
Bab 105 DPT
"Risa! Kamu bawa Rama masuk sana!" titah Bayu, tetapi ia akhirnya menyadari kalau Risa lah yang lebih butuh pertolongan dibanding Rama.
"Rama, kamu bawa masuk Tante Risa. Om mau ngejar si mamasik itu dulu," ucap Bayu yang segera berlari menyusul Jaya.
"Oh iya bener, mamasik soalnya cewek hantunya. Ayo, Tante Risa bangun!" Rama meraih tangan Risa yang tubuhnya sempat tergeletak karena ketakutan.
Keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Ratu Melati tengah menggendong Anja ketika Ana dan Bu Yayah tampak khawatir ingin menyusul karena Risa tak Rama tak jua kembali.
"Apa yang terjadi?" tanya Bu Yayah.
"Ada mamasik, Nek. Dia lagi dikejar sama Ayah Jaya dan Om Bayu," jawab Rama.
Risa hanya menimpali dengan anggukan. Perempuan itu kembali terduduk lemas seraya menetralkan degup jantungnya yang masih berdebar lebih cepat.
...***...
Agus terlihat kebingungan. Dia masih tak menyangka kalau sosok palasik yang meneror warga kampung merupakan istri dari sahabatnya. Indera pendengarannya seketika terkesima melihat pemandangan mengerikan yang tersedia di hadapan saat ini. Tubuh wanita bernama Maryam yang tanpa kepala itu sedang duduk terpaku tiada pergerakan. Hanya sedikit darah menetes dengan menyisakan bolongan di tengah tengah lehernya.
"Sepertinya jebakan yang aku buat berhasil," ucap Pak Sidik.
Jaya mengangguk. Di mendekat dengan tubuh gemetar hebat. Sementara itu, Bayu berhasil menyusul. Tubuhnya terasa Lemas dan tiada berdaya. Rupanya sosok wanita palasik itu terjebak di kebun lalu tersebut. Sosok Maryam tampak adu kekuatan dengan suaminya Bu Yayah. Hanya saja sosok itu lebih kuat. Dia berhasil menghempas semuanya.
Lalu, sosok sahabatnya Agus datang. Jaya ingat kalau pria itu yang membawa perempuan masuk ke dalam hutan. Mungkinkah sosok perempuan itu makhluk ini? Batin Jaya bergejolak seraya memandangi sosok palasik tersebut.
Parto tampak membabi buta menyerang Agus dan Jaya sampai Palasik Maryam berhasil kabur dan diselamatkan. Pertarungan itu terhenti ketika Jaya memukul telak Parto. Jaya lalu mengejar Maryam tetapi tak tertangkap.
"Kita harus ke rumahnya, tubuhnya pasti ada di sana," ucap Pak Sidik.
Jaya mengangguk. Lalu meminta Bayu dan Agus mengikat Parto di rumah Pak Sidik.
Jaya dan Pak Sidik sampai lebih dulu. Suaminya Bu Yayah juga menceritakan kalau sebenarnya sosok palasik itu adalah manusia biasa yang mengubah dirinya menjadi makhluk tersebut dengan memperdalam ilmu tertentu.
__ADS_1
Dipercayai masyarakat sekitar, sosok palasik memiliki sebuah minyak sakti yang disebut dengan minyak kuyang atau dalam bahasa setempat disebut dengan Langa Kawiyang atau Minyak Kawiyang. Apabila manusia penganut ilmu tersebut dan terkena minyak tersebut, akan membuatnya berubah menjadi palasik atau beberapa masyarakat juga menyebutnya kuyang.
"Lalu, bagaimana kita bisa membunuhnya?" tanya Jayam
"Kita harus menemukan tubuh bagian bawah yang ditinggalkannya. Setelah mendapatkannya, kita masukkan benda-benda tajam yang ditakuti oleh makhluk tersebut. Kita harus memasukkannya ke dalam sambungan lehernya. Dengan begitu, makhluk palasik itu tidak akan bisa menyatu lagi dengan tubuhnya dan akan membuatnya mati lemas," ujarnya.
Akhirnya sepanjang perjalanan ke rumah Maryam, Jaya mengumpulkan benda-benda yang sekiranya tajam. Saat Pak Sidik mengatakan sudah cukup, mereka bergegas.
Tubuh Maryam tengah tergeletak di atas ranjang besinya. Sosok wanita itu tanpa kepala. Ada lelehan darah di sekitar lehernya yang tampak berongga itu. Segera saja Jaya memasukkan kerikil, pecahan, kaca, dan beling ke dalam leher tersebut.
Palasik Maryam mengintip di jendela. Ia berteriak dan hendak menyerang Jaya dan Pak Sidik. Namun, keduanya langsung kabur meninggalkan Maryam yang meratapi tubuhnya yang tak akan bisa ia masuki lagi.
...***...
Di rumah Bu Yayah.
"Ada apa ini?" Bu Yayah berseru saat melihat kedatangan Bayu.
"Apa?! Ini kan Parto. Jadi, selama ini yang suka memakan bayi saat lahir itu si Maryam?" pekiknya.
Bayu menggangguk. Tak lama kemudian, Jaya datang bersama Pak Sidik. Mereka akan melapor pada kepala desa tentang sosok palasik Maryam dan suaminya Parto.
Karena kelelahan, akhirnya para pria tertidur sembari menunggu fajar dan azan subuh terdengar. Jaya berada di samping ranjang Ana seraya menjaga bayinya.
Samar-samar Bayu yang belum tidur sepenuhnya di ruang tamu, mellihat sesuatu perlahan pergi meninggalkan rumah itu. Sosok itu berambut panjang. Nampak sesuatu menggantung seperti usus dari jauh. Sosok itu terbang melayang melesat entah kemana.
Peluh membanjiri tubuh pria itu. Badannya terasa bergetar hebat. Namun, Bayu tak dapat bergerak. Dilihatnya Pak Sidik yang ternyata tak ada, dia tidur bersama istrinya di kamar mereka. Jaya juga berada di kamar Ana bersama Risa, Rama, dan Ratu Melati. Sementara Agus tampak terlelap di sampingnya. Sosok Parto juga masih terikat di tiang penyangga dalam rumah Bu Yayah.
Maryam kembali menuju ke rumah Bu Yayah. Dia ingin menyantap bayi yang ada pada Ana. Sosoknya mengintip dari celah genting. Bayu sebenarnya menjerit dalam hati. Dia memaksakan diri untuk memejamkan mata saja. Meskipun sudah berkali-kali melihat sosok wanita tanpa tubuh melayang membumbung di langit rumah. Bayu yakin pasti sosok itu palasik yang mencari suaminya, atau malah mencari bayinya Ana dan Jaya.
"Maryam, ingin rasanya aku pergi malam ini. Aku ingin pergi jauh dari tempat ini. Kita bisa mencari tempat baru. Mau tak mau kita harus pindah. Aku tak akan mengingkari perjanjian dari awal yang harus tinggal bersama kamu dan tetap menemani kamu sampai kapanpun," ucap Parto berbicara pada istrinya seraya terisak.
"Mas, aku sangat mencintai kamu. Tapi, aku tak bisa kembali ke tubuhku. Kamu juga tak bisa lepas dari sini. Jika nanti aku mati, kau janji akan menyusul aku, ya?" pinta Maryam.
__ADS_1
Bayu berpura-pura terlelap, padahal ia mendengar pembicaraan Parto dan Maryam. Tak terasa bulir bening itu tak tertahan lagi. Parto menangis pilu tanpa suara sampai akhirnya Maryam pergi ke kamar Ana. Pukul empat Dini hari itu sebelum azan subuh berkumandang, ia akan menyerang bayinya Ana dan Jaya.
Ana terbangun karena suara mendesis dari sang palasik. Wanita yang baru melahirkan itu memcoba bangkit meraih sang bayi dan kini saling bertatapan dengan palasik Maryam. Namun, Ana mendadak tak dapat bergerak. Sosok Maryam berhasil membuat Ana mematung seperti itu. Beruntung sang bayi menangis kencang dan membuat semuanya terbangun.
"Aku tak akan memaafkan kalian!" pekik Maryam yang hendak menggigit sang Bayi.
Jaya langsung meraih sang bayi. Risa memukul Maryam dengan bantal, Rama dan Ratu Melati juga membantu. Sosok palasik itu mulai terkepung. Sang suami terdnegat berteriak, "lepaskan istriku! Lepaskan diaaaaaa!"
Bayu bangun dan membekap mulut Parto. Jaya memintanya karena tak ingin menjadi pusat perhatian warga sekitar yang nantinya malah akan mengadu pada Mbah Karso dan Panji. Pasalnya, mereka pasti mencari keberadaan Ana dan lainnya yang tak kunjung sampai di tempat yang ditentukan oleh Mbah Karso.
Bu Yayah dan Pak Sidik merapalkan doa. Ana mendekap sang bayi sementara Jaya memukul palasik tersebut dengan kursi kayu.
"Aku tahu ada yang istimewa dari dirimu dan bayi yang kau kandung. Tapi, aku tak perduli, kau itu istimewa buat ku. Kau akan membuatku hidup lebih lama lagi, cantik, dan awet muda. Aku akan lebih kuat lagi!" seru Maryam.
"Lalu bagaimana dengan tubuhmu? Kami sudah mengancurkanya. Kau tak bisa masuk lagi ke dalam tubuhmu!" pekik Jaya.
"Kau menjijikan! Jangan buat aku seperti ini jika kau berani. Dasar iblis pengecut!" maki Ana.
"Aku menjijikan? Hahaha apa kau buta, Sayang? Lihatlah wajahku yang sempurna ini! Lihatlah tubuhku yang indah! Semua mata tertuju padaku, dan Mas Parto sangat mencintaiku," ucap Maryam masih tak peduli dengan keadaan tubuhnya.
"Dih, badan tinggal jeroan gitu aja masih bangga," cibir Risa. Rama tertawa di sampingnya.
Namun, ketika Maryam memelototi mereka, keduanya langsung menghindar.
Tiba-tiba, suara azan subuh berkumandang. Sosok Maryam kepanasan. Sontak saja, Bu Yayah meminta mereka membakar Maryam. Lebih baik dimusnahkan daripada dibiarkan dan membahayakan.
Akhirnya Jaya membungkus Maryam dengan melemparkan kain ke arah Maryam. Lalu membawa sosok palasik itu ke belakang rumah. Agus menyerahkan korek gas saat Pak Sidik menyiapkan minyak tanah. Mereka berhasil membakar sosok palasik Maryam akhirnya.
...*****...
...Bersambung dulu ya...
...See you next chapter!...
__ADS_1