Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 129 - Musuh Lama Kembali


__ADS_3

Bab 129 DPT


"Ayo, cepat jalan!" Suara seorang pria berseru seraya mendorong Ana yang masih merintih kesakitan seraya menggendong putranya.


Kondisinya belum pulih dan masih dalam pengobatan. Namun, malam itu Ana ingin sekali memberi ASI pada Anjaya. Tiba-tiba, dua orang tak dikenal dan menggunakan penutup wajah, masuk ke dalam kamarnya. Membuat Ratu Melati tak sadarkan diri, lalu menculik Ana dan putranya. Risa yang panik langsung memberi tahu Jaya.


Jaya, Burhan, dan Banyu yang dapat melihat Risa langsung bangkit berdiri. Mereka mengikuti Risa mencari keberadaan Ana dan putranya. Sementara beberapa orang tampak bingung, tetapi Eyang Setyo berusaha menenangkan semuanya.


Ana dibawa ke sebuah rumah dalam hutan. Rumah yang terbengkalai. Ana berusaha menenangkan bayinya yang masih menangis dalam pelukannya. Ana berusaha berjalan menapaki selangkah demi selangkah setiap lorong yang dia lihat.


Ana merasa dirinya berada di sebuah padepokan rumah yang dibangun sudah lama sekali. Mungkin padepokan ini telah ditinggalkan. Puluhan kamar kosong terbentang sejauh mata memandang. Entah bagaimana lagi fungsi kegunaan rumah ini. Mungkin saja memang sengaja membiarkannya terbengkalai seperti ini. Atau memang digunakan untuk menculik dan menyembunyikan seseorang.


"Mbah Karso telah menyiapkan kamar untuknya di sebelah utara," ucap seorang wanita yang mendekat pada pria yang menculik Ana.


"Mbah Karso? Bukannya dia sudah–" lirih Ana mencoba menoleh pada si penculik.


"Sudah mati? Dia orang berilmu tinggi. Kami membangkitkan khodamnya untuk membalas dendam. Kami juga akan menguasai Garuda," ucapnya dengan suara berat.


"Kami?" Ana bertanya lagi demi mengorek informasi.


Namun, pria itu langsung mendorong Ana lagi, "sudah jangan banyak tanya! Ayo, sudah cepat sana!" serunya.


Ekor mata Ana kembali berkeliling melihat seisi padepokan yang ia lintasi. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat memandang keluar pintu. Di luar jendela yang kacanya retak dan luarnya tertutup kayu itu, Ana melihat seekor raksasa hitam besar seperti gorila. Binatang itu berdiri sembari memandang ke tempat Ana dengan sorot mata diam. Anjaya yang sedari tadi menangis juga diam. Ana menatap putranya dengan raut wajah heran tak menyangka.


"Kenapa berhenti?! Ayo, jalan lagi!" seru pria itu.

__ADS_1


Ana tetap berhenti terhenyak sesaat menyadari ada yang janggal dengan sosok kera besar yang hitam ini. Perlahan-lahan, Ana mulai melangkah mundur. la berniat untuk mengatakan hal ini kepada pria penculiknya yang malah melotot tajam ke arahnya.


"Apa kamu nggak lihat ada gorila di luar sana?" Ana akhirnya buka suara.


Pria itu masih berdiam diri tetapi matanya melirik ke arah yang dikatakan Ana. Tak ada apa pun yang dia lihat di sana. Sedangkan Ana melihat kera besar yang hitam itu tiba-tiba melesat ke dalam padepokan. Dia mendekat ke tempatnya. Ana mulai mempercepat langkahnya mengikuti perintah si penculikan. Dia yakin jika binatang itu bukanlah binatang biasa.


"Sebenarnya di mana ini?" Ana mencoba bertanya pada si penculik.


"Sudah jangan banyak bicara! Aku tahu kalau kau tadi membohongiku. Lalu kau mau melakukannya lagi? Tidak akan aku percaya kali ini," ucapnya.


Ana kini dapat melihat jelas di tengah minimnya cahaya. Pria itu bertubuh kekar dan memakai gelang kerajaan yang mirip dengan punya Jaya yang diletakkan di lengan atas. Namun, motif gelang kerajaannya berbeda. Ana kembali terbelalak kala melihat kera besar itu berdiri tak jauh dekat darinya.


"Aku tidak berbohong! Lihat itu!" pekik Ana menunjuk ke arah belakangnya.


Lagi-lagi tak ada apa pun yang bisa dilihat pria besar itu, "aku bilang jangan coba-coba berbohong lagi, atau aku pukul bayimu itu!" titahnya.


Sosok kera besar hitam itu sedang berdiri di sana, memandang ke arah Ana saat ia kembali melirik lagi. Makhluk itu tak bergerak sama sekali, hanya memperhatikan Ana yang sedang berlari menjauh darinya.


Pria penculik itu membuka sebuah pintu dan meminta Ana masuk.


"Letakkan bayimu di sana!" serunya menunjuk sebuah ranjang bayi yang terbuat dari rotan.


"Tidak mau!" seru Ana.


Pria itu mulai menarik paksa Anjaya. Lalu mendorong tubuh Ana sampai tersungkur tersandung oleh sesuatu yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Ana mengaduk karena dorongan tadi membuat kepalanya menghantam keras ke lantai.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan membantah!" Pria tadi meletakkan Anjaya pada ranjang bayi rotan tadi.


Ana mendesis sakit. Dahi kanannya mengeluarkan darah. Pria besar tadi meninggalkan Ana begitu saja terkunci di dalam kamar pengap, lembab, kecil, dan hanya sinar bulan yang masuk melalui celah ventilasi yang menjadi cahaya di ruangan tersebut.


Makhluk besar tadi mendadak muncul di samping bayi Anjaya. Ana berusaha untuk berdiri dan berteriak. Ia takut kalau makhluk itu menyakiti Anjaya. Namun, tubuh Ana seperti ditelan dengan sangat keras oleh sesuatu sampai mengimpit lantai.


Ana yang masih sadar menjerit menahan kesakitan luar biasa ketika telapak tangan makhluk itu menahannya. Ia mencoba bertahan dengan tubuh yang terus menerus ditekan oleh tangan berbulu itu.


Tak lama kemudian sekujur tubuh Ana merasakan panas yang membakar. Ana merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia merasa setiap jengkal tulangnya terasa dipatahkan satu per satu. Namun, Ana bertahan demi menyelamatkan putranya.


Tak lama kobaran api tiba- tiba muncul di sekitar Ana. Saat itulah, terdengar suara dari seseorang yang Ana kenal, Mbah Karso datang dengan membawa sesuatu di tangannya, selembar kain berwarna putih yang dia gunakan untuk membungkus tubuh Anjaya.


Saat Ana kembali bisa merasakan tubuhnya, Mbah Karso langsung masuk ke kamar yang lain. Dia membanting pintu kamar yang diikuti suara klik pertanda ruangan baru saja dikunci. Ana menoleh melihat ke belakang. Binatang itu sudah tidak ada lagi di sana, seakan menghilang begitu saja.


"Lantas apa yang baru saja terjadi? Binatang macam apa yang baru saja membahayakan nyawanya dan putranya? Lalu menapa Mbah Karso masih hidup?" Batin Ana benar-benar bergolak seraya menatap ke arah Mbah Karso.


Ana berdiri dengan badan yang terasa ngilu. Matanya menatap ke arah kamar yang dimasuki pria paruh baya itu. Ia segera mendekat, menggedor-gedor pintu, dan berteriak.


"Lepaskan Anjaya! Berikan ia padaku!" pekik Ana.


"Kekuatan Rahwana yang ada pada putramu akan aku miliki! Sebentar lagi aku akan kembali melawan suamimu!" serunya dari dalam kamar.


Ana mendengar Anjaya menangis dan menjerit kesakitan. Ana semakin menggedor dan meminta agar pintu itu terbuka. Terus saja dia lakukan agar pria tua itu membukakan pintu untuknya. Namun setelah sekian detik, tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar. Semuanya terasa hening,


...******...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2