
Bab 121 DPT
Ana dan Jaya pergi ke Pulau Merak untuk membawa Rama kembali. Namun, mereka terjebak di laut lepas.
"Kita kayaknya nyasar, ya?" tanya Ana pada Jaya saat berada di geladak kapal.
"Apa karena kita tadi kejebak angin besar tadi, ya?" Jaya malah balik bertanya.
"Yeeee, si Jaya malah balik nanya. Hueeeeek!" Risa malah terkena mabuk laut.
"Aku heran kok ada ya hantu mabok laut, hahaha," sahut Jaya.
"Udah jangan diledekin terus! Coba kamu tanya sana sama Pak Nakhoda!" titah Ana.
Jaya dan Ana lantas mendekat pada Pak Burhan, si nakhoda kapal tersebut. Ia menjelaskan ada kemungkinan kalau kapal mereka terbawa angin besar tadi. Dia akan berusaha untuk mengembalikan arah kapal ke Pulau Merak dengan segera. Tiba-tiba, salah satu awak kapal berteriak.
"Pak Burhan, ada putri duyung!" serunya.
Tiba-tiba, langit menjadi gelap. Ada kabut asap tebal yang menyelimuti kapal saat mereka akan melintas di antara para monster laut.
"Hah, putri duyung? Aku mau lihat, ah!" ucap Ana.
"Kalian semua sembunyi! Tutup telinga kalian!" seru Burhan.
"Emangnya kenapa, Pak?" tanya Jaya.
"Dia siluman, siluman perempuan ikan!" serunya dengan cemas.
"Hah? Siluman ikan?" Ana ganti berseru.
"Sebaiknya Anda juga bersembunyi Ratu Ana! Siluman perempuan ikan itu punya pendamping yang menyukai wanita cantik, dia monster katak raksasa jadi-jadian," ucapnya menjelaskan.
"Ana, sebaiknya sembunyi!" titah Jaya.
Ana menurut. Tetapi, jauh di dalam hatinya dia masih ingin mengintip. Dan tentu saja, Ana akan selalu bertindak nekat.
Nyanyian suara perempuan terdengar merdu. Bukan hanya satu dua, tetapi lumayan banyak layaknya paduan suara di tengah lautan.
__ADS_1
"Tutup telinga kalian rapat!" seru Burhan saat melewati kawanan siluman ikan duyung itu.
Salah satu awak kapal Burhan terjerat sihir sang siluman. Ia merasa jatuh cinta pada sosok berwajah cantik itu. Ia mendekat dan nekat terjun dari kapal. Kalau sudah begitu, Burhan tak bisa menyelamatkannya. Anak buahnya itu makin mendekat ke arah siluman ikan sampai akhirnya, dia ditenggelamkan dan dimakan ramai-ramai. Sosok siluman yang tadinya berwajah cantik, langsung mengubah wajah ke bentuk semula. Wajahnya seperti ikan, dengan gigi besar besar tajam seperti ikan piranha. Bersama siluman katak raksasa penunggu laut yang lebih memilih manusia perempuan dibandingkan si perempuan yang memilih manusia laki-laki, mereka pantas dijuluki monster lautan dalam.
Langit gelap kembali cerah. Sosok siluman perempuan ikan dan siluman katak juga sudah menghilang. Mungkin karena mereka mendapatkan korban manusia. Selain anak buah kapal yang tadi menceburkan diri ke laut karena tergoda, rupanya salah satu anggota tukang masak di kapal yang berjenis kelamin perempuan, ikut tergoda dan menceburkan diri ke laut.
Burhan terlihat marah dan menggeram. Ia menyesal karena gagal menjaga dua anak buahnya. Burhan lantas menceritakan pada Jaya kalau makhluk tadi merupakan sosok yang suka menenggelamkan orang.
Siluman ikan itu beranama Duyungi. Mereka adalah para perempuan yang melakukan bunuh diri yang biasanya merupakan gadis yang belum menikah. Pada malam hari, perempuan yang menjadi Duyungi itu biasanya bersembunyi di bebatuan besar untuk menunggu kapal yang lewat. Jika orang malang itu tergoda, dia akan datang mendekati air. Duyungi akan memperdayainya lalu menyeretnya ke dasar lautan hingga orang tersebut mati tenggelam. Lalu, disantap dagingnya penuh suka cita.
"Aku baru tahu kalau laut yang mengelilingi Pulau Merak mengerikan," ucap Jaya.
"Aku melihatnya! Aku melihatnya!" seru Ana yang keluar dari tempat persembunyiannya seraya membawa selimut penutup.
"Iya, aku juga lihat! Dia tampan ya, Na?" sahut Risa.
"Iya, dia sangat tampan! Bahkan lebih tampan dari –"
Jaya menyiram wajah Ana dengan air garam pemberian dari Burhan.
"Kok, aku disiram? Fuaaaah mana asin banget lagi!" keluh Ana.
"Ih, siapa yang mau bilang gitu? Jelas saja pria paling tampan di hatiku cuma kamu," ucap Ana seraya melingkarkan kedua tanganya di leher Jaya.
Sepasang mata cantik nan lentik itu bahkan berkedip-kedip menggoda Jaya.
"Tenanglah Paduka Raja, tadi itu istri Anda hampir terkena sihir si monster katak. Tapi, sepertinya sekarang ada gangguan di mata istri Anda." Burhan mengejek Ana seraya menahan tawa lalu pergi kembali ke geladak lantai dua.
"Huh, menyebalkan juga si tua bangka itu!" Ana mengerucutkan bibirnya memandangi punggung Pak Burhan yang menjauh.
"Tak sia-sia aku membayarnya mahal untuk mengantar dan menjaga kita mengarungi lautan yang menyeramkan ini," kata Jaya seraya memeluk Ana.
Sementara itu, Risa masih menyanyi lagu original soundtrack film Titanic seraya membayangkan ada pria seperti pemeran Jack yang memeluk dirinya dari belakang. Ia membayangkan wajah tampan milik monster katak yang sempat dia lihat bersama Ana tadi.
"Terus itu si Risa, gimana?" tanya Ana saat Jaya mengajaknya kembali ke kamar.
"Tinggalin aja! Nanti kalau capek juga berhenti sendiri," sahut Jaya.
__ADS_1
...***...
Kedatangan Ana dan Jaya disambut oleh Ibu Merak setibanya mereka di PantaI Merak. Namun sayangnya, menurut Ibu Ratu, dia kehilangan Rama dan Banyu yang sedang berburu paus di lautan dalam. Ibu Ratu bahkan meminta Jays untuk membawa putranya kembali setelah salah satu putra lainnya yang bernama Bayu, telah mengorbankan diri demi Kerajaan Garuda. Hati Ana dan Jaya jadi merasa bersalah sehingga mereka memutuskan untuk mencari Rama dan Banyu kembali ke laut dalam.
Namun, saat Ana dan Jaya hendak menaiki kapal Pak Burhan, Rombongan beberapa siluman perempuan ikan datang bersama seorang pemimpin yang bernama Putri Ice. Wanita dengan rambut perak sampai ke kaki yang dikepang itu bak tokoh rapunzel yang merupakan seorang keturunan dari penyihir yang menguasai dunia es.
Kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya membuat dia menjadi penyihir es terkuat di kaumnya. Iris mata biru dan paras yang cantik mampu membuat siapapun kaum adam tergoda.
"Wah, cantik sekali gadis itu," ucap Risa.
Jaya mengangguk, tetapi Ana langsung memelototinya tajam.
"Nggak ada yang lebih cantik dari istriku, Putri Ana." Jaya langsung memuji Ana yang tersenyum senang.
"Dia memang cantik. Sikapnya juga baik dan ramah membuat banyak yang mengagumi dirinya. Lalu, kenapa dia bersama para siluman ikan? Di mana rakyatnya yang lain?"
Pak Burhan yang terkenal sering mengarungi laut dalam dan kerap berhasil selamat dan bertemu para makhluk laut dalam, buka suara.
"Mungkinkah hanya dia yang tersisa?" Ibunya Banyu tampak mengamati dengan teropong.
"Jadi, dia musuh apa teman?" tanya Raja.
"Mungkin saja, dia teman. Aku yang mengirimkan pesan ke pemerintah pusat untuk minta bantuan terus terang saja sangat sulit. Kalian terlalu dini hendak membuat para generasi muda kecanduan tv dan gadjet, bukan? " ucapnya.
"Jadi, maksud Anda kalau Putri Ice akan membantu kita? Dia pasti akan membantu kita, kan?" tanta Jaya tak yakin.
"Hmmm, tapi yang jelas aku butuh bantuannya untuk mengobati rakyatku. Dia dkenal sebagai penyihir dengan kekuatan penyembuh terbaik bahkan ia memiliki kekuatan dan sihir lain yang hebat," ujar Ibunya Banyu.
Putri Ice tiba di tepi pantai. Ratu Pulau Merak pengawal telah berjalan ke sana diikuti oleh yang lainnya untuk menyambut mereka.
"Halo, Putri Ice. Ada apa gerangan kau sampai ke sini?" tanya Ratu Merak.
Putri Ice menatap tajam pada ibunya Banyu. Lalu, perempuan berwajah pucat itu, melangkah cepat dan mengarahkan tangan kanannya ke arah leher wanita paruh baya tersebut. Dia mencekik Ibunya Bayu seketika.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...