
Bab 30 DPT
Setengah jam yang lalu, mobil yang Bayu tumpangi mendadak mengalami mati mesinnya. Padahal jarak ke klinik hanya tinggal satu kilometer.
"Waduh, gimana ini?" tanya Laras mulai panik.
"Kita jalan ya, Ras," ucap Bayu.
"Ya udah." Laras mengangguk.
Kakek Darma juga mengangguk. Mereka turun dari mobil dan melangkah menuju ke klinik. Tiba-tiba, sebuah motor bebek terdengar melaju. Lampu sorotnya menyilaukan tiga pasang mata di tengah kegelapan jalan yang sudah ditutup aksesnya itu.
"Mas Bayu, itu siapa?" Laras mendekat pada Bayu dan bersembunyi di belakangnya. Gadis itu ketakutan.
"Kalian ngapain ke sini?" Suara berat nan maskulin itu terdengar dari si pengendara.
"Mas Panji?" tanya Bayu.
"Iya, ini aku Panji. Kalian ngapain ada di sini?" tanya Panji lagi.
"Anu, Mas. Kita mau nyamperin Mbak Tuan Putri," jawab Bayu.
"Maksud kamu Putri Ana?" tanya Panji.
Bayu mengangguk.
"Ya ampun, jadi perempuan hamil yang katanya terjebak di klinik ini Putri Ana? Astaga Bayu! Kok, bisa sampai begini dan sampai sini?" tanyanya.
"Ini salah Laras, Mas Panji." Gadis itu muncul dari belakang punggung Bayu.
"Laras? Kamu juga anak kecil ngapain jam segini ada di sini?" Panji tampak gusar.
"Tadi Putri Ana sama Mbak Risa mau jalan-jalan sekitar wilayah Kerajaan Garuda. Tapi, Putri Ana mengalami kecelakaan dan jatuh. Ada sedikit pendarahan yang akhirnya berobat ke klinik terdekat. Tapi, taunya malah sampai ke sini," ucap Laras berbohong dengan alasan palsu, padahal jelas-jelas dia membawa Ana dan Risa untuk mengetahui kejahatan ibu tirinya.
"Terus kenapa nggak langsung lapor pihak kerajaan? Kenapa nggak laporan sama saya? Saya malah tau dari petugas apoteker di kota," tukas Panji.
"Maaf, Mas … Laras takut. Tuan Putri juga takut makanya kita malah panggil Mas Bayu," kata Laras dengan kepala menunduk.
"Ya udah kalau gitu kamu sama Kakek Darma tunggu di mobil aja! Biar saya sama Bayu yang jemput mereka!" seru Panji.
"Baik, Mas Panji." Laras mengangguk lalu bersama Kakek Darma kembali ke mobil.
__ADS_1
***
Di klinik angker tempat Ana dan Risa berada.
"Ayo, keluar dari sini!" seru Panji.
"Tunggu, Mas. Biarkan aku hancurkan altar ini!" seru Ana.
Kini, dia meraih petromak dari tangan Panji lalu membakar altar tersebut. Sekali lagi gedung klinik itu terbakar. Para hantu mendekat pada Ana. Jaya dengan nekat melindungi istrinya. Namun, para hantu tersebut rupanya mengucapkan terima kasih pada Ana. Mereka kini bisa bebas dan tak dikendalikan lagi oleh manusia jahat yang belum terungkap identitasnya.
Risa meminta Ana menceritakan pada Panji, tetapi Jaya melarang. Bagi Jaya, tak ada pihak kerajaan yang kini dapat mereka percaya. Semuanya menyimpan rahasia yang tak pernah mereka tahu. Mungkin saja bukan hanya Ibu Dewi atau Patih Gundul atau putra mereka yang patut dicurigai, tetapi bisa juga Ibu Ratu dan bahkan Mas Panji juga patut mereka curigai.
"Mas Panji, tolong jangan sampaikan ini sama pihak kerajaan. Ini semua Murni karena keteledoran saya," ucap Ana.
"Baiklah, untuk saat ini kalian saya tolong. Saya juga akan merahasiakan peristiwa terjebaknya kalian di sini," ucap Panji.
"Tapi, Na … bagaimana dengan sepak terjang Ibu Dewi?" bisik Risa.
"Sssttt, sembunyikan itu dulu, Sa. Kata Jaya kita masih harus waspada. Kita jangan gampang gegabah bertindak apalagi belum ada bukti pasti. Nggak mungkin kita bilang kalau kita tahu kejahatan Ibu Dewi dari hantunya Mbak Jum. Nggak mungkin juga kita membahayakan Laras, kan? Dia pasti akan dimarahi bahkan nyawanya terancam sama ibu tirinya," ucap Ana menjelaskan dengan berbisik juga.
Jaya merespon dengan anggukan kepala berkali-kali di sampingnya. Sementara itu, Risa merasa bulu kuduknya meremang karena berada dekat dengan Jaya. Akhirnya, mereka kembali ke wilayah istana dikawal oleh Panji.
Risa masih menatap lekat ke arah Panji. Ia tak menyangka pria yang sempat dia takuti itu malah membuatnya terpesona. Sosok Panji datang bak pahlawan yang menolong mereka tadi sangat menggemaskan baginya. Risa merasa jantungnya berdebar ketika mendapat senyuman dari Panji.
Di dalam kamar Ana, ia tak jua dapat memejamkan matanya. Perempuan itu masih menatap langit-langit kamar seraya sesekali mengusap perutnya yang mulai gatal. Ada gerakan pelan mulai terasa. Usia kandungannya mulai beranjak ke trisemester ke dua. Tepatnya empat bulan. Ratu Melati juga akan membuatkan acara syukuran empat bulanan bagi bayi yang dikandung Ana.
Sinar bulan mengintip dari celah tirai jendela saat Ana masih berbaring sambil merenung. Sementara itu, sosok Jaya juga tampak berbaring di sampingnya. Sesekali Ana menoleh padanya.
“Sudah malam begini kenapa belum tidur juga?" tanya Jaya.
"Nggak tau, nggak bisa tidur. Kok, rasanya aneh, ya?" gumam Ana.
"Aneh kenapa?" tanya Jaya lagi.
"Ada nggak ya manusia kayak aku yang biasa aja tidur bareng pocong, hihihi?" Ana terkekeh sendiri.
"Sial!" rutuk Jaya.
Padahal dalam hatinya kalau saja dia bukan dalam bentuk pocong, mungkin saja Jaya akan memberikan nafkah batin pada Ana. Biar bagaimanapun tak bisa dipungkiri, Jaya sangat menyukai Ana. Tubuh perempuan itu juga kerap dia amati sembari membayangkan malam panas bersama Ana waktu lalu.
Ana melenguh, menghela napas dalam. Dia lantas mencoba merapatkan sepasang matanya. Namun, saat dia baru saja akan terlelap, suara ketukan di kaca jendela terdengar dan membuatnya terjaga. Ana menoleh pada Jaya.
__ADS_1
“Kamu dengar suara ketukan itu, kan?" tanya Ana.
Jaya mengangguk.
"Kamu lihat, gih!" titah Ana pada Jaya.
"Kamu aja, deh. Nanti aku temenin," sahut Jaya.
"Idih, kamu tuh pocong tau! Ayolah mulai berani menghadapi para hantu. Aku aja mulai belajar berani. Buktinya aku tahan tidur bareng sama kamu," sungut Ana.
"Sial!"
Kata-kata Ana sukses menusuk tajam hati Jaya. Lagi-lagi, dia harus terima wujudnya yang sebagai pocong.
Tok tok tok!
Ketukan di jendela itu kembali terdengar. Kali ini, Ana mengubah posisinya menjadi duduk. Lalu perlahan ia bangkit.
"Mau ke mana?" tanya Jaya.
"Mau lihat lah siapa yang ngetok jendela jam segini," ucap Ana seraya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
"Nanti kalau rampok, gimana?" tanya Jaya.
"Rampok gila kali yang berani masuk wilayah istana sini. Penjaga istana kamu kan banyak," sahut Ana.
Perempuan itu lantas memberanikan diri menghampiri jendela kamarnya. Jaya mengikuti sang istri dari belakang. Ana lagi-lagi menghela napas dalam seraya perlahan mengulurkan tangan kanannya untuk membuka tirai.
Tok tok tok!
Ketukan itu kembali terdengar dan membuat Ana serta Jaya tersentak.
"Si-siapa itu?" tanya Ana.
Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik bersahutan menghiasi kesunyian malam.
"Jaya, coba tengok sana!" bisik Ana seraya mendorong tubuh Jaya menuju ke jendela.
Pocong itu terpaksa menurut. Ia melongok ke arah jendela lalu kedua matanya terbelalak kala mendapati sosok yang ia kenal sedang berdiri di depan jendela kamar Ana.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....