
Bab 39 DPT
Tampak dari kejauhan Raja Harus muncul dari balik pohon. Ia mengenakan stelan jas dan celana merek Gucci dan sepatu pantofel. Melangkah dengan keren bak seorang model mendekat ke arah Risa. Dua wanita itu sampai menganga melihat penampilan sang raja jin.
"Buset dah! Mau nonton jaranan aja ganteng banget!" seru Ana.
Risa masih menganga menatap suami gaibnya. Ana sampai mengusap wajah sahabatnya itu dengan gemas.
"Inget dia itu raja jin, jangan bucin!" ucap Ana.
"Halah! Kamu juga bucin sama pocong!" sahut Risa.
"Hai!" sapa Raja Harun yang selama ini mempelajari sikap cowok keren melaku drama korea. Cowok yang diidam-idamkan oleh Risa.
"Hai!" sapa Risa.
"Kenapa panggil saya? Kangen, ya?" goda Raja Harun.
Risa mengangguk. Ana langsung memukul kepala belakang Risa.
"Kita suruh dia ke sini buat usir tuh raksasa biar nggak ganggu kita," bisik Ana.
"Oh iya lupa, hehehe." Risa lantas menceritakan keinginannya pada Raja Harun.
Sontak saja, Raja Harun langsung mengusir para makhluk astral yang hendak mengganggu Ana dan Risa.
Musik gamelan mulai terdengar saat dimainkan, riuh suara penonton terdengar bersahut-sahutan.
"Sa, ayo kita nonton!" ajak Ana.
Risa segera menggandeng Raja Harun menuju ke kerumunan penonton.
Bayu sudah mengambil tempat paling depan. Ana dan Risa juga beranjak ke bagian depan setelah berhasil menjejalkan badan menembus kerumunan manusia yang sama-sama ingin menikmati acara paling depan.
"Stop, ya! Aku capek mau liat jaranan dulu!" Jaya menghentikan dua kuntilanak yang mengejarnya.
Dua hantu itu hanya tertawa.
__ADS_1
"Nonton dari atas pohon aja, yuk! VVIP," tukas satu kuntilanak berambut pirang.
"Nggak, ah! Takut jatuh! Kalian aja yang di sana nanti aku nyusul … kapan-kapan." Jaya meringisi lalu beranjak menyusul Ana.
Sorak penonton membuka jalan masuk untuk enam penari perempuan dengan setelan lengkap pakaian khas penari jaran kepang. Mereka berlari kecil ke tengah lapangan. Lalu mereka menunduk memberi hormat kepada penonton. Diiringi musik gamelan serta gendang yang ditabuh bebarengan, mereka mulai berlenggak lenggok memutari lapangan.
Risa dan Ana mulai kegirangan dengan menirukan gerakan penari kala menggoyangkan badan. Para penari itu menampilkan gerakan anggun sembari mengikuti irama dari tabuhan musik tradisional yang mengalun-alun di tengah-acara tersebut. Musik yang memecah keheningan malam.
Tak jauh dari tempat Bayu berdiri, ada pria yang mencoba menggoda Ana. Dia menyesap rokok dan sesekali mengembuskan asap ke udara, membiarkan kepulannya terbang ke wajah Ana. Sontak saja, Jaya dengan isengnya memukul puntung rokok pria berkumis itu sampai masuk ke dalam mulutnya. Pria tersebut lantas terbatuk-batuk.
Jaya menarik Ana agar mendekat dan bersembunyi di belakangnya menjauh dari para pria hidung belang. Namun, ada pria yang menatap Jaya dengan senyum menyeringai. Seorang yang menjadi salah satu pemain jaranan dapat melihat Jaya.
"Kayaknya ada yang bisa lihat aku," bisik Jaya pada Ana.
"Ya udah kamu nyelip aja jangan sampai nanti kamu dimasukkan di dalam botol," sahut Ana.
"Emang iya? Ada gitu pocong dimasukkin ke dalam botol?" tanya Jaya.
"Nggak tau, aku kan cuma asal ngomong hehehe," sahut Ana.
Ada seorang kakek yang berdiri di samping Bayu dan Risa. Dia bercerita tentang tari jaran kepang yang baginya tak pernah membosankan. Dulu, saat masih kecil ayahnya pernah membawanya menonton acara tersebut meski harus sembunyi-sembunyi, takut bila ibunya tahu karena ayahnya tak segan-segan menghabiskan uang untuk menyawer para penari.
Dalam tari jaran kepang, para penari itu biasa disebut dayang. Para dayang dipersiapkan sebagai pembuka acara untuk menarik perhatian penonton, terutama para lelaki hidung belang. Para pria hidung belang selalu tersenyum puas ketika memberi uang pada salah satu dayang yang sedang menari.
Hal-hal seperti ini seakan membawa si kakek kembali ke masa itu. Bila diingat-ingat, terakhir kali ia menyaksikan pertunjukan jaran kepang tersebut secara langsung adalah saat dirinya masih kelas duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Seru banget, ya," ucap Bayu seraya merekam pertunjukan dengan ponselnya.
"Ponsel kamu buram tau, nggak fokus rekamannya itu!" celetuk Risa.
"Biar aja daripada nggak sama sekali," sahut Bayu.
"Hih, nggak jelas!" sungut Risa yang menempelkan kepalanya di lengan Raja Harun.
Pandangan para penonton kini tertuju pada perempuan-perempuan yang masih menari di tengah lapangan. Tari jaran kepang lumrah diadakan di acara-acara besar. Biasanya mereka diundang untuk menghibur hajatan orang-orang ternama di suatu daerah. Tarian ini penuh dengan filosofi magis yang dibalut aksi memukau dari para pemainnya. Tari jaran kepang dikenal begitu luas tak hanya dari sisi adat istiadat kuno, tapi juga dari sisi spiritual.
Konon mengadakan acara jaran kepang dibarengi dengan ritual tertentu. Sebuah tradisi yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai pengusir marabahaya, nasib sial, serta kemalangan. Namun, itu semua hanyalah mitos. Para penonton juga tak pernah tahu tentang hal-hal yang jauh di luar batas nalar. Menurut si kakek tadi, jaran kepang hanyalah salah satu budaya saja, budaya dengan tarian yang menghibur tanpa ada tambahan lain yang tak pernah bisa dimengerti.
__ADS_1
"Hal mistis apa gaib itu ada. Tapi jangan sampai deh ketemu, amit amit," ucap si kakek.
Padahal di sekitarnya banyak makhluk gaib. Bahkan Jaya dan Raja Harun berada di belakangnya juga makhluk gaib.
"Kok, aku takut sama bapak itu," bisik Bayu berusaha menghindari tatapan pria pemimpin para pemain jaranan.
"Tenang aja, dia memang tampangnya seperti itu. Dia kawan saya," sahut si kakek.
Di belakang pemimpin bernama Badrun itu ada sebuah singgasana yang diduduki oleh seorang lelaki memakai pakaian beskap warna hitam dan bawahan kain jarik. Dialah sang calon kepala desa yang membayar pertunjukan jaranan tersebut.
Para penari yang telah selesai mempertunjukkan bakatnya, lalu membungkuk memberi hormat kepada pria bernama Badrun itu. Lalu kemudian melangkah meninggalkan lapangan utama.
Para penonton kini menunggu jalannya pertunjukan berikutnya. Pria di samping Ana membuang puntung rokok kemudian menginjaknya. Pandangan matanya teralihkan ke sosok Ana dan mengamati dengan saksama. Jaya langsung saja mendorong pria itu sampai jatuh. Pria tersebut lalu menuduh orang di belakangnya yang mendorong. Kericuhan mulai terjadi. Namun, tak berlangsung lama. Para ajudan Pak Badrun langsung melerai dan menenangkan. Mengamankan kembali jalannya pertunjukkan jaranan.
"Makasih ya, Sayang," ucap Ana melingkarkan tangannya di lengan Jaya.
"Kalian menginap di rumah Mbah Gayo?" tanya kakek tadi pada Bayu.
"Iya, Kek," sahut Bayu.
"Kasian itu si Sari mau diajak nikah sama Pak Badrun. Malah denger-denger mau maksa," ucap Kakek Sapri.
"Heh, kurang ajar amat si Badrun! Masih kecil itu anak jangan digangguin!" sahut Bayu.
"Begitulah Pak Badrun. Mentang-mentang punya uang jadi seenaknya," ucap si kakek.
Pandangan mereka kini tertuju pada orang yang membawa jaranan kepang yang dibuat dari anyaman bambu yang diletakkan memutari tong besi berisi api yang berkobar. Di depan kuda-kudaan yang diletakkan, tercium aroma kemenyan.
Kakek Sapri lalu menceritakan kalau tercium bau kemenyan, itu tandanya sang pemimpin jaranan sedang mengundang para tamu gaib atau makhluk - makhluk astral yang tak bisa dilihat oleh mata agar ikut memeriahkan acara.
"Kamu yang tahan, Jaya! Jangan sampai ikut tergoda masuk ke area acara menjadi budak mereka!" Raja Harun memberikan Jaya kekuatan untuk bertahan.
Sontak saja, Jaya semakin bersembunyi di belakang Ana karena takut terbawa dan menjadi budak dalam pertunjukkan.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1