
Bab 17 - Dinikahi Pocong Tampan
Pada malam harinya, pesta pernikahan Ana dan Pocong Jaya digelar. Acara pernikahan itu khusus diadakan hanya untuk undangan keluarga kerajaan dan orang terdekat dan kepercayaan dari Kerajaan Garuda. Malam itu seolah tidak ada yang terjadi di tempat ini, semua abdi melanjutkan tugas mereka masing-masing.
Di gerbang kediaman istana Kerajaan Garuda, tampak mobil-mobil tamu undangan pernikahan mulai berdatangan. Pesta sudah digelar, meskipun Ana masih tidak mengerti bagaimana semua ini terjadi secara berurutan.
Di kamar pengantin tempat Ana dan Risa sedang dirias, keduanya saling berbincang.
"Aku, kok, ragu mau foto bareng kamu, Na. Mana kamu cakep banget lagi pakai riasan itu," lirih Risa yang sesekali menyeka bulir keringat di wajah Ana.
"Ragu kenapa?" tanya Ana.
"Harusnya kan aku seneng lihat kamu jadi pengantin. Terus pengen foto kamu dan posting di sosial media. Masalahnya suami kamu itu, masa nanti aku foto sama pocong." Risa sampai menutup wajahnya.
Biar pun sosok Jaya masuk kriteria pria tampan, tetap saja kalau dalam wujud pocong begitu, Risa takut juga.
"Jangan foto, lah! Nanti dijulidin terus dikasih judul "Pengantin Terhoror," sungut Ana.
__ADS_1
"Sabar ya, Na, demi cuan. Sekarang kita ke aula pesta kamu," ajak Risa.
Keduanya menelusuri jalan setapak mencoba mencari tahu wajah-wajah lara tamu undangan yang hadir. Sudah kepalang tanggung dan tak bisa lepas lagi dari acara pernikaha itu. Toh, Ana dan Risa telah bersumpah bersama, bila salah satu di antara mereka akan mati, tidak memutus kemungkinan hal yang sama juga akan terjadi kepada yang lainnya.
Para tamu undangan yang sudah memenuhi aula halaman utama, di mana janur-janur kuning sudah dipasang di langit-langit tiang tenda. Patih Gundul dan beberapa tamu undangan pria tidak berhenti melepaskan pandangan dari sosok cantik Ana yang duduk di kursi pengantin.
Tak berselang lama, suara kedatangan pengantin laki-laki yang sudah dalam bentuk pocong itu, ditandu oleh para pengawal. Raja Sumarjo dan Ratu Melati mendampingi. Ratu Melati juga berdecak kagum akan kecantikan Ana kala melihatnya. Mengingatkan dirinya dengan sosoknya di masa lalu.
Akan tetapi menariknya, tidak ada satu pun tamu yang terkejut dengan sosok Pangeran Jaya yang telah dikafani dalam bentuk "pocong". Semua orang terlihat biasa saja. Meski merasa agak geram kala melihat kejadian itu, Risa meminta Ana tetap menahan diri.
Gending suara gamelan dimainkan, para penari mulai melakukan pertunjukan untuk memeriahkan pesta. Di bawah atap tenda dari dekorasi cantik pernikahan Kerajaan Garuda, semua orang menikmati pesta. Namun tidak bagi Ana, sedari tadi ia merasa risih dengan sosok yang bersanding dengannya.
Kejanggalan ini membuat Ana tidak tenang menikmati keberlangsungan pernikahannya dengan sosok pangeran itu. Namun, dia kembali menguatkan diri karena setelah ini harta dari mas kawin akan menjadi miliknya.
Sejak awal harusnya memang dirinyalah pantas mendapatkan ganti rugi karena bertemu dengan Jaya lah yang menyebabkan karirnya hancur. Kini, hanya tinggal menunggu waktu untuk kabur dari wilayah kerajaan.
"Kenapa sih, Jaya, kenapa kamu harus mati? Kalau aja kamu masih hidup, aku pasti akan berusaha menikmati pernikahan dengan pangeran," ucap Ana dengan lirih.
__ADS_1
Ana juga berharap anak yang dikandungnya laki-laki. Karena dengan begini pula Raja dan Ratu akan menjadikan anak itu sebagai pewaris tunggal dari Kerajaan Garuda.
Aula ramai dipenuhi para tamu undangan saat Patih Gundul melangkah masuk. la berbaur dengan tamu-tamu lain yang tak lebih dari para bawahan dan abdi-abdi bagi sang raja. Patih Gundul melihat Risa sedang mengambilkan kue dan buah dari meja pesta. Sang patih lantas mendekati Risa. Pria itu sangat genit sampai membuat Risa risih dan memilih menjauh.
Risa tak sengaja menabrak seorang pria muda berusia dua puluh tahun. Rambutnya ikal sebahu dan dikuncir tengah. Dia menyunggingkan senyum. Rahang kuat itu makin membuatnya terlihat tampan.
"Ma-maaf, maaf saya nggak sengaja," ucap Risa.
"Tidak apa-apa. Apa kau mau pergi ke taman denganku? Aku dengar, akan terjadi sesuatu yang mengerikan di sini," kata pemuda itu sembari melihat ke sekeliling.
"Apa maksud kamu?" tanya Risa.
"Tinggalkan tempat ini, sejauh mungkin. Bila semua terlambat, kau dan sahabatmu itu tidak akan selamat," ungkapnya.
Risa menatap pemuda itu dengan tajam. Ia menelisik dengan. Saksama untuk lebih mengerti dengan perkataan yang dia ucapkan barusan.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....