
Bab 86 DPT
Perjalanan menuju terminal bus itu akhirnya berhasil dilalui juga meskipun dengan susah payah. Jalanan terjal dan berbatu serta kuda yang tiba-tiba ngambek di jalan membuat Bayu terpaksa membantu Mbah Jam menarik kuda tersebut dan membujuk kuda itu layaknya anak kecil yang akan diajak main.
"Makasih ya, Mbah," ucap Ana dan Risa.
Ana lantas memberikan dua lembar uang ratusan ribu pada Mbah Jam.
"Loh, ini kebanyakan Nduk," sahutnya.
"Nggak apa-apa, Mbah. Saya ikhlas kok," ucap Ana.
"Makasih, ya. Oh iy Mas Bayu, jangan lupa salam buat Nenek Asih," ucap Mbah Jam.
"Ampun deh nih tua bangka masih ganjen aja sama nenek nenek," batin Bayu yang langsung menanggapi dengan senyum dan anggukan.
Bayu dan lainnya melambaikan tangannya pada Mbah Jam, lalu mencari petunjuk bus yang menuju ke Dusun Abang.
"Tuh, bis warna merah! Ada tulisan via Dusun Abang!" tunjuk Risa.
"Oke, kita beli tiket buat yang itu," ucap Ana.
"Ingat ya, Na, beli tiket tiga bukan empat. Si jaya nggak kelihatan," ucap Risa.
"Oh iya, hampir aja beli empat, hehehe." Ana lalu melangkahkan kakinya menuju loket bus ukuran tanggung tiga puluh kursi berwarna merah dengan garis di tengahnya warna hijau.
Ana membeli tiket pada seorang gadis penjaga tiket di terminal tersebut.
"Mau kemana, Mbak?" tanya gadis berponi dan berkaca mata tebal itu pada Ana.
"Ke Dusun Abang, Mbak."
"Berapa orang?" tanyanya lagi.
"Tiga orang, Mbak," sahut Ana.
Gadis itu melihat Ana dengan saksam.
"Mbak kayak orang kota, deh. Terus kayak pernah lihat gitu, tapi di mana, ya?" tanya gadis itu.
"Perasaan kamu aja kali, Mbak," sahut Ana.
"Sayang, ayo buruan!" ajak Jaya.
"Astagfirullah!" Gadis penjual tiket itu langsung menunduk.
Rupanya dia dapat melihat Jaya. Tangan gadis itu gemetar ketika menyerahkan tiga lembar tiket pada Ana.
"Mbak, ha-hati, hati, hati-hati ada pocong yang ngikutin, Mbak," ucapnya.
"Oh, dia sih udah jinak, Mbak. Tenang aja dia nggak ganggu. Semuanya jadi berapa?" tanya Ana.
"Ja-jadi, jadi dua ratus dua puluh lima. Satu tiketnya tujuh lima," sahutnya masih tak mau melihat Jaya.
Kepanikan dan ketakutan melanda gadis penjaga tiket itu.
"Okey!" Ana menyerahkan
Gadis penjual tiket itu menyerahkan tiga lembar uang ratusan ribu. Gadis itu langsung mencari uang kembalian dan diserahkan pada Ana.
__ADS_1
"Makasih ya–"
Setelah gadis itu menyerahkan uang kembalian pada Ana, ia langsung berlari menjauh sampai tak tahu arah dan menabrak sembarang orang yang dia temui di hadapannya. Sesekali gadis itu melirik ke arah Ana dan Jaya.
"Kamu tuh ngagetin aja, kasian kan dia jadi ketakutan," ucap Ana pada Jaya.
Ia lalu mengajak Risa dan Bayu untuk menaiki bus tersebut.
"Ngomong sama siapa, Mbak?" tanya seorang pria yang mengalungkan handuk kecil lusuh yang warnanya sudah pudar dan penuh noda.
Bau apek tercium dari handuknya bahkan tubuh pria itu juga tercium bau tak sedap. Rupanya ia kenek bus tersebut. Ana mati-matian menahan mual. Sementara Risa sudah memuntahkan isi perutnya dari tadi sebelum naik ke dalam bis. Kenek bus tersebut sangatlah tak wangi.
"Saya lagi ngomel sama cowok itu, Mas. Soalnya temen saya itu nggak mandi makanya bau banget," sahut Ana menunjuk Bayu.
"Lah, kok?" Bayu tak mengerti.
"Makanya mandi, Mas, biar nggak bau!" ucap si kenek mencibir Bayu lalu pergi.
"Lah, dia nggak nyadar diri kalau dia yang bau, huuuu!" sungut Bayu.
Ana memilih duduk di kursi paling belakang disusul Jaya yang duduk di sampingnya. Risa dan Bayu duduk di samping mereka dibarisan kursi belakang tersebut.
Bus yang ditumpangi Ana, Risa, dan Bayu lantas melaju. Rasa kantuk menyerang Ana kala itu juga karena semalaman ia tidur tak nyenyak. Namun, Ana kembali membuka kedua matanya karena teringat sesuatu.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Jaya.
"Kita nggak naik bus hantu, kan? Aku porno, nih!"
"Hahaha, udah sih tidur aja lagi! Aku akan pastikan ini bukan bis hantu," sahut Jaya yang meminta Ana agar bersandar di bahunya.
Seorang pria yang baru duduk memperhatikan Ana dengan raut wajah aneh dan bergidik ngeri. Ia mengira Ana sedang berbicara sendiri sedari tadi.
Baru sepuluh menit perjalanan, ternyata bus tersebut mengangkut penumpang juga dari beberapa halte. Beberapa orang naik dari halte tersebut. Seorang wanita duduk di samping Bayu yang ternyata sudah tertidur pulas di samping Risa.
Bayu sampai terbangun saat lonjakan dalam bus itu terjadi. Bus itu melewati jalanan berbatu yang cukup membuat para penumpang mual. Tangan kanan Bayu malah tak sengaja sampai terjatuh di paha wanita yang memakai rok mini kala itu.
"Eh, maaf ya, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap Bayu seraya melayangkan senyum.
"Enggak apa-apa kok, Mas."
"Udah deh, jangan sengaja senyum-senyum genit gitu! Biasa aja ngeliatinnya!" bisik Risa seraya mencubit pinggang Bayu.
Bayu langsung mengaduh dan menarik tangan Risa menjauh.
"Sakit, Risa!" bisik Bayu.
Wanita di samping Bayu malah semakin sengaja merapatkan tubuhnya Bayu. Tangan wanita itu malah mulai meraba area paha Bayu sambil tersenyum genit.
"Eh, maaf Mbak, geli tau!" lirih Bayum
Bukannya menghentikan gerakan liarnya, wanita itu malah makin gencar menyentuh ke arah area sensitif milik Bayu. Rupanya, ia ingin mencopet dompet di saku belakang celana Bayu.
Risa mulai geram melihat kelakuan wanita genit di samping Bayu itu. Lantas saja ia meminta Bayu agar berpindah tempat dengan dirinya.
"Kok, pindah Mas?" tanyanya.
"Maaf, Mbak. Saya disuruh pindah," sahut Bayu.
"Mbak, pindah tempat, dong!" Wanita itu memberi perintah pada Risa.
__ADS_1
"Wah, ngajak ribut ini cewek." Risa lantas menarik Jaya agar menunjukkan wujudnya pada wanita genit itu.
Sontak saja, wanita itu langsung terlonjak kaget. Ia segera berpindah tempat menuju kursi yang berada di tengah bus. Sesekali ia tolehkan wajahnya menatap Jaya yang sudah menghilang dari pandangan. Bulu kuduknya meremang seketika.
"Kok, aku lihat ada pocong ya di belakang," gumamnya.
"Syukurin, rasain kamu!" gerutu Risa.
"Kamu itu ya, Sa, iseng banget tau!" ucap Jaya.
"Lagian si Bayu jelas-jelas mau dicopet malah diem aja. Mentang-mentang keenakan diraba-raba," sahut Risa.
"Sumpah, Risa. Aku nggak tau kalau dia cepet," sahut Bayu.
"Ada apa, sih?" tanya Ana yang terjaga.
Risa lantas menceritakan kejadian yang dialami Bayu tadi.
Seorang kenek bus meminta tiket pada Risa.
"Ada dompet yang hilang, nggak?" tanya kenek itu.
Dia tahu kalau wanita yang duduk di samping Bayu tadi adalah sindikat pencopet dalam bus yang biasa berkeliaran.
"Nggak, Pak. Nih, dia hampir aja dicopet," sahut Risa menunjuk Bayu.
"Untung aja Mas. Eh, mau lihat adegan hot, enggak?" bisik kenek itu pada Bayu.
"Hot gimana, Pak?" tanya Bayu.
"Tuh cewek montok yang duduk di samping kamu tadi, dia tuh pindah ke sana dan berhasil barusan," ucapnya.
"Berhasil gimana?" Bayu masih tak mengerti dengan ucapan si Kenek tadi.
"Berhasil nyopet, Bay!" sahut Risa.
"Bener tuh, Mbak. Dia sengaja pegang-pegang terus sengaja juga biar dia dipegang-pegang sama cowok di sebelahnya. Eh, tau-tau nanti dompet tuh cowok ilang aja pas dia turun," ucap Kenek itu.
"Lho, kalau tau begitu kenapa nggak di peringatkan aja tuh korbannya," seru Bayu mulai kesal.
"Kamu liat tuh ada duancowok yang badan gede itu?" bisiknya seraya menunjuk dengan lirikan mata.
Bayu dan Risa mengangguk.
"Nah, itu komplotannya. Kalau kamu berani macam-macam ngaduin ulah cewek tadi, ya habislah kamu," ucap si Kenek.
"Tapi, itu nggak bisa dibiarkan!" sungut Bayu.
"Udah diam-diam aja di sini, daripada nanti kamu yang jadi korbannya dua cowok gede itu." Risa menarik tangan Bayu.
Kenek itu lalu pamit dan melangkah ke depan menuju penumpang lainnya untuk meminta tiket bus.
"Tuh apa aku bilang, makanya aku gak suka tadi tuh cewek genit sama kamu. Benar kan taunya dia maling," kata Risa.
"Padahal aku pikir tadi kamu cemburu," ucap Bayu.
Risa menepuk paha Bayu dengan kencang sampai mengaduh berteriak. Aja dan Jaya hanya bisa menertawakan keduanya.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...