
Bab 47 DPT
Ana tiba di Desa Merak bersama yang lainnya. Mereka memasuki wilayah yang layaknya komplek pemukiman besar yang meliputi sejumlah komplek yang lebih kecil, di mana satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.
"Maaf, Pak. Apa di sini ada penginapan?" tanya Bayu pada salah satu warga yang melintas.
"Ada, Pak. Mbak Retno punya penginapan. Mau saya antar?" tanya pria berusia lima puluh tahun yang memanggul kayu kering itu.
"Boleh banget, Pak. Monggo naik mobil saya!" ajak Bayu.
Pria tadi langsung meletakkan ikatan kayunya di bagian belakang mobil jeep tersebut. Sontak saja Jaya mengaduh karena posisi bagian belakang mobil adalah miliknya untuk duduk.
"Kampret!" sungut Jaya.
Bapak tadi sempat menoleh ke kanan dan kiri. Sebelum akhirnya dia naik dan duduk di samping Ana yang buru-buru meletakkan tas ransel miliknya di tengah kursi sebagai pembatas. Tadinya, Ana duduk di kursi kedua bersama Risa, tetapi Risa diminta duduk di depan untuk membantu Bayu memantau google maps.
"Kok, saya ngerasa merinding, ya?" gumam bapak tadi.
"Mungkin AC nya kegedean jadi bikin dingin merinding," ucap Ana buru-buru mengalihkan pikiran bapak itu.
"Oh iya mungkin aja ya, Mbak. Maklum saya orang kampung," ucapnya.
Bapak bernama Darto itu lalu menunjukkan arah ke sebuah penginapan yang dikelola oleh wanita berusia tiga puluh tahu bernama Retno. Wanita itu merupakan istri ke sepuluh dari Datuk Misan. Pria yang tengah dicari keberadaannya oleh Ana dan kawan-kawan.
Beberapa warga yang mereka lintasi masih tampak unik karena memakai pakaian kain lurik. Ada juga yang tak memakai atasan, hanya kain yang dililit di bagian bawah sampai selutut. Bahkan ada yang benar-benar tidak memakai atasan terutama kaum wanita tua. Ana menoleh ke Jaya agar menutup matanya.
"Ya ampun, Na. Kalau kamu yang begitu saya langsung buru-buru nerkam kamu. Lah ini nenek nenek yang begitu mana Indah dilihat," ucap Jaya.
"Udah diam aja kamu!" seru Ana dengan pandangan tajam melirik Jaya dari kaca spion.
"Saya nggak ngomong apa-apa, Mbak. Baru aja saya diam," ucap Pak Darto.
"Oh, maksud saya ini nyamuk ngang ngung ngang ngung saya suruh diam," ucap Ana berbohong.
"Maaf sebelumnya, kalian ini dari mana, ya?" tanya Pak Darto.
"Kami dari mahasiswa di kota mau riset tentang ilmu kanuragan. Katanya di sini ada dukun sakti namanya … siapa Sa namanya?" tanya Ana pada Risa.
"Siapa tadi, ya? Mbah Mimisan kalau nggak salah," sahut Risa.
"Kok, mimisan? Kasian dong si mbahnya?" celetuk Bayu seraya tertawa ngakak. Sontak saja Risa langsung memukul kepala Bayu.
"Oalah, Mbah Misan… itu mah suaminya Mbak Retno," ucap Darto.
"Hah? Jadi kita mau ke rumah Mbah Misan, dong?" tanya Ana antusias.
"Bukan, Mbak. Kita ke rumah Mbak Retno. Kalau rumah Mbah Misan di istri pertamanya," ucapnya.
"Oh, jadi Mbak Retno istri mudanya gitu? Istri kedua, ya?" sahut Risa meraih botol mineral dan hendak meneguk airnya.
"Istri muda, iya. Tapi Mbak Retno itu istri ke sepuluh si Mbah Misan," jawab Darto.
"Ffffuuuuaaaaahhh!!!" Risa yang terkejut sontak menyembuhkan airnya membasahi wajah Bayu.
"Sorry, Bayu, maaf ya." Risa meringis seraya meraih tisu.
"Kebetulan saya lagi ngantuk, Mbak. Dapet semburan maut gini langsung sueger." Bayu tersenyum kecut sementara Ana dan Jaya tertawa dengan puas.
"Gila bener itu si Mbah sampai punya istri sepuluh," ucap Risa.
"Ya namanya juga dukun sakti, Mbak," sahut Bayu.
__ADS_1
"Raja di sini baik, nggak?" tanya Ana pada Darto.
"Ummm, anu Mbak, sebenarnya nggak boleh ngomong begini. Tapi, Raja Merakin sedang sakit, denger denger malah kalau paduka raja sedang disantet," ucap Darto dengan suara nyaris berbisik dan raut wajah ketakutan.
"Hah? Disantet? Sama kerajaan lain?" tanya Ana.
"Ya, denger denger dari Kerajaan Garuda," ucapnya.
"Wah, nggak bener itu! Nggak mungkin kalau ayahku yang melakukan itu!" semprot Jaya penuh emosi sampai memukul kepala Darto.
Pria itu menoleh dan terlihat bingung.
"Siapa yang pukul saya?" tanya Darto.
"Itu, Pak. Kayu kayu itu nyenggol Bapak," sahut Ana asal.
Tak lama kemudian, mobil yang dijalankan Bayu akhirnya sampai di sebuah gerbang kayu yang setinggi dua meter itu.
"Saya pamit dulu, ya," ucap Pak Darto.
"Eh, Pak, ini ada sedikit buat beli rokok," ucap Ana menyerahkan selembar uang kertas.
"Nggak usah, Mbak. Saya bantu dengan ikhlas, kok. Semoga kuliahnya lancar Jaya, ya," ucap Pak Darto.
Pria itu langsung menurunkan ikatan kayu keringnya dan lagi-lagi mengenai Jaya.
"Ini si bapak belum pernah diajak gulat sama pocong kali, ya," sungut Jaya.
Bayu dan Risa menahan tawa sementara Ana merenung saat turun dari mobil.
Ana tiba-tiba berpikir dan mendapat inspirasi dari pakaian para warga yang unik tadi. Semakin dia menggali memori pengetahuan di dalam kepalanya, ia akhirnya mengingat pakaian para warga itu seperti pakaian zaman dulu.
"Datuk Misan!"
Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun menghampiri. Anak itu hanya mengenakan kain dodot. Rambutnya terurai indah.
Ana, Bayu, dan Risa menoleh. Mereka akhirnya tau kalau pria tua itu adalah Datuk Misan.
"Cah ayu, ada apa?" Kayuhan sepeda Datuk Misan terhenti.
"Apa nanti malam ada pertunjukan wayang?" tanyanya.
"Tentu, tentu saja ada. Tapi sebaiknya anak kecil jangan keluar malam dulu, ya. Kalau sudah magrib harus di dalam rumah," ucap Datuk Misan.
"Tapi, aku mau liat wayang," rengeknya.
"Nanti ya, Cah Ayu. Datuk akan bikin pertunjukkan wayang untuk anak-anak dan itu harus siang hari," ucapnya.
Anak itu hanya bisa menunduk dan kecewa. Ia lalu salim pada Datuk lalu melangkah pergi.
Datuk Misan melihat rombongan Ana. Dia mengamati Ana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia jug mengamati Bayu dan Risa. Sampai pandangannya tertuju pada Jaya yang akhirnya bersembunyi ke dalam mobil.
"Mau cari penginapan?" tanyanya.
"Iya, Mbah. Kami anak kuliahan dari kota yang mau riset di sini tentang budaya lokal dan juga mode atau fashion lokal di sini," ucap Ana berbohong.
"Oh begitu. Mari masuk! Oh iya, mobilnya parkir di dalam saja! Kalian itu ada yang ngikutin juga tapi jangan takut," ucapnya.
"Maksud, Mbah?" tanya Ana.
"Kalian diikuti pocong," bisiknya melirik ke arah mobil tetapi untungnya Jaya sudah bisa menghilang.
__ADS_1
"Tapi sudah hilang, makanya hati-hati. Banyak demit di sini apalagi menjelang magrib," ucapnya.
Ana, Risa, dan Bayu menoleh ke arah mobil. Dan benar saja, Jaya sudah hilang. Ana hanya berharap kalau Jaya tak akan apa-apa.
"Panggil saya, Datuk Misan!" ujarnya seraya menuntun sepeda ontelnya.
"Iya, Datuk Misan. Nama saya Ana, ini Risa dan Bayu," ucap Ana memperkenalkan diri.
Datuk Misan lantas memanggil istrinya.
"Retno! Retno! Ini ada tamu ayo disambut!" serunya.
"Iya, Kang Mas…." Seorang wanita berusia tiga puluh tahun mengenakan kebaya dan kain jarik motif parang keluar dari dalam rumah.
Rambutnya disanggul dengan rasanya khas wanita Jawa pada umumnya. Dia mencium punggung tangan suaminya yang malah lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang suaminya.
"Kang Mas nginep di sini? Bukannya hari ini giliran Mbak Ajeng?" tanyanya.
"Ajeng lagi dapet, padahal aku kepengen. Ya udah kamu sambut tamu dulu nanti ke dalam layani aku!" titahnya.
Datuk Misan lantas meninggalkan Ana dan lainnya.
Mbak Retno lantas memperkenalkan diri lalu membawa Ana dan lainnya ke halaman belakang. Mereka sampai di sebuah bangunan berpetak petak seperti rumah kontrakan di kota pada umumnya.
"Mau sewa satu rumah atau dua? Tapi sebaiknya dua, ya, kan kalau ada wanita dan pria belum menikah dilarang tinggal satu rumah," ucap Retno.
"Sewa satu rumah aja, Mbak. Nanti si Bayu tidur di mobil atau di halaman rumah ini juga nggak apa-apa, " sahut Risa.
"Loh, kok?" Bayu tampak tak terima tetapi Risa lantas berbisik.
"Ngirit, Bay!"
Ana mengamati tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari bangunan dari rumah penginapan yang kalau dia hitung ada sepuluh itu. Ada tiga yang terisi dan yang lainnya kosong.
"Mereka juga turis di kerajaan ini. Tapi, pengunjung mulai sepi, entah kenapa mereka malah takut berwisata di sini padahal dulu ramai, loh," ucap Retno.
"Oh gitu," sahut Ana mengangguk.
Ana mengamati sebuah taman dengan patung-patung berbentuk setengah hewan di bagian bawah dan setengah manusia di bagian atas, memutari sebuah kolam.
"Tempatnya bagus, ya. Adem sejuk wah indah banget," puji Ana.
"Terima kasih, Mbak. Rencananya mau nginep berapa lama?" tanya Retno.
"Belum tahu, Mbak. Sampai selesainya riset kami," sahut Ana.
"Ya udah kalau gitu istirahat dulu. Nanti malam ada pertunjukkan wayang loh, siapa tahu mau nonton," ucapnya.
Seorang wanita berusia lima puluh tahun datang menemui Retno.
"Bu, Datuk ngomel suruh Ibu buruan," ujarnya.
"Oalah si kakek itu nggak sabaran banget kalau urusan ngecas burung," ucap Retno lalu pamit dan mempersilakan abdinya untuk membantu Ana.
"Nama saya Darmi, mari saya bukakan pintunya. Untung saja saya sudah membersihkan rumah yang ini," ucap Darmi.
...******...
...Bersambung dulu ya. ...
...See u next chapter....
__ADS_1