Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 69 - Menolong Lela (Part 2)


__ADS_3

Bab 69 DPT


"Tolonglah … saya mohon … ada buku tabungan juga yang harus aku berikan pada ibu dan adik saya. Uang itu bisa membantu kehidupan mereka meskipun tidak banyak." Lela berlutut di hadapan Ana sampai memeluk kaki Ana.


"Maaf, Mbak Lela, nggak usah peluk peluk gini!" ucap Ana karena kakinya terkena air mata darah dari Lela dan berusaha menariknya.


"Tapi mau ya Mbak Ana bantu aku? Saya mohon …." Lela mau menunjukkan mata memelas ala puppy eye, tetapi malah melotot dan terlihat makin menyeramkan.


"I-iya, Mbak Lela. Iya iya saya bantu," ucap Ana akhirnya.


Lela yang kegirangan hampir memeluk Ana, tetapi wanita itu buru-buru menghindar.


"Bay, besok kita anter dia pulang dulu!" Ana memberi titah pada Bayu yang mengangguk.


Ana mau merebahkan diri di atas ranjang, tetapi dia malah melihat Risa yang sudah pulas dan mendengkur.


"Kamu ngapain masih di situ?" tanya Ana pada Bayu.


"Saya tidur sini aja. Di bawah sini juga nggak apa-apa daripada saya digangguin genderuwo terus," keluh Bayu.


"Ayo, tidur sama aku aja! Aku temenin tenang aja!" Jaya menarik Bayu membawanya menuju kamar sebelah.


"Bener ya janji jangan tinggalin aku!" pinta Bayu.


"Iya aku janji nggak akan ninggalin kamu. Eh, kok ngomong begini sama kamu jadi agak enek jijik gitu, ya?" Jaya mendorong Bayu menjauh darinya.


...***...


Keesokan harinya, Bayu chech out dari hotel. Ana dan Risa sudah menunggu di mobil bersama Jaya dan Lela. Tantri dan Tante Genderuwo terlihat melambaikan tangan tanda perpisahan. Si genderuwo itu sampai menangis tersedu-sedu kehilangan Bayu.


"Sampai jumpa lagi! Lain kali kalian datang ke sini lagi, ya!" seru Tantri seraya melambai.


"Mas Bayuuuuuu, kalau kangen pikirin aku aja, nanti aku usahain datang ke kamu," ucap si Tante Uwo sambil melambai dan melemparkan flying kiss pada Bayu.


"Nggak usah, Mbak Wo!" Bayu balas berseru sambil berusaha menghindari tatapan makhluk astral yang besar itu sambil bergidik ngeri.


Bayu sampai membanting pintu mobil karena saking kesalnya.


"Kita mau ke mana, nih?" tanya Bayu.


"Ke Desa Kali Lebar, ke arah Timur," pinta Lela.


"Lah, tambah jauh aja ini mah. Kita tadinya mau ke arah selatan malah jadi ke timur," sungut Bayu sambil menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil mini suv tersebut.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan satu jam setengah, mereka sampai juga melintasi gapura besar bertuliskan "Desa Kali Lebar". Semua mata menatap ke arah mobil yang Ana tumpangi. Plat nomor mobil yang asing menambah keyakinan para warga kalau rombongan Ana datang dari daerah lain.


"Nah, itu rumah aku yang cat abu-abu!" tunjuk Lela.


"Abu-abu dari mananya? Itu cat hijau!" seru Risa.


"Hehehe, maaf Mbak. Aku emang rada buta warna," lirih Lela menahan malu.


Saat memasuki pelataran, di kanan dan kiri rumahnya Lela terdapat kebun pisang kepok yang tumbuh lumayan lebat. Beberapa di antaranya berbuah. Lela mengaku kalau pisang-pisang tersebut merupakan bisnis ibunya karena bisa dijual ke pasar maupun dijadikan keripik pisang yang bisa dijual juga. Ibunya sudah menjanda saat Lela SMA karena pergi dengan seorang janda yang teman ibunya sendiri.


"Dasar laki-laki nggak tau diri! Kurang ajar!" Risa yang kesal mendengar cerita Lela sampai menjambak rambut Bayu dengan gemas.


"Sakit, Sa! Ampun!" pekik Bayu.


"Eh, udah udah jangan anda ribut! Ayo, turun!" ajak Ana.


Ana melangkahkan kakinya menuju ke pintu rumah Lela. Jarak dari mobil terparkir sekitar lima puluh meter. Cukup melelahkan kakinya juga. Tiba-tiba, Ana melihat sesuatu dari balik salah satu pohon pisang. Ia merapatkan diri pada Jaya.


"Sayang, itu apa?" bisik Ana yang langsung mendekat pada Jaya.


Ana rupanya melihat sosok pocong sedang mengintip dari balik pohon pisang. Ia segera buru-buru menuju ke halaman rumah Lela. Bayu dan Risa menyusul.


"Sayang, itu pocong. Kayak aku," kata Jaya seraya meringis.


"Iya, aku tahu kalau itu pocong!" sungut Ana.


"Lah, aku jawab bener dong! Tadi bukannya kamu tanya itu apa, iya kan?" Jaya mengerling.


"Ya maksud aku itu … ah tau lah pokoknya serem juga nggak kayak kamu!" sahut Ana.


"Itu kenapa pocongnya masih ngeliatin kita, sih?" Risa kini bersembunyi di belakang Bayu.


"Aku nggak mau lihat, aku nggak mau lihat." Bayu menggeser Risa, ia ingin gantian bersembunyi di belakang Risa abil menutup matanya.


"Ini pada kenapa sih? Malah pada gantian ngumpet gini?" Risa menggerutu sampai menginjak kaki Bayu.


"Kalian lihat apa, sih? Pasti pada lihat pocong yang suka ngumpul di belakang pohon pisang. Kata adikku dia suka lihat pocong muka merah ngajak cilukba gitu," ucap Lela.


"Maksud kamu dia?" Ana menunjuk sosok di samping Lela.


Lela lantas terperanjat karena tiba-tiba pocong itu sudah ada di sampingnya.


"Hai!" sapa pocong yang ternyata berjenis kelamin perempuan itu.

__ADS_1


"Wuaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


BRUG!


Lela malah tak sadarkan diri seketika itu juga.


"Kok, jadi dia yang pingsan, sih?" gumam Bayu yang masih bersembunyi di belakang punggung Risa.


"Ini gimana sih? Masa dia yang setan dia yang pingsan," ucap Risa.


"Si Lela kan hantu baru makanya masih syok liat hantu. Apalagi muka hantunya kayak gitu," ucap Ana.


"Apa? Seburuk itu kah muka aku?" tanya pocong wajah merah itu sambil memegangi wajahnya sendiri.


Ana, Jaya, Risa, dan Bayu kompak mengangguk bersamaan.


"Apa?! Kalian sungguh tega!" Pocong wajah merah itu lantas melompat pergi ke area kebun pisang sambil menangis.


"Idih, drama banget itu pocong!" sungut Risa.


"Ada apa ini? Kalian mau cari siapa?" Seorang wanita bertubuh kurus berusia empat puluh lima tahun dengan rambut lurus dikuncir kuda keluar dari rumahnya.


"Selamat siang, Bu, saya Ana! Ini suami saya Jaya, ini Risa dan Bayu. Kami temannya Lela," ucap Ana memperkenalkan diri.


"Suaminya yang mana tadi, Mbak?" tanya Bu Sri.


Ana lupa kalau wanita tersebut pasti tak bisa melihat Jaya.


"Maksud saya, suami saya lagi pergi kerja ke luar negeri. Saya suka kangen jadi suka anggep dia masih di deket saya," ucap Ana berbohong dengan alasan yang entah masuk akal atau tidak.


"Tadi bilang temennya Lela, ya? Tapi Lela belum pulang," ucapnya.


Ana dan Risa saling berpandangan. Risa berusaha membangunkan Lela. Dia mencolek pipi Lela dengan ujung sepatu skets nya.


Tak lama kemudian, muncul mobil sedan hitam. Dua orang pria berada di kursi depan sedan tersebut. Lalu, seorang pria yang Ana kenal keluar dari pintu samping kemudi. Jaket kulit yang ia kenakan dia lepas dan diletakkan di kursi jok mobil. Dia hanya memakai kemeja hitam dan celana jeans. Tampilannya cukup keren, Risa sampai berdecak kagum.


Jaya berpindah dan menghalangi pandangan Ana saat pria itu tersenyum pada Ana. Ia melangkah menuju ke halaman rumah milik Lela. Ana menggeser Jaya kembali, tetapi Jaya langsung berdiri tepat di hadapan istrinya seperti tadi ingin menghalangi


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2