Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 114 - Sampai di Gua


__ADS_3

Bab 114


Ana akhirnya pamit pada Nenek Darah begitu Dika pulang. Dalam hati, Ana berharap kisahnya nanti akan menggembirakan dan tidak bertemu dengan sesuatu yang mengerikan kala berada di dalam hutan Gunung Sembah.


Kuda yang dilakukan Madun mulai melaju setelah semua bekal dan barang-barang miliknya naik ke atas kereta kuda. Ana lantas pegangan erat ke bangku saat Madun memacu kuda cokelat miliknya, melintasi jalan-jalan paling terjal. Selain peringatan Nenek Darah tadi, ia belum tahu ada apa sebenarnya di hutan dalam Gunung Sembah.


Semula dataran yang mereka lalui hampir sama. Semua pepohonan dalam hutan tampak rimbun rimbun berbelit dengan menguarnya awal musim kemarau. Namun, saat mereka makin jauh ke dalam hutan, terasa tusukan rasa seram yang menyambut kedatangan mereka.


Sang kuda pasti merasakannya juga, sebab kuda itu semakin enggan untuk melangkah maju. Risa memandang Ana, yang menatap ke arah jalan dengan raut tenang.


"Na, ini sepi banget, loh. Kamu sadar betapa sunyinya di sini?" Risa berbisik.


"Aku tahu." Ana mengangguk.


Ana lalu menatap Madun yang terlalu sibuk mengendalikan kuda sehingga tidak memperhatikan sekitar. Atau memang Madun tampak tak mengerti dengan keadaan seperti manusia normal pada umumnya. Madun berusaha menarik tali kekang agar kereta tidak terjungkir masuk jurang.


Tak ada hewan yang Ana lihat bahkan kupu-kupu sekalipun. Ana menelan ludah kala pandangannya mondar-mandir ke pepohonan yang senyap. Seolah seisi hutan menunggu kedatangannya.


Ana hanya bisa berdoa semoga jalan yang mereka tempuh benar. Semoga dia akan segera bertemu dengan Jaya.


Madun terus melajukan kudanya memasuki keheningan sampai tiba di sungai dalam yang mirip sayatan luka menembus lembah. Ana melihat tampak sebentang tanah luas tepat di tengah air. Tanah itu datar dan dipenuhi pohon besar.


"Itu tempatnya!" Ana berujar. "Kita berhasil, Sa! Kita berhasil, Dun!" Ana menepuk bahu Madun lalu tersenyum bersama Risa.


Risa memaksakan senyum untuk menyenangkan Ana. Baginya masuk dalam hutan yang katanya angker sama saja dengan menantang maut.


"Sepertinya asyik juga kalau tinggal di hutan begini," kata Ana untuk sedikit menyemangati.


"Apa kamu bilang? Ana sadarlah!" keluh Risa.


Ana hanya terkekeh saat melirik Risa, si hantu kuntilanak yang juga takut dengan hantu.


Satu-satunya cara kini untuk menyeberangi sungai adalah lewat jembatan kuno dari tali dan kayu yang kemungkinan bisa juga ambruk jika tersenggol sedikit saja. Sang kuda melihat sekali, lalu berhenti. Kuda itu mendengus dan menghentakkan kaki, berusaha menjauhi air. Kuda cokelat itu tampak ketakutan.

__ADS_1


Madun turun untuk merayu dan mengancam sang kuda, Madun mulai meyakinkan si kuda naik ke jembatan. Dan usahanya berhasil. Rangkanya berderit dan melendut saat gerobak mereka melintasi ruas yang keropos. Ada serpihan kayu ke sungai. Ana terus menahan napas di sepanjang jalan.


Akhirnya, Ana sampai juga.


"Nanti kalu nemu jalan selain jembatan ini, mending ke jalan lain itu biar pun sampainya lama," sungut Ana.


Ia bersyukur masih bisa selamat dari penyeberangan maut itu.


Ana menatap ke wilayah yang dianggap sebagai jantung pulau. Wilayah tersebut sudah dibersihkan sehingga membentuk lapangan terbuka yang dikelilingi pohon-pohon gelap. Rumputnya tidak rata, tetapi tertutup sederet bukit kecil, tingginya masing-masing berkisar setengah sampai satu meter.


"Di mana guanya, Na?" tanya Risa.


Ana masih mengamati sekeliling. Angin menyapu gundukan berumput dan efeknya mengingatkan Ana akan gelombang laut yang mengalun. Di ujung rumput yang jauh, ada suatu patung yang berdiri.


Ana mendekat dan melihat kalau ada rumah kosong. Menurut Ana dari kenampakan rumah itu jelas pernah kosong selama bertahun-tahun dan saat itu seolah menyatu dengan sekitar. Ilalang menelan pondasinya. Ana mencekik dinding dan jendela. Atapnya melendut dan diselubungi lumut hitam.


Namun, ada yang membuat Ana berpikir keras. Ada sebatang pohonnya yang paling aneh. Pohon itu besar sekali dan tampak amat, sangat tua. Kebanyakan pohon menebar suasana hening yang anggun ke sekitarnya. Yang ini tidak.


"Pohon besar itu pasti rumah para dedemit," ucap Ana.


Pohon itu sangat dekat dengan rumah kosong tadi, hingga tampak seolah keduanya tumbuh bersama. Batangnya yang besar dan berkenjal- kenjal merambat ke tembok lain bagaikan susunan cerobong hitam yang sangat besar. Cabang-cabang pohon yang mencuat dari segala penjuru bak atap kedua, termasuk beberapa yang terlihat,


langsung menembus dinding.


"Seperti bagian rumah saja batang itu,"


Risa berujar lirih.


Ana tersenyum lalu menarik Risa lebih dekat dan menjambak rambutnya. Risa mulai benci itu.


"Sa, jangan sampai masuk rumah horor itu, ya," pinta Risa


Risa tertatih-tatih ke belakang kereta dan menurunkan pintu kereta. Di dalamnya ada peti kayu gompal dengan tali

__ADS_1


kulit, tanpa pegangan. Mirip benda yang bisa digunakan bajak laut untuk menaruh kepingan emas, tetapi bukannya harta karun, peti itu berisi pakaian usang yang hanya itu milik mereka.


"Aku belum paham juga kenapa kita harus jauh- jauh kemari." ujar Madun, berusaha menarik peti tadi. "Kenapa nggak tinggal sama Nenek Darah aja?"


Ana melompat turun lalu membantu Madun.


"Mau di mana pun juga, nyawa kita masih terancam," ucap Ana membuat melotot,


Ada semacam ekspresi di wajah Aja yang tak tertebak oleh Risa. Air muka yang persis sama ketika ia bercakap-cakap dengan penyihir tua itu di jalan. Air muka yang menegangkan perut Risa. Lalu sesosok jin perempuan muncul dan tersenyum padanya, menekuk lutut sehingga pandangan mereka bertemu.


"Kau pasti bukan manusia sembarangan," ucap sosok itu.


"Halo, namaku Ana. Apa kau bisa menunjukkan di mana gua Gunung Sembah?" tanya Ana tak mau basa basi.


"Mau apa kau ke gua itu?" tanya makhluk penunggu pohon besar itu.


"Suamiku diculik ke sana. Dan dia butuh pertolongan," tukas Ana menjelaskan.


"Baiklah, aku akan mengantarkan. Tapi, tinggalkan kereta kuda ini di sini saja," ujarnya.


Ana meminta Madun untuk tetap di kereta kuda. Dia tak mau membahayakan Madun. Lalu, Risa menemani Ana mengikuti si makhluk penunggu pohon besar tersebut.


***


Jaya terbangun di sebuah gua yang tanahnya lembab. Beberapa batu kerikil yang menusuk sendi telapak kaki berada di sekitarnya.


Pria tampan itu masih mencoba menelisik ke sekeliling mencari tau sedang berada di.mana dia berada kala itu. Suasana dalam gua terlihat pekat. Seperti malam tanpa bulan dan bintang.


Jaya merasa sedang ditemani malam yang pekat tanpa pemandangan bintang berkelip di angkasa menemani bulan separuh. Tiba-tiba, terdengar dua suara laki-laki yang sedang berbincang. Jaya kemudian langsung merebahkan tubuhnya lagi dengan mata terpejam tetapi indera pendengarannya semakin dia kuatkan di balik bebatuan yang besar tersebut.


...*****...


...Bersambung dulu ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2