Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 50 - Kuntilanak Ratmi


__ADS_3

Bab 50 DPT


Sementara Pak Adi, tetangganya Pak Kades, dan beberapa warga memindahkan jenazah Pak Kades dan meletakkannya di bangku panjang yang ada di ruang tamu. Mereka semua juga tidak menyangka kalau beliau akan meninggal dengan cara seperti itu.


"Bapak – bapak, mari kita segera urus jenazah Pak Kades," ucap Pak Adi yang meminta bantuan beberapa warga di sana.


Terlihat semua orang menatap dengan penuh rasa ngeri melihat kondisi jenazah Pak Kades yang mengenaskan itu.


“Bay, Ana sama Risa pada ke mana?” tanya Jaya.


“Ya ampun, baru sadar saya kalau mereka dari tadi nggak ada," sahut Bayu.


“Ayo, cari mereka ke halaman belakang!” titah Jaya.


Ana dan Risa bergegas mengejar kuntilanak itu. Namun, saat kuntilanak itu melayang, daster lusuh yang dia kenakan sempat tersangkut di ranting pohon dan membuatnya terantuk di kepala. Sosok hantu perempuan itu lalu tersangkut dengan posisi terbalik.


Wajahnya penuh luka berongga dan belatung disertai kedua mata yang menghitam bak mata panda. Rambutnya kusut berantakan dan tergerai sampai menyusuri tanah. Banyak juga serangga yang jatuh dari rambut kusut kuntilanak itu.


“Astagfirullah, mentang-mentang udah jadi hantu paling nggak perawatan dikit kek,” ucap Risa yang berusaha menghindari kutu rambut yang seukuran kecoa kecil.


“Hush, kalau ngomong jangan bener bener amat," ucap Ana menahan tawa.


“Kalian mau apa sih mengejar saya? Tolong pergi jangan ganggu saya!" pinta kuntilanak itu seraya merintih.


“Jawab dulu pertanyaan ku!” seru Ana.


“Apa lagi yang harus saya jelaskan? Tadi kan saya udah jelaskan tentang si Misan dan gundik mudanya itu," ucapnya ketus seraya menarik daster lusuh yang tersangkut itu.


Ana memberi kode pada Risa untuk melirik ke atas. Kaki kuntilanak itu hanya tersangkut di ranting yang sebenarnya bisa dilepas sendiri dengan bergeser.


“Mau ketawa tapi takut dosa ya, Na. Eh, nggak dosa lah ya kalau kita ngetawain hantu?” bisik Risa menahan tawanya di belakang Ana.


“Ya udah sekarang jawab pertanyaan saya. Ini pertanyaan tunggal nggak ada pilihan ganda,” ucap Ana setelah mencoba menenangkan diri dari tahan tawanya.


“Ada call a friend nggak, Na? Atau bisa minta bantuan kayak kuis gitu?” celetuk Risa.


“Gaya banget kamu pakai bilang call a friend, kayak punya hape aja. Lagian tadi aku bilang pertanyaan tunggal nggak ada pilihan ganda atau pun ask the audience," sahut Ana malah menimpali candaan Risa.


“Kalian jadi nanya, nggak?" Kuntilanak itu mulai kesal.


“Oke, oke, oke, Mbak. Maaf gara-gara dia bilang call a friend jadi inget kuis itu. Mbak Kunti, nama kamu siapa? Apa hubungannya kamu sama Mbah Misan?" tanya Ana.


“Nama saya Ratmi, saya istri pertama Mbah Misan. Orang pertama yang ditumbalkan Retno saat saya hamil," ucapnya.

__ADS_1


“Tuh kan bener dugaan aku kalau dia ada hubungannya sama Mbah Mijan. Aku yakin dia masih dendam sama kematiannya makanya gentayangan," ucap Ana yang membantu Kuntilanak itu untuk turun.


"Jadi, dia istrinya Mbah Misan? Istri paling tua?" tanya Risa.


"Saya nggak tua, ya. Saya aja meninggal di usia tiga puluh, kok. Saya nikah muda sama Misan pas usia tujuh belas. Terus dia mulai tuh main serong dan nikahin banyak perempuan. Tapi, semenjak Retno datang. Dia menguasai semuanya. Dia bahkan sudah mengubah suamiku menjadi penjahat yang berambisi," tukasnya menjelaskan.


Tampak kuntilanak itu menggaruk-garuk rambutnya yang terlihat gatal. Beberapa serangga berjatuhan. Rambutnya juga rontok dan memperlihatkan kulit kepala yang mengelupas. Lalu kuntilanak itu menjilatnya dan menempel kembali rambut di kulit kepalanya dengan air liurnya sendiri.


Ana tak kuasa lagi menahan tawany. Sementara itu, Risa juga sudah berpegangan dengan pohon di sampingnya seraya tangan satunya memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Ana lantas membantu Si Kuntilanak tersebut agar terbebas.


"Nih, kakinya digeser begini," ucap Ana.


Tiba-tiba Ratmi malah tertawa melihat begitu mudahnya membebaskan diri. Risa makin kencang menertawai kepolosan Ratmi.


"Baru ini aku nggak takut sama kuntilanak, loh," celoteh Risa.


Hantu kuntilanak itu lantas semakin tertawa cekikikan.


“Yeee … ngapain Mbak Kun ikutan ketawa?” tanya Risa.


“Habisnya kamu ketawa, ya saya ikut ketawa," sahutnya.


“Duh, emang kalau pas lagi pembagian otak datangnya telat ya gini, deh. Makanya masih gentayangan belum bisa ngalahin Mbak Retno," sungut Ana.


"Lalu, apa dia yang bunuh Pak Kades?" tanya Risa tiba-tiba.


“Saya nggak bunuh dia. Bukankah tadi Mbak yang ini yang sama saya di halaman belakang lagi ngobrol tau tau rumah Pak Kades mati lampu. Iya kan?" tanya Kuntilanak itu menoleh pada Ana.


"Iya ya benar juga," jawab Ana.


***


Sementara itu, Jaya dan Bayu bergerak ke halaman belakang untuk mencari Ana dan Risa. Mereka masih saja saling dorong untuk menuju ke halaman belakang.


"Ini yang jadi hantu siapa, sih? Harusnya situ udah berani ke tempat gelap begini," sungut Bayu mendorong Jaya.


"Gini ya, Bayu. Kalau ada Raja Harun aku berani, kalau sama kamu begini aku takut juga kalau iblis wanita pemakan bayi tadi yang muncul. Kalau dia tiba-tiba makan pocong, gimana?" tanya Jaya dengan polosnya.


"Haduh, punya pangeran begini amat, ya. Nggak ada wibawa dan keberanian yang bisa dibanggakan. Jauh banget sama wibawanya Raja Sumarjo," ucap Bayu.


Jaya lantas menoyor kepala belakang Bayu. Akan tetapi, langkah Bayu berhenti kemudian saat mendengar ada tiga suara perempuan yang tertawa di sana.


“Pang-pangeran, kok jadi banyak suara ketawa cekikikan? Ini kayaknya hantunya jadi banyak gini, ya?” tanya Bayu.

__ADS_1


Kedua kakinya gemetar seolah terpaku dan tak bisa lagi melangkah. Pria itu menoleh ke belakangnya karena tak ada jawaban dari tadi. Betapa terkejutnya dia kala sosok Jaya sudah menghilang dari belakangnya.


“Pangeran gemblung! Taunya dia kabur duluan! Duh, bagaimana ini?”


Bayu berusaha melangkah perlahan demi perlahan. Sampai dia melihat sosok pocong yang ada di atas pohon nangka sedang berdiri membelakanginya. Bayu yang ketakutan lalu tak sadarkan diri kemudian.


Rupanya sosok pocong tersebut adalah Jaya. Dia memberanikan diri menuju ke atas pohon untuk mencari Ana dengan mengamati sekeliling. Mendengar suara tubuh Bayu yang jatuh, Jaya lantas menoleh.


"Waduh, si Bayu dia pingsan." Jaya lalu turun dan menepuk wajah Bayu sampai dia tersadar.


“Pangeran! Tadi ada kembarannya di sana!" pekik Bayu.


"Itu aku tau! Aku lagi mengintai di pohon sana!" sahut Jaya.


"Oalah, saya pikir kembarannya pangeran. Terus tadi ada suara ketawa kuntilanak makin banyak. Bukan cuma satu,” ucap Bayu dengan panik.


Jaya menarik tangan Bayu agar bangkit.


"Ayo, kita ke sana! Siapa tau itu Ana," ucap Jaya.


Keduanya memberanikan diri melangkah menuju kebun di halaman belakang rumah Pak Kades.


"Bay, kamu minjem senter gih! Kok, perasaan makin gelap gini," titah Jaya.


"Tunggu di sini, aku mau minta pinjem ke Pak Adi," sahut Bayu.


Dia bergegas menuju ke bagian depan rumah pak kades. Namun, tiba-tiba saja, Bayu hampir menabrak seseorang yang sudah berdiri di hadapannya.


“Eh, ada Pak Kades. Oh iya, Pak, tolong pinjem senter ada? Saya mau ke kebun belakang bapak buat cari Mbak Ana sama Mbak Risa," ucap Bayu.


Sosok Pak Kades lantas menarik tangan Bayu.


"Dia pasti mau nunjukkin di mana senternya, ya," gumam Bayu.


Namun, Bayu menyadari kalau tangan yang menariknya itu terasa sangat dingin. Mereka menuju ke belakang rumah.


“Perasaan ada yang aneh, ya?” gumam Bayu.


"Aduh! Si Bayu cari perkara," ucap Jaya yang melihat Bayu dari kejauhan. Bayu tampak sedang ditarik oleh sosok hantunya Pak Kades.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2