
Bab 54 DPT
Siang itu di taman kerajaan.
"Hai, Rama! Kamu sedang apa?" tanya Ana mendekati anak asuhnya yang tengah belajar bersama Risa.
"Mama Ana, apa aku boleh punya handphone?" tanya Rama.
"Untuk apa, Rama?"
"Aku suka memotret pemandangan sekitar dan mengambil video. Kayak Mas Bayu," sahutnya.
"Oh, nanti aku suruh Bayu beliin deh yang memory-nya besar dan muat banyak. Eh, Mbak Risa ke mana?" tanya Ana.
"Mbak Risa ke pohon besar itu! Aku pikir dia mulai gila hehehe." Anak kecil itu terkekeh.
"Kenapa emangnya?"
"Masa Mbak Risa tiap datang dari pohon besar itu dia ketawa ketawa sendiri terus lehernya pada merah," ucap Rama.
Namun, Ana langsung membekap mulut anak kecil itu.
"Mama Ana kasih tau, ya. Mbak Risa itu alergi, jadi kalau lagi gatel alergi suka ketawa sendiri. Jangan bahas sama siapa siapa, ya, nanti Mbak Risa malu. Kamu makam siang sama Mas Bayu, ya. Mama Ana mau ada pembicaraan sedikit sama Mbak Risa," ucap Ana.
Rama mengangguk lalu menghampiri Bayu yang asik memotret bunga-bunga, sementara itu Ana menghampiri Risa.
"Yeee, dia masih ketawa ketawa di sini. Hayo… berapa kali unboxing sama si Harun?" Ana menggoda Risa yang berusaha menutupi bagian lehernya.
"Aku nggak tau udah berapa lagi habisnya seru, sih." Risa terkekeh.
"Sa, dia itu golongan makhluk halus loh. Dia itu jin," ucap Ana.
"Na, kamu sendiri begituan sama pocong loh," sanggah Risa.
"Tapi dia masih hidup, Sa. Jaya manusia bukan kayak–"
"Stop! Udah ya aku nggak mau debat lagi sama kamu. Katanya mau bikin manisan mangga, yuk cari mangga!" ajak Risa.
"Lah, kenapa dia yang semangat mau makan manisan mangga," gumam Ana.
Tiba-tiba, Ana menahan tangan Risa.
"Sa, lihat siapa yang diajak ngomong sama Mbah Karso!" ucap Ana.
Sampai suatu ketika, Mbah Karso menemukan pria bernama Wahyu Subagyo. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memiliki rambut ikal yang sama dengan Raja Sumardjo. Perawakannya juga persis Jaya. Namun, kalau dari kualitas ketampanan, pria itu tak setampan Jaya. Bagi Risa juga masih lebih tampan Raja Harun.
Ternyata pria bernama Wahyu itu memang mengaku sebagai anak kandung dari Raja Sumardjo. Ibunya Wahyu bernama Selir Mawar yang sudah meninggal dua bulan lalu. Ibunya menceritakan rahasia tentang ayahnya yang membawanya memberanikan diri nekat menuju ke Pulau Garuda.
Wahyu juga membawa beberapa foto. Diantaranya ada foto ibunya dan Raja Sumardjo yang dibawa sebagai bukti. Ana yang terlanjur penasaran pun menghampiri.
"Dia adiknya Jaya, Ndoro Putri," ucap Mbah Karso pada Ana.
"Mbah yakin? Nggak mau tes DNA dulu? Masa cuma dari foto aja udah yakin kalau dia adiknya Jaya," ucap Ana menelisik Wahyu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
"Banyak bukti yang dia bawa dan dia beberkan. Saya rasa memang Yang Mulia pernah memiliki selir. Salah satunya juga ratu yang sekarang menduduki singgasana," lirih Mbah Karso bahkan hampir berbisik pada Ana.
"Lalu, apa yang hendak Mbah lakukan terhadap pria ini?" tanya Ana menatap Wahyu yang masih menunduk.
"Saya akan memberi laporan pada Yang Mulia Ratu. Lalu saya akan membimbing Mas Wahyu untuk mempelajari cara menyegel sang iblis agar kembali dan tidak menebar teror lagi," jelasnya.
"Bagaimana jika gagal?" tanya Ana.
"Kalau gagal, berarti cukup jelas untuk menjelaskan siapa dirinya, bukan? Karena keturunan sejati dari penerus Mangkulangit lah yang dapat menyegel iblis tersebut," pungkas Mbah Karso lalu membawa Wahyu menghadap Ratu Melati.
Tak lama kemudian, Jaya muncul setelah memilih bersembunyi. Jaya merasa malu dan gagal di hadapan Mbah Karso jadi dia sedang tak ingin berjumpa dengan Mbah Karso.
"Aku tak yakin kalau dia anak ayahku," ucap Jaya mengejutkan Ana.
"Ya ampun aku pikir pocong dari mana!" pekik Ana.
"Heh, aku itu suamimu tau!" seru Jaya.
"Iya, maaf. Eh, aku juga tak menyangka setelah selama ini aku pikir yang berselingkuh itu Ratu Melati, ternyata ayahmu juga punya banyak selir. Awas saja kalau nanti kamu berani punya banyak selir, aku potong itu burung!" ancam Ana.
Jaya tak mengindahkan ucapan Ana. Ia masih termenung memikirkan tentang pria bernama Wahyu. Ana memeluk Jaya dari belakang.
"Jangan khawatir, nanti kita selidiki tentang Wahyu. Yang jelas kamu masih pewaris tahta yang sah dari Raja Sumardjo Mangkulangit," ucap Ana.
"Na, apa mungkin aku akan kembali ke bentuk manusia?" Jaya tampak tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Aku yakin. Mbah Karso akan selalu mengusahakan kamu sembuh, bukan? Kalau kamu tidak bisa berfikir positif maka hal positif malah tak akan datang karena kamu selalu berpikiran negatif terus. Aku yakin suatu saat anak ini akan berlari-larian bersama ayahnya di taman ini. Berlatih pedang dan panah bersama. Oh iya jangan lupakan Rama, dia anak asuh kita juga," ucap Ana penuh cinta.
"Terima kasih istriku tersayang. Terima kasih karena sudah selalu ada mendampingi ku," ucap Jaya yang kini berbalik badan dan memeluk Ana dengan erat.
Malam itu, Bayu masih belum bisa tidur. Sementara Rama sudah tertidur pulas di dipan atas. Ana meminta Bayu untuk menjaga Rama dua puluh empat jam seharian bahkan satu kamar. Bayu akhirnya bangun untuk membuat susu hangat dan memakan cemilan biskuit. Siapa tau setelah itu dia bisa tidur.
Tiba-tiba, Bayu melihat Wahyu yang ternyata memiliki sindrom tidur sambil berjalan. Malam itu Wahyu menuju ke kamar Ana. Bayu mengunci kamarnya agar Rama tak kemana mana, lantas ia mengikuti Wahyu.
Bayu juga menghubungi ponsel Risa dan Ana agar bisa terjaga. Untungnya Jaya sedang berdiri di depan kamarnya untuk mencari udara segar. Jaya lantas mendekati Bayu.
"Ngapain dia, Bay?" bisik Jaya padahal kalau pun dia berteriak juga tak ada yang bisa mendengarnya kecuali Bayu.
"Kayaknya tidur sambil jalan, Pang," ucap Bayu.
"Pang?" Jaya mengernyit.
"Pangeran maksudnya. Atau panggil Pang Jay aja ya," ucap Bayu menahan tawanya.
Wahyu sampai di halaman depan kamar Ana. Dia lalu membaringkan diri di pelataran rumah itu. Jaya dan Bayu saling tatap dan sampai tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Ana mengintip dari balik jendela.
Waktu mendengkur, sesekali ia tampak mengigau lucu seolah sedang berkelahi kala itu. Dia bahkan mengigau tentang masa lalunya. Jaya dan Bayu mendekat lalu menatap Wahyu dengan saksama.
Ana keluar dari kamarnya. Disusul kemudian, Risa yang sudah terjaga tampak menghampiri. Ia menggunakan piyama dan juga sweater karena udara terasa sangat dingin di pukul satu dini hari tersebut.
"Panggil Raja Harus, Sa! Siapa tahu si Harun bisa liat apa yang ada di mimpi si Wahyu," ucap Ana.
"Gila kamu, masa jam satu gini aku harus ke pohon besar di taman," sungut Risa.
__ADS_1
"Biar aku yang coba masuk ke mimpinya si Wahyu, siapa tahu aku dapat petunjuk," sahut Jaya.
"Emang bisa?"
Ana, Risa, dan Bayu bertanya bersamaan.
"Kan dicoba dulu. Biar gini gini, aku juga banyak belajar dari Harun," ucap Jaya.
Jaya lalu mencoba masuk ke dalam mimpi Wahyu. Di alam bawah sadar pria tersebut, Jaya malah melihat masa kecil Wahyu. Yang membuatnya terperanjat, Wahyu sedang bersama seorang pria paruh baya yang ia kenal.
"Mbah Misan?" ucap Jaya.
Mbah Misan sedang membacakan Wahyu dan beberapa anak lainnya dengan dongeng-dongeng yang membius anak anak itu sebelum terlelap. Lalu, ada gambaran tentang Mbah Misan yang mengajak Wahyu menyusuri tepi sungai menggunakan sepeda. Dia mengajari anak itu untuk memancing ikan. Setelah ikan di tangkap, Mbah Misan lalu membuat masakan berbahan dasar ikan yang ditangkapnya. Dia pasti selalu meminta Wahyu untuk menjadi orang pertama yang mencicipi hasil masakannya.
Mbah Misan pula yang mengajari Wahyu untuk berlatih bela diri. Ada anak seusia Wahyu yang bernama Tiwi. Mereka sangat beruntung ketika berada di bawah pengasuhan Mbah Misan yang merupakan tetua yang dihormati dan memiliki kekuatan.
Namun, ketika terjadi bencana gempa bumi, mereka terpisah. Tak terasa bulir bening mengalir di pipi Wahyu kala itu. Jaya lantas kembali ke alam nyata karena tak bisa berlama-lama berada di alam bawah sadar orang lain.
“Kok, si Wahyu nangis? Kamu apain di mimpinya?" tanya Ana begitu Jaya muncul.
"Aku nggak apa-apain dia, kok. Malah ya, aku lihat masa kecil dia sama Mbah Misan," ucap Jaya.
“Hah? Mbah Misan?"
Ana, Risa, dan Bayu kembali berucap bersamaan. Jaya mengangguk mengiyakan.
“Jangan jangan, dia orang suruhan Mbah Misan buat nyamar dan mengaku jadi anaknya ayah kamu," ucap Ana.
"Bener tuh, patut kita curigai," sahut Risa.
“Hmmm, kita harus waspada sama ini orang. Bay, kamu harus awasi setiap gerak gerik si Wahyu," pinta Ana menepuk bahu Bayu.
“Baiklah kalau begitu, saya akan melakukan tuhan dari Tuan Putri dengan baik," sahut Bayu.
Sosok Wahyu lantas menguap dan mulai terbangun.
Ana dan Risa langsung menjauh. Wahyu lalu bangkit dan berpindah tempat untuk duduk di samping Bayu lalu terlelap lagi.
"Huh, ngagetin aja ini orang. Terus ini mau kita apain?" bisik Bayu.
"Aku punya ide. Ayo, Bay!" ajak Jaya.
Jaya meminta bantuan Bayu untuk membawa Wahyu ke bawah pohon mangga.
"Di situ banyak semut merahnya, Jay! Kasian nanti dia digigit semut," ucap Ana.
"Justru itu tujuan aku, hihihi. Dah, kalian pada balik ke kamar! Aku juga mau balik ngamar sama Ana," ucap Jaya menyuruh Risa dan Bayu kembali ke kamar mereka masing-masing seraya menepuk-nepuk tangannya.
Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi sikap jahil sang pangeran.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter. ...