Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 99 - Kopi hitam yang Pahit


__ADS_3

Bab 99 DPT


Ana mengguncang lengan Jaya untuk menanggapi si kuntilanak merah itu.


"Gimana ini, Yang?" Ana mulai resah.


"Bikinin aja kali, ya?" Jaya malah balik bertanya.


"Tadi kan katanya kalau ada yang mau minta kopi bilang aja habis," ucap Ana.


"Ris–" Jaya mau mencari Risa dan Bayu.


Akan tetapi, dua orang itu sudah bersembunyi di kolong meja. Mereka tak mau ikut campuran dalam perihal mengatasi si kuntilanak merah ini.


"Mbak, mau kopi hitam satu, ya?" Kuntilanak merah itu mendekat seraya menyisir rambutnya dengan jari jemari. Ia juga bersenandung.


Ana merasa masih merinding ketika menjawab pesanan itu, "ha-habis, Mbak."


Lalu kuntilanak itu tiba-tiba tertawa dan akhirnya berteriak di hadapan wajah Ana. Jaya berusaha menolong Ana dengan menghadang teriakan si kuntilanak merah itu.


"Hihihihihihi, saya mau pesen kopi hitam satu ya, Mbak." Kuntilanak merah itu kembali meminta.


Suara tawa menyeramkan itu sempat membuat Ana tersentak kala dia


mengambil bungkus kopi hitam sachet dari etalase depan. Ana membuang isinya tanpa ketahuan saat Jaya berusaha mengalihkan perhatian si kuntilanak merah tersebut.


"MANA KOPI SAYA?!"


"Bangun bangun minum kopi! Ya ampun bau banget mulutnya!" pekik Jaya yang baru saja berhadapan dengan teriakan si kuntilanak.


"Habis kopinya… nih lihat aja kalau nggak percaya!" Ana memperlihatkan bungkus kopi kosong ke hadapan kuntilanak merah.


"Dasar warung tak berguna!" Kuntilanak merah itu lantas pergi setelah mengeluh.


"Alhamdulillah, selamat juga akhirnya." Ana mengusap dadanya yang sempat berdetak tak beraturan.


Risa dan Bayu keluar dari tempat persembunyian seraya meringis.


"Udah pergi, ya?" tanya Risa.

__ADS_1


"Udah barusan! Kalian berdua tuh ya, bukannya nolongin malah ngumpet," sungut Ana.


Risa dan Bayu hanya meringis. Tak lama kemudian, muncul sosok genderuwo yang datang tiba-tiba seraya meraih satu bungkus kopi sachet.


"Buatin saya ini, sekarang!" bentaknya.


"Astagfirullah! Dari mana datangnya itu setan?!" Ana segera bersembunyi di belakang Jaya.


"Namanya juga setan, Yang. Datang tiba-tiba aja," sahut Jaya.


"Ho oh, datang tak dijemput pulang tak diantar," sahut Bayu seraya hendak bersembunyi kembali.


Namun, sang genderuwo tadi sudah membentaknya bak seorang jawara.


"Buatin cepetan, atau kamu saya makan!" ancamnya.


Bayu lantas segera membawa kopi sachet itu ke belakang warung sambil berlari. Dia mengambil air dan memanaskannya di atas kompor kecil. Sementara itu, Risa tak kuasa untuk bergerak. Kedua kakinya seperti terkunci.


Sosok genderuwo itu lantas menarik tangan Risa dan memintanya untuk menyiapkan gorengan yang tersisa.


"Cu-cuma, cuma ada tepung remahan, mau?" tanya Risa menawarkan.


Gantian Ana dan Jaya yang bersembunyi dan mengerjai Risa dan Bayu agar melayani sosok genderuwo tersebut.


Meskipun Risa sudah memberanikan diri, tetapi tetap saja tangannya gemetar dengan detakan jantung yang semakin kencang saat menyerahkan piring beling itu ke hadapan si genderuwo.


Ketakutan makin merasuk seiring bulu kuduk yang merinding dan tidak bisa menghilangkan ketakutannya. Apalagi saat genderuwo tersebut mengunyah habis remahan tepung gorengan berikut piringnya.


"Yah, dia debut," lirih Risa.


Si genderuwo sontak saja memelototi Risa.


"Eh, maaf maaf. Mau pakai kecap apa saos sekalian? Tuh, telen sama botol botolnya juga nggak apa," ucap Risa seraya menundukkan kepala.


Ana dan Jaya menahan tawa saat mengintip dari balik tiang warung.


Sementara itu, Bayu bersandar ke dinding di belakang warung. Sambil menunggu air mendidih, sesekali dia mendengar suara genderuwo itu menertawai Risa. Benar-benar suara raksasa yang menyeramkan yang membuat dia ingin lari menjauh.


Tiba-tiba, suara kuntilanak merah tadi mendadak terdengar lagi tawanya.

__ADS_1


"Hihihihihi…."


Suara tertawa khas kuntilanak itu kembali terdengar. Semakin lama didengar semakin menyeramkan. Bahkan suara wanita itu mulai bersenandung. Namun, semuanya merasakan suara tawa wanita itu sepertinya dekat sekali. Seperti beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Bayu memberanikan diri melihat sekeliling dan di sana hanya ada tumpukan barang-barang dagangan. Bayu juga melihat ke arah Risa yang sudah duduk dengan kaki gemetar.


Bayu juga kembali memastikan melihat ruangan belakang. Tetapi, tampak tidak ada tanda-tanda makhluk itu mendekat.


Suara tawa sang kuntilanak tadi kembali terdengar dan kini suara itu malah sangat dekat dengan dirinya. Bayu teringat jika mendengar tawa kuntilanak yang jauh, itu tandanya dia berada dekat. Begitu juga sebaliknya, jika suaranya dekat, berarti kuntilanak itu sedang berada jauh darinya. Bayu hanya berharap, sosok hantu itu tidak kembali lagi.


Setelah air mendidih, Bayu segera membuatkan kopi untuk genderuwo tadi. Pria itu membuka sachet kopi dan memasukan ke atas cangkir, lalu air yang sudah mendidih dimasukan cangkir berisi kopi itu. Tak lupa juga dia mengaduk supaya air dan kopinya tercampur. Kopi telah siap. Dia melangkah menuju ke warung. Dia memastikan bahwa si genderuwo itu masih duduk di tempat semula.


"Ini kopinya." Bayu meletakkannya dengan gemetar.


Sosok genderuwo tersebut langsung menghabiskannya bersama gelas beling dan piring tatakannya. Suara beling yang dikunyah makhluk itu terdengar seperti kriuk renyahnya kerupuk yang dimakan seperti biasa. Setelah habis, genderuwo tersebut lantas pergi dan meninggalkan lima lembaran uang seratus ribuan. Bayu dan Ana berdecak kagum.


"Ada kali ngelayanin setan doang dapat jutaan, Bay, omsetnya." Risa merapikan lembaran uang tersebut.


"Ya udah bikin warung kayak gini aja, Yuk!" ajak Bayu.


"Heh, nggak boleh! Cari duit halal aja lebih berkah," tukas Ana mendekat.


Tak lama kemudian, terdengar suara wanita yang sedang tertawa berasal dari arah belakang dapur. Padahal suara kuntilanak tadi sudah seperti menjauh. Seketika menyadarkan Bayu kalau sosok hantu wanita itu mungkin saja dekat.


"Itu, si mbaknya!" tunjuk Ana.


Seketika itu juga, mereka semua menoleh ke arah yang ditunjuk Ana tersebut. Betapa mengejutkannya kala ternyata mereka melihat sesuatu yang lebih menyeramkan. Di sana terdapat sosok kuntilanak merah yang kuku tajamnya membuat cakaran di dinding. Ada noda darah di sudut bibirnya seolah habis menghisap darah layaknya vampir.


Sosok kuntilanak merah itu sedang menatap ke arah Bayu dan yang lainnya dengan senyum menyeringai.


Wajah hantu itu malah semakin terlihat pucat, kusam, dengan mata yang melotot seperti bola mata yang hendak keluar dari rongganya. Rambut panjang kusut nan berantakan itu ia coba sisir dengan jari jemari sampai kesulitan saking kusutnya.


"Saya mau beli kopi hitam yang pahit, ada?" tanyanya lagi.


Secara kompak, Jaya, Ana, Risa, dan Bayu menjawab dengan gelengan kepala.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2