Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 24 - Mengikuti Laras


__ADS_3

Bab 24 DPT


"Seneng banget kayaknya mandiin aku?" celetuk Jaya yang muncul tiba-tiba di samping Ana.


"Idih, najong! Kalau nggak karena ancaman dan tertekan ada di sini, aku mandiin kamu pakai air panas atau air keras sekalian!" sungut Ana.


"Tapi kangen kan sama aku?" Jaya kembali menggoda Ana.


"Udah deh jangan mulai!" ketus Ana.


"Nona An– maksudnya Ana, kira-kira siapa ya yang udah buat aku seperti ini?" tanya Jaya.


"Entahlah!" Ana mengangkat kedua bahunya.


Setelah selesai membasuh tubuh Jaya, Ana merapikan kembali kain kafan pembungkus tubuh pria itu.


"Tubuh aku jadi wangi sekarang, nggak bau tanah," ucap Jaya.


Ana langsung terkekeh.


"Lucu memangnya?" Jaya mendelik.


"Iya lah. Kamu ngerasa juga kalau selama ini bau tanah bau mayat hahaha," tukas Ana.


Risa masuk ke dalam ruangan mengejutkan Jaya dan Ana. Hal tak terduga bahkan terjadi, Jaya yang terkejut tak sengaja menyenggol gayung di meja sampai jatuh. Risa menatap tak percaya sampai mengucek kedua matanya berkali-kali.


"Nggak apa, Sa. Itu si Jaya nggak sengaja nyenggol gayung. Eh, sebentar deh. Kamu udah bisa pegang benda?" Ana menoleh pada Jaya.


Jaya lantas mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh tangan Ana. Dia bisa menyentuhnya. Sontak saja keduanya berjingkrak-jingkrak kegirangan seraya berputar-putar. Risa sampai kembali mengucek kedua matanya berkali-kali.


"Ja-jadi, beneran ada hantunya Jaya?" tanya Risa.


"Heh, aku belum mati. Ini arwah aku keluar dari tubuh itu," sahut Jaya.


Risa tak dapat mendengarnya dan terkesan mengacuhkannya. Ana lantas menjelaskan awal mula ia bertemu pocong Jaya dan sekarang kerap bersama.


"Hmmmm, untung aja arwah Jaya yang datang. Coba kalau arwah lain yang berusaha masuk ke tubuh itu," ucap Risa.


"Iya juga ya. Eh, kamu ngapain nyusul aku ke sini? Ada yang mau kamu ceritain ke aku?" tanya Ana.

__ADS_1


"Oh iya, tadi aku ketemu sama Bayu. Tapi, dia kayak takut gitu kalau lama lama ngobrol sama aku, apalagi kalau ada Mas Panji," ucap Risa.


"Terus?" Ana dan Jaya mendekat ke arah Risa. Ada hawa panas yang sangat terasa kala berdekatan dengan Jaya. Risa jadi merasa agak takut.


"Kata dia berhati-hati lah dengan keluarga Patih Gundul," ucap Risa.


"Hati-hati sama keluarga Patih Gundul? Hmmm, apa jangan-jangan mereka yang buat Jaya begini?" tanya Ana.


"Bisa jadi, sih. Tapi kamu curiga juga nggak sama Ratu Melati?" Risa balik bertanya.


"Ratu Melati? Kenapa mencurigai ibuku? Dia selama ini baik kok sama aku," sahut Jaya. Ana menoleh padanya dan mengibas di hadapan wajah Jaya agar diam dulu.


"Kata Bayu, ada gosip kalau Ratu Melati itu selingkuh sama Patih Gundul," ucap Risa.


"Wah, masa sih? Kok, aku malah curiga Ratu Melati deket sama Mas Panji tau," ucap Ana.


"Heh, kalian ini kenapa membicarakan ibuku seperti itu? Dia memang ibu sambungku, tapi aku yakin kalau dia nggak akan berani menghianati ayahku," sahut Jaya.


"Bisa diam nggak, sih?!" Ana menutup mulut Jaya dengan telunjuknya.


"Jaya ngomong apa?" tanya Risa.


Ana kembali menceritakan apa yang dikatakan Jaya.


"Wah, ide bagus tuh!" Ana menoleh pada Jaya lalu mereka mulai merencanakan sesuatu untuk membuntuti Ratu Melati.


Sementara itu, Ana juga ingin mencari tahu tentang keluarga Patih Gundul. Dia akan mencoba lebih dekat dengan Laras.


...***...


Keesokan harinya, Ana menemui Laras. Dia berusaha mendekatkan diri dengan gadis kecil itu. Ana dan Risa belajar menyulam dari Laras. Gadis kecil itu juga membawa Ana dan Risa berkeliling wilayah kerajaan sampai ke daerah pasar. Namun, sore itu Laras mengajak Ana dan Risa untuk bersembunyi. Mereka akan mengikuti Patih Gundul dan Ibu Dewi ke suatu tempat.


"Tuan Putri, bisa mengendarai mobil, kan?" tanya Laras.


Ana mengangguk. Laras lantas membawa Ana dan Risa menuju sebuah gudang tua tempat mobil kijang lama disimpan. Pocong Jaya juga muncul mengikuti Ana kala itu.


"Kita mau ke mana?" tanya Ana.


"Menunjukkan kebusukan orang tuaku pada kalian. Aku tahu Tuan Putri ingin tahu tentang kejahatan ibuku, bukan?" tanya Laras.

__ADS_1


Ana dan Risa hanya saling menatap. Mereka memilih untuk tidak merespon tetapi masih mengikuti arahan Laras. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah hutan. Laras turun terlebih dahulu. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, ia memastikan tak ada orang di sana kecuali hanya mereka bertiga. Padahal menurut Ana mereka datang berempat dengan Jaya.


Namun, pocong Jaya masih melihat ke arah kedua perempuan muda dan satu orang anak kecil di hadapannya dengan tatapan bingung.


"Sebenarnya Laras mau bawa kita ke mana, sih?" tanya Jaya.


"Tapi sungguh, aku juga tak mengerti dengan maksud si Laras ini," sahut Ana.


"Tuan Putri sedang bicara dengan siapa?" tanya Laras pada Risa.


"Oh, dia memang suka begitu. Anggap saja dia punya penjaga gaib," jawab Risa.


"Dia lagi ngomong sama penjaga gaibnya? Wah, ngomong sama setan gitu?" tanya Laras lagi mulai takjub.


"Haha, teman khayalan aja lah nanti kalau si Ana bisa ngomong sama setan malah viral dijadiin dukun lagi," ucap Risa asal sambil terkekeh.


Risa dan Laras sekilas menoleh pada Ana yang masih saja kerap berdebat dengan Jaya. Namun, mereka hanya melihat Ana yang sibuk berbicara sendiri karena tak dapat melihat sosok Jaya.


Akan tetapi, Ana malah terpeleset dan kehilangan kendali. Dia menarik tangan Jaya sehingga karena perbuatannya itu, mereka malah terjatuh berguling bersama ke dasar bukit. Risa langsung mendekat ke tepi dengan panik bersama Laras.


"Ana! Ana kamu di mana? Kamu enggak kenapa kenapa, kan?!" seru Risa.


"Aku baik-baik aja! Tunggu di sana nanti aku naik!" seru Ana dari bawah sana.


Risa dan Laras langsung bernapas lega karena melihat Ana selamat dan baik-baik saja. Ana barusan berguling seraya memeluk tubuh Jaya. Pocong itu juga melindunginya agar kepala Ana tak terantuk sesuatu. Namun, hal tak terduga terjadi. Ana dan Jaya kembali saling mengecup bibir.


Wajah keduanya tampak merona. Ana masih tak percaya kala sang pangeran baru saja memberinya sebuah kecupan lagi. Wanita itu menyentuh bibirnya dengan rasa tak percaya. Begitu juga dengan Jaya, ia juga menyentuh bibirnya. Meskipun bukan ciuman yang pertama bagi mereka, tetapi hal itu sukses membuat keduanya salah tingkah.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ana dengan ketus. Ia melirik tajam ke arah sang pangeran yang langsung salah tingkah.


"Aku nggak sengaja tadi," sahut Jaya


"Anggap saja tak ada yang terjadi di antara kita barusan, tadi itu hanya kecelakaan, ya," ucap Ana dengan ketus menyembunyikan salah tingkahnya.


Namun, Jaya melihat ada darah yang mengalir di punggung kaki Ana.


"Ana, kenapa kamu berdarah?" tanya Jaya seraya menunjuk.


Ana menoleh ke arah kakinya dan langsung tak sadarkan diri kemudian.

__ADS_1


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2