tinggi sembari mendengungkan, "Hidup Datuk Misan."
...***...
Di kapal besar milik Putri Ice. Ana membuatkan roti dan selai cokelat untuk sarapan suaminya tercinta. Ana juga membantu menyiapkan makanan untuk Burhan dan awak kapal lainnya. Sementara Risa sibuk mengikuti Putri Ice.
"Ada apa sih kau mengikuti aku terus?" PutriIce terlihat jengkel.
"Kan, aku sudah bilang kalau aku mau mengawasimu. Aku tak mau kau menjadi duri dalam biduk rumah tangga sahabatku. Aku tak sudi jika kau tega merebut Jaya dari sisi Ana nanti," kata Risa penuh tekanan dan ancaman di sana.
"Haha, kau lucu sekali! Hantu paling lucu yang pernah aku temui!" cibir Putri Ice.
Tak lama kemudian, mereka sampai di wilayah kekuasaan Raja Jin Utara, penguasa laut Utara. Bagian terdingin dari bumi. Mereka semua telah sampai dan berada di gurun kutub terbuka yang datar.
"Ayo, ikuti aku! Kita mulai perjalanan dari sini. Kalian sekarang tim ku," ucap Putri Ice memberi perintah.
"Tim kamu? Maksudnya apa, ya?" tanya Jaya.
__ADS_1
"Ikuti saja kataku! Kita akan bertahan hidup di sini demi mendapatkan pedang perak. Karena aku yakin kini bukan kita saja yang menginginkan pedang itu," ucapnya.
"Tunggu! Apa kau yakin pedang perak itu bisa membunuh Raja Jin Utara?" Burhan menahan lengan Putri Ice.
"Apa kau punya kekuatan besar yang lain yang bisa kau dapatkan dengan mudah untuk memusnahkan Raja Jin Utara dan pasukan kegelapannya?" tanya Putri Ice.
Burhan akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Kita sudah terlanjur berada di sini," bisik Ana pada Burhan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah pintu gerbang. Mereka lantas dikejutkan dengan pemandangan alam yang indah. Mereka berada di sebuah hutan tropis yang harusnya tak masuk akal karena mereka sedang berada di pulau terdingin dan bersalju kala itu.
"Tetap waspada! Jangan tergoda dengan kamuflase di sini!" Putri Ice memberi peringatan.
"Sepertinya kamu pernah ke sini, ya?" tanya Ana.
"Terakhir kali aku ke sini semua pasukan yang aku bawa mati. Aku juga hampir mati, tapi waktu itu masih ada ayahku yang datang menyelamatkan aku dan adikku," jawabnya.
"Lalu, apa nantinya kita akan baik-baik saja? Atau malah seperti pasukanmu yang dulu mati itu?" tanya Ana lagi.
"Kalau begitu, kita harus yakin kalau kita punya kemampuan yang sangat lebih dibanding dengan pasukan aku sebelumnya," ucap Putri Ice.
"Apa ini misi bunuh diri?" keluh Burhan.
"Sudah jangan pikir macam-macam dulu! Ayo, kita ikuti saja Putri Ice," ajak Jaya.
Putri Ice tersenyum ke arah Jaya. Namun, Risa langsung menghalangi pandangan gadis itu.
"Na, jaga suami mu baik-baik dari perempuan yang mulai gatal ini!" bisik Risa pada Ana.
"Oke, oke," sahut Ana.
"Aku merasa kalau kita diperalat oleh si cantik itu untuk menjadi pasukannya? Wah, licik sekali gadis itu kalau sampai menjadikan kita pasukan untuk mencari senjata pusaka milik ayahnya," kata Burhan.
"Kau bilang dia cantik, Pak?" Risa mendelik tajam.
"Harus akui dia memang cantik sama seperti ibunya," sahut Burhan.
"Picek mata Pak Burhan kalau kayak gitu, sih!" cibir Risa lalu merangkul Ana menuju ke tujuan berikutnya.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...