
Note : Mohon bijak dalam membaca karena mengandung kekerasan dan ketidaknyamanan saat membacanya nanti.
...*****...
Bab 43 DPT
"Kayaknya, itu anaknya Pak Broto lagi ngintip," ucap Jaya.
"Ya udah kita samperin aja!" ajak Ana.
Jaya buru-buru menahannya.
"Dia udah mati, Na. Dia udah nggak bisa diselamatkan lagi. Anak itu ada kemungkinan dibawa ke alam gaib sama penunggu pohon besar itu," tutur Jaya menjelaskan.
Ana sampai mengernyitkan dahi dan menatap Jaya.
“Jadi, anak itu dibawa oleh arwah penunggu pohon besar itu? Tidak bisakah kita minta Raja Harun untuk mengembalikan dia kembali ke orang tuanya?” tanya Ana.
“Ini takdir, Na. Takdir yang tak dapat diubah lagi. Semua sudah digariskan, sebaiknya kau jangan campuri urusan penunggu pohon besar,” titah Jaya.
"Pak Broto! Bisakah Anda dan istri Anda tidak menerima kenyataan kalau putra kalian sudah mati? Kalian terus saja bertengkar." Sang kepala desa yang lama hadir melerai suami istri tersebut.
"Yono belum mati, Pak Kades, saya yakin itu!" Pak Broto bersikeras.
"Sudah seminggu begini nggak ada yang lihat Yono, kan?"
"Itu karena kalian nggak becus mencarinya!" sungut Pak Broto.
"Saya dan para warga sudah mencari ke sana ke mari dengan baik. Mungkin saja Yono dibawa Nenek Grandong. Lalu, Pak Broto sendiri ke mana? Cuma bisa kerjanya mabuk-mabukkan nggak jelas!" cibir Pak Kades.
__ADS_1
"Heh, jangan hina suami saya seperti itu. Memangnya Pak Kades peramal atau dukun sampai tau anak saya udah mati dibawa Nenek Grandong, hah?" Bu Broto malah membela suaminya.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di rumah saya saja. Lihat para tamu dusun kita jadi ketakutan begitu," ucap Pak Kades.
Dia lalu menoleh pada Ana dan Risa serta Bayu, melukiskan senyuman di wajahnya. Dan anehnya lagi dia tersenyum pada Jaya dan Raja Harun. Ternyata menurut Mbah Sarni kepala desa memang seorang dukun dulunya. Ia punya kemampuan berkomunikasi dengan alam gaib. Hal ini benar-benar di luar dugaan Ana dan Risa.
Mbah Sarni lalu menceritakan kalau Pak Kades pernah meramal hidup ayah ibunya Sari yang tak lama kemudian meninggal dunia. Pak Kades juga meramalkan Pak Broto kalau pria itu digariskan kalau di hidupnya ini tidak akan memiliki seorang anak dan itu benar-benar terjadi. Ana dan Risa mulai tertarik dengan penjelasan Mbah Sarni sementara Bayu menatap barang bawaan ke dalam mobil.
Ana lalu menyimak cerita Mbah Sarni dengan penuh antusias. Kepala desa itu memang pandai ramal meramal. Hal itu merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat tradisional pada umumnya. Pak Kades mempelajari kitab-kitab sejarah mengenai peramalan. Di mana kegiatan meramal itu didasari oleh adanya pemikiran tradisional yang percaya pada kekuatan-kekuatan supranatural yang alami.
Hal ini Pak Kades lelajari agar para peramal mampu mencari jalan keluar dalam kesulitan hidup, mencari tindakan tepat, dan juga penuntun dalam menjalin kerjasama antar manusia. Menurut cerita yang berkembang ada dua hal mengenai peramalan. Yaitu, yang pertama adalah asal usul peramalan, dan yang kedua adalah hal yang perlu diperhatikan saat meramal.
"Lalu, bagaimana dengan kisah Pak Broto tadi, Mbah?" tanya Ana.
"Pak Broto sebenarnya pernah memiliki anak perempuan di hidupnya. Namun sayangnya, pria itu tak tahu diri dan pandai bersyukur. Dia hanya ingin anak laki-laki. Si Broto itu bersikeras bahkan nekat melakukan segala cara agar dia dapat memiliki anak laki-laki," ucapnya.
"Lalu, ke mana anak perempuannya?" tanya Ana.
Dia mengunyahnya sampai membuat Ana dan Risa menahan mual.
“Terus, itu istrinya dapat anak dari mana, ya?" celetuk Risa.
"Apa kalian masih tertarik mendengar ceritaku selanjutnya?” tanya Mbah Sarni.
Giliran Ana dan Risa yang menjawab dengan anggukan kepala bersamaan.
Mbah Sarni lalu menceritakan bahwa dahulu kala kehidupan Pak Broto dan istrinya telah dikutuk. Mereka tak bisa memiliki anak lebih dari satu karena pesugihan itu. Saat istrinya Pak Broto melahirkan anak pertama berjenis kelamin perempuan, Pak Broto kembali mencoba dan membuat istrinya hamil anak kedua. Namun, mereka belum menyadari kutukan tersebut saat anak kedua lahir.
Anak pertamanya saat itu baru berusia tiga tahun. Akan tetapi, saat anak keduanya lahir, tiba-tiba anak pertamanya meninggal dengan cara misterius. Berhubung anak kedua Pak Broto itu berjenis kelamin perempuan, dia meminta sang istri untuk kembali hamil.
__ADS_1
Pak Broto berharap anak ketiganya ini laki-laki. Sayang seribu sayang, kejadian mengerikan kembali terulang. Usia anak kedua itu hampir berusia empat tahun kala anak ketiga lahir, tetapi anak kedua itu meninggal dengan cara misterius pula.
Mbah Sarni menceritakan ke pada Ana kalau sebenarnya Pak Kades sudah curiga tentang kutukan ini. Jika anak pertama Pak Broto belum mencapai empat tahun, maka anak itu akan meninggal jika anak berikutnya lahir.
Pak Broto masih bersikeras padahal sudah diberitahu akibatnya. Dia tetap nekat meminta istrinya untuk kembali hamil. Padahal sudah jelas saat anak ketiga lahir dan anak kedua tidak mencapai umur empat tahun, anak itu juga meninggal.
Berlanjut pula pada kematian anak ketiga saat anak yang keempat lahir. Kutukan itu itu tidak mau tahu bila sang istri Pak Broto mengalami kehamilan berkali-kali. Pokoknya selama anak yang ada di depannya belum genap berumur empat tahun, pasti akan meninggal.
Kepala desa telah menjelaskan kutukan itu pada Pak Broto tetapi pria itu tak mau tahu. Kutukan itu terjadi karena ada iblis jahat yang bersekutu dengannya saat melakukan pesugihan. Iblis itu akan membuat di kehidupan Pak Broto dan istrinya hanya bisa memiliki anak perempuan dan hanya satu anak. Jadi, setiap Bu Broto melahirkan anak yang terakhir, maka anak yang lebih tua itu akan meninggal.
"Kalian mau dengar cerita yang lebih tragisnya?" tanya Mbah Sarni.
"Apa, Mbah?" Ana dan Risa bertanya bersamaan.
"Ya ampun mah berangkat jam berapa ini," keluh Bayu yang akhirnya bersembunyi di dalam mobil karena dipelototi oleh Jaya.
Mbah Sarni kembali bercerita kalau Pak Broto tetap bertekad ingin memiliki anak laki-laki. Padahal sang istri sudah hamil enam kali dan usianya sudah tak tergolong muda lagi. Di kehamilannya yang keenam, istri Pak Broto itu melahirkan, dan lagi-lagi anak nya berjenis kelamin perempuan. Tak lama kemudian, tersiar kabar kalau anak perempuan Pak Broto tewas, dibunuh ayahnya sendiri.
"Mbah nggak ingat dari siapa mendengar berita itu. Tapi, katanya pas Pak Broto mabuk dia ngomong semuanya kalau dia udah bunuh anaknya sendiri," ucap Mbah Sarni.
Saat anak perempuan keenamnya lahir, Pak Broto mengaku kalau dia menggunakan sekop besi, lalu memotong badan bayi itu menjadi beberapa bagian. Iblis jahat itu sangat senang rupanya karena sudah mudah merasukinya sampai Pak Broto tak dapat lagi mengendalikan amarahnya.
Menurut Mbah Sarni yang lebih mengerikan lagi kala sempat mendengar kalau bayi keenam Pak Broto itu dicincang sampai menjadi bubur daging. Kemudian, si dia membakarnya di tumpukan kayu dan menguburkannya di tempat yang sangat buruk.
Setelah kejadian itu, Bu Broto sempat mengalami gangguan jiwa selama beberapa tahun akibat kematian anak terakhirnya. Pak Broto lalu membawa istrinya pergi ke luar dari dusun. Tak lama kemudian, dia dan istrinya kembali serta penyakit sakit jiwa istrinya juga sudah sembuh.
Namun, sifat Bu Broto juga menjadi berubah. Wanita itu tak lagi baik hati. Dia kerap menyendiri dan akhirnya menyukai judi sabung ayam.
"Lalu, dari mana dia mendapatkan anak laki-laki itu, Mbah?" tanya Ana.
__ADS_1
...*****...
...Bersambung dulu ya....