
Bab 119 DPT
Jaya mulai tersudut, Mbah Karso mengangkat tubuh Jaya tinggi lalu menghempaskan ke tanah. Mbah Karso juga hendak menyerangnya dengan kuku yang tajam.
"Hentikan, Mbah! Lepaskan suamiku!" Ana mencoba menahan serangan Mbah Karso pada suaminya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Na? Pergi dari sini! Sekarang!" pekik Jaya.
"Tidak, aku tak akan meninggalkanmu, Sayang. Mbah Karso, apa kau butuh tubuhku untuk persembahan? Bawa saja aku dan lepaskan Jaya!" Anak mengangkat kedua tangannya, menjatuhkan belati yang ada di tangannya.
"Istrimu sangat pintar. Dia lebih pintar darimu malah," ucap Mbah Karso seraya menarik pedang perak dari sisi pinggang Jaya dan mencoba menggenggamnya.
Mbah Karso lantas hendak menusuk perut Ana, tetapi Madun datang seketika itu juga untuk melindungi Ana. Tubuh Madun langsung lunglai tak berdaya. Dia jatuh tak sadarkan diri.
"Madun, tidaaaakkk! Heh tua bangka, apa yang kau lakukan itu jahat!" Bentak Ana.
Ana berteriak sambil menangis menghampiri Madun, begitu juga dengan Risa.
"Kau benar-benar dibutakan oleh kekuasaan, Mbah Karso!" sahut Jaya.
Mbah Karso tertawa menyeringai, lalu ia goreskan pedang di tangannya ke arah bahu Ana.
"Tidak!"
Jaya berteriak sekuat tenaga, tetapi ia terlambat, Ana ikut jatuh tak seraya meringis memegangi bahunya. Jaya mulai tersulut emosi dan memancarkan semua kekuatan yang ia punya.
Ana mencoba menyerang Mbah Karso secara secara membabi buta, tapi si pria tua bangka itu langsung menebas perut Ana.
"Aaargghh!" Ana hampir terjatuh ke tanah tetapi Jaya langsung siap menangkap tubuh wanitanya.
"Akan aku habisi kalian semuanya!" ucap Mbah Karso.
"Cukup! Hentikan omong kosongmu ini!" Pekik Jaya.
"Wah, wah, kau benar-benar tak tahu diri rupanya." Mbah Karso tampak meringis
Teriakan Jaya membuat pria paruh baya itu mundur beberapa langkah.
"Raja Jaya yang bodoh dan lemah, bagaimana kau akan melawanku?" tanya Mbah Karso terdengar meledek.
"Aku akan membalas semua yang kau lakukan pada kakekku, ayahku, ibu, dan
semua rakyatku yang telah kau korbankan untuk keinginanmu ini. Aku akan membuat mu menderita pastinya." Jaya balik berseru.
__ADS_1
Ana terlihat lemas dan tak berdaya. Hal itu membuat kemarahan Jaya makin memuncak. Pria itu bangkit dan meraih pedang perak di tangan gadis itu. Betapa terkejutnya Jaya kala ia bisa menggenggam pedang tersebut dan menggunakan kekuatannya seolah si pemilik pedang sebelumnya.
Kekuatan para leluhur Mangkulangit terbukti mendatangi tubuh Jaya. Cahaya Hijau dari Pedang Perak Mangkulangit merestuinya untuk menggunakan pedang tersebut.
Pasukan lelembut Jaya masih lebih banyak dari pasukan Albanus. Mereka masih menang jumlah dari milik Mbak Karso tersebut dan akhirnya menang.
Tiba-tiba, erangan sekuat tenaga milik Jaya membuat tubuhnya berpendar. Kekuatan Iblis Rahwana bangkit. Kilauan kuning ke emasan menyelimuti tubuh Jaya. Albanus malah makin menginjak dada sang raja dengan kuat, tetapi ia malah merasa sangat panas kala menginjakkan kakinya. Risa menarik Ana agar menjauh sejenak demi menghindari kekuatan Iblis Rahwana.
Sesuatu yang membuat Mbah Karso terkejut ketika ia melihat sosok tinggi besar berada di belakang Jaya. Tak lama kemudian, sosok itu mendekat dan memberi hormat pada Jaya.
"Bu-bukankah itu Iblis Rahwana?!" Karso menunjuk dengan tangan gemetar sementara Jaya duduk tenang seraya menatap Mbah Karso menyeringai.
"Apa itu Iblis Rahwana, Sa?" tanya Ana menatap tak percaya sosok besar yang ada di samping Jaya kala itu.
"Iya, Na. Jaya sekarang mampu mengendalikan Iblis itu," sahut Risa.
"Aku tak percaya ini. Iblis Rahwana kini tak bisa berbuat semena-mena? Dia dikendalikan oleh Jaya?" tanya Ana lagi.
"Betul, Na. Kekuatan para leluhur Mangkulangit yang Jaya cari ke manapun ternyata ada pada dirinya sendiri," ucap Risa.
"Habisi dia!" titah Jaya pada Rahwana .
Sosok Rahwana menghempas tubuh Mbah Karso yang tubuhnya telah berubah menjadi manusia biasa karena kekuatannya sudah dimusnahkan, bahkan diserap oleh Rahwana.
Ana meminta Ratu Melati untuk menghubungi Eyang Setyo demi memintanya datang dan memberikan pertolongan sejak kemarin. Dan hari ini Eyang Setyo ikut menjadi saksi bagaimana Jaya dapat mengendalikan Iblis Rahwana.
Eyang Setyo langsung menghampiri Ana demi mengobati luka pada tubuh Ana. Ana juga meminta Eyang Setyo membantu Madun. Beberapa anak buahnya tampak menekan luka di tubuh Madun gar darah tak terus keluar.
Jaya akhirnya mengumpulkan kekuatan dan bangkit. Sang raja sesungguhnya itu langsung menendang Mbah Karso. Adu pedang perak terjadi menimbulkan kilatan cahaya perak yang saling bertubrukan. Suara pedang yang menggelegar menampakkan kekuatannya.
"Kau tak akan bisa mengendalikan kekuatan Rahwana sesungguhnya, dasar bocah tengik!" seru Mbah Karso masih mencoba melawan dengan tangguh.
"Justru kau yang harusnya berdoa agar bisa selamat. Habisi dia, Rahwana! Hiyaaaaaaaa!" Jaya mengerahkan kekuatannya untuk mengendalikan Rahwana.
Jaya terus menyerang menyudutkan Mbah Karso sampai suara dentuman keras yang menyakitkan telinga untuk didengar tercipta dari serangan tersebut.
Pedang perak yang di pegang Jaya akhirnya patah dan kehilangan kekuatannya karena terserap masuk ke dalam tubuh Rahwana. Para warga yang ditahan itu juga bebas.
Sosok Rahwana lantas menarik paksa leher si pria tua bangka yang jahat itu seketika, menariknya kuat sampai membuat kepala Mbah Karso terpisah dari tubuhnya dan menewaskannya.
Kekuatan jahat pria tua bangka itu akhirnya memudar. Para pejabat korup yang jahat juga sudah mati. Perang hari itu dimenangkan oleh pasukan Jaya yang berhasil merebut Kerajaan Garuda kembali.
Raksasa Iblis Rahwana lantas menghilang. Jaya langsung menghampiri Ana dan memeluknya dengan erat. Keduanya sampai menangis kala mencurahkan kebahagiaan atas kemenangan hari itu.
__ADS_1
Jaya melepaskan pelukannya dari Ana yang masih meringis kesakitan di lengannya, "tolong sembuhkan istriku, Eyang Setyo."
"Nyanyi saja, Eyang. Tolong bawa semua yang terluka ke dalam istana, dan tolong sembuhkan mereka Eyang Setyo!" pinta Ana.
"Na, kamu dulu yang disembuhkan biar bisa gendong Anjaya," pinta Jaya.
"Tak apa nanti saja. Kan ada kamu yang nanti gendong aku sama Anjaya," ucap Ana.
Sang tabib menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Kubur Panji dan semua pejabat korup yang mati dalam satu liang lahat!" titah Jaya pada salah satu pengawal.
"Baik, Yang Mulia."
Jaya lalu membopong tubuh Ana ke tempat pengobatan di dalam istana.
"Aku bisa jalan sendiri, kenapa harus begini? Aku kan jadi malu." Ana terlihat malu dengan membenamkan wajahnya ke bahu Jaya.
"Ah, biar saja begini kenapa harus malu. Kau itu istriku," ucap Jaya.
***
Keesokan harinya, Jaya semalaman menemani Ana yang masih terbaring lemah. Luka di lengannya sudah diobati oleh Mbak Lastri. Ana perlahan membuka mata dan tersadar. Ia melihat sang raja sedang terbaring merebahkan kepala di samping tubuhnya seraya mendekap tangannya.
Ana lantas mengusap kepala pria tersebut. Ia sangat bersyukur bisa merasakan berkumpul lagi dengan suaminya tersayang. Lalu, pandangannya mengarah pada sosok Risa yang berdiri dengan senyum merekah. Hati Ana langsung merasa sedih ketika ia sadar apakah setelah semuanya selesai, ia harus berpisah dengan Risa yang tak akan pernah kembali.
"Aku akan melihat Anjaya dulu, ya. Kau istirahat saja sama Jaya," kata Risa lalu pergi menghilang.
Jaya terbangun karena merasakan air mata Ana jatuh membasahi tangannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Bukankah harusnya kamu sudah bahagia karena kita sudah menguasai Garuda kembali dan memusnahkan Mbah Karso?" tanya Jaya.
"Hiks hiks, aku tak menyangka harus ada nyawa yang melayang demi mempertahankan Kerajaan Garuda. Ayahmu, Mas Bayu, bahkan Risa. Harusnya aku bisa menjaga Risa agar tetap hidup, tapi kenapa Panji malah membunuhnya."
Ana tak dapat lagi menahan bendungan air matanya. Jaya menangkup wajah gadis itu lalu mengusap air mata di pipi istri tercintanya.
"Jangan jadikan kematian mereka sia-sia, Na. Aku minta kamu membantu aku untuk membuat kerajaan ini lebih baik lagi. Bantu aku untuk membuat rakyat Garuda sejahtera tanpa ada lagi perbudakan dan penindasan," ucap Jaya lalu memberi kecupan di dahi Ana.
"Lalu, bagaimana dengan Risa?" Ana menatap Jaya dengan lekat.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you the next chapter!...