Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 113 - Bayu dan Banyu


__ADS_3

Bab 113 DPT


Bermalam di rumah Nenek Darah, Madun tampak asik bermain dengan kunang-kunang sekaligus memberi makan kudanya dengan rumput hijau. Ana menatap langit seraya berdoa semoga Jaya baik-baik saja.


"Kau yakin tetap ingin menuju ke gua dalam Gunung Sembah?" tanya Nenek Darah seraya memberikan Ana susu kambing yang hangat hasil ternaknya.


"Aku yakin, Nek, demi suamiku." Ana berterima kasih lalu menyeruput susu kambing tersebut.


Nenek Darah juga membuatkan Risa dan Madun.


"Kamu itu kuntilanak paling cantik yang pernah saya temui," ucap Nenek Darah.


"Beda ya, Nek, sama yang di sumur belakang?" tanya Ana seraya terkekeh.


"Kalian sudah bertemu rupanya. Itu anakku namanya Siti. Dia sedang hamil tujuh bulan saat itu. Dan bayinya dicuri untuk pesugihan. Kalian pasti tidak menyangka kalau yang melakukannya adalah suaminya sendiri," ucap Nenek Darah.


"Ya Tuhan, tega sekali pria biadab itu," ucap Ana penuh kegeraman.


"Yang aku dengar, palasik pemberi pesugihan itu sudah mati," ucap Nenek Darah.


"Oh si Maryam? Palasik itu sudah kami bakar dengan bantuan Bu Yayah dan suaminya. Sayangnya mereka meninggal karena melawan Iblis Rahwana," kata Ana.


"Apa? Yayah meninggal? Dia itu teman ku waktu kecil dulu." Nenek Darah tampak terperanjat tak percaya.


"Oleh karena itu, Nek. Aku ingin bertemu suamiku agar bisa menyegel Iblis Rahwana yang mengerikan itu," ucap Ana.


Nenek Darah mengangguk dan mengatakan akan membantunya sekuat tenaga yang ia punya.


***


Keesokan harinya, terdengar ada warga yang menemukan mayat seorang laki-laki tengah mengambang di permukaan sungai. Tubuhnya terkoyak di bagian perut dengan sebagian organ tubuh menghilang. Bagian kaki kanan dan tangan kanan mayat itu juga tak ada. Bahkan pria itu juga kehilangan dua bola matanya.


Ana takut jika pria itu adalah Jaya. Dia segera bergegas menghampiri bersama Nenek Darah dan Risa. Sementara Madun menjaga kudanya dan mempersiapkan kendaraan kereta kuda itu untuk memasuki Gunung Sembah.


Para warga yang menemukan mayat pria itu, langsung menghubungi pihak berwajib. Setelah mayat pemuda itu di evakuasi, seorang warga menyimpulkan kalau tubuh pria ktu diasumsikan telah diserang hewan buas. Ana bersyukur karena pria itu bukanlah Jaya. Namun, ia menatap ke arah Nenek Darah yang tampak kebingungan.


"Apa yang terjadi, Nek? Bukankah Nenek telah memberikan persembahan kepala kera?' tanya Ana.


"Aku tahu dan aku sangat yakin kalau aku telah memberikan persembahan itu. Namun, siapa yang melakukan ini? Aku yakin sekali kalau pria ini dijadikan tumbal," ucap Nenek Darah dengan suara pelan.

__ADS_1


"Apa maksud perkataanmu itu, Nek? Dijadikan tumbal?"


Dahi Ana mengernyit, ia menatap penuh tanya pada Nenek Darah. Namun, sebelum ia mendapat jawaban, ada dua orang pemburu yang membawa seekor beruang.


"Apa? Seekor beruang di tempat seperti ini?" Ana menatap tak percaya.


Entah dari mana pemburu itu mendapatkan beruang cokelat yang besar. Kalau seandainya seekor harimau atau singa yang menyerang, Ana masih percaya. Namun, kenapa bisa-bisanya ada beruang di hutan tersebut?


"Kamu percaya, Na?" bisik Risa.


"Mungkin mereka hanya ingin membuat warga tenang dan tak mencari lebih lanjut. Sehingga orang sesungguhnya yang menumbulkan manusia selanjutnya nanti akan terbebas dari tuduhan. Warga akan berasumsi kalau manusia tumbal nanti mati karena serangan beruang," bisik Ana.


Risa mengangguk. Nenek Darah juga menyimak dengan saksama.


"Sebaiknya kita kembali. Aku akan siapkan bekal, lalu lekas pergi agar saat berada di dalam hutan tidak dalam suasana malam hari," ujar Nenek Darah.


"Terima kasih, Nek." Ana dan Risa lantas pulang mengikuti Nenek Darah.


"Hai, Nenek Darah! Wah, siapa wanita cantik ini?" Seorang pria bernama Andika menghampiri Nenek Darah.


Pria bertubuh tinggi dan kurus serta kulit sawo matang itu melayangkan senyum pada Ana.


"Oh begitu. Aku kebetulan mau ke rumahmu. Aku mau ambil sekitar dua liter susu kambing. Apa masih ada?" tanya Dika.


"Masih ada. Apa kau perlu mendesak?" tanya wanita paruh baya itu.


"Tentu saja. Ini untuk obat ibuku," jawabnya.


Nenek Darah lantas meminta Dika mengikutinya. Dika lantas bercerita pada Ana sepanjang perjalanan. Semenjak ibunya mengalami kecelakaan dan menewaskan ayahnya, kini sang ibu mulai pulih kondisi tubuhnya berkat susu kambing Nenek Darah.


"Oh iya, Nek. Aku bawa aku membawa dua ekor kelinci. Apa kau mau memasaknya?" tanya Dika yang menunjukkan isi keranjang yang ia bawa.


Di dalamnya ada dua ekor kelinci besar di tangannya. Ana merasa tak tega sebenarnya kala melihat hewan menggemaskan itu.


"Wah, besar sekali kelinci hutan itu," sahut Nenek Darah dengan mata berbinar.


"Kau mau membuat sup kelinci, apa kelinci panggang?" tanya Dika.


"Membuat kuda bakar juga aku bisa," ucap Nenek Darah seraya melirik ke arah kuda milik Madun.

__ADS_1


Sontak saja Madun langsung marah-marah. Namun, Nenek Darah malah menertawakannya.


"Aku hanya bercanda, Madun!" seru Nenek Darah.


"Ana apa kau mau mencoba hasil olahan daging kelinci Nenek Darah?" tanya Dika menoleh pada Ana.


"Sepertinya tidak bisa. Kan aku harus pergi bergegas," sahut Ana.


"Lagipula siapa yang mau langsung masak? Nanti saja lah aku masuknya!" sahut Nenek Darah.


Risa mengamati Andika dengan pandangan berbeda. Entah karena ia merindukan Harun atau Bayu. Mungkin juga karena memang pemuda di hadapannya itu makin mempesona. Risa takut merasakan jatuh cinta lagi pada seorang pria, sehingga ia buru-buru menepisnya.


"Oh iya aku baru ingat. Nenek masih ingat Banyu?" tanya Dika saat meletakkan daging kelinci itu dekat dengan tungku api di dapur sang nenek.


"Banyu … oh pria dari Pulau Merak. Memangnya ada apa dengannya?" tanya Nenek Darah.


"Dia pergi mencari saudara kembarnya di Pulau Garuda yang bernama Bayu. Tapi, dia malah menemukan saudara kembarnya telah meninggal bersama dengan pemilik rumah. Ada mayat wanita juga yang dia temukan di dalam hutan lalu ia kubur," ucap Dika.


"Kasihan sekali Banyu," lirih Nenek Darah.


"Tapi, Nek, Banyu bertemu dengan anak laki-laki yang akhirnya dia angkat sebagai saudara," ucap Dika.


Risa menepuk lengan Ana. Ia yakin kalau ia satu pemahaman dengan Ana. Bayu di Pulau Garuda adalah pria yang mereka kenal. Dan Rama masih selamat.


"Dika, apa aku boleh tanya? Kalau Banyu mencari saudara kembarnya yang bernama Bayu. Apa wajahnya mirip ini?" Ana memperlihatkan foto Bayu dari layar ponselnya.


Bukan hanya Dika yang membenarkan wajah pria mirip Banyu itu, tetapi Nenek Darah juga membenarkan..


"Wah… mereka saudara kembar, Sa! Lalu, siapa Banyu sebenarnya?" tanya Ana pada Dika.


"Ada pulau kecil bernama Pulau Merak. Nah, Banyu merupakan pangeran pulau itu. Menurut ibunya, saudara kembarnya hilang karena diculik oleh musuh kerajaan. Sampai akhirnya, ibunya Banyu mendapat kabar kalau ada pemuda yang selama ini ia cari dan tinggal di Pulau Garuda," ucapnya menjelaskan.


"Wah, Bayu keturunan ningrat ternyata. Tapi sayangnya Bayu udah meninggal dan nggak ngerasain jadi pangeran huaaaaa." Risa malah menangis meraung-meraung di pelukan Ana.


Dika hanya bisa menggaruk belakang lehernya karena tak tahu apa yang sedang Ana bicarakan dan lakukan.


...******...


...Bersambung dulu ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2