Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 40 - Pertunjukan Gila


__ADS_3

Bab 40 DPT


"Eh eh, hantu yang itu deketin kita tuh," bisik Risa dengan tatapan ketakutan.


"Mereka nggak akan bisa ganggu kamu, sayangku," ucap Raja Harun.


"Aaaahhh, so sweet!" Risa menepuk nepuk lengan suami gaibnya.


"Kok, aku jijik ya liatnya," lirih Ana.


Padahal ia sendiri juga sedang mabuk kepayang dengan sosok pocong Jaya.


Sampai detik ini banyak orang percaya tak hanya manusia yang menikmati acara ini tapi juga para makhluk tak kasat mata. Ada hantu tanpa kepala yang menari tak tentu arah. Ada pula hantu yang badannya tak lengkap. Ada juga makhluk kerdil. Dan salah satunya hantu perempuan bergaun pengantin yang sedari tadi gaunnya diinjak oleh hantu tanpa kepala. Hal itu langsung membuat Ana dan Risa yang bisa melihat penampakan itu tertawa. Hantu pengantin berwajah hancur itu datang mendekat.


Para hantu itu rupanya diperbudak dan dipekerjakan oleh si pemimpin jaranan tersebut. Si pemimpin sedang membicarakan ritual pengusir kemalangan dan kesialan. Kemalangan berusaha dijauhkan dari tempat diadakannya pertunjukan karena mereka yang tak dapat dilihat dengan mata kosong akan menghormati dan melindungi masyarakat yang hadir. fungsi Jaranan sebagai sarana ritual, presentasi estetis, sebagai pengikat solidaritas kelompok masyarakat, dan sebagai media pelestarian budaya


Ana hanya bisa mengernyitkan dahi bila melihat penyiksaan pada makhluk astral itu. Dia lagi-lagi menolak percaya dengan hal-hal sinting seperti ini. Rupanya si pemimpin jaranan mendapat bantuan dari makhluk gaib bukan karena kekuatan sendiri yang dia sombongkan itu.


Anyaman berbentuk kuda sudah dipasang di empat sisi mata angin. Anyaman itu berdiri sejajar membentuk panah empat penjuru dengan formasi memutari tong besi dengan api yang masih menyala-nyala. Para penonton melihat sang pemimpin jaranan melangkah masuk memutari tong besi.


Setelah melewati baris penonton yang sengaja memberikan jalan untuk si pemimpin jaranan. Dia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan menatap langit. Seolah sedang memohon pada kekuatan langit. Sungguh hal yang sebenarnya ingin Ana tertawakan.


Di tangan si pria berkumis yang perutnya agak buncit tanpa pakaian atasan dan hanya mengenakan celana hitam selutut itu, terdapat sesuatu menyerupai cambuk yang dibuat dari akar rojot yang dikeringkan.


Dengan gentong kecil yang terbuat dari tanah liat berisikan air serta jerami yang diikat membentuk kuas lukis. Si pemimpin jaranan yang disebut dukun sakti itu berkeliling sambil menyiram-menyiramkan air dari gentong kecil ke arah jaran kepang yang diletakkan di tengah-tengah empat penjuru mata angin. Sesekali ia melihat ke arah Jaya dan Raja Harun yang selalu bersembunyi


Si pemimpin jaranan itu lalu meminum sisa air dalam gentong kecil sebelum memukulkan benda gerabah itu ke kepalanya. Semua penonton berteriak riuh senang melihat aksi unik tak terduga si pemimpin jaranan yang bagaikan dukun sakti. Tak ada darah yang mengalir meskipun ada serpihan kendi yang menancap di kepalanya. Dia menarik serpihan tersebut tanpa rasa sakit sedikit pun.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pria itu mulai beraksi lagi. Kini, pria itu melecut tali cambuk ke arah kuda jaranan tersebut seakan-akan benda itu hidup sembari bersuara layaknya seekor kuda. Aneh. Risa dan yang lainnya sempat berdecak kagum karena belum pernah melihat pertunjukan yang seperti ini sebelumnya.


Pria itu kini menari-nari sambil tertawa mengikuti musik sebelum akhirnya dia berdiri tepat di tengah lapangan. Di tangannya masih terdapat cambuk. Tak jauh dari tempatnya berdiri datang tiga pemuda dengan membawa senjata tajam.


"Apa yang akan mereka lakukan?" bisik Ana pada Jaya yang ada di belakang nya saat mengamati ekspresi penonton.


"Menyakiti diri tanpa sakit," sahut Jaya.


Ana dan Risa lantas menahan kengerian di raut wajah mereka. Kedua wanita itu juga tak menyangka kala melihat bahwa semua orang tampak terhibur.


"Hai, perkenalkan saya Cak Ningrat. Saya orang sakti di sini. Saya tak akan mempan jika dilukai oleh parang dan golok ini! Ayo, kalau tak percaya silakan serang aku!" teriak si pemimpin jaranan yang membuat semua orang semakin tercengang.


"Orang sakti? Sesakti apa sih?" bisik Risa.


"Entahlah, kau mau membuktikannya?" bisik Ana.


Udara malam terasa semakin dingin, kedua perempuan itu sampai menelungkupkan kedua tangannya ke dalam sweater. Mereka juga melihat beberapa pengunjung juga memakai jaket maupun sweater.


Jaya sampai memeluk Ana dari belakang agar merasakan tubuhnya lebih enak. Hanya Ana yang nyaman mendapatkan pelukan sesosok pocong pastinya. Dia membiarkan sebagian tubuhnya tertutupi Jaya, sementara dirinya masih terfokus melihat tiga pemuda yang kini berperan sebagai asisten si pemimpin tadi.


Ketiga pemuda itu berjalan memutari sang si pemimpin layaknya para preman yang sedang menghadang dan mengunci target. Mereka akan bersiap menyerang si Cak Ningrat.


Si pria yang mengaku sakti tadi mengangkat kedua tangan, memberi aba-aba kepada tiga pemuda asistennya tersebut. Lalu, dengan gerakan cepat para pemuda itu menebas tubuh si dukun sakti bersama-sama.


"Aaaaaaaaaa!"


Teriakan bersamaan mulai terdengar dari penonton wanita yang ketakutan, termasuk Risa dan Ana.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu di luar logika. Entah bagaimana si pria sakti itu tampak baik baik saja. Para saksi mata padahal melihat golok dan parang baru saja menebas tubuh tanpa sehelai benang pun itu.


Tak ada luka dan tak ada darah terlihat. Bayu yang tengah fokus pada rekaman video sampai terperangah kaget bukan kepalang. Tak hanya dirinya saja yang dibuat geleng-geleng, sebagian besar penonton pasti juga. Malah dari mereka ada yang menutup mata saat si pria sakti itu terus-menerus ditebas.


Padahal sosok itu sudah bertelanjang dada, pastinya senjata tajam itu harusnya melukainya. Namun, benda-benda tajam itu masih saja gagal menembus kulitnya sekalipun tebasan tiga pemuda ajukan tadi semakin membabi buta.


"Ya ampun, kenapa dia bisa tahan bacok begitu?" pekik Risa menahan kengerian.


Bila dilihat dari cara bagaimana tiga pemuda yang menjadi asisten itu mengayunkan sentaja tajam mereka. Menurut akal dan pikiran logis, seharusnya tak hanya darah yang jatuh ke tanah tetapi juga daging dan kulit manusia itu akan terkoyak-koyak dengan usus terburai keluar karena serangan di bagian perut. Namun nyatanya tak ada yang terjadi, justru si pria sakti tadi masih berdiri kokoh memandang arogan tiga pemuda di hadapannya dengan sikap yang meremehkan.


"Apa ada yang mau coba? Sini kalau tak percaya, silakan serang saya!" teriak Cak Ningrat menantang para penonton.


Bayu yang penasaran akhirnya maju dan memberanikan diri melukai Cak Ningrat. Namun, tak ada yang berhasil. Pria itu masih baik-baik saja. Sampai Bayu memastikan sendiri kalau senjata tajam itu asli dengan menebas batang pohon pisang.


"Asli, ya?" Bayu terkekeh.


"Memotong tangan mu juga bisa. Mau coba?" tantang Cak Ningrat.


"Nggak, Cak, makasih." Bayu buru-buru kembali ke barisan penonton.


Sampai tak lama kemudian, pria sakti itu masih menantang penonton yang lain. Ana dan Risa melihat ke sekeliling menunggu siapa yang berani mencoba menebas si pria sakti yang arogan itu, tetapi sayangnya tak ada satu pun dari penonton yang bergerak maju.


"Mbak, mau maju?" tantang Cak Ningrat menunjuk Ana dengan senyum menyeringai.


Ia juga melihat ke arah Jaya yang menyembunyikan kepalanya di balik punggung Ana.


...******...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2