
Bab 58 DPT
Jaya masih mengamati Raja Harun yang berkutat dengan boneka pemanggil arwah di tangan. Tiba-tiba, Jaya tersentak kala melihat semak perdu yang rimbun di hadapan mereka. Jaua melihat sepasang pohon besar. Pohon yang sangat menyeramkan karena perawakan pohon itu yang memang agak aneh.
"Tidak mungkin angin dapat menggerakkan batang pohon yang besar itu, apalagi pohon satunya lagi tidak bergerak sama sekali," pikir Jaya.
Kemudian, terdengar suara auman halus entah dari mana asalnya secara tiba-tiba. Pohon beringin itu lagi-lagi bergerak, kini lebih cepat dari sebelumnya. Jaya terperanjat kala melihat pohon itu berganti ke bentuk lain.
"Apa itu? Bukankah itu hanya pohon? Kenapa dia bisa bergerak seperti itu?" Jaya mundur perlahan kala melihat perubahan bentuk pada pohon tersebut.
"Dia muncul. Kau harus berhati-hati!" ujar Raja Harun memperingatkan.
Dahan pohon itu menjelma menjadi sepasang tangan ringkih yang panjang. Tangan yang berusaha memeluk. Dan batang pohon beringin tadi yang kini terlihat seperti sepasang kaki panjang dari paha sampai lutut. Pohon besar itu kini berwujud seperti makhluk aneh. Kulitnya hitam pekat dan rambut menjuntai ke tanah. Sementara posisi makhluk itu seperti sedang berjongkok, menatap ke arah Jaya dan Raja Harun.
"Apa itu Rahwana?" tanya Jaya.
"Itu hanya bayangan yang dibentuk Rahwana. Tapi, kau tetap tak bisa meremehkannya," tukas Raja Harun.
Entah kenapa, Jaya merasa ketakutan merasuk ke dalam tubuhnya. Padahal dia pikir, dia bisa melawan iblis tersebut. Raja Harun mulai bangkit dan mulai mengumpulkan kekuatannya. Jaya akhirnya mencoba untuk maju. Namun, Raja Harun melarangnya.
"Jangan ke sana! Dia bisa membawamu dan mengendalikanmu!" seru sang raja jin.
Bayangan pohon yang seperti pohon tadi lalu menghilang.
"Dia sedang mengamati situasi. Sepertinya dia mengamatimu juga," ucap Raja Harun.
"Jadi, apa kau bisa melawannya?" tanya Jaya.
"Entahlah. Yang jelas kalau kita salah langkah sedikit saja, dia akan melahap kita kalau kalian sampai mendekat ke arahnya," ucap Raja Harun lalu duduk bersila.
Jaya ikut duduk bersila di harapan Raja Harun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Raja Harun.
"Mengikutimu," sahut Jaya.
"Dasar bodoh! Aku bilang aku harus mulai dan melawannya sendirian! Kau harus menjaga Ana dan Risa. Dan yang terpenting, kau harus menjaga putramu! Pergi sekarang!" titahnya lagi.
"Ta-tapi–"
__ADS_1
"Pergi sekarang, Pangeran Jaya! Tidak, maksudku… Raja Jaya. Aku akan membuatmu kembali ke dalam tubuhmu! Pergi sekarang!" seru Raja Harun.
Upacara ritual pemanggilan arwah yang pernah terjebak di sungai itu akhirnya dimulai. Seperti yang Raja Harun sudah duga sebelumnya, para hantu itu tidak bisa diajak kerja sama dengan mudah. Dia menyadari bahwa masalah kali ini tidaklah mudah untuk diatasi.
Raja Harun tahu kalau Iblis Rahwana memiliki kekuatan yang masih berada di atasnya. Untuk itulah, Raja Harun berkorban demi membangkitkan Jaya karena jalan satu-satunya untuk menyegel bahkan mengendalikan Iblis Rahwana adalah seseorang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi atau setidaknya keturunan murni dari Mangkulangit, pendiri Kerajaan Garuda.
Tiba-tiba, sekeliling Jaya mulai berembus angin yang lebih kencang dari sebelumnya. Di tengah gemuruh angin yang berembus kencang, Jaya mencoba untuk bertahan. Dia tak tahu kalau Raja Harun sedang melakukan pengorbanan.
Ana dan Risa tampak cemas saat menunggu kedatangan para suami mereka. Namun, hanya Jaya yang muncul.
"Bagaimana, apa yang terjadi?" tanya Ana terdengar panik.
"Dia meminta kita pergi dari sini!" ajak Jaya.
"Dia? Maksud mu suamiku?" tanya Risa.
Jaya mengangguk.
"Hah? Lalu kenapa dia tidak kembali?" sentak Risa.
Jaya hanya diam.
"Dia akan kembali, kan?" Risa mencengkeram lengan Jaya.
Ana yang tak mengerti dengan situasi yang terjadi, tetap mengikuti perintah Jaya. Ia menarik Risa agar ikut serta. Sayup-sayup, mereka melihat Raja Harun tengah menangkup kedua tangan di depan dada seraya merapal mantera. Entah apa yang sedang Raja Harun lakukan, tetapi jauh di dalam hati Ana, ia hanya ingin ini semua cepat berakhir.
Akan tetapi, saat Raja Harun sedang memohon di tepi sungai, tiba-tiba sesuatu terjadi. Ada yang bergerak di permukaan airnya. Riak-riak air itu terlihat lain dari biasanya. Seolah ada monster besar yang ingin keluar dari sana.
"Aku menyerahkan semua kekuatanku untuk mengembalikan Pangeran Jaya kembali ke tubuhnya!" seru Raja Harun lalu terjadi ledakan disertai gumpalan awan pekat membumbung tinggi ke angkasa. Seperti letusan gunung berapi yang baru saja terbatuk-batuk mengeluarkan wedus gembelnya.
...***...
Saat hendak melarikan diri, sesuatu muncul dari sungai dan mendadak menarik Jaya. Ana yang melihat Jaya tertarik ke dalam sungai, langsung berlari dan hendak membantu, tetapi dia tak bisa. Risa menahannya.
Sesuatu itu terus membawa Jaya masuk ke dalam sungai. Pria itu berusaha untuk berenang ke permukaan tetapi sesuatu yang muncul itu terus menahannya.
Situasi makin bertambah gawat dan dalam keadaan yang sangat kritis ini, Aja dengan cepat menghubungi Bayu untuk meminta bantuan ke pada nya agar mencari perahu di dekat sungai milik warga.
"Siapkan perahu, dan bawa ke sungai, sekarang! Lekas cepatlah!" seru Ana.
__ADS_1
Bayu segera memenuhi perintah Ana. Tak lama kemudian, ada seorang warga yang memiliki sebuah perahu menghampiri Ana. Dengan segera, Ana meminta tolong. Lalu, perahu tersebut mengambang di permukaan sungai dan menghampiri Jaya.
Ana berteriak dan meminta Jaya untuk berenang dan naik ke atas perahu itu. Jaya lalu berusaha melakukannya. Satu yang harus Ana sadari, kini sosok Jaya tak memakai kafan seperti pocong. Tubuh Jaya telah kembali normal seperti manusia biasa.
"Bu-bukankah, bukankah itu Pangeran Jaya?" tanya warga yang mengenalinya.
Ana mengangguk. Senyum mengembang terlukis di paras ayunya.
"Kau harus segera ke sini!" seru Ana saat melihat Jaya berhasil naik ke atas perahu tersebut.
Jaya mengangguk. Namun, sesuatu menahan perahu tersebut. Jaya melihat ke belakangnya. Dia tahu kalau dia tak akan bisa bergerak. Jaya lalu memberi kode dengan gelengan kepala pada Ana. Dia tak bisa melakukannya.
"Jangan menyerah, Sayang! Pikirkan lah kalau ini cara untuk menyelamatkan kerajaanmu! Aku tidak ingin kamu mati!" Ana kembali berseru dari pinggiran sungai dengan raut wajah yang cemas.
"Biar saya susul Pangeran Jaya," ucap warga itu.
"Jangan, Pak! Saya yakin suami saya akan bisa melewati rintangan tersebut," ucap Ana.
Akhirnya, warga itu menurut. Jaya mencoba lagi mendayung ke arah tengah sungai. Namun, sesuatu terjadi di luar nalar. Jaya melihat suatu penampakan di atas jembatan. Ada hantu perempuan yang mengenakan daster putih lusuh dan membawa lilin. Mereka sedang berjalan menyusuri jembatan kayu tersebut. Semuanya tampak sunyi. Jaya melihat gambaran para hantu di atas jembatan yang bergerak dengan latar seperti lukisan hitam putih. Sebuah gambaran yang aneh dan menyesakkan untuk dilihat.
Suasana yang mendadak aneh itu membuat Jaya terperanjat. Di tepi sungai itu, tak ada lagi dia temukan Ana. Tampak bangunan kerajaan kuno yang letaknya jarang- jarang. Di sekitar Jaya terdapat hutan dan semak semak yang rimbun. Semuanya terasa sangat menakutkan.
Perahu yang Jaya naiki sampai di bawah jembatan. Ketika pria itu menoleh ke atas jembatan tersebut, dia melihat sosok seorang wanita berdiri di sana. Raja yakin wanita berparas ayu itu tengah menunggunya.
Semakin Jaya menelisik wanita cantik yang ada di atas jembatan itu, dia semakin yakin kalau sosok perempuan itu bukanlah manusia. Mungkin saja adalah hantu perempuan penunggu jembatan.
Tubuh Jaya mendadak gemetar. Hawa dingin mencekam datang dan membuat bulu kuduk pria itu makin meremang.
Rasanya Jaya ingin berteriak memanggil, tetapi tenggorokan pemuda itu terasa tercekat. Penampakan hantu perempuan itu semakin terlihat jelas. Dia menatap ke arah Jaya juga sangat lekat.
Jaya melihat hantu perempuan itu semakin jelas. Jaya berusaha untuk mendayung pergi menjauh, tetapi tangannya terasa tak dapat digerakkan. Tubuh Jaya mendadak kaku.
Hantu perempuan itu menatap Jaya semakin tajam dengan tawa menyeringai. Tiba-tiba, hantu itu melayang dan dengan cepat mengarah ke pada Jaya. Dia mengenalnya.
"I-ibu–"
Jaya mencoba bertahan. Namun, dia tak sengaja terjatuh ke dalam sungai. Gelap gulita menghinggapi indera penglihatan Jaya. Pemuda itu mulai merasa pasrah dan mengira kalau saat itu adalah akhir hidupnya. Jaya serasa melayang kala kesadaran berangsur-angsur menghilang. Akan tetapi, yang jelas saat itu ia bertemu dengan ibunya.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...