
Bab 42 DPT
"Ada apa emangnya?" tanya Ana.
Sementara itu, Risa sudah memuntahkan yang di dalam mulutnya dan meminta Bayu juga mengikuti hal yang sama. Meskipun Bayu masih tak mengerti.
"Di mana penghuni rumah ini?" tanya Raja Harun pada sosok yang berwujud Sari.
Gadis kecil itu hanya tersenyum menyeringai.
"Katakan padaku! Di mana penghuni rumah ini atau aku akan menghabisi mu!" Raja Harun mengguncang kedua bahu Sari.
"Ada apa sebenarnya ini?" Ana masih tak mengerti.
"Aku rasa dia bukan Sari. Dia mungkin makhluk gaib yang menyamar menjadi Sari," bisik Jaya pada Ana.
Sosok Sari mengubah wujudnya menjadi wujud wanita paruh baya yang bungkus dan wajahnya penuh bintil seperti wajah nenek sihir. Sontak saja Risa menghindar dan langsung bersembunyi bersama Ana di belakang Jaya.
"Ada apa, sih? Eh, si Sari ke mana? Kok, hilang?" tanya Bayu.
Raja Harun lantas menepuk dahi Bayu dengan keras sampai dia terjatuh ke kursi kayu. Bayu langsung terperanjat kala dapat melihat sosok iblis wanita tua, Raja Harun, dan juga pocongnya Jaya. Bayu lantas tak sadarkan diri kemudian.
"Jiah, sekali tepok mata batin kebuka terus pingsan," lirih Ana.
Raja Harun lantas membawa iblis wanita tua itu ke halaman belakang. Mereka mengubah wujud menjadi gumpalan awan yang terbang ke langit. Awan-awan itu saling menyerang satu sama lain. Diiringi dengan suara gemuruh petir yang menggelegar. Ana dan yang lainnya mengikuti ke halaman belakang untuk melihat pertarungan makhluk gaib tersebut.
"Mbak Ana, ngapain di sini?" Ada yang mencolek bahu Ana.
Sontak saja Ana berteriak karena terkejut.
"Ini aku Sari, Mbak," ucapnya.
Risa dan Ana saling bertatapan. Lalu, Risa menarik rok Sari untuk mengintip apakah kedua kaki Sari menapak di lantai kayu atau tidak.
"Eh, apa apaan ini?" pekik Sari.
Risa juga mencubit pipi Sari sampai anak itu mengaduh.
"Syukurlah yang ini asli," ucap Risa.
__ADS_1
"Ada apa sih, Mbak? Sakit tau pipi aku dicubit!" serunya.
"Tadi ada hantu yang mirip kamu terus dia menyiapkan makanan untuk kita," ucap Risa.
"Ah, masa sih? Aku sama Mbah dari tadi udah tidur karena nunggu kalian pulang tuh lama banget," ucap Sari.
"Coba lihat aja di ruang depan!" titah Ana.
Sari lantas bergegas ke ruang depan. Gadis kecil itu lantas berteriak dengan kesal. Selain melihat Bayu yang tergeletak sembarangan tak sadarkan diri, rupanya ruang tamunya penuh dengan sampah daun pisang dan tanah basah. Ada juga gumpalan cacing dan ranting-ranting.
"Ya ampun, berarti yang tadi kita makan itu cacing dan tanah gini?" Risa menatap tak percaya.
"Kita? Kamu kali sama Bayu yang makan!" ucap Ana.
Risa langsung bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan mulutnya. Ia sangat merasa jijik. Ana lantas membangunkan Bayu dengan paksa karena meminta bantuannya untuk membersihkan rumah Sari.
Jaya akhirnya datang juga bersama Raja Harun setelah pertarungan tadi dimenangkan oleh Raja Harun. Risa langsung memeluk suami gaibnya karena merasa sangat cemas.
Setelah membersikan rumah Sari, Ana dan yang lainnya akhirnya beristirahat.
...***...
Ana juga berdiskusi dengan Jaya untuk meminta tolong pada Panji dan mengirim pengawal di wilayah Kerajaan Garuda untuk memantau wilayah dusun tempat Sari dan neneknya berada.
Sari juga menyiapkan sarapan seadanya. Meskipun awalnya Risa dan Bayu takut, tetapi Ana meyakinkan mereka kalau yang ini benar-benar Sari dan makanan itu benar-benar asli.
Baru saja Ana akan menyantap sarapan nya sebagian, dia dan yang lainnya mendengar suara kegaduhan dari arah luar. Sonta saja semuanya langsung bangkit dan mencoba mengintip dari balik tirai jendela. Ada pertengkaran yang terjadi antara peternak kambing dan istrinya.
Kedua orang itu saling mencaci dan memaki. Beberapa warga yang tampak lalu-lalang, hanya menatap datar sekilas dan memilih tidak peduli melihat pertengkaran itu. Sepertinya, semua orang sudah terbiasa dengan pasangan suami istri yang suka bertengkar itu.
"Oh, itu Pak Broto dengan istrinya," ucap Sari.
"Mereka sering ribut begitu?" tanya Ana.
Sari mengangguk. Ana dan lainnya lantas keluar untuk menyimak. Sari juga hendak ikut, tapi neneknya terdengar memanggil sehingga Sari bergegas ke kamar neneknya.
Ana menyapa tetangga Sari yang bernama Mbah Sarni. Dia salah satu tetangga sekitar yang baik. Ana memberanikan diri menanyakan duduk perkara pertengkaran itu terjadi pada wanita paruh baya itu.
Mbah Sarni tersenyum seraya memilah gabah di atas wadah rotan itu. Dia menanyakan nama Ana dan lainnya lalu dia juga menyebutkan namanya memperkenalkan diri. Akhirnya, wanita paruh baya yang bersuara lembut itu menuturkan tentang si peternak kambing dan istrinya. Ana dan yang lainnya menyimak dan mencoba mencerna pertengkaran tersebut.
__ADS_1
"Hadeh, belum sarapan udah kenyang diajak gibah," bisik Risa.
Akan tetapi, Ana memintanya untuk diam.
Mbah Sari menceritakan kalau peria bernama Broto itu gemar pergi minum-minum sampai mabuk. Sedangkan, sang istri tak kalah bodohnya. Bu Broto suka berjudi dengan bermain sabung ayam.
Pertengkaran itu sering terjadi karena keduanya tidak menyukai hobi jelek masing-masing. Jika, pertengkaran itu terjadi begitu hebat, maka Pak Broto akan main tangan. Sang istri juga akan membalas.
Namun, hari ini terlihat aneh karena Pak Broto menendang istrinya dengan kuat, tetapi sang istri tidak melawan seperti biasanya. Wanita itu malah duduk di lantai sambil menangis. Teriakan makian demi makian kini terdengar.
“Kau harusnya menjaga anak kita dengan baik, istriku!” bentak sang suami.
“Aku sudah menjaganya dengan baik!” Sang istri terisak tersedu-sedu.
"Halah! Kamu itu cuma bisanya main judi. Kamu pasti bohong, dasar istri bodoh!" hina Pak Broto.
Mbah Sarni lantas menjelaskan kepada Ana dan yang lainnya kalau anak suami istri itu menghilang. Ternyata, pada saat kemarin Pak Broto menjual kambing ke Kerajaan Merak, dia meninggalkan istri dan anaknya di rumah.
Anaknya lantas hilang dan Bu Broto meminta tolong pada Mbah Sarni. Saat itu, Bu Broto katanya sedang memasak dan menjaga anaknya yang masih berumur tiga tahun itu dengan baik. Pada sore harinya, sang anak merengek untuk meminta jalan-jalan. Bu Broto akhirnya menurut.
Saat membawa anaknya keluar untuk berjalan-jalan dan menghirup udara sore hari yang sejuk, tiba-tiba datang salah satu teman Bu Broto untuk mengajaknya bermain sabung ayam. Ditambah lagi ia memberi modal awal pada Bu Broto untuk berjudi.
Awalnya, Bu Broto merasa ragu, tetapi setan dalam dirinya sangat kuat. Keinginannya untuk berjudi sontak memanggil dan membuat dirinya ingin bermain. Akhirnya, wanita itu membawa putra kecilnya menuju sana.
Menurut saksi mata, Bu Broto membiarkan anaknya berada di samping dirinya saat dia fokus bermain. Sayangnya dia ceroboh. Anaknya pergi begitu saja ke tengah hutan. Hal itu baru disadari ketika wanita itu selesai bermain dan dia ingin mencari anaknya.
Tak kunjung dia temui juga keberadaan sang anak, Bu Broto mulai berteriak meminta pertolongan. Mbah Sarni bilang dia mendengarnya dan bergegas datang membantu. Para warga juga membantu tapi tak ada hasil. Anak itu dinyatakan hilang setelah seminggu lamanya.
Pagi itu, Pak Broto pulang dan mendapati istrinya menangis khawatir akibat kehilangan anaknya. Usia Bu Broto sebenarnya hampir sama dengan Mbah Sarni sekitar berumur lima puluh tahun. Namun, wanita itu dan suaminya sepertinya nekat untuk memiliki anak lagi karena anak-anak sebelumnya juga sudah meninggal secara misterius.
Hari itu pertengkaran mereka dilerai. Toh, nasi sudah menjadi bubur untuk apa diperdebatkan dan saling menyalahkan. Pihak keamanan desa sepakat untuk meminta warga yang lain membantunya mencari si anak itu ke segala arah maupun dari arah yang berbeda.
Jaya mencolek bahu Ana. Ia meminta sang istri untuk melihat sebuah pohon besar di seberang mereka menuju ke dalam hutan. Ada sepasang masa yang mengintip dan mengamati mereka.
"Itu siapa, Jaya?" tanya Ana.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1