
Bab 77 DPT
Juna pamit bersama Moko setelah dijemput beberapa rekannya. Esok dia datang kembali untuk mengecek mobilnya.
"Kenapa cemberut gitu, Jun?" tanya Moko.
"Suaminya Ana masih hidup. Dia cuma kena santet terus arwahnya gentayangan jadi pocong," ucap Juna.
"Hah, gimana? Kok, aku nggak ngerti, ya?" Moko sampai menggaruk-garuk kepalanya meskipun tak gatal.
"Nanti aku ceritain semuanya. Hmmm, boleh nggak ya aku berdoa semoga suaminya nggak bisa selamat terus meninggal aja? Aku cinta banget sama Ana kayaknya," ucap Juna.
"Wah, ngaco kamu! Jangan sampai cinta sepihak itu membutakan kamu nantinya," ucap Moko.
Mobil yang mereka tumpangi itu lantas menjauh pergi menuju kantor polisi pusat.
Sementara itu, Ana melihat banyak kue tradisional yang tertata rapi berikut dengan tumpukan air mineral dalam kemasan gelas dua ratus mili.
"Ada acara apa, Bu?" tanya Ana pada Bu Susi.
"Ada pak kiayi mau berdoa. Mendoakan Anto tepatnya supaya cepet ketemu. Ya, kalau bisa ketemu dalam keadaan hidup, Mbak Ana," ucapnya menahan tangis.
"Iya, Bu. Ana juga cuma bisa mendoakan supaya Anto ketemu dalam keadaan hidup," tukas Ana.
"Tapi, saya sama bapaknya tadi udah memutuskan ikhlas juga jika Anto udah nggak … udah nggak ada, Mbak." Bu Susi tak dapat lagi membendung tangisannya.
Ana hanya bisa memeluk wanita itu seraya menepuk-nepuk punggungnya agar mengurangi beban kesedihannya.
***
Selepas magrib, Pak Kiayi Abdul datang ke rumah Pak Roni. Ia sempat melihat Jaya dan berusaha mengusir Jaya dengan lantunan doa. Namun, tak ada yang terjadi pada Jaya. Ana lantas menceritakan asal-usul Jaya.
"Pantas saja dia nggak mempan saya doakan. Lalu kamu mau mengobati Jaya dengan mencari keberadaan Eyang Setyo?" tanya Pak Kiayi.
"Iya, Pak Kiayi." Ana mengangguk.
__ADS_1
"Saya pernah mendengar tentang beliau. Dia sudah sepuh tapi masih suka membantu mengobati orang tanpa pamrih. Tapi, saya dengar belakangan ini beliau sedang sakit," ucapnya.
"Apa Pak Kiai tau rumahnya di mana? Tepatnya gitu biar saya nggak nyasar," ucap Ana.
"Di kaki Bukit Emas tepatnya. Dia juru kunci di sana. Eh, apa sudah beralih ke anaknya, ya? Ya, pokoknya rumahnya ada di sana. Tinggal tanya rumah Eyang Setyo nanti orang-orang sana udah pada tahu dan pasti menunjukkan," ujar Pak Kiai.
"Baik kalau begitu, terima kasih sebelumnya Pak Kiai. Saya mau bantu Bu Susi buat menyiapkan makanan," ucap Ana.
Sementara itu, Risa tengah mendengarkan cerita seram Bu Diah, tetangga Bu Susi. Ia duduk bersama Mia di halaman dapur belakang saat menyimak.
"Iya, Bu, saya lihat pocong wajahnya hitam. Ih, seram banget!" seru Risa.
"Seram bagaimana, Tante?" Mia berjongkok di samping Risa.
"Mia, duduk sini aja nanti kalau kecepirit repot Tantenya," ujar Risa yang segera memindahkan Risa.
"Tadi pocongnya serem kayak gimana?" tanya Mia.
"Di mana mana pocong itu serem, Miaaaaaaa! Eh, ada sih yang nggak serem namanya Om Jaya," ucap Risa terkekeh sembari menoleh kanan kiri takut Ana mendengarnya.
"Saya juga pernah punya pengalaman bertemu pocong wajah hitam itu," ucap wanita berusia lima puluh tahun itu.
Bu Diah lantas menceritakan pengalamannya waktu kecil. Seketika itu juga, Risa dan Mia merasa tertarik dengan cerita dari Ibu Diah. Mereka penasaran seperti apa pengalaman menyeramkan masa kecil Bu Diah.
Lalu, Bu Diah pun mulai bercerita mengenai pengalamannya semasa kecil. Tak lama kemudian, ia teringat akan satu hal karena belum mematikan kompor saat memasak air panas.
"Bentar, ya." Bu Diah bangkit menuju dapur.
"Yah, iklan dulu, deh." Risa tertawa bersama Mia.
Setelah Bu Diah kembali, Risa mendesak wanita itu agar segera menceritakan kenangan tersebut. Ibu Diah bilang, pada waktu itu banyak orang yang masih memanfaatkan lilin sebagai alat penerangan karena listrik belum menjamah semua pelosok.
Desa Gabut itu masih sangatlah hijau, belum dipenuhi bangunan rumah-rumah seperti sekarang ini. Masih banyak sawah, kebun cokelat, dan hutan. Kisah ini bermula pada saat suasana kampung masih dalam keadaan asri. Waktu itu, Bu Diah ingat kalau dia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Pada suatu hari, Bu Diah pergi bermain bersama teman-temannya ke sebuah rawa yang dekat pohon cokelat. Mereka ingin memanen cokelat. Ada juga satu pohon durian di sana milik seseorang kakek yang pernah tinggal di sana. Namun, kakek itu telah meninggal karena rumahnya terbakar. Desas desus beredar kalau rumahnya dibakar karena ia tak mau menjual tanahnya untuk pengembangan wahana.
__ADS_1
Waktu itu, ibunya Bu Diah juga berpesan harus pulang sebelum magrib jika bermain. Ibunya bahkan tak tahu kalau putrinya akan pergi ke rawa anter itu. Setelah pukul lima sore, banyak temannya yang memilih kembali pulang. Namun, Bu Diah tetap bandel ingin memetik durian dulu.
Untuk sampai ke rawa tersebut, dia harus berjalan melewati rumah warga, lalu menelusuri jalan setapak yang ditumbuhi alang-alang di sebelah kanan-kiri jalanan. Barulah dia akan sampai di sebuah pohon durian yang buahnya cukup banyak.
Bu Diah baru mendapatkan satu buah durian saat itu. Terdengar samar - samar suara adzan maghrib berkumandang, meskipun hari belum cukup untuk dikatakan petang. Bu Diah segera memasukkan durian itu ke dalam kantong plastik yang ia bawa.
Awalnya, Ibu Diah merasa biasa saja, tetapi lambat laun dia merasa ada yang aneh. Wanita itu merasa seperti ada yang memperhatikannya. Namun, dikarenakan hari masih cukup terang, dia sedikit pun tidak merasa takut dan tidak memedulikan hal aneh tersebut. Saat akan meninggalkan rawa, keanehan itu tetap berlanjut. Ibu Diah merasa ada yang mengikutinya.
"Apa yang mengikuti Ibu?" tanya Risa.
"Ya, pocong hitam itu tadi. Saya diikuti sampai rumah. Pas besoknya saya demam. Terus ibu saya bawa saya ke pak ustad. Habis dibacain dan dikasih air doa saya sembuh. Hiiii, nggak lagi lagi deh saya ke sana," ucap Bu Diah sampai menunjukkan bulu kuduk yang meremang pada Risa dan Mia.
"Waduh! Nanti kalau aku diikuti sama pocong hitam itu, gimana?" Risa mulai panik.
"Minta air doa aja sama Pak Kiai!" ujar Mia.
"Pinter juga ini bocah! Minggir dulu Mia!" Risa langsung bergegas masuk ke dalam dan ingin menemui Pak Kiai Abdul untuk meminta air doa agar tidak demam kalau pocong hitam itu sampai mengikutinya.
Mia dan Bu Diah hanya bisa melongo melihat Risa yang panik saat masuk ke dalam rumah itu.
***
Acara doa bersama baru saja kelar saat Risa meminta air doa pada Pak Kiai. Tiba-tiba, terdengar suara berdentum dari arah depan.
"HEI! JANGAN PERGI KAMU!"
Jaya terdengar berteriak dari arah luar.
"Itu suaranya Jaya ya, Risa?" tanya Ana.
"Kayaknya iya. Ayo, samperin!" ajak Risa.
Bukan hanya Risa dan Ana yang penasaran keluar rumah, tetapi Pak Kiai, Pak Roni, dan istrinya serta Bu Diah yang masih membantu membersihkan rumah itu juga ikut keluar untuk melihat apa yang menyebabkan suara dentuman itu terdengar.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...