Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 95 - Di Bukit Emas


__ADS_3

Bab 95 DPT


"Iya, Mbak. Hihihihihi!"


"Duh, dia nyaut lagi. Udah jelas-jelas hantu ngapain aku tanya pula," keluh Risa langsung menunduk tak mau menatap hantu wanita berwajah pucat itu.


Risa masih mencoba meraih gayung yang ada di sudut bak tersebut.


"Mbak, tolong dong gayungnya kesiniin! Saya lagi hamil juga, Mbak. Sesama wanita hamil wajib saling membantu," ucap Risa masih dengan kepala menunduk.


Hantu wanita tadi lantas menggeser gayung tersebut mendekat ke arah tangan Risa.


"Makasih ya, Mbak," ucap Risa.


Masih dengan kepala menunduk, Risa mencoba bangkit dan memakai celananya lagi dengan rapi setelah membersihkan bokongnya.


"Belum bersih, tuh!" kata hantu wanita hamil penunggu kamar mandi tersebut.


"I-iya, Mbak, ini mau disiram lagi," ucap Risa.


Karena ketakutan, Risa menyiram lubang wc berkali-kali sampai air bak habis. Risa yang penasaran juga, lantas mengangkat kepala melihat sosok hantu wanita hamil tengah berdiri di sudut, sambil mengusap perutnya seraya tersenyum menyeringai ke arah Risa. Wajah hantu wanita itu bersimbah darah dan penuh dengan belatung yang merayap mondar-mandir keluar masuk bergelayutan di tulang pipinya.


"Wuaaaaaaaaaaaa!"


Risa lantas berlari dengan kencang sampai mendahului Bayu dan Udin yang tengah menunggu.


"Ono opo iku?" tanya Udin tak mengerti.


"Yang pasti ada setan serem ini, Mas. Ayo, lari aja!" teriak Bayu sambil berlari mengejar Risa.


"Kamu kenapa, Sa?" tanya Ana begitu melihat Risa sampai dengan berlari disusul kemudian, Bayu dan Udin.


"Biasa, ada Mbak Hantu! Ayu lah buruan kita kabur!" ajak Risa yang langsung duduk di motor milik salah satu pengojek.


Eyang Setyo lantas melihat ke arah Ana.


"Sudah berusia berapa kandungan mu ini?" tanyanya.


"Sekitar tujuh bulan, Eyang," jawab Ana.


"Hmmm, aku pikir sebentar lagi anakmu akan lahir. Sekitar malam Jumat kliwon ini," tuturnya.


"Lah, si Eyang salah hitung! Ini baru tujuh bulan, kemungkinan dua bulan atau dua setengah bulan lagi saya lahiran," ujar Ana.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Sebentar lagi karena ayahnya akan membutuhkan darahnya," sahutnya melayangkan senyum lalu bergegas menaiki motor kembali membonceng Ucok.


Rombongan mereka lantas bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut menuju Desa Abang.


...***...


Rombongan Ana sampai di Desa Abang. Mereka lantas menuju ke Bukit Emas. Eyang Setyo mempersilakan Ana dan Risa serta Bayu untuk beristirahat di rumahnya.


"Wah, bukitnya silau, ya? Banyak emasnya. Kayaknya kalau aku kerok dinding bukitnya aku bisa dapat emas terus aku jual dapat uang," ucap Bayu.


"Boleh, Mas! Tapi harus kuat mental. Kalau nggak kuat mental bisa gila bahkan bisa mati," sahut Eyang Setyo terkekeh.


"Wah, nggak jadi lah kalau gitu!" Bayu mengerucutkan bibirnya.


"Mendingan cabut singkong di kebun itu aja, yuk! Terus kita bakar. Boleh kan, Eyang Setyo?" tanya Risa pada sang kakek tua itu.


"Tentu saja boleh. Nanti Lastri yang bakal menemani kalian dan bantu menyiapkan. Ada juga anak-anak padepokan lainnya yang siap membantu," ucap Eyang Setyo.


"Iya, Eyang, nanti Lastri bantu," sahut wanita berusia dua puluh lima tahun yang terlihat tak sempurna di bagian mata alias jereng.


"Saya pamit mau ajak Nak Jaya dulu, ya." Eyang Setyo melayangkan senyum dan bersiap.


"Sayang, hati-hati, ya!" Ana memeluk Jaya dengan erat.


"Huaaaaa... terus kalau bayi aku lahir, nanti aku ngumpul sama siapa? Si Harun aja udah hilang," ucap Risa seraya terisak karena iri melihat kemesraan Ana dan Jaya.


"Tenang, masih ada aku, Mbak. Habis semuanya selesai ini, kamu akan aku lamar," ucap Bayu sambil merangkul Risa.


"Nggak ah males!" Risa menepis rangkulan Bayu lalu menoleh pada Lastri, cucu dari Eyang Setyo.


"Yuk, Mbak Lastri kita nyabut singkong!" Risa menarik tangan Lastri seraya tertawa.


"Huuuu... pakek malu malu kucing. Sok nolak padahal mau banget itu aku lamar," kata Bayu seraya menyusul Risa.


Eyang Setyo akhirnya membawa Jaya pergi ke Bukit Emas.


...***...


Jaya mengikuti Eyang Setyo menuju ke sebuah gua tersembunyi, tempat ayahnya dulu berlatih saat muda dan mendapatkan kekuatan Iblis Rahwana lalu belajar menyegelnya.


Jaya mengamati sekitar dengan saksama kala memasuki sebuah gua. Di dalamnya semakin minum penerangan bahkan hampir gelap gulita sehingga siapa pun harus meraba dinding gua tersebut.


Ketika sampai di ujung gua, sebuah cahaya menyilaukan terlihat berpendar. Jaya terperanjat kala mendapati pemandangan yang jauh dari dugaannya ketika berada dalam awal mula memasuki gua tadi.

__ADS_1


Beberapa burung dengan warna cantik bermunculan dan mengikuti pemuda itu. Jaya baru tersadar ketika ia bisa menapak dan tidak lagi dalam bentuk pocong. Burung-burung tersebut saling bersiul dan hinggap di beberapa bunga mawar yang merekah warna - warni menghiasi perjalanan pria tampan itu ketika makin dalam melangkah.


"Pemandangan yang sangat cantik," gumam Jaya ketika sampai di sebuah taman di dalam gua yang awalnya gelap menyeramkan menjadi terang benderang.


"Bagaimana bagus bukan, Nak Jaya?" tanya Eyang Setyo saat tiba di hadapan sebuah telaga yang airnya jernih tenang dan menyegarkan.


"Tentu saja, Eyang. Cantik sekali! Seandainya saja tadi saya bisa membawa Ana ke sini," kata Jaya dengan mata berbinar.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah gazebo yang terletak tak jauh dari telaga. Atap gazebo itu terbuat dari jerami dan dinding yang terbuat dari kayu. Gazebo itu sudah terbangun dengan cantiknya di sana.


"Tempat apa ini, Eyang?" tanya Jaya.


"Ini surga kecil untukku agar aku nyaman menimba ilmu," tukasnya.


"Ada tempat seindah ini di dalam gua ini. Wow, ini hebat!" puji Jaya.


"Rahasiakan tempat ini dari siapa pun, Nak Jaya. Hanya keturunan murni Mangkulangit yang bisa ke sini. Karena tempat ini sebenarnya ditemukan oleh kakek buyutmu," tukasnya.


"Baik, Eyang Setyo." Jaya menoleh pada Eyang Setyo seraya tersenyum.


Tiba-tiba, Jaya merasakan ada sesuatu bayangan yang melintas di dalam telaga.


"Apa yang barusan aku lihat itu, Eyang?" Tanya Jaya seraya mengamati danau itu dengan saksama untuk memastikan.


"Masuklah ke dalam telaga itu untuk mendapatkan kekuatan murni Mangkulangit. Nanti kau akan merasakannya sehingga kau akan bisa menyegel Rahwana," ucap Eyang Setyo.


Jaya masih fokus pada bayangan hitam yang seolah sedang berenang ke sana ke mari di dalam telaga.


"Nak Jaya! Sekarang apa kau tak mendengar ucapan ku?"


Eyang Setyo menepuk bahu Jaya, menyentaknya sampai berteriak karena terkejut.


"Eyang, jangan mengejutkanku begitu!" tukas Jaya.


"Kau dengar apa yang aku katakan, bukan?" tanyanya.


"Rasanya ada yang aneh di dalam telaga itu. Aku takut karena sepertinya ada makhluk besar di dalamnya, iya kan Eyang?" Jaya menunjuk ke arah dalam telaga.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2