Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 89 - Desa Seranggan


__ADS_3

Bab 89 DPT


Hari itu, semuanya tidak menyangka kalau kampung yang Ana tuju benar-benar terpencil. Mobil saja susah masuk karena jalanannya rusak dan berlumpur kalau musim penghujan.


Sesekali memang ada truk yang melintas. Namun, para penumpang kerap terpaksa turun ramai-ramai mendorongnya karena ban terjebak di kubangan lumpur.


"Duh, jangan-jangan Desa Abang jalannya rusak parah kayak gini lagi," keluh Risa.


"Tau nih pemerintah daerahnya gkmana, sih? Masa sampai kayak gini jalannya. Masih mending di Garuda deh," sahut Bayu.


"Nah, betul! Garuda itu selalu mensejahterakan rakyatnya dan memberi fasilitas yang baik buat rakyatnya," sahut Jaya seraya menepuk bahu Bayu dengan penuh kebanggaan.


"Ini sih emang kades sini udah terkenal korupsi," celetuk Juna.


"Loh, kenapa nggak dilaporkan?" tanya Ana.


"Susah, Na, kalau backingannya pejabat tinggi," ucap Juna.


“Ini masih jauh ya, Jun?” tanya Ana.


“Udah dekat kok, Na. Habis hutan ini kita sampai di Desa Seranggan,” jawab Juna sambil menoleh ke arah Ana dan melayangkan senyum termanisnya.


Jaya tak tahan untuk menoyor kepala belakang Juna.


"Suami kamu kayaknya marah, ya?" tanya Juna.


Ana hanya mengangguk dan menahan tawa.


Sejauh mata memandang, di sepanjang jalanan ini memang hutan asri yang sangat hijau. Udara juga terasa sejuk. Akhirnya, para rombongan sampai juga di Desa Seranggan.


Ana langsung menanyakan alamat rumah Bu Ijah dan Toto.


Seorang wanita yang memakai pakaian bermerk mahal dari ujung krpala sampai ujung kaki, menyambut kedatangan Juna. Dia mengenal Juna dan menanyakan kenapa seorang polisi ada di desanya. Rupanya wanita yang menyambut kedatangan mereka adalah Kepala Desa Seranggan. Dia mempersilakan untuk datang ke rumahnya lebih dulu dan akan menyiapkan makanan.


Juna memperkenalkan Ana dan yang lainnya pada Kepala Desa bernama Bu Marni itu. Juna juga menceritakan perihal kedatangannya ke Desa tersebut.


Semua tangan dijabat dengan cepat sampai jabat tangannya terhenti agak lama pada sosok Ana. Bu Marni mengamati dengan saksama. Senyum di balik polesan bibir merekah itu membuat Ana bergidik ngeri.


Bu Marni tahu kalau ada sosok pocong yang menjaga Ana. Namun, wanita berusia lima pulih tahun itu, pura-pura tak bisa melihat Jaya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali," ucapnya pada Ana.


Jaya langsung menarik tangan Ana agar melepas pegangan Marni.


"Aku nggak suka sama dia," ucap Jaya.


Mari tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya! Nanti silakan dinikmati makanan yang dihidangkan, ya," ucapnya.


"Desa ini sepi sekali, ya, Bu? Padahal masih siang, loh." Risa buku suara dan sempat melihat sekeliling lalu ia terperanjat.


"Astagfirullah! Ada kembarannya Jaya," bisik Risa ke Ana.


Beberapa pocong terlihat mengintip dari pepohonan di sebrang rumah kepala desa.


"Seram, Sa," bisik Ana.


"Di sini memang sepi. Ya, namanya juga di desa, Mbak. Beda dengan di kota. Monggo, silakan diunjuk," ucap Marni.


Sontak saja Risa yang tak begitu mengerti bahasa jawa malah menunjuk makanan yang disajikan tersebut.


"Katanya kita disuruh nunjuk, kan? Ini lagi aku tunjuk," sahut Risa.


Sontak saja Juna dan Bayu tertawa.


"Diunjuk itu artinya dia nyuruh minum dan makan hidangannya," ucap Bayu.


"Oh, begitu. Ya, maaf deh," sahut Risa tersenyum manis pada Bayu.


Timbul getaran di hatinya yang semakin membuatnya berbunga-bunga kala melihat Risa tersenyum. Bayu benar-benar jatuh cinta pada Risa.


Sosok Bu Marni sendiri sebenarnya memang tua. Namun, karena kekuatan magis yang dia punya serta melakukan ritual awet muda dan menumbalkan darah bayi, dia bisa tampil awet muda seperti wanita yang berusia tiga puluhan. Harta yang dia dapatkan juga lancar jaya mengalir ke dalam rekeningnya meskipun dengan cara salah.


Setelah pamit undur diri dari rumah Kepala desa, Juna dan yang lainnya menuju ke rumah Bu Ijah dan Toto. Seorang pelayan laki-laki mengantar Juna dan lainnya ke mobil.


Tiba-tiba, Ana bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang duduk sendirian di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu tersenyum menyeringai. Lama-lama sudut bibirnya terangkat makin ke atas memperlihatkan tulang pipi dan gusinya yang robek.


"Astagfirullah, hantu rupanya," desis Ana buru-buru menghindar padahal tadinya mau menyapa.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah Bu Ijah, Ana dan Jaya tidak menyangka kalau mereka akan menemukan anak perempuan yang mirip dengan almarhum Laras. Dia adiknya Toto. Umurnya baru delapan tahun. Dia anak yatim piatu dan sudah putus sekolah. Selama bertahun-tahun, gadis itu mengurus neneknya yang sudah sangat renta. Sedangkan Toto bekerja di kota dan kerap kembali pulang setiap seminggu sekali.


Bu Ijah rupanya neneknya Toto, bukan ibunya. Rumah mereka itu cukup besar. Anak perempuan bernama Siti itu bilang kalau rumah itu peninggalan orang tuanya. Ada tiga kamar di sana. Ana langsung membicarakan maksud kedatangannya.


“Ini nenek saya. Namanya Mbah Ijah. Dia udah nggak bisa ngomong karena terkena struk,” ucap Siti sambil membuka kamar neneknya. Dia memperkenalkan neneknya pada Ana dan yang lainnya.


Ana melihat wanita tua itu sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Seluruh rambutnya putih semua. Dia mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar. Perlahan wanita itu mendongak ke arah Ana dan yang lainnya. Dia tersenyum ramah.


“Salam kenal, Mbah Ijah. Nama saya Ana. Saya mau ketemu sama Mas Toto karena mau menyampaikan pesan terakhir calon istrinya," ucap Ana.


Mbah Ijah yang ternyata tuli dan bisu, hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala.


"Mbah nggak bisa denger.Tentu saja dia nggak bisa menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi itu tandanya kalau nenek sedang menyapa para tamunya meski cuma bisa ngomong di dalam hatinya," sahut Siti.


Siti lalu menutup kembali pintu kamar neneknya. Engsel pintu itu mungkin sudah berkarat sehingga menimbulkan bunyi berderit yang cukup nyaring saat ditutup.


Gadis kecil itu lalu menyiapkan minuman.


Gadis itu hanya menatap datar dan tanpa senyum sedikit pun ketika Ana atau Risa mengajaknya bicara. Mungkin Siti orang yang pendiam, begitu batin Ana berucap


"Mbak, Mas, ini minum dulu," ucap Siti menyiapkan teh manis hangat untuk para tamunya.


“Iya, Siti. Terima kasih banyak sudah mau menyiapkan teh manis ini," ucap Ana.


"Sama-sama, Mbak. Kalau masih mau nunggu Mas Toto silakan saja. Tapi, saya nggak yakin apa dia sampai hari ini," ucap Siti.


"Kita bentar lagi deh ada di sini. Mau istirahat sebentar. Nanti ada yang mau saya bicarakan sama kamu," ucap Juna pada Siti.


"Mas Toto bukan orang jahat kan, Pak?" tanya Siti mulai salah paham dan takut.


"Oh, bukan! Ini pembicaraan yang lain, kok. Tenang saja," kata Juna.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2