
Bab 102 DPT
"Pang Jay … ini gimana ini?" Bayu panik dan ketakutan.
"Ini mah nggak usah telepon polisi! Buruan masuk mobil, kita pergi dari sini!" seru Jaya.
Jaya bergegas menarik Bayu. Ia ingin Bayu segera melajukan mobil tersebut ke rumah singgah milik Ratu Melati. Dengan segenap keberanian yang tersisa, Bayu menekan pedal gas untuk melaju pergi.
Namun, tiba-tiba seseorang berlari keluar dari semak belukar menghampiri perempuan yang baru saja tertabrak tadi. Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu memakai kaus putih dan celana batik parang.
"Mamah, ayo pulang!" ajaknya.
"Mamah?" Semua yang ada di mobil menyahut bersamaan dengan sorot mata tak percaya.
"Pak, tadi panggil apa ke dia?" tanya Risa melongok dari jendela mobil.
Bayu akhirnya ikut penasaran dan melongok dari jendela mobil.
"Mas, istrinya baru aja ketabrak. Tulangnya pada krek krek loh. Patah tulang dia tau tau bisa berdiri!" seru Bayu.
"Ayo, pulang!" Pria itu tak menggubris ucapan Bayu.
Dia menarik paksa wanita tadi untuk masuk ke dalam hutan.
"Aku lapar, Mas. Aku mau darah anak itu!" ucap sosok wanita tadi.
"Kita cari yang lain aja!" tegasnya.
Risa dan Ana bertatapan meskipun Ana tengah meringis kesakitan.
"Kayaknya nggak bener, nih. Tuh cewek kayaknya ngincer Ana, deh," ucap Risa.
"Iya, Ibu rasa juga begitu. Dia mengincar Ana," sahut Ratu Melati.
__ADS_1
Tak lama kemudian, beberapa polisi terlihat datang ke tempat kejadian perkara. Rupanya, petugas pom bensin tempat Bayu mengisi bahan bakar tadi, melihat kejadian saat mobil kijang Bayu menabrak wanita tadi.
Namun, para polisi tampak jadi bingung ketika mau mengevakuasi korban. Jelas saja mereka jadi serba salah, karena nyatanya korban tersebut masih berdiri tegak.
Pria tadi pun lantas segera membawa istrinya pergi meskipun tampak mencurigakan. Jaya meminta Bayu untuk melajukan mobilnya. Akan tetapi, seorang pengendara motor yang memboncengi wanita hamil lantas mencegat laju mobil yang dikendarai Bayu.
"Apa lagi ini?" keluh Risa seraya mengusap perut Ana.
"Mas, bisa tolong saya?" pinta pria yang membuka helm nya mendekati Bayu.
"Maaf, Mas. Kami harus bergegas, ada yang mau melahirkan." Bayu menoleh pada Ana di kursi kedua menunjukkan kalau memang ada wanita mau melahirkan di mobil itu.
Sosok perempuan yang ada di boncengan motor itu lantas berjalan tertatih ke arah mobil. Dua tangannya terulur seolah hendak mencekik Bayu. Saat mendekat, Bayu langsung menepisnya karena takut.
"Mas, ini kenapa main cekek aja?!" sungut Bayu.
"Dia mau minta tolong, Mas."
Lalu, sosok perempuan itu terlihat muntah darah dan langsung tergeletak di aspal jalan. Tubuhnya tak dapat lagi digunakan atau dikendalikan rupanya.
"Saya yang akan antar kalian ke tempat tujuan terdekat. Tapi, tolong bantu saya menyelamatkan Karina. Dia butuh darah dari wanita yang akan menjalani persalinan. Lihat, dia juga sedang mengandung dan akan melahirkan. Tapi, dia terkena santet. Dan Bu Yayah bilang, aku akan menemukan penawar santet dari darah perempuan yang akan melahirkan dan akan melintas di jalan ini. Tolong saya…."
"Siapa Bu Yayah?" tanya Jaya. Lalu Bayu menanyakannya pada pria tersebut.
"Bu Yayah itu orang yang pintar mengobati. Tapi, dia juga bidan persalinan dan dia punya ilmu magis juga yang bisa membantu mbak ini," ucapnya seraya menunjuk Ana.
"Bagaimana ini, Pang Jay?" Bayu menoleh pada Jaya.
Jaya lantas menoleh pada Ana dan Ibu Melati. Lalu, Ana menelisik sosok perempuan yang sekarang itu.
"Kita tolong dia," lirih Ana.
"Tapi, Sayang–"
__ADS_1
"Aku akan memberikan darah ini untuk menolongnya," ucap Ana.
"Baiklah kalau begitu," ucap Jaya. Lalu meminta pria bernama Agus itu untuk membawa mereka ke tempat Bu Yayah.
Toh, jika mereka menghindar. Akan ada lagi sosok yang bisa dikendalikan seperti perempuan tadi yang akan memghampiri Ana dan menerornya. Lebih baik tak ada salahnya menemui Bu Yayah ini.
...***...
Risa dan Ratu Melati menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk proses kelahiran Ana. Bu Yayah juga sigap membantu. Untungnya, Ana dan Risa telah membeli perlengkapan bayi saat pulang dari Desa Abang meskipun baru seadanya.
Bu Yayah menyiapkan mandi untuk Ana yang dipercaya merupakan ritualnya ketika akan melahirkan. Wanita berusia tujuh puluh tahun yang tak mau dipanggil nenek itu, menyiapkan air mandi yang dicampur rebusan tanaman obat jeringau dan bangle. Dukun beranak itu juga akan bertugas memandikan si bayi sampai mencuci kotoran bekas melahirkan.
Ratu Melati dan Bu Yayah benar-benar cekatan menangani proses kelahiran bayinya Ana. Rupanya Bu Yayah pernah menerima pelatihan dari puskesmas. Dia diberi alkohol, gunting, sarung tangan, dan alat lain untuk membantu orang bersalin. Alat ini diberikan supaya para dukun beranak membantu persalinan dengan lebih steril.
Menurutnya, orang zaman dulu memotong tali pusar memakai bambu tajam. Obat pusarnya sendiri memakai abu sama asem. Namun, saat wanita itu mengikuti pelatihan, dia diberikan gunting juga alkohol. Para dukun beranak yang ada di lingkunganya juga diberi pelatihan dari Dinas Kesehatan yang memerintahkan para bidan dan staf puskesmas untuk melakukan penataran seminggu sekali kepada dukun beranak di lingkungannya termasuk Bu Yayah.
Proses Ana melahirkan, akhirnya berjalan dengan lancar. Ana berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki di rumah Bu Yaya. Ratu Melati lalu mengambil lima puluh mili liter darah bayi tersebut sesuai arahan Eyang Setyo. Lalu diminumkan pada Jaya. Arwah Jaya akhirnya berhasil kembali ke tubuhnya yang berada di kursi paling belakang kijang Bayu.
Jaya lalu memeluk dan mencium Ana serta bayi laki-lakinya yang diberi nama Anjaya Eka Mangkulangit. Prosesi melahirkan Ana malam itu tentu saja masih dirahasiakan dari Mbah Karso. Namun sayangnya, perempuan bernama Karina itu meregang nyawa. Santet yang menyerang gadis itu sudah begitu kuat.
Malam itu juga, Bu Yayah meminta Agus untuk memakamkan istrinya. Bayu membantu pria itu untuk menggali kuburan. Dibantu juga oleh suaminya Bu Yayah. Ana menangis di pelukan Jaya meskipun Risa dan Ratu Melati menenangkannya. Ana merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Karina.
Sementara itu, Jaya bersama Rama menyiapkan penyimpanan ari-ari bayi Ana yang akan dia bawa pulang ke istana Kerajaan Garuda nantinya. Namun, Bu Yayah meminta sebaiknya Jaya melarung ari-ari tersebut ke sungai yang tak jauh dari rumahnya.
Salah satu kegiatan meruwat ari-ari adalah melarung ari-ari yang merupakan serangkaian upacara menghanyutkan ari-ari bayi ke laut dengan tujuan agar ari-ari tersebut bersatu dengan air, dengan harapan agar kelak anak setelah dewasa mempunyai wawasan luas dan bebas sehingga tahan menghadapi gelombang kehidupan.
Ratu Melati akhirnya setuju dan meminta Jaya melaksanakan perintah Bu Yayah. Setelah melakukan hal tersebut ditemani oleh Rama, mendadak Rama murung dan menangis.
"Rama, kamu kenapa, Nak?" tanya Jaya seraya mengusap kepala anak tersebut.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...