Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 41 - Akhir Pertunjukan


__ADS_3

Bab 41 DPT


Ana mendadak seperti terhipnotis. Ana tiba-tiba bergerak maju. Jaya mau melarang Ana untuk maju, tetapi Raja Harun menahan Jaya.


"Kita harus bersembunyi, Jaya! Dia bisa membuat kita menjadi budaknya," cegah Raja Harun.


"Tapi, bagaimana dengan Ana?" tanya Jaya.


"Dia tak akan apa-apa. Aku akan berusaha mencegahnya dari sini," ucap Raja Harun.


"Na, kamu mau ke mana?" tanya Risa mencoba menahan.


Hal itu membuatnya heran karena secara tiba-tiba Ana malah melangkah maju ke tengah lapangan. Risa kembali menarik tangan Ana sampai membuat wanita itu tersadar. Ana langsung berusaha menghindar. Namun, Ana sudah terlambat karena di hadapannya tampak Cak Ningrat menatap dirinya dengan sorot mata menantang.


"Kamu berani menantangku, hah? Apa karena pocong penjaga dan jin itu yang menjagamu, hah?" tanyanya dengan suara parau dan berat tetapi sorot matanya penuh ancaman.


"Nggak, Pak, saya nggak banting kok. Saya aja nggak tau kenapa bisa maju gitu aja," ucap Ana.


"Ayo, suruh penjagamu itu melawanku!" tantang Cak Ningrat.


Ana tersenyum kecut, kini semua penonton sedang menatap padanya. Ana menoleh ke arah Risa, Bayu, Jaya, dan Harun. Kala Risa hendak mengajaknya kembali, salah satu dari asisten Cak Ningrat malah menawarkan golok yang ada di tangan.


"Tolong jangan buat malu kami atau kamu dalam bahaya," ucapnya pada Ana.


Ana dengan tangan gemetar meraih golok tersebut.


"Ini golok mainan, kan?" tanya Ana dengan polosnya.


Ana meringis karena sempat terpikir di dalam kepalanya, mungkin saja golok yang mereka gunakan adalah mainan.


Cak Ningrat mempersilakan salah satu asistennya untuk maju. Pria itu mengangguk dan mendekati.


"Kamu pikir ini mainan, hah?" tanya Cak Ningrat.


Secara tiba-tiba, Cak Ningrat malah mengayunkan golok tersebut dan menebas tangan kanan asistennya.


"Aaaaaarrrggghhhh!"


Pria itu lantas berteriak. Darah segar mengucur dari tangannya.


"Asli, kan? Bukan mainan?" tanyanya pada Ana.


Para asisten lainnya mendekat dan langsung membawa pria yang dibacok tadi ke belakang untuk diobati.

__ADS_1


"Ayok bacok saya, Mbak!" kata Cak Ningrat seraya mengangkat kedua tangan seakan memberikan badannya kepada Ana.


Tanpa membuang waktu, meski jantungnya berdebar-debar tak karuan, Ana menghujam dada si dukun. Aneh sekali, senjata tajam itu sama sekali tak bisa menembus kulit si dukun. Seakan kulitnya terbuat dari kulit badak.


"Udah, Na! Kita tahu dia kebal," ucap Risa.


Ana dan Risa saling menatap satu sama lain. Mereka mengamati golok di tangan Ana. Lantas, wanita itu mengembalikan goloknya.


Tiga pria sang asisten tadi secara mengejutkan menunjukkan atraksi lain. Salah satu dari mereka mengayunkan golok menebas batang pohon pisang.


Slet slet slet!


Batang pohon pisang terbelah-belah sesuai tebasan golok tadi. Dia menyerahkannya pada salah satu penonton lagi. Pria itu menunjukkan aksi yang tidak kalah gila dia meminta salah satu penonton itu untuk menyayat telapak tangan pemuda berambut gondrong itu sendiri.


Para penonton kini menganga melihat darah di tangan pria gondrong itu menetes keluar. Tak ada yang bersuara, semua orang dibuat diam. Semua orang lantas menatap ke arah si pemimpin jaranan.


Cak Ningrat melangkah mendekati asistennya yang terluka tersebut. Dengan gerakan tangan cepat ia menggosok keringatnya di sebuah kain lalu mengoleskan pada luka itu dan tiba-tiba luka sayatan itu sembuh.


Cak Ningrat tadi menoleh ke arah si penonton dengan tatapan heran. Harusnya asistennya itu kebal dengan tebasan senjata tajam. Lalu, kenapa saat penonton itu yang melakukannya sang asisten malah berdarah. Rupanya, Harun masuk ke dalam tubuh si penonton dan melakukan tebasan dengan ilmunya.


"Kau menantangku rupanya?" Cak Ningrat mendekat pada Raja Harun.


Sang pemimpin jaranan lantas makin menggila. Pertunjukan belum berakhir karena untuk kali ketiga, dia menebaskan golok pada tubuhnya sendiri yang kini tertawa tawa. Pertunjukan ini benar-benar sinting. Mungkin hal mistis ini benar-benar nyata. Pria itu menyodorkan goloknya pada Raja Harun. Dia meminta tangannya ditebas.


"Ayo, saya mau buktikan lagi! Siapa yang paling kuat di antara kita?" Cak Ningrat balik menantang.


Raja Harun meraih golok itu lalu menyayat kulit di tangan kiri Cak Ningrat.


"Aaaaaaaaaa!"


Darah mengalir keluar dari tangan Cak Ningrat tersebut. Raja Harun lantas menjatuhkan golok di tangannya. Raut wajahnya langsung panik.


"Kini, kau tahu kan siapa yang kuat di antara kita?" Raja Harun menyeringai.


Ia keluar dari tubuh si penonton yang langsung tergeletak tak sadarkan diri. Raja Harun lantas menarik tangan Risa.


"Ayo, kita kabur!" ajaknya.


Jaya juga menggandeng tangan Ana untuk segera pergi. Namun, Jaya bergerak dengan melompat cepat sampai Ana tak sadar mengikutinya. Bayu yang sadar ditinggal langsung menyusul.


Cak Ningrat langsung dibawa oleh para asisten untuk diobati. Demi mengalihkan perhatian penonton, seorang wanita yang berpakaian sama dengan para asisten si dukun datang dengan mematahkan lempengan besi tajam yang dia bawa dengan tangan kosong. Tak hanya itu, ia dengan keadaan sadar menggigit lempengan senjata tajam itu dengan mulut. Wanita dengan rambut dikuncir satu itu mematahkannya menjadi dua bagian.


Lalu, wanita itu meninggalkan lapangan, bergantian dengan para perempuan-perempuan yang datang dengan kostum lelaki. Wajah cantik mereka dirias dengan kumis dan janggut palsu yang dibuat dari pensil alis. Mereka membungkuk pada penonton kemudian berlutut di hadapan jaranan yang sedari tadi hanya diletakkan di tengah lapangan.

__ADS_1


Tanpa disentuh oleh siapa pun karena tak berani.


Lalu, keenam perempuan penari itu berlutut satu per satu sebelum mulai memainkan kuda-kudaan itu. Dengan membawa cambuk di tangan mereka, keempat perempuan itu mulai menari sembari mencambuk apa pun di depan mereka. Inilah puncak acara jaran kepang, menari-nari di atas bara api dari tong besi yang dituang berisikan beling dan arang yang membara merah.


"Cari orang yang mencelakaiku tadi!" pinta Cak Ningrat.


"Sudah pingsan, Cak," sahut sang asisten.


"Bukan dia! Tapi rombongan wanita yang tadi, dia punya penjaga jin yang mengerjaiku barusan," ucap Cak Ningrat dengan geram.


"Baik, Cak," sahutnya.


...***...


Sesampainya di rumah Sari, di atas meja sudah dihidangkan berbagai jenis hidangan untuk tamunya. Ada nasi, sup oyong, telur rebus, dan beberapa timun untuk lalapan."


"Aduh, makasih banyak Sari. Tau aja kita habis lari-lari terus laper," ucap Risa.


Sementara Bayu sudah meneguk air dalam satu kendi.


"Kamu lari, aku mah lompat," sungut Ana.


"Lagian siapa suruh kamu ikutan lompat si Jaya!" pekik Risa lalu tertawa.


"Jaya siapa, Mbak?" tanya Bayu.


"Bukan siapa-siapa," sahut Risa.


"Putri Ana, kenapa lompat kayak tadi?" tanya Bayu.


"Ohhh, kayaknya bawaan bayi jadi pengen lompat. Aduh, perut aku kram juga," ucap Ana berbohong.


"Ya udah, monggo silakan disantap dulu!" ucap Sari.


"Kamu sempet aja masak begini, Sar?" tanya Ana yang hampir menyantap makanannya.


Sementara Bayu dan Risa sudah lebih dulu melahap dengan rakus.


"Jangan dimakan!" seru Raja Harun.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


__ADS_2