Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 80 - Jasad Anto Ditemukan


__ADS_3

Bab 80 DPT


Malam itu, seorang mahasiswi yang sedang melakukan praktek kerja lapangan dengan dua orang temannya, tinggal di rumah singgah yang Pak RT sediakan. Namanya Ratih, dia tengah membuat judul makalah mengenai "Rusaknya Lingkungan Alam Akibat Keserakahan Manusia" dengan mengambil latar belakang taman wahana yang terlantar di Desa Gabut.


"Tih, aku cari makan dulu, ya!" ucap salah satu temannya bernama Dedi.


"Kamu sendirian, Ded?" tanya Ratih.


"Sama Retno, kok. Nggak apa-apa, kan, kalau kamu sendirian dulu?" tanyanya.


"Nggak apa-apa. Aku mau rapi rapi barang dulu. Nanti aku titip nasi bungkus apa aja lah seketemunya satu ya. Kalau nggak ada mie goreng juga boleh," ucap Ratih.


"Oke."


Harusnya Ratih pergi berlima tetapi dua temannya yang lain malah pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu karena liburan semester perkuliahan telah dimulai sementara dia, Dedi, dan Retno memilih melakukan kegiatan KKN lebih dulu supaya bisa memperbaiki mata kuliah yang nilainya masih kurang nanti di semester selanjutnya.


Ratih menghubungi ibunya dari ponsel untuk menanyakan kabar serta memberi tahu kondisinya di desa tersebut.


"Ya udah kalau begitu kamu hati-hati ya, Tih. Salam buat Dedi sama Retno. Kamu jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan, ya," ucap ibunya lalu sambungan ponselnya terputus.


Lelah berbenah, Ratih memilih untuk membaca novel online melalui ponselnya. Panggilan untuk salat ashar berkumandang dari masjid di sekitar. Suaranya terdengar sangat jauh hanya samar-samar.


Gadis itu bergegas mengambil wudu untuk melaksanakan salat asar. Sebelum menunaikan ibadah, terdengar hujan rintik-rintik mengguyur sekitar rumah.


"Perasaan panas deh, kok malah hujan. Si Dedi sama Retno pada bawa payung nggak ya. Hujan begini rasanya aku ingin makan mie ayam yang biasanya mangkal di dekat kampus, deh. Apa aku bikin mie rebus aja, ya? Hmmm, solat dulu deh," gumam Ratih bermonolog pada dirinya sendiri.


Ketika keluar dari rumah menuju halaman belakang karena kamar mandi berada di luar sama, Ratih melihat lampu kamar milik Pak RT masih menyala. Padahal penghuninya tadi izin pergi menuju ke rumah tetangganya yaitu Pak Roni. Cahaya berpendar dari balik tirai hijau mudanya.


Ratih berpikir kalau bisa saja Pak RT pasti lupa mematikan lampu sebelum pergi. Gadis itu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk berwudu.


Di kamar mandi, Ratih tak hanya buang air kecil, tetapi memilih untuk sekalian mandi saja karena pakaian yang dikenakan tersiram air satu gayung karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Ratih membuka keran air dengan lebar sebab dia suka jika mandi dengan air berlimpah. Namun, ketika gadis itu sedang menggosok gigi, aliran air tiba-tiba mengecil dan sempat terdengar suara air mengucur dari tempat wudu tepat di sebelah kamar mandi.


"Siapa, ya? Retno kamu udah pulang?" tanya Ratih berseru.


Hening. Tidak ada yang menyahut, tetapi air terus mengalir.


"Dedi, apa itu kamu?!" teriak Ratih lebih kencang lagi.


Hening lagi seketika tak ada jawaban. Ratih mulai merasa jantungnya berdegup lebih cepat alias deg-degan. Ia lalu matikan keran bak mandi agar dapat menangkap suara tadi dengan lebih jelas. Namun, bersamaan dengan itu suara air di luar juga berhenti.


Deg!


Perasaannya makin tak karuan apalagi saat tak mendapati siapa pun di sana. Ratih segera bergegas untuk mengambil wudu lalu lari dengan cepat dab masuk ke dalam rumah singgah itu.


***


Setelah selesai melaksanakan salat asar, Ratih masih tetap ingin menyantap mie goreng. Dia meraih teko listrik miliknya lalu mengisi dengan air bersih. Dia juga mencari stok mie instan di dalam tas nya.


"Siapa yang mematikan lampu, ya?" Ratih terus terlihat murung.


Ratih merasa bahwa ada titik-titik tertentu di bangunan kos itu yang hawanya terasa agak lain. Ia jadi ingat kalau pernah mendengar suara-suara ribut seperti aktivitas memasak dari arah dapur pada jam dua pagi dulu di tempat kosnya. Setelah dia melihat ternyata tak ada orang.


Tempat kos yang ia tempati malah terbilang angker. Ketika itu hanya ada lima kamar yang disewakan sebagai kamar kos. Pemilik lamanya menjual murah kepada ibu kos Ratih karena keadaan mendesak. Kabarnya untuk biaya pengobatan suaminya.


Ibu kos nya sendiri pernah cerita bahwa rumah utama yang bangunannya khas rumah Jawa itu ditinggalkan dalam keadaan agak berantakan. Kursi-kursi rotan dalam posisi yang tidak semestinya. Bahkan ada yang terbalik. Tirai-tirai banyak yang lepas dari pengaitnya.


Pemilik lama juga meninggalkan beberapa lukisan di dinding Lukisan lukisan wajah. Ada lukisan perempuan dalam balutan kebaya lengkap dengan sanggulnya Ada lukisan pria Belanda dengan cangklongnya.


Pemilik kos juga memutuskan tak membuang lukisan-lukisan itu karena lukisannya sangat indah. Para penghuni kos juga membiarkannya tetap terpajang di dinding. Akan tetapi, hal-hal ganjil mulai terjadi lagi di rumah kos tersebut.


Tanpa sadar bulu kuduk Ratih jadi meremang karena memikirkan kejadian aneh di tempat kosnya. Kenapa juga harus memikirkan hal seram begitu pada saat ini, Ratih sampai memukul kepalanya sendiri karena gemas.

__ADS_1


Dedindan Retno belum kembali, Ratih merasa tidak bisa tidur. Udara terasa panas padahal saat itu sedang hujan gerimis. Ratih memilih berbaring.


Antara sadar dan tidak Ratih merasa kalau dia merasa kurang nyenyak. Mau terlelap itu rasanya sulit. Nah, di saat-saat itu, samar-samar Ratih melihat ada sesosok perempuan mendekat melintasi luar jendelanya.


Ratih mengira itu Retno. Ia bangkit dan hendak menghampiri. Namun, wajah wanita itu bukanlah Retno. Awalnya Ratih mengira wanita itu terlihat seperti tersenyum, tetapi semakin wanita itu mendekat semakin jelas terlihat kalau dia tidak sekadar tersenyum. Tapi ... mulutnya melebar sampai ke telinga.


Sontak saja Ratih berteriak dan menutup pintu dengan kencang lalu menyembunyikan diri di balik selimut. Sungguh membuat Ratih kehilangan nyali untuk jika harus melewati malam sendirian nantinya. Dia merasa takut.


Ketukan terus terdengar di pintu seolah sosok menyeramkan tadi ingin masuk atau sekedar mengganggunya. Tak kuat terus ditakuti-takuti, Ratih memberanikan diri untuk keluar. Ia berlari sekuat tenaga ke segala arah sampai tersesat hingga akhirnya dia menabrak Ana yang tengah bersama Mia dan Jaya mengambil mangga di pohon dekat rumah Pak RT.


"Mbaknya, kenapa?" tanya Ana.


"Sa-saya, saya dikejar hantu, Mbak." Ratih sampai tersengal-sengal menjelaskan.


"Hantu? Apa itu pocong?" tanya Ana lagi.


"Bukan, Mbak. Itu hantu perempuan, mulutnya lebar banget," sahut Ratih sampai memperagakan dengan membuka mulutnya lebar.


Tak jauh dari tempat Ana berdiri, Risa dan Bayu datang dengan raut wajah panik.


"Ada apa ini?" tanya Risa.


"Anto, Na. Anto jasadnya ketemu di dekat rawa," ucap Risa menjelaskan.


"Jasadnya ketemu? Itu artinya akan ada korban baru?" Ana menoleh ke arah Jaya yang mengangguk dengan melukiskan raut wajah yang cemas.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2