Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 25 - Di Klinik yang Aneh


__ADS_3

Bab 25 DPT


Risa langsung menghubungi Bayu untuk membawa mereka ke rumah sakit. Akhirnya, perjalanan mereka yang diiringi ketakutan karena Bayu melajukan mobil dengan kencang membuahkan hasil.


"Ah, syukurlah kita selamat. Mana aku belum kawin kan nggak lucu kalau udah is dead," celetuk Risa.


"Apalagi aku, Kak. Aku kan masih kecil gini. Aduh, aku mau muntah!" Lasas langsung menuju sudut parkir untuk memuntahkan isi dalam perutnya.


Di samping Laras sudah ada Jaya yang muntah terlebih dahulu akibat aksi ngebut Bayu. Namun, Bayu malah membawa Ana ke sebuah klinik yang bertuliskan Kilinik Ibu dan Anak Bahagia yang berhasil dia temukan lebih dulu ketimbang rumah sakit.


Bayu lantas membopong tubuh Ana dan segera meminta petugas jaga klinik tersebut untuk memanggil dokter dan memeriksa kondisi wanita tersebut.


"Waduh, istri aku itu! Jangan main dibopong aja!" Jaya segera menyusul Bayu yang tidak mendengar seruannya.


Seorang petugas medis wanita menyambut Bayu dan Ana.


"Letakkan dia di dalam sini, Mas!" seru petugas wanita muda yang mempersilakan Bayu untuk membaringkan Ana di atas ranjang berperlak biru.


"Awww, ini sakit sekali!" rintih Ana yang mulai terjaga akibat Bayu tak sengaja membuat kepalanya terantuk bagian atas ranjang.


"Eh, maaf Tuan Putri, saya nggak sengaja," ucap Bayu.


"Na, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Risa yang panik menghampiri.


"Perut aku sakit, Sa," ucap Ana.


"Sabar ya, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa Anda," ucap sang suster lalu dia meminta Bayu dan Laras untuk menunggu di luar ruangan sementara Risa bersikeras untuk tetap menemani sampai dokter datang.


Jaya masuk ke dalam ruangan Ana. Dia tampak cemas sesekali memegangi tangan Ana.


"Maaf ya, aku nggak bisa jaga kamu dengan baik," ucap Jaya. Iris matanya mulai mengkilap.


"Kamu jangan nangis, dong. Masa pocong nangis, sih?" Ana malah meledek Jaya.


Bayu dan Laras sempat melihat sikap Ana yang menurut mereka aneh.


"Ana nggak apa-apa, kok, dia biasa gitu suka ngomong sendiri sama bayinya," ucap Risa memberikan alasan palsu. Dia tahu pasti Ana sedang berkomunikasi dengan arwahnya Jaya.

__ADS_1


"Sebaiknya telepon Kanjeng Ratu takutnya Mbak Putri Ana kenapa kenapa," tukas Bayu masuk kembali ke dalam ruangan mencolek bahu Risa.


"Eh, jangan langsung menghubungi Kanjeng Ratu! Nanti malah jadi masalah besar terus kita dicari tahu kenapa sampai ke dekat hutan sana," ucap Risa.


"Iya, jangan bilang siapa-siapa, Mas Bayu," ucap Ana ikut mencegah.


Laras juga tampak mengangguk. Dia juga takut kalau nanti ibunya tau jika baru saja dia hampir menunjukkan kejahatan yang ayah dan ibunya sembunyikan dari pihak kerajaan.


"Kalian memangnya dari mana, sih? Dan apa yang sebenarnya hendak kalian lakukan?" tanya Bayu.


Risa lantas menceritakan apa yang dia alami bersama Ana dan Laras.


"Memangnya apa yang orang tua kamu sembunyikan, Laras?" tanya Risa.


Belum sempat Laras menjawab, seorang dokter pria paruh baya bernama Dokter Tommy Sentosa datang menghampiri Ana.


Dia memeriksakan kondisi Ana dengan cermat dan saksama. Pria tua itu lantas menghampiri Bayu.


"Istri Anda mengalami kram di perutnya. Mungkin karena faktor kelelahan atau kejutan yang hebat. Tapi tenang saja, Tuan, kandungan istri Anda baik-baik saja untungnya," ucap Dokter Tommy.


"Eh, sa-saya, saya bukan–"


Bagai disambar petir di siang hari kala mendengar penuturan sang dokter. Jaya langsung terbelalak menatap pria paruh baya itu kala menyebut Bayu suaminya Ana. Jaya tak terima.


"Syukurlah kalau kondisi kandungannya baik-baik saja. Kalau sampai tuh bayi kenapa-kenapa, habis lah kau Ana!" sungut Risa.


"Kandungan istri Anda baru berusia sebelas minggu. Masih sangat riskan di tahap trimester pertama. Tolong jangan berhubungan badan dulu, ya," ucap dokter paruh baya itu seraya terkekeh menepuk bahu kanan Bayu.


"Sebelas minggu? Itu artinya satu bulan empat minggu, jadi sebelas minggu itu sekitar dua bulan lebih tiga minggu, ya? Hampir tiga bulan, kan?" celetuk Laras yang sibuk menghitung sendiri.


Dokter Tommy pun pamit.


"Dok, saya suaminya! Saya di sini!" Jaya berusaha memanggil sang dokter tapi tak diindahkan jua.


"Maaf ya, Mbak Tuan Putri, saya jadi dikira suaminya Tuan Putri," ucap Bayu.


"Pada panggil saya Ana aja, sih. Panggil Mbak Ana juga nggak apa-apa. Males banget dengernya pakai Tuan Putri segala," ucap Ana.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang suster datang memberikan resep obat.


"Duh, maaf ya. Di klinik ini lagi kehabisan obat dan vitamin bagi ibu hamil. Kalian tahu sendiri lah di tempat seperti ini pasti jarang pasien yang hamil datang ke sini. Ini resep dari Dokter Tommy yang harus Anda tebus, bisa cari di apotek deket pasar atau ke rumah sakit kota," ucap suster tersebut seraya memohon maaf dan menyerahkan lembaran resep obat pada Bayu.


"Ya udah kita cari obatnya sekalian pulang aja," ucap Risa.


"Pasien belum boleh pulang, takut ada pendarahan lagi. Tunggu sampai besok, ya. Tapi obatnya bisa langsung dicari dulu, silakan," ucap suster tersebut lalu pamit setelah melayangkan senyum.


"Ya udah kalau gitu aku istirahat dulu aja. Minta tolong Mas Bayu buat cari obatnya nanti bawa ke sini," pinta Ana.


"Mas Bayu bisa cari obatnya, kan? Saya kasih dua ratus ribu dulu, kalau kurang tebus setengahnya aja dulu," ucap Risa.


"Mudah-mudahan cukup. Ya udah kalau gitu saya cari obatnya dulu ya, Mbak," sahut Bayu.


"Laras ikut, ya. Laras mau cari makan soalnya laper," ucap Laras.


"Nah, sekalian beli makanan buat saya sama Ana juga, ya," pinta Risa.


"Oke, Mbak." Bayu mengangguk.


Dia dan Laras lalu pamit. Sementara itu, Jaya masih terdiam tak berkata-kata lagi. Dia tengah berpikir keras merasa ada yang aneh dengan klinik tersebut. Apalagi suster dan dokter tadi sangat senang mendengar mengenai kehamilan Ana.


"Kamu kenapa diam aja?" tanya Ana menyentak Jaya.


"Aku merasa ada yang aneh dengan klinik ini," sahut Jaya.


"Aneh gimana? Apa karena sepi?" Ana balik bertanya.


Risa menoleh pada Ana lalu bertanya, "kamu lagi ngobrol sama Jaya, ya?"


"Iya, kata Jaya ada yang aneh sama klinik ini. Apa mungkin karena sepi ya, Sa?" Ana mencoba untuk mengubah posisinya menjadi duduk.


"Ah, jangan ngomong yang nggak nggak, deh! Masa sih klinik ini aneh?" Risa jadi penasaran dan menuju ke arah jendela.


Risa membuka tirai perlahan dan mengamati halaman yang mulai ditumbuhin semak-semak. Ada beberapa pot berisi bunga matahari dan mawar yang mulai layu. Tiba-tiba, Ana dan Jaya berteriak bersamaan kala melihat sesuatu yang menyeramkan muncul di balik jendela, tepat di hadapan Risa.


"Aaaaaaaaaaaaa!"

__ADS_1


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2