
Bab 82 DPT
Bayu yang sangat penasaran menuju ke rumah Ningsih tak sadar kalau ia memasuki hutan di Desa Gabut. Ia bahkan melewati rawa yang terdapat banyak pemakanan itu.
"To-tolong, tolong jangan ganggu saya! Saya cuma mau lewat," ucap Bayu kala melihat sosok berwajah hitam itu mencegahnya untuk melanjutkan perjalanan.
"Pergi dari sini!" seru pocong wajah hitam itu.
"Ini mau pergi, kok. Tenang aja, Mas Pocong! Makanya minggir!" ucap Bayu.
"Heh, jangan ganggu manusia itu!" seru seorang perempuan yang memang sedang Bayu cari.
"Mbak Ningsih?" Bayu terlihat sumringah.
Pocong wajah hitam itu menoleh pada Ningsih lalu ia menghilang.
"Mas Bayu, mau ke mana?" tanya Ningsih.
"Saya mau ke rumah kamu. Kan, kamu sendiri yang mengundang saya," jawab Bayu.
"Oh, begitu… kebetulan saya baru pulang jual ayam di pasar. Ayo, ikuti saya!" ajak Ningsih.
Tak lama kemudian, Bayu sampai di sebuah rumah sederhana tetapi halamannya luas. Pagar kayu dicat warna-warni itu benar-benar menarik.
Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah tersebut yang ternyata milik wanita bernama Ningsih. Sebenarnya wanita itu adalah Nyai Aya yang mengaku memperkenalkan diri sebagai Ningsih.
"Halo, Mas Bayu! Akhirnya sampai juga ke rumah saya," ucap Ningsih.
"Mbak Ningsih, tinggal di rumah ini sendirian? Nggak takut?" tanya Bayu.
"Udah biasa, Mas. Kenapa harus takut. Mas Bayu yang harusnya takut, kan banyak pemuda hilang di desa ini," ucap Ningsih seraya mempersilakan Bayu untuk duduk.
"Ah, Mbak Ningsih bisa saja." Bayu meringisi.
"Panggil Ningsih aja, Mas," ucapnya.
"Kamu sendiri panggil saya, Mas," sahut Bayu terkekeh.
"Kan, saya lebih muda dari Mas Bayu. Biar mesra juga. Mas, mau minum? Apa mau makan? Kayaknya lapar deh, saya masak loh. Saya jamin makanan saya pasti enak," ucap Ningsih menggoda Bayu.
Ningsih lantas membawa Bayu ke sebuah meja. Dia membuka tudung saji di hadapannya. Terpampang aneka makanan dari ayam panggang, ayam goreng, bebek bakar, tempe, tahu, sayur asem, dan aneka lalapan lainnya yang sangat digemari Bayu.
__ADS_1
"Woaaah, banyak banget makanannya! Saya takut uang saya gak cukup buat bayar semuanya ini loh," ucap Bayu seraya mengusap air liurnya yang tak terasa menetes.
"Saya nggak jualan, Mas. Ini semua hasil ternak saya, kok. Sebagian udah saya jual ke pasar. Tenang saja, nggak usah bayar! Ini semua gratis buat Mas Bayu, makan aja yuk!"
Ajak Ningsih seraya membukakan kursi untuk Bayu.
"Duh makasih ya Mbak, eh Ningsih. Saya jadi enak nih," ucap Bayu.
Ningsih memakai kaus longgar dengan kerah V dan juga bawahan rok plisket selutut. Saat Ningsih meraih piring dan sendok untuk Bayu, ia sengaja membungkukkan badannya agar belahan dada yang terlihat seksi menggoda itu terlihat oleh Bayu. Seketika pria itu menelan air salivanya dengan berat.
"Ya ampun astaga," lirih Bayuberusaha memalingkan wajahnya dari melihat tubuh sensual milik Ningsih.
Wanita itu benar-benar sangat menggoda.
"Makasih ya, Ningsih." Bayu tersenyum hangat kala meraih piring tersebut.
Ia lalu menyendok tiga centong nasi putih yang hangat. Bayu lalu mengincar ayam goreng, sambal terasi, dan lalapan timun serta daun selada untuk bersanding dengan nasi putih di piringnya.
"Oh, iya. Kamu bisa lihat pocong hitam tadi, ya?" tanya Bayu seraya mengunyak makanan itu di dalam mulutnya.
"Kamu heran ya kenapa saya bisa lihat hantu itu?" tanya Ningsih.
"Iya bener, Ning. Kan biasanya yang lihat hantu itu cuma Mbak Ana, Mbak Risa, atau Pang Jay dan para hantu lainnya," sahut Bayu.
"Itu, suaminya Mbak Ana yang lagi jadi pocong. Tapi sebenernya dia masih hidup. Sayangnya, karena kena santet arwah dia keluar dari tubuhnya terus jadi pocong," ucap Bayu.
"Oh, jadi begitu." Ningsih mengulas senyum seraya mengangguk.
"Kamu indigo ya, Ning? Makanya bisa lihat hantu," tanya Bayu.
"Ya, anggap saja saya itu seperti yang Mas bilang, gadis indigo." Ningsih tersenyum.
"Untung bukan gadis indomie ya, Ning." Bayu tertawa sampai tersedak.
Ningsih segera memberinya air untuk minum.
"Oh iya, apa pocong wajah hitam tadi suka nakutin kamu?" tanya Bayu.
"Nggak kok, malah dia sering minta makan sama aku. Ya meski makanannya beda sama kita," jawab Ningsih mencoba berbohong.
"Oh iya iya. Emangnya biasanya makanan setan apa? Uhuk uhuk uhuk." Bayu kembali tersedak tiba-tiba karena berbicara sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Eh, minum lagi nih, biar gak keselek." Ningsih meraih segelas air putih dan menyerahkannya pada Bayu kembali.
"Makasih, Ning," sahut Bayu.
"Saya ambil nasi lagi ya, kayaknya kamu lahap banget," ucap Ningsih seraya bangkit dan mengambil sebakul nasi lagi untuk Bayu.
Di dalam hati Bayu ia membatin sambil menatap Ningsih dengan kagum.
''Kayaknya gara-gara aku lupa baca doa makan kali ya, sampai keselek gini. Aku baca doa dulu lah, tengsin juga nih sama Ningsih kalau ketauan nggak baca doa makan.'
Tiba-tiba, air putih di gelas Bayu berubah keruh berwarna cokelat seperti air selokan. Bau busuk teramat sangat menusuk ke dalam hidung pria itu.
Makanan lezat yang tadinya berada di atas meja juga berubah menjadi bangkai tikus, cacing tanah yang besar, dan juga ular.
Sontak saja Bayu langsung mual dan memuntahkan isi perutnya. Rumah sederhana yang bernuansa asri tadi berubah menjadi rumah gubug, reot, dan menyeramkan.
"Kenapa, Mas Bayu? Ada yang salah?" tanya Ningsih.
"Ada yang salah, Ning? Jelas-jelas semuanya salah!" bentak Bayu yang mulai menyadari wanita tersebut bukanlah manusia.
Ningsih lalu mendekat dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang sensual. Ia tanggalkan satu persatu pakaian penutup tubuhnya di hadapan Bayu. Wanita itu berharap agar Bayu tergoda oleh kemolekan tubuhnya seperti korbannya yang lain.
Bayu sempat terbelalak melihat tubuh milik Ningsih. Namun, pikiran jernihnya muncul dan membantunya untuk bertahan. Ia tahu Ningsih bukan manusia. Bayu lantas mencari pintu keluar dari rumah itu. Ningsih malah semakin mendekat ke arah Bayu.
"Mas Bayu, apa tak tergoda dengan tubuh ku?" tanya wanita itu dengan nada yang menggoda.
Bayu hanya bisa memejamkan kedua matanya, ia tak mau menatap wanita di hadapannya itu. Bayu berharap Risa, Ana, atau Jaya akan datang menyelamatkannya.
"Kalau aku yang seperti ini, apa kau tidak tertarik juga?" tanya Ningsih yang sudah mengubah tubuhnya dan wajahnya seperti milik Risa.
"Risa? Nggak, nggak mungkin kaku Risa!" seru Bayu masih mencoba bertahan.
"Mas Bayu…."
"Pergi! Pergi dariku! Siapa pun toloooooonggggg!" Bayu menggedor pintu rumah Ningsih dengan keras.
Ia berharap ada seseorang yang melintas dan mendengar teriakan minta tolongnya. Bayu mulai tersudut, bahkan terbesit di pikirannya kalau mungkin saja hari itu, di waktu itu, ajal akan menemuinya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...