Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 125 - Raja Jin Haram


__ADS_3

Bab 125 DPT


"Kita punya kekuatan Rahwana, Sayang. Aku jadi yakin kalau Jaya bisa mengalahkan apa pun yang ada di tempat mengerikan tadi," ucap Ana meskipun sebelumnya dia ragu.


"Bagaimana jika aku melihatnya secara diam-diam? Toh, aku sudah mati," kata Risa.


"Kau memang sudah mati tapi tau-tau kau bisa musnah," ucap Ice.


"Hah? Masa bisa seperti itu?" Risa mendelik tak percaya.


"Terserah kau saja lah!" sungut Ice lalu merebahkan diri.


Tubuhnya sangat lelah sekali.


"Ana, izinkan aku untuk memata-matai keadaan di sana, ya?" pinta Risa.


Ana menoleh pada Jaya dan Pak Burhan. Ia bingung dan dari tatapannya mencari pendapat.


"Ada baiknya juga ide tersebut dilakukan," ujar Burhan.


"Sa, kamu hati-hati dan lekas kembali!" Jaya berharap pada Risa.


"Oke, aku akan segera kembali membawa kabar untuk kalian," ucap Risa.


...***...


Ana tidur di pelukan Jaya saat berada di tempat persembunyian tersebut. Sementara Putri Ice telah terlelap dan Burhan tidur dalam keadaan duduk bersandar. Risa datang menepuk bahu Burhan.


"Pak Burhan, bangun!" sentak Risa.


Jaya yang belum terlelap sepenuhnya juga terbangun, ditambah dengan Ana yang terjaga.


"Ada apa, Sa? Apa yang kau temukan di sana?" tanya Jaya mendekat.


"Aku melihat anjing besar berkepala tiga. Mukanya kayak anjing buldog. Kakinya cuma empat, tapi kepalanya tiga. Terus ada anak perempuan yang baru aja dilempar jadi santapan dia. Dan dia mirip …." Risa menoleh pada Putri Ice yang masih terlelap.


"Jangan bilang kalau kau menemukan adiknya Putri Ice?" tanya Ana.


Risa mengangguk.


"Oh, tidak…." Ana menatap tak percaya menahan tangis.


"Haruskah kita beritahu dia?" tanya Jaya seraya melirik ke arah Putri Ice.


"Sebaiknya jangan dulu. Rencana kita nantinya gagal untuk mendapatkan Pedang Perak itu. Aku yakin anjing berkepala tiga itu menjaga pedang tersebut," ucap Burhan.


"Pak Burhan benar. Memang ada yang sedang hewan itu jaga. Lalu, mereka yang mati dipersembahkan, darahnya dialirkan untuk hewan itu," ucap Risa.


"Jadi, sungai yang ada genangan darah tadi adalah korban dari hewan mengerikan itu?" tanya Jaya.


Burhan mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana cara kita menghabisi hewan tersebut?" tanya Ana.


"Aku rasa belum pernah ada yang bisa," sahutnya.


"Aku akan membuktikan kekuatan dari Rahwana yang ada pada diriku. Mungkin jika kekuatan kita disatukan bersama kekuatan Putri Ice, kita akan membunuh anjing besar itu," ucap Jaya.


"Ummm, tapi siapa yang memberi persembahan ke pada hewan itu? Apa tadi kau melihatnya, Sa?" tanya Ana.


"Aku tidak melihatnya, dia memakai jubah hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung," sahut Risa.


"Aku baru ingat sesuatu. Apa Paduka Raja pernah menghadiri pertemuan para raja nusantara akhir-akhir ini?" tanya Burhan.


Jaya menggelengkan kepalanya.


"Memangnya ada apa?" tanya Jaya.


"Aku hanya ingin memperingatkan kalau jangan mudah percaya dengan para raja dan ratu itu. Dengan kekuatan lima raja di Nusantara, pemerintah pusat kota juga akan mudah dipengaruhi. Termasuk seorang presiden sekali pun," ujar Pak Burhan.


"Apa ada hal yang aku lewatkan dari perkumpulan kalian ini?" Putri Ice terjaga dan mendadak mengejutkan semuanya.


"Kami hanya berencana menyusun strategi. Risa menemukan pedang peraknya. Tapi, ada makhluk besar yang mengerikan yang menjaganya. Pitbull besar dengan kepala tiga," ucap Jaya.


"Tak mungkin. Aku yakin ayahku pernah membunuh hewan itu saat perburuannya dengan Ratu Merak dan juga Raja Meraki terdahulu. Bagaimana bisa hewan itu bisa selamat dan malah ada di wilayah Raja Jin Utara?" Putri Ice terlihat panik dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku rasa, ada yang sedang bersekutu dengan Raja Jin Utara. Dan aku yakin kalau dia berasal dari kalangan kerajaan," ucap Burhan.


"Apa kau tahu kalau aku pernag curiga pada Ratu Merak. Sesekali dia memiliki sifat baik tetapi sesekali dia memiliki sifat jahat. Bahkan dia pernah membunuh suaminya sendiri karena sang suami ingin menceraikannya," ucap Putri Ice.


"Tunggu deh, Na. Kalau bahas Raja Jin Utara, apa dia berhubungan dengan Raja Jin Harun? Suami aku dulu?" tanya Risa tiba-tiba.


"Raja Jin Harun?" Burhan menimpali.


Risa mengangguk. Jaya dan Ana akhirnya menceritakan petualangan mereka di wilayah Raja Harun dan pernikahan Risa dengan sosok Raja Jin itu.


"Setahu aku, Raja Haram punya adik yang bernama Harun, penguasa Selatan," sahutnya.


"Heh, kenapa kau sebut namanya?!" pekik Putri Ice sampai memukul bahu Burhan.


"Raja Haram?" Ana, Jaya, dan Risa mengucap bersamaan.


"Ssstttt, jangan ucapkan nama itu!" seru Putri Ice lagi.


"Iya, itu nama dia. Nama Raja Jin Utara yang sebenarnya tak boleh disebut itu," ucap Burhan dengan suara rendah.


"Memangnya kenapa kalau namanya disebut?" tanya Risa.


"Dia akan menemukan kita dan menghabisi kita dengan mudah," ucap Burhan.


"Dan jangan buat kekuatan aku menyembunyikan kalian di sini jadi sia-sia," tukas Putri Ice.


"Oh, kalau dipikir-pikir ya benar juga sih jangan disebut, soalnya haram hehehe," celetuk Risa.

__ADS_1


Ana dan Jaya hampir tertawa menanggapi Risa, tetapi Burhan dan Putri Ice sudah menatap tajam ke arah mereka penuh ancaman dan peringatan.


"Oke, oke, jangan kita sebut kalau gitu," lirih Ana.


"Kita akan keluar dari sini saat fajar besok. Sekarang kita kembali istirahat dulu," ucap Burhan.


"Aku harus memeriksa barang-barang di dalam ransel sebelum malam tiba. Melihat barang apa saja yang bisa kita manfaatkan nanti," tukas Putri Ice.


Ia membuka penutup ransel. Ada yang paling dia inginkan saat itu dan pasti sama dengan semuanya. Mereka butuh air segar. Udara di dalam hutan tropis dalam gurun salju itu sebenarnya terasa panas.


"Apa kita bisa bertahan lama tanpa air?" tanya Putri Ice pada Burhan.


"Selama beberapa hari ke depan mungkin kita bisa bertahan. Kita masih bisa hidup, tetapi akan ada gejala-gejala dehidrasi yang tidak mengenakkan. Tapi setelah itu, kondisi kita pasti akan memburuk dan kepayahan dan kita pasti akan mati dalam seminggu, paling lama," ucapnya.


"Lalu, bagaimana kita akan bertahan?" tanya Jaya.


"Pokoknya ya bertahan saja. Masalahnya musim di sini bisa berubah-ubah. Ada salju yang dingin, musim tropis yang panas, hujan lebat, atau malah campuran semua musim," jawab Burhan.


"Pokoknya besok kita ke tempat Pedang Perak itu agar kita segera pergi dari tempat ini dan memulai perang melawan Raja Jin Utara," tukas Putri Ice.


Perlahan-lahan sang putri mengeluarkan barang-barang dalam tas yang dia bawa sebelumnya. Ada sebotol air minum, sebungkus biskuit, dan sebungkus dendeng sapi kering.


Ana juga memeriksa isi tas ransel Jays yang berisi botol plastik berukuran satu koma lima liter lengkap dengan tutupnya yang bisa untuk menampung air. Akan tetapi saat sekarang, botol tersebut masih kering kerontang.


"Tidak ada air," lirih Ana.


"Besok kita isi botol ini penuh saat kita temukan air," ucap Jaya.


Dia sadar mulut dan kerongkongan mulai kering. Jaya juga melirik ke bibir Ana yang mulai pecah-pecah. Cuaca panas dan banyak berkeringat membuatnya sangat kehausan di dalam pohon persembunyian yang diciptakan Putri Ice.


Ketika Putri Ice menyimpan barang-barang ke dalam ransel, terlintas pikiran yang mengerikan. Danau darah tadi. Danau yang dia lihat tadi sebelum melihat air terjun darah.


"Ummm … apa kalian tadi melihat danau darah?" tanya Putri Ice.


Burhan dan lainnya mengangguk.


"Bagaimana jika danau itu satu-satunya sumber air di sini?" tanyanya.


"Kau mau minum darah itu?" Burhan ganti bertanya.


"Ya tentu saja tidak mau. Entah kenapa aku jadi takut," ucap Putri Ice, "aku bahkan sempat berpikir, bagaimana jika adikku ternyata mati di sana?"


Semua hanya saling bertatapan, tetapi tal mau menjawab apa yang dilihat Risa sebelumnya.


"Beristirahatlah supaya tubuhmu segar kembali dan bisa menggunakan kekuatan hebat mu lagi saat pertarungan esok," ujar Ana.


Putri Ice merasakan ketulusan di senyum Ana. Kehangatan dan kasih sayang seorang kakak. Ia pun lantas berbaring kembali dan mencoba terlelap.


...*****...


Bersambung dulu, ya. See you next chapter!

__ADS_1


__ADS_2