Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 64 - Hotel Mawar Merah


__ADS_3

Bab 64 DPT


"Ada apaan, sih?" tanya Risa yang ikut berjalan cepat menuju lobby hotel.


"A-ada kuntilanak yang ngikutin kita!" sahut Jaya.


"Waduh!" Risa langsung memejamkan kedua matanya. Dia tak mau melihat penampakan yang katanya Jaya lihat tadi.


"Kok, kamu takut gitu? Kamu kan juga lagi dalam bentuk hantu," ucap Ana.


"Oh iya iya, aku lupa. Tapi, aku takut juga lah kalau ketemu hantu apalagi kuntilanak. Takutnya dia mau ngapa-ngapain aku lagi," ucap Jaya.


"Ih, pede banget! Eh, tapi bener juga sih ya. Kamu kan pocong tampan, nanti malah diculik lagi sama kuntilanak. Masa iya aku rebutin kamu sama kuntilanak, hehehe," ucap Ana.


"Pada ngomongin apa, sih? Nggak jelas banget!" sungut Risa.


Ana dab Jaya langsung tertawa melihat tanggapan Risa.


"Pada bahas apa, sih?" tanya Bayu mendekat seraya membawa dua kunci kamar.


"Tadi ada hantu di belakang kita," sahut Risa.


"Lah, aku ada di belakang kamu. Maksud kamu aku hantunya?" Bayu menunjuk dirinya sendiri.


"Eh, nggak gitu maksudnya, Bay. Sumpah Bay, bukan ngatain kamu. Tadi si Jaya lihat hantu dari gedung kosong di seberang itu," tukas Risa.


Bayu menatap mengarah ke arah gedung kosong yang dituturkan Risa tadi.


"Nggak ada, kok," ucap Bayu


"Udah hilang kali hantunya. Mending buruan masuk ke kamar aja, deh. Udah itu di seberang bangunan kosong, mana sampingnya kuburan, pasti komplit itu hantunya," ucap Ana.


"Aku setuju banget!" sahut Risa dengan tegas.


"Kamu pesen kamar berapa, Bay?" tanya Ana.


"Dua kamar. Kalian berdua aku sama Raja Jaya," ucap Bayu.


"Tapi Jaya kan nggak keliatan. Itu artinya kamu sendirian di kamar. Emang berani?" tanya Ana.


"Ya enggak lah. Kamar ini ada pintu sambungnya. Namanya family room but separated. Halah gaya banget, ya. Pokoknya ada pintu di antara kamar kita. Jadi kalau kalian kenapa-kenapa bisa langsung ke kamar aku," ucap Bayu.


"Hah, kita? Kamu kali yang ketakutan kenapa-kenapa," sahut Risa seraya menoyor kepala Bayu.


"Bisa dibilang begitu, hehehe." Bayu meringis.


"Ayo buruan!" ajak Jaya sembari melompat.


Bayu sampai mengikuti Jaya yang melompat menuju lift. Ana langsung memukul kepala Bayu karena kesal merasa suaminya sedang dihina. Bayu hanya meringis. Ana mengikuti Jaya masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Sementara itu, Risa masih menatap ke arah lukisan wanita yang seolah sedang menatapnya. Tiba-tiba, Risa tersentak kala Bayu kembali dan menarik tangan wanita itu agar bergegas masuk ke dalam lift. Risa mendadak tak berkutik, hatinya malah terasa bergetar kala tangannya tergenggam oleh Bayu.


Hotel tersebut awalnya terdiri dari lima belas lantai. Namun, baru sepuluh lantai yang sudah ditempati. Lima lantai sisanya masih dalam bentuk bangunan kasar.


Saat berada di dalam lift, rasa penasaran Ana langsung menyeruak. Dia akhirnya menanyakan pada seorang petugas hotel yang mengantar mereka ke kamar tentang sejarah berdirinya hotel tersebut.


"Mas, kok di sini kan hotel sampai lantai lima belas ya? Terus kenapa di tombol lift ini ditulis sampai sepuluh aja?" tanya Ana.


"Mbak nggak lihat teliti, ya?" ucap pria berkumis tipis itu.


"Maksudnya?" tanya Ana lagi.


"Gedung hotel ini belum jadi sepenuhnya. Baru sepuluh lantai yang ditempati," jawabnya ketus.


"Oh iya juga, sih. Duit modal pemiliknya kurang, ya?" tanya Ana lagi.


"Mana saya tahu, Mbak! Saya bukan yang punya hotel ini. Saya cuma kerja jadi bellboy," sahutnya lagi-lagi ketus.


"Hmmm, Mas jangan judes-judes nanti rating hotelnya turun, loh. Terus sepi pengunjung," tukas Risa yang sedari tadi gatal mulutnya ingin berkomentar.


"Makanya jangan banyak nanya! Udah diem aja ikutin saya, terus istirahat aja dengan tenang di kamar!" sahutnya.


Bayu tangannya sudah mengepal seolah ingin meninjau karyawan hotel tersebut. Begitu juga dengan Jaya, tetapi Ana menahannya.


"Oke, ya udahlah kalau gitu nggak penting dibahas, yang penting sampai kamar terus istirahat ya, Mas," ucap Ana.


Pintu lift terbuka. Mereka akhirnya sampai di lantai delapan.


"Kamar kalian yang paling ujung, ya!" tukasnya sembari menunjuk.


Padahal tadinya Risa ingin memberi tip, tetapi ia mengurungkan niatnya karena kesal dengan pelayanan karyawan hotel itu. Sementara itu, Jaya tak lagi bisa bersabar. Ia memukul kepala belakang karyawan hotel yang judes itu. Terlihat raut wajah terkejut dan mulai ketakutan dari wajah si karyawan bernama Budi, sesuai yang ada di name tagnya. Ia bergegas menekan tombol lift berkali-kali untuk menutup pintunya. Sampai akhirnya pintu lift itu tertutup. Ana dan Risa bertatapan lalu pada akhirnya mereka tertawa.


Sampai di lantai delapan Hotel Mawar Merah. Ternyata ucapan Bayu benar. Dia memesan dua kamar, satu kamar ditempati Risa dan Ana. Satu kamarnya lagi untuk dia yang ditemani Jaya. Mereka menuju kamar 4012 dan 4013 sesuai nomor kuncinya.


"Eh bentar, deh! Itu ada anak kecil kok pakai popok doang kelayapan?" tunjuk Risa ke koridor yang mengarah ke kanan itu.


"Lah, itu mah tuyul!" sahut Bayu.


Jaya dengan isengnya mau menghampiri tuyul tersebut.


"Mau ke mana?" tanya Ana.


"Mau tanya tanya aja sama itu tuyul," sahut Jaya.


Ana, Risa, dan Bayu lantas bersembunyi di balik tembok saat Jaya mendekati tuyul tersebut.


"Hayo, kamu ngapain?" tanya Jaya mengejutkan.


"Eh, si Om Pocong ngagetin aja! Om baru ya di sini?" tanya tuyul itu.

__ADS_1


Jaya mengangguk lalu bertanya, "kamu mau ngapain? Mau mencuri ya di sini?" tuduh Jaya.


"Aku mau pulang, Om. Papi sama mami ada di kamar ini. Tadi, aku disuruh papi sama mami buat coba-coba mencuri di kamar kamar hotel, tapi gagal," sahut si Tuyul.


"Gagal? Kenapa bisa gagal?" tanya Jaya penasaran.


"Habisnya kamar-kamar di hotel ini ada tuyul yang jagain juga. Jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Mana persis banget lagi sama aku," ucap si Tuyul dengan polosnya.


"Maksudnya gimana, sih?" tanya Jaya sampai mengerutkan dahi karena semakin tak mengerti dengan ucapan si Tuyul.


"Tuh lihat!" Tuyul itu menunjuk ke arah depan pintu.


Pintu hotel itu memiliki kunci untuk akses masuk berupa kartu. Kartu berbentuk seperti kartu atm itu harus ditap di sebuah lempengan besi yang seperti cermin yang berada di samping gagang pintu agar pintu kamar tersebut terbuka.


Jaya melihat pantulan di tempat tapi kartu. Tampak bayangan di bagian tersebut yang terdapat sosok tuyul tersebut.


"Tuh kan mirip kan sama aku? Masa papi sama mami aku tega sih pelihara tuyul lain selain aku di hotel ini. Tuh, Om Pocong, masa dia ngeledek. Tuh, aku goyang dia goyang, aku ketawa dia ketawa, aku nangis dia nangis juga. Tuh, semua yang aku perbuat dia ikuti. Kan aku kesel, Om!" seru tuyul tersebut ke bayangannya sendiri.


Sontak saja Jaya yang menyadarinya langsung tertawa.


"Makanya kalau disuruh sekolah jangan bolos terus!" Jaya mengejek si tuyul.


"Emangnya kenapa, Om? Saya kan nggak sekolah," sahut makhluk kerdil itu.


"Itu cermin tau! Mungkin ini maksudnya pemilik hotel bikin tempat kunci kayak cermin gini biar perhatiannya kamu teralihkan dan menyangka itu tuyul juga yang jagain kamar. Padahal itu bayangan kamu sendiri, hahaha," ucap Jaya menjelaskan.


Ana, Risa, dan Bayu yang tengah mengamati dan akhirnya mengerti juga ikut tertawa.


"Apa emang tuyul pada bego, ya?" bisik Risa.


"Kayaknya iya deh. Kayaknya otak para tuyul itu dikit seukuran telur puyuh aja nggak nyampe kali. Aku pernah denger kalau kita sediakan bak air isi bola aja, si tuyul nggak jadi maling. Dia langsung buat bola di bak air itu jadi mainan dan nggak jadi ambil uang, ya kan?" Ana tertawa.


Tuyul itu mendengar tawa Ana. Ia menoleh dan menyadari keberadaan Ana dan Risa serta Bayu yang menertawakannya.


"Pergi, Om! Ada manusia yang bisa lihat kita!" seru si Tuyul lalu menghilang.


"Hahaha ... kasian ya majikan yang pelihara dia," tukas Ana.


"Iya, bego banget hahaha," sahut Risa.


Sementara itu, Bayu sampai tak bisa berkata kata karena sejak tadi memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.


"Wah, parah kalian," ucap Jaya.


...******...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2