
Bab 122 DPT
"Gara-gara ulah putramu, rakyatku dibantai! Adikku diculik oleh Raja Jin Utara!" pekiknya.
Jaya dan Burhan berusaha menarik Putri Ice dari lehernya Ratu Merak.
"Arghhh! Akhirnya lepas juga. Yang aku tahu, Banyu pergi membawa Rama karena ingin mengajarkannya memburu ikan pari," tukasnya.
"Tidak! Anda salah! Mereka memburu anak paus sampai tewas. Putramu diburu oleh Raja Jin Utara, tetapi keluarga Putri Ice menolongnya. Sehingga mereka dihancurkan," ucap salah satu Duyungi.
"Ta-tapi, bagaimana Banyu bisa berpikir seperti itu? Kau pasti salah, Putri Ice!" Ratu Merak masih berusaha menyangkal.
"Salah dari mananya, justru aku yang membawanya ke rumahku untuk menolong Banyu dan adiknya itu. Tapi, apa yang aku dapat? Rakyatku dihabisi, rumahku dihancurkan, bahkan adikku diculik!" seru Putri Ice.
"Jadi, kau mau balas dendam dengan membunuh Ratu Merak, Ice? Apa dengan begitu adikmu bisa kembali?" Burhan mendekat buka suara.
"Diam kau Burhan! Kalian manusia egois sama saja!" Putri Ice menatap Burhan tajam.
"Lalu tujuanmu ke sini apa bersama Duyungi?" tanya Burhan lagi.
"Duyungi bilang kau membawa manusia tangguh ke Pulau Merak. Aku akan mengambilnya untuk membantuku menemukan adikku," pinta Putri Ice.
"Maksudmu Raja dan Ratu Garuda?" tanya Burhan.
"Ap-apa katamu? Raja dan Ratu Garuda? Wah… ini menarik sekali." Putri Ice lantas menatap ke arah Jaya dan Ana.
"Hai!" sapa Ana.
"Kalian pelihara hantu juga, ya?" tanyanya saat menoleh ke Risa.
"Heh, aku bukan peliharaan, ya? Aku temannya Ana!" seru Risa seraya merangkul Ana.
"Baiklah, aku akan membawa kalian–"
"Tunggu!" seru Ana memotong ucapan Putri Ice.
"Kau mau membawa kami menyelamatkan adikmu, bukan? Tapi, aku datang ke sini untuk mengambil Rama, adik kecil yang dibawa si … siapa tadi saudaranya Bayu namanya?" Ana menoleh pada Jaya.
"Banyu."
"Oh iya namanya Banyu. Si Rama diajak berburu paus sama itu Banyu yang artinya dia ikut ketangkap sama Raja Jin Utara, bukan? Jadi, aku mau menyelamatkan Rama bukan hanya adikmu saja!" tegas Ana.
"Tolong selamatkan putraku juga," pinta Ratu Merak memelas.
Ana menoleh pada Jaya dan Risa yang mengangguk.
"Oke, Bu," sahut Ana.
Kini, Ana menatap tajam pada Putri Ice untuk mendapatkan jawaban.
"Oke, baiklah. Adikku selamat, maka anakmu dan anaknya juga selamat," ucap Putri Ice.
__ADS_1
"Wah, jadi kita bakalan ketemu jin-jin penunggu laut lebih aneh-aneh nih kayaknya," bisik Risa pada Ana.
"Kayaknya gitu. Nggak nyangka ya perairan kita mistis juga," jawab Ana.
Putri Ice berjalan sejajar dengan Jaya. Risa langsung memberi kode pada Ana, "siap-siapa suami kamu disebut, tuh!"
Ana buru-buru menyusul dan berada di antara Jaya dan Putri Ice.
"Ayo, Pak Burhan! Tunggu apa lagi!" Risa yang tahu kalau Burhan dapat melihatnya langsung berseru ke telinga pria berusia empat puluh tahun itu.
Burhan lalu pamit pada Ratu Merak. Dia meminta anak buahnya untuk tetap berada di Pulau Merak dan berjanji akan segera kembali. Ia lalu menyusul menaiki kapal besar milik Putri Ice. Meskipun begitu, Burhan tetap berhati-hati dengan keberadaan Duyungi.
***
Di atas kapal Putri Ice.
"Aku mau menawarkan penawaran," ucap Putri Ice pada Ana dan Jaya.
"Apa itu?" tanya Jaya.
"Ayah pernah memintaku untuk mencari Pedang Perak di wilayah Laut Utara. Pedang itu bisa digunakan untuk menghabisi Raja Jin Utara. Apa ada dari kalian yang mau ikut?" tanya Putri Ice.
"Wilayah bersalju itu?" terka Burhan.
Putri Ice terlihat mengangguk.
"Tidak, kita tidak bisa ke sana. Apa kau tahu kalau udara di sana pasti sangat dingin," tolak Burhan sampai membuat Putri Ice berdecak menghina.
"Kau ini kenapa lemah sekali, Pak Burhan? Bukankah kau raja lautan dari Nusantara? Hmmm, sepertinya karena kau semakin tua jadi kau takut mati, ya?" Putri Ice mulai meledek.
"Mungkin saja karena mereka belum pernah ke sana. Katanya mau menyelamatkan anak mereka, kan? Maka mereka harus melakukan segala cara, dong!" Putri Ice melirik sinis.
"Tak apa, Pak Burhan! Kami akan ikuti kemauannya, kita lihat saja nanti," kata Jaya.
"Aku juga ikut!" Risa langsung mengangkat tangannya.
"Boleh, boleh, siapapun boleh ikut termasuk hantu sepertimu," ucap Putri Ice meremehkan.
...***...
Akhirnya kapal Putri Ice mendarat di sebuah pulau bersalju. Tepat pada malam hari. Mereka membuat tenda di tengah cuaca yang dingin. Jaya dan Burhan sedang membuat perapian saat Ana memasak ikan bakar bersama Putri Ice.
"Apa kau punya adik?" tanya Putri Ice pada Ana.
"Aku tidak punya. Aku bahkan yatim piatu dan tak tahu siapa orang tuaku. Tapi aku punya sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara sedarahku sendiri," ucap Ana seraya melihat ke arah Risa.
"Hantu? Sebentar lagi kalau dia sudah tenang, dia akan meninggalkanmu," sahut Putri Ice.
"Aku tak peduli. Kau bawa buku apa?" Ana melirik pada buku tua di tangan Ice.
"Oh, buku ini. Ini buku sihir." Gadis berusia lima ratus tahun yang penampilannya seperti dua puluh tahun manusia itu memperlihatkan sebuah buku tua pada Ana.
__ADS_1
"Semacam ilmu perdukunan?" terka Ana.
"Iya, bisa dibilang seperti itu. Aku suka mempelajari sihir dari buku ini. Buku ini milik ayahku. Dan adikku sangat terobsesi pada sihir sejak kecil. Adikku itu sangat antusias membaca buku-buku sihir selama berjam-jam lamanya. Tapi, dia punya pemikiran yang bisa dibilang agak bodoh. Dia suka membaca dan terobsesi pada sihir tapi tak bisa mewujudkannya hahaha."
"Kenapa bisa begitu?" selidik Ana.
"Dia selalu salah merapal mantera. Apalagi sihir pengubah bentuk, karena itu sihir yang sangat langka dan sedikit berbahaya," ujar Putri Ice.
"Apa manusia seperti aku bisa mempelajarinya?" tanya Ana.
"Tentu saja kalau kau punya kekuatan terpendam atau memang kau pintar. Apa kau pernah mempelajari sihir sebelumnya?" tanya Putri Ice penuh selidik.
"Tentu saja belum. Tapi, suamiku sepertinya sudah. Apalagi dia mampu mengendalikan Iblis Rahwana, mereka udah bestie-an!" tukas Ana menjelaskan.
"Iblis Rahwana? Wah, menarik. Pantas saja para Duyungi bilang ada orang istimewa di kapal Pak Burhan. Ternyata itu Jaya."
Putri Ice duduk di sebuah batu besar samping Risa. Karena secara tiba-tiba, sehingga membuat Risa tersentak dan terjatuh.
"Maafkan aku," ucap Putri Ice pada Risa.
"Tadi kau bilang ada sihir pengubah bentuk, kan? Kenapa sihir itu bisa dibilang sedikit berbahaya?" tanya Ana.
"Ummm, karena jika yang menguasainya penyihir jahat, maka dia bisa menyamar jadi siapapun dengan menggunakan kekuatan sihir itu. Iya kan?"
"Oh iya benar juga. Lalu, apa di dunia ini masih ada penyihir? Apa semua penyihir jahat? Bukankah golongan penyihir sudah menjadi golongan kaum yang langka?" tanya Ana lagi.
"Tak hanya penyihir, setiap manusia pasti ada yang memiliki sifat baik maupun jahat. Jadi, kita berdoa saja supaya tak pernah bertemu dengan penyihir atau manusia jahat." Putri Ice tersenyum.
"Ya iyalah, siapa juga yang mau ketemu sama orang jahat!" sungut Risa.
Tak lama kemudian, ikan bakar telah siap. Ana meminta Jaya dan Burhan untuk makan malam. Setelah itu, mereka akan beristirahat di dalam tenda.
"Kami mau kembali ke tenda kami. Tak apa kan jika kami tinggalkan kau sekarang?" tanya Jaya yang mengajak Ana bangkit berdiri seraya pamit pada Putri Ice.
"Tak apa, pergilah! Selamat malam Jaya dan selamat tidur," ucap Putri Ice.
"Selamat malam, Tuan Putri." Ana langsung menyela lalu melirik ke arah Jaya dan berbisik, "Ayo, hangatkan aku!"
Jaya tersenyum dan segera melangkah menuju ke tendanya bersama Ana.
"Jangan pernah berharap sama suami orang!" celetuk Risa pada Putri Ice.
"Aku hanya mengaguminya saja, kok," sahut Putri Ice.
"Halah, kebiasaan! Nih, awal mula bibit bibit pelakor mulai tumbuh. Pasti bilangnya awalnya mengagumi terus ingin memiliki, halah tokay jaing! Telek busuk!" sungut Risa.
Putri Ice tampak bingung sampai memiringkan kepalanya sedikit, dan menatap ke arah Risa yang mulai menghilang menuju pepohonan.
"Hantu yang aneh," gumam Putri Ice.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...