
Bab 110 DPT
Hati Ana hancur saat tahu kalau Panji dan Mbah Karso akan membahayakan suaminya.
"Sa, ayo kita temui Ibu Melati dan anakku!" Ana memberi titah pada Risa seraya menoleh ke arahnya.
"Sa? Siapa yang kau ajak bicara, Mbak Ana?" Widi menyeringai.
"Apa kau tak melihatnya?" Ana mulai takut apa yang dia khawatirkan terjadi.
Apalagi sosok Risa datang dengan memakai daster putih layaknya sosok hantu kuntilanak.
"Apa yang aku lihat? Memangnya ada siapa di sini? Temanmu itu yang namanya Risa? Hahahaha, dia pasti sudah digerogoti cacing tanah dan belatung saat kami meninggalkannya di hutan!" seru Widi.
Ana menatap Risa lekat. Sosok sahabatnya sudah berurai air mata seraya menangkup kedua tangan di depan dada, "Maafkan aku, Ana. Sungguh tolong maafkan aku."
Ana menggeleng tak percaya kala melihat Risa. Air matanya tumpah tak dapat tertahan. Kini, Ana tahu kalau sahabatnya telah tiada dan hanya hantunya yang masih ada di sini.
Ana lantas mendorong Widi jatuh dengan segenap kekuatannya, "akan aku bunuh kau! Dasar wanita iblis!"
Ana menghantam Widi dengan vas bunga di atas meja. Widi berteriak dan membalas Ana. Ia menyeruduk Ana dengan kepalanya. Ana mencengkeram lengan perempuan jahat itu lalu menghantamkan kepala Widi ke dinding dengan keras.
Ana yang marah karena kematian Bayu, Risa, dan mungkin juga Rama, berusaha menghajar Widi habis-habisan. Kini, ia akan mempertahankan putranya dan juga menolong suaminya. Terjadi pergulatan hebat antara Ana dan Widi. Sampai akhirnya Ana merasa kerasukan. Dia meraih gunting dari atas meja rias, lalu menusuk perut dan dada Widi berkali-kali seraya berteriak, "Mampus kau! Mati kau!"
Risa segera menghentikkan aks8 brutal Ana. Dia memeluk sahabatnya dengan erat setelah berhasil membunuh Widi.
"Udah, Na, udah … ini bukan Ana yang aku kenal." Risa memeluk sahabatnya yang menangis meraung-meraung dengan erat.
"Ini nggak adil, Sa… ini nggak adil! Kamu jahat, Sa, kenapa kamu ninggalin aku!" Ana menangis sejadi-jadinya di pelukan Risa. Tak peduli tangannya bersimbah darah, tubuhnya penuh luka hantaman, dan lebam.
Sekelebat memori terakhir bersama Risa saat berada di rest area dulu terlintas.
***
__ADS_1
"Sa, lihat nenek nenek yang di sana itu! Kayaknya mereka lagi traveling, ya?" Ana tersenyum kalau melihat tiga orang wanita paruh baya sedang mengisi bensin di rest area lalu mampir sejenak ke restoran cepat saji seraya bercengkerama.
"Gambaran kita kalau udah tua nanti. Kita bakal nge-jompo bareng, jalan-jalan bareng sambil nge-gibah bareng Hahahaha." Risa sampai tersedak kala sedang menyantap pop mie di tangannya.
"Terus godain cowok juga, nggak?" balas Ana.
"Gila aja, kamu! Aku kan udah jadi istrinya Raja Jin. Kamu juga udah jadi istrinya pangeran. Terus nanti kita bikin family gathering antara keluarga jin dan keluarga kerajaan, hahaha." Risa benar-benar puas membayangkannya.
"Janji ya, Sa, janji kalau kita tetep sama-sama sampai tua nanti." Ana menjulurkan jari kelingkingnya untuk membuat tautan bersama Risa.
"Janji. Tapi, kalau aku nggak bisa nepatin janji, gimana? Misalnya aku mati duluan, gitu?" Risa melepaskan tautan jari kelingkingnya.
"Kamu orang paling jahat di hidupku dan bakalan aku sumpahin kalau kamu nggak akan mati dengan tenang, hahaha. Begitu juga kalau aku mati duluan, aku bakalan balik buat gentayangin kamu sampai kamu bahagia," ucap Ana.
"Oh… so sweet banget sih belahan jiwa ku ini!" Risa kembali berpelukan dengan Ana.
Keduanya bahkan mengucap bersamaan, "sahabat selamanya!" di tengah pelukan erat itu.
...***...
"Na, lihat aku! Aku akan selalu berada di sisi kamu sampai kamu bahagia, seperti janji kita dulu," ucap Risa.
"Tapi, kamu juga akan pergi nantinya. Aku nggak tahu apa aku bisa jalani hidup ini sendirian nantinya, Sa," isak tangis Ana masih terdengar sesenggukan.
"Kamu masih punya Jaya, punya baby Anjay juga. Aku akan bantu kamu menyelamatkan mereka!" seru Risa.
"Jangan panggil anakku banyak Anjay, Risa!" bentak Ana.
"Iya, iya, bercanda. Yuk, kita selamatin baby Anjaya sama Ratu Melati!" ajak Risa.
"Terus, Rama di mana?" tanya Ana.
"Aku suruh dia lari yang jauh dan minta tolong warga yang ia temui. Kayaknya dia belum mati soalnya aku nggak ketemu pas di pintu masuk tadi. Aku yakin Rama anak yang hebat dan bisa berjuang," ucap Risa.
__ADS_1
"Terus, si Bayu kenapa nggak bisa balik sini?" Ana mengusap bulir bening di pipinya.
"Nggak bisa, Na. Cuma salah satu di antara kami yang bisa balik gentayangan. Itu pun karena janji yang pernah kita buat dulu makanya aku bisa sampai sini. Ayo, Na, kamu bisa semangat lagi dan kita selamatkan baby Anjaya dan Ratu Melati, oke bestie?"
Ana akhirnya mengangguk.
Bersama Risa, Ana mengendap-endap menemui Ratu Melati yang untung saja masih hidup. Ana lantas membawa Ratu Melati ke rumah sakit bersama dengan bayinya.
...***...
Malam itu, Rama kembali dengan seorang pria yang merupakan kakaknya Bayu. Wajah keduanya sangat mirip. Mereka merupakan saudara kembar yang tak begitu identik dan hidup terpisah selama ini.
Baru saja pria bernama Banyu itu mendapat emban dari ibunya untuk mencari Bayu di Pulau Garuda, ia malah mendapati sosok saudaranya telah meninggal dunia. Bayu juga menemukan Rama yang kembali ke rumah Bu Yayah dan menangis.
Rama menceritakan semuanya tentang Bayu dan keluarga Raja Jaya yang terancam dalam bahaya. Rama membawa Banyu menuju hutan untuk menguburkan jasad Risa. Sementara itu, Bayu dan para korban Iblis Rahwana harus dibakar agar kekuatannya tidak diserap oleh sang iblis.
Banyu menuju belakang rumah untuk mengambil kayu bakar yang tersisa sedikit. Sebelum matahari benar-benar muncul, ia berniat membakar para mayat tersebut. Tubuh mayat-mayat itu dibiarkan tergeletak di posisi sejajar kemudian kayu bakar setelah ditata di sekitar tubuh mereka. Kemudian, beberapa gabah diturunkan hingga menutupi tubuh para mayat.
Banyu sudah menggenggam sebungkus korek api kayu. Ia menekan batang korek tersebut, lalu menggesekkan pada wadahnya. Api menyala dan melemparkannya pada tumpukan jerami itu. Seketika api itu langsung menyambar gabah kering yang menumpuk di atas tubuh para mayat.
Sesaat Rama mengamati raga Bayu, paman terbaiknya, yang terlilit api. Kemudian ia bergegas mengemasi barang-barangnya. Ia hanya membawa beberapa pakaian yang diikatkan jadi satu pada sebuah kain. Ia juga mengajak Rama menuju ke Pulau Merak, tempat dia memimpin kerajaan kecil di sana.
Banyu dan Rama pun berjalan meninggalkan rumah Bu Yayah, berjalan tanpa dan menengok sedikit pun ke belakang, ke arah rumah yang kini mulai digerogoti kobaran api. Saat langkah Bayu dan Banyu mantap sudah mencapai bukit, mereka menghentikan langkahnya sembari beristirahat.
Banyu dan Rama menengok ke belakang dan melihat kobaran api dari rumah Bu Yayah. Kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke udara, membenamkan seisi kenangan pemiliknya.
"Paman, mengapa kita tidak menolong Mama Ana dan yang lainnya?" tanya Rama.
"Belum saatnya, Nak. Kekuatanku tidak akan mampu menandingi iblis jahat tersebut," tukas Banyu.
...*****...
...Bersambung dulu ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...