Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 29 - Mencoba Keluar dari Klinik


__ADS_3

Bab 29 DPT


"Para arwah itu dikendalikan? Kamu tahu siapa yang mengendalikan, Mbak?" tanya Ana.


"Aku pernah melihat manusia itu datang. Dia memakai jubah hitam bertudung, tetapi aku tak dapat melihatnya. Ia menyeret korban lalu membawanya pergi entah ke mana lagi. Aku tak bisa mengikutinya, karena ruang lingkup gentayangan aku yang hanya bisa sekitar sini," tukas Jumirah menjelaskan.


"Na, apa mungkin itu Ibu Dewi? Kamu inget tadi Laras bawa kamu ke rumah pondok dalam hutan, kan? Mungkin rumah pondok di hutan tadi tempat praktek Ibu Dewi yang baru dan korban tumbal klinik ini dibawa ke sana," sahut Jaya.


"Hmmmm, kamu benar juga. Kalau begitu, kita harus keluar dari sini sebelum mereka mengincar bayiku atau aku atau Risa yang mereka jadikan tumbal yang baru," ucap Ana.


Jaya setuju lalu bertanya pada Jumirah, "Bagaimana cara kita bisa keluar dari sini?"


"Ada ruangan yang terdapat patung pemujaan. Arwah dokter dan suster itu bisa bergentayangan karena ruangan itu masih menyala. Matikan semua lilin di altar dan hancurkan patung-patung di sana agar para arwah penunggu rumah sakit lenyap. Dokter Tommy pernah cerita akan hal itu. Dia juga sebenarnya ingin pergi dan lelah mengabdi pada manusia serakah ini, tetapi tak ada manusia yang sanggup dan bisa menghancurkan altar di ruangan tersebut," ucap Jumirah.


"Lalu, bagaimana dengan Mbak Jum nanti? Mbak bisa lenyap juga tanpa bertemu dengan suami Mbak dulu," ucap Ana.


"Belum tentu Mas Parto masih hidup. Mungkin saja dia sudah menunggu saya di gerbang dunia alam lain," tuturnya.


"Baiklah, ayo kita cari ruangan itu!" ajak Ana.


Ana juga menarik paksa Risa agar keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ayo, ikut aku Sa!" ajak Ana.


"Aku takut, Na." Risa masih mencoba mengelak.


"Kamu mau keluar dari sini, nggak? Kalau emang masih betah di sini, ya udah sana ngumpet aja!" seru Risa.


"Iya, iya, iya, aku ikut kamu," sahut Risa akhirnya.


...***...


Semakin lama suasana di dalam bangunan klinik tua itu terasa semakin ganjil. Hanya kesunyian malam yang membimbing langkah kaki gemetar milik Ana dan Risa.


Tapak-tapak kaki mereka terus menembus kegelapan tak berujung. Kehitaman pekat perlahan melahap bayangan mereka.


"Mbak, habis ini ke arah mana?" tanya Ana berbisik.


"Ke kiri," sahut Jumirah.

__ADS_1


Pocong Jaya sudah mulai bisa melompat lebih cepat dari sebelumnya. Ia melompat mengikuti Ana dan Risa di belakang keduanya. Ana sempat menatap pintu-pintu ruangan di sepanjang lorong yang terbuka lebar. Sekilas dia melihat seperti bangsal yang tak berpenghuni.


"Ini kayaknya bangunan baru yang mau dibuat rumah sakit, deh," bisik Ana.


Ana dan Risa juga melihat ada meja tua di dalam ruangan bangsal. Semerbak tercium dari aroma lembap yang bisa membuat siapa pun mual menghirupnya.


Ruangan yang dilewati mereka memang lebih mirip bangsal rumah sakit.


"Di sini sempat juga kerap dijadikan tempat pertemuan beberapa orang yang aku duga kelompok sesat yang konon dulu pernah ada. Sebuah kelompok kecil yang katanya sudah dibubarkan pihak berwajib kerajaan karena memiliki aliran sesat," ucap Jumirah.


"Oh iya, aku pernah dengar kelompok sesat itu. Mereka menumbalkan bayi yang tulangnya dijadikan susuk," sahut Jaya.


"Susuk tulang bayi?" tanya Ana.


"Hah, apaan tuh, Na?" Risa menyela.


Ana lantas menceritakan apa yang diceritakan Jaya dan Jumirah pada Risa.


Namun, tiba-tiba saja Risa berceloteh kalau ia masih meyakini bahwa kelompok sesat itu masih ada, hanya saja mereka berbaur satu sama lain bersembunyi dalam masyarakat. Membuat diri mereka seakan-akan lenyap, hingga tiba waktu mereka untuk bersatu kembali.


"Serem amat sih, Sa. Jangan mikir terlalu jauh lah. Sup bayi ini aja udah serem ditambah susuk tulang bayi, hiiiiyyyyy." Ana bergidik ngeri.


"Oh, itu kita ya, Na. Kirain setan, hehehe." Risa membetulkan kaca matanyan.


"Di sini."


Suara parau berat penuh kemalangan terdengar dari ruangan paling ujung. Rupanya Jumirah sudah berada di sana. Lantas saja, Ana dan Risa seraya Jaya menuju ke sana.


Aroma debu serta pengap bercampur anyir darah tercium semakin pekat dari segala penjuru ruangan. Meski begitu, hal ini tak akan membuat Ana menyerah. Tekadnya sudah bulat dan dia harus menghancurkan altar ruangan tersebut agar bisa terbebas dari sana.


"Apa dia sudah tau kalau bayi di perutnya akan menjadi pembuka tetapi juga bisa menjadi penutup dari misteri di kerajaan ini?" Suara Dokter Tommy terdengar di samping Jumirah.


"Apa maksud kamu?" tanya Jaya berusaha melindungi Ana.


Tiba-tiba, terdengar suara jeritan perempuan dari kejauhan. Meski samar, tapi suara tersebut jelas terdengar. Kali ini, Risa mendengarnya.


"Ana, itu suara apa?" bisik Risa ketakutan memeluk lengan Ana.


"Aku juga nggak tau, Sa." Ana menggeleng lemah.

__ADS_1


"Mereka para hantu wanita yang terjebak di sini. Sama seperti aku. Mereka akan berteriak, menangis, dan mengeluarkan suara menakutkan," tukas Jumirah.


Dua orang suster keluar menemani Dokter Tommy. Tubuh mereka hangus terbakar. Bahkan kulit pipi salah satu suster sampai hampir terlepas dan memperlihatkan tulang belulangnya. Jaya sampai mundur ketakutan.


"Tahan, dong! Kamu tuh wujudnya sama ama mereka. Sama-sama makhluk gaib, jangan jadi penakut gini!" bisik Ana seraya menunduk.


"Kamu juga takut, kan?" tanya Jaya.


"Ya iyalah, siapa juga yang nggak takut!" sungut Ana.


"Na, ada apa ini? Kok bau gosong, ya?" tanya Risa.


Aroma gosong bercampur amis nan anyir tercium menyengat membuat Risa langsung menutup hidung. Gadis itu berpindah ke sebuah sudut sebelum isi dalam perutnya menyeruak meronta ingin dikeluarkan.


Mendadak kemudian, Dokter Tommy dan para suster tadi mengeluarkan suara seperti tulang patah di bagian lehernya.


Krek krek krek.


"Kalian harus bersiap! Jika mereka seperti itu, artinya mereka dalam pengaruh manusia jahat itu! Cepat hancurkan altarnya!" seru Jumirah.


Ana mengangguk lalu meminta Risa berlari masuk ke dalam ruangan untuk menghancurkan para patung di dalam sana.


"Tapi, Na–"


"Nggak ada tapi tapi, Sa! Hancurkan aja yang ada di dalam sana!" tegas Ana.


"Aku akan menahan mereka! Kamu masuk sama Risa hancurkan semuanya, Na!" seru Jaya.


Pocong itu lantas melakukan gerakan menyeruduk ke arah Dokter Tommy. Jumirah juga memberanikan diri menjambak rambut salah satu suster. Mereka terlibat perkelahian.


Ana lantas memanfaatkan hal tersebut untuk bergerak masuk ke dalam ruangan dan menghancurkan altar dalam klinik tersebut.


Tiba-tiba, ada sebuah cahaya memasuki lorong. Cahaya yang diciptakan dari lampu petromak. Suara seruan memanggil Ana dan Risa juga terdengar. Rupanya Bayu datang bersama seorang pria yang mereka kenal.


"Mas Panji?"


Risa dan Ana mengucap bersamaan.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2