
Bab 26 DPT
Laras dan Bayu melajukan mobil ke pusat kota wilayah Kerajaan Garuda. Sebuah tempat yang lebih ramai dibanding pusat kerajaan itu sendiri karena terletak di pinggir pantai. Dekat dengan pelabuhan yang dijadikan akses keluar masuk para wisatawan. Banyak resort dan pusat kuliner serta pasar tradisional di sekitaran lantai tersebut.
"Mas Bayu, di sana ada apotek!" Laras menunjuk ke sebuah tempat bertuliskan "Apotek Berkah" yang terletak di samping sebuah kedai rumah makan berbahan hasil olahan laut.
"Ya udah, kita beli obat di sana dulu," sahut Bayu yang lantas melajukan mobil mendekat ke arah apotek lalu memarkir tak jauh dari sana.
Laras dan Bayu turun dari mobil seraya membawa secarik kertas resep dokter milik Ana. Seorang petugas apoteker menyambut seraya melukiskan senyum hangat.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanyanya.
"Mau cari obat ini, Mbak, buat kakak saya." Laras menyodorkan resep obat tersebut.
Sang petugas apoteker tampak mengernyit dahi ketika meraihnya. Ia lantas memanggil kawannya.
"Ini merk obat lama, loh. Sudah tidak beredar lagi di pasaran kecuali merk yang lain," ucap apoteker bernama Sari itu.
Sementara apoteker yang lain yang bernama Tina mengamati lembaran resep tersebut dengan saksama.
"Kalian dapat dari mana resep ini?" tanya Tina.
"Dari dokter klinik di sana. Majikan saya tadi dirawat di sana terus obatnya suruh tebus sendiri karena di sana lagi nggak ada buat ibu hamil. Katanya sih penguat kandungan," jawab Bayu.
"Ta-tadi, tadi Mas bilang apa? Majikan Mas dirawat di sana? Sejak kapan?" Tina tampak gemetar memegang kertas resep tersebut.
"Barusan, Mbak. Memangnya ada apa, ya?" tanya Bayu.
"Ada apa sih, Tin?" tanya Sari seraya mencari obat dengan kandungan yang sama tetapi berbeda pabrikan tempat pembuatnya.
"Lihat nama kliniknya, Sar!" tukas Tina.
Sari meraih lembaran resep dan baru menyadari lembaran resep obat tersebut.
"KLINIK IBU DAN ANAK BAHAGIA"
"Kayak pernah denger nama kliniknya. Tapi, bukannya itu udah nggak ada, Tin?" Sari menoleh pada Tina dengan sorot mata mulai takut.
Sementara itu Tina sudah gemetar ketakutan sedari tadi karena teringat akan suatu kejadian mencekam terkait dengan klinik tersebut.
"Mas, segera ambil majikan Mas dan bawa pergi dari sana!" tukas Tina pada Bayu.
"Ada apa ya, Mbak? Saya nggak ngerti sama arah pembicaraan Mbak berdua ini," sahut Bayu.
Laras tampak mengangguk setuju dengan apa yang baru saja Bayu utarakan.
__ADS_1
"Mas, tadinya ini klinik 24 jam yang beroperasi di wilayah Kerajaan Garuda. Tapi, sepuluh tahun yang lalu klinik tersebut sudah terbakar. Ada lima karyawan yang meninggal dan terjebak di sana saat kebakaran itu terjadi. Saya ingat betul karena waktu itu saya masih SMP dan ayah saya petugas kebersihan di sana. Tapi, ayah saya sedang shift siang jadi tidak termasuk korban," ucap Tina menjelaskan.
"Astaga! Jadi klinik itu udah nggak ada karena kebakaran?" tanya Bima.
"Jangan-jangan dokter sama suster nya yang ngerawat Kak Ana itu hantu, Mas?" Laras menarik ujung siku kaus Bayu berkali-kali dengan panik.
"Waduh! Mbak Tuan Putri sama Risa gimana keadaannya sekarang sekarang ini?" Bayu jadi mondar-mandir kebingungan.
"Cepat selamatkan mereka dan bawa mereka keluar dari klinik itu, Mas!" tukas Tina.
Laras menghentikan aksi Bayu dengan segera untuk memyadarkannya.
"Mas Bayu, ayo kita balik ke sana sekarang!" ajak Laras.
Bayu yang tersadar dan mulai berusaha menenangkan diri dari kepanikan, akhirnya menurut pada Laras. Mereka pamit dan menuju mobil lalu melajukan segera ke arah klinik tempat Ana dan Risa berada.
Sementara itu, dua petugas apoteker masih membicarakan klinik angker tersebut.
"Aku harus telepon Mas Panji kalau ada yang terjebak di klinik angker itu karena sebenarnya setiap tahun pasti ada korban yang terjebak di sana," ucap Tina.
"Masa sih, Tin? Terus hubungannya sama Mas Panji apa?" tanya Sari.
"Dia bisa bilang ke Mbah Karso buat menolong korban tersebut. Mbah Karso kan tetua di kerajaan," ucap Tina.
Tina menjawab dengan anggukan kepala lalu dengan segera meraih ponselnya di atas laci kerja.
...***...
Di klinik tempat Ana dirawat.
Sosok hantu perempuan dengan wajah bersimbah darah muncul di balik kaca jendela. Dia memakai pakaian seragam suster di klinik tersebut. Rambutnya berantakan bahkan sebagian menempel di wajahnya yang basah akan darah.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Risa.
"I-itu, itu di depan kamu, Sa!" tunjuk Ana dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menutupi wajahnya.
"Ada apa di depan aku? Nggak ada apa-apa, kok. Wah, jangan-jangan kamu mau bilang ada hantu ya di depan aku?" Risa mulai melangkah mundur.
"I-iya, Sa. Susternya serem banget!" pekik Ana.
"Na, suruh Jaya lah hadapan itu setan!" Risa sudah mendekat di samping Ana dan menyembunyikan wajah di balik kaus yang Ana kenakan.
"Kamu bilang suruh Jaya yang menghadapi setan itu?! Ini aja si Jaya lagi ngumpet di kolong kasur!" sungut Ana.
"Dih, cowok macam apa begitu," keluh Risa masih berusaha bersembunyi.
__ADS_1
"Heh, aku tuh bukannya takut tau! Aku geli lihat muka dia penuh darah gitu," sahut Jaya dari kolong kasur.
"Halah! Bilang aja emang takut, kan? Kamu kan sama-sama hantu. Bilang sama dia jangan nakutin kita!" tukas Ana berseru.
"Aku bukan hantu ya, Na. Aku masih hidup. Ini hanya arwah aku aja yang lagi jalan-jalan keluar badan," sahut Jaya.
Sebuah ketukan di jendela terdengar. Kali ini, Risa juga dapat mendengarnya. Hantu perempuan itu mengetuk jendela lantas melambaikan tangan memanggil Ana.
"Na, itu suara apa?" tanya Risa panik.
"Udah tau itu suara jendela, pakek tanya lagi. Si mbak suster nya manggil tuh!" sahut Ana.
"Kamu yang bisa lihat dia, kan. Kamu aja yang nyamperin," ucap Risa masih menarik ujung kaus lengan Ana.
"Ih, si Risa nyebelin banget! Masa aku yang lagi hamil gini suruh menghadap mbaknya. Aduh… nanti kaus aku melar jangan tarik-tarik gini, Sa!" sungut Ana seraya menarik lengan kanannya dari Risa.
"Aku takut, Na. Lagian ketek kamu bau asem gini," ucap Risa.
"Heh, sembarangan aja! Ketek aku tuh–" Ana lantas menghirup ketiak kirinya.
"Bau, kan?" tanya Risa.
"Asem sih dikit. Heh, kok jadi bahas ketek, sih! Itu mbak nya manggil terus tau!" seru Ana.
"Kamu yang bisa lihat kamu samperin sana! Nanti kalau aku tiba-tiba bisa lihat, aku pingsan loh," ucap Risa.
"Tapi waktu di kereta kamu bisa lihat hantu kan, Sa?"
"Iya juga, ya. Mungkin semua yang masuk kereta hantu itu bisa lihat hantunya," jawab Risa.
Tuk tuk tuk.
Suara ketukan jendela kembali terdengar. Kali ini sang hantu perempuan mengeluarkan suaranya diiringi dengan tertawa cekikikan.
"Sini, hihihi!" ucap si hantu.
"Ana, kok aku bisa denger suaranya huaaaaa," ucap Risa yang langsung beralih bersembunyi di kolong kasur sampai membuat Jaya terpental keluar.
"Sini, hihihi!" Hantu perempuan itu memanggil Ana lagi.
Kali ini Ana menarik tangan Jaya untuk bangkit dan menemaninya menghampiri si hantu perempuan tersebut.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1