
Bab 55 DPT
Wahyu sedang berlatih bersama Mbak Marso. Ia lalu menceritakan kisah tragisnya saat kecil. Suara tangisan seorang bayi terdengar. Bayi laki-laki yang tampan dan rupawan. Sang ibu menimangnya dengan penuh kasih sayang. Sementara sang ayah merapalkan doa penuh harap agar bayi laki-laki tersebut diberkati. Namun, tak lama kemudian perubahan cuaca yang aneh terjadi. Hujan badai dan petir bersahutan kala bayi laki-laki itu menangis kencang. Akan tetapi, jika sang bayi sedang tertawa ceria cuaca di sekitar menjadi cerah. Dia menjelaskan kalau dia bagaikan anak ajaib. Jaya yang duduk menguping di atas pohon mangga sampai merasa mual.
"Apa Mbah tahu kalau ibunya saya bilang
para tetua di desa mengatakan kalau saya memiliki kekuatan bak seorang penyihir. Tentu saja awalnya tak ada yang percaya, tetapi ketika saya itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah tetua desa, dia langsung sembuh dari sakitnya," ucap Wahyu membual.
Ana dan Risa yang penasaran tampak mendekat dan ingin mendengar cerita dari Wahyu. Namun, Mbah Karso memilih pamit undur diri karena ada keperluan.
"Kalian tahu tidak kalau usut punya usut, tetua desa di tempatku memiliki ritual sesat dan bersekutu dengan iblis kambing. Tapi, saat aku lahir, aku langsung bisa menyegel iblis tersebut. Sampai aku mulai besar dan mulai tahu kalau ayahku adalah Raja Sumardjo Mangkulangit dari Pulau Garuda. Aku juga bisa meramal nyawa orang pada saat berumur sepuluh tahun," ucapnya.
"Oh begitu… jadi aman lah ya soal iblis rahwana nanti kamu juga bisa hadapi?" tanya Ana.
"Oh, tentu saja. Saat aku kecil aku pernah bertemu seorang kakek yang meramal bahwa akan ada iblis bernama Rahwana yang akan bangkit dan bisa menguasai desa. Akan ada ritual sesat dan banyak pengorbanan yang dihasilkan dari iblis itu," ucap Wahyu.
"Bukankah sekarang juga udah minta tumbal?" celoteh Risa bertanya.
"Ya, itu maksudnya. Aku juga akan mendapatkan keris pusaka untuk menghabisi si iblis tersebut," ucap Wahyu.
"Namun sayangnya, tidak sembarangan orang bisa mengendalikan kekuatan keris tersebut, bukan?" tanya Ana.
"Tentu saja. Ada ramalan yang mengatakan akan ada pemuda yang bisa mengendalikannya. Dan kini saya sudah hadir untuk mengendalikan keris tersebut bukan?" Wahyu tertawa dengan puasnya.
"Kalau kau tidak bisa, bagaimana?" tanya Ana.
"Sudah pasti aku bisa. Aku anak kandungnya Raja Sumardjo. Oh iya, jika Pangeran Jaya tidak selamat dan tak bisa menjadi manusia lagi, apa kau mau menjadi permaisuriku?" Wahyu menggoda Ana.
"Hahaha, dalam mimpi mu saja, ya!" Ana bangkit dan bergegas pergi.
Jaya yang kesal mendengarkan tingkah Wahyu, dengan jahil menepuk kepala Wahyu. Bahkan ia menampar pipi Wahyu sampai pria itu menoleh ke sekeliling arah dengan raut wajah ketakutan.
***
Tiba-tiba, Panji mendapat sambungan telepon dari seseorang. Kata si penelepon, Iblis Rahwana terlihat di sebuah jembatan dan memakan korban. Panji bergegas menghubungi Mbah Karso.
"Tunggu di sana, saya akan segera ke sana," ucap Panji lalu menutup sambungan ponselnya.
Jaya yang mendengar hal tersebut lantas meminta Bayu untuk menemaninya mengikuti Panji.
"Ajak Wahyu ikut serta dengan kita!" ucap Mbah Karso.
"Apa saya boleh ikut, Mbah? Saya bisa menjadi sopir kalian," pinta Bayu.
"Baiklah, cepat kamu suruh Wahyu ke sini!" titah Mbah Karso.
"Baik, Mbah," sahut Bayu.
Saat Panji menyiapkan peralatan, Jaya mendekat pada Mbah Karso.
"Apa yang mau Mbah lakukan di sana terhadap Iblis Rahwana?" tanya Jaya.
__ADS_1
"Saya akan membuktikan tentang kebenaran garis keturunan Mas Wahyu. Semoga saja dia dapat menyegel iblis tersebut. Untuk sementara ini saya akan membuat pagar gaib di sekeliling tempat persembunyian tubuh Pangeran. Mungkin hanya untuk malam ini. Jika ada yang terjadi di sini saya akan langsung tau." Mbah Karso berusaha menenangkan Jaya.
"Baiklah kalau begitu, Mbah. Lakukan saja yang terbaik demi Garuda," ucap Jaya.
Mbah Karso mengangguk.
***
"Na, pulang yuk!" ajak Risa.
"Ayolah, aku ngidam nih mau mancing ikan nila," ucap Ana.
"Tapi aku ngerasa merinding, nih. Kasian juga si Rama ketakutan gitu," ucap Risa yang melirik ke arah Rama.
Anak lelaki itu tidak takut. Dia asik bermain dengan kupu-kupu dan sesekali menangkap gambarnya dengan ponsel baru pemberian Ana.
"Aku nggak takut, kok," sahut Rama.
"Tuh, kamu yang takut kali!" Ana meledek Risa.
"Kak Risa, itu apa!" Rama menunjuk ke arah sungai.
Tiba-tiba, muncul tangan seseorang di permukaan sungai yang merangkak naik ke atas permukaan sungai. Ketiganya mendadak tersentak kala sosok hantu laki-laki muncul dari dalam sungai.
"Kamu siapa?" tanya Ana pada pria berusia dua puluh tahun yang basah kuyup itu.
"Saya nggak tahu siapa saya," sahutnya.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku? Apa kalian tahu?" tanyanya yang tak mengerti bagaimana ia bisa tewas mengenaskan seperti itu.
"Mungkin kamu mati tenggelam," sahut Ana.
"Mama Ana, itu di badan om nya kenapa keluar belatung begitu?" Rama menunjuk tubuh si hantu.
Pria itu segera membuka kaus yang ia gunakan dengan mengangkatnya. Betapa terkejutnya Ana dan yang lainnya kala di bagian dada pria itu mempunyai luka melintang dan robekan memperlihatkan tulang. Dari dalamnya keluar belatung seukuran butiran beras.
"Haduh, harusnya aku nggak lihat ini," gumam Risa lalu menutup matanya dan beralih dari hadapan tubuh si hantu.
"Aku mau telepon Mas Panji, siapa tahu mayat pria ini masih ada di dalam sungai," tukas Ana.
Tiba-tiba, ada sosok hantu kuntilanak turun dari pepohonan mengejutkan Ana, Risa, dan Rama yang berteriak bersamaan.
"Mas Joko!" seru kuntilanak itu pada si hantu pria.
"Kamu siapa?" tanya hantu pria itu.
"Aku Susanti, aku pacarmu yang mati saat melahirkan pas setahun lalu," ucapnya.
"Ka-kamu, kamu pacar aku? Jadi kamu kenal aku?"
"Iya, Mas Joko!" Kuntilanak itu berjingkrak-jingkrak kegirangan dan memeluk Joko dengan erat.
__ADS_1
"Baru ini lihat hantu ketemu hantu girang banget," celetuk Risa.
"Mbak Kunti, apa kamu tahu kenapa dia meninggal?" tanya Ana.
"Oh, dia dihabisi oleh ayahku, hihihi. Mayatnya dibuang ke sungai. Aku lihat semuanya," ucapnya masih kegirangan.
Sementara Ana dan Risa menatap ngeri.
"Kenapa ayah mu membunuhku?" tanya Joko.
"Karena gara-gara kamu aku mati! Kamu nggak mau tanggung jawab cuma mau enaknya aja. Pas aku mau lahiran kamu malah paksa mengeluarkan bayi aku sampai aku dan bayiku meninggal. Kamu jahat, Mas Joko!" seru Susanti memukul Joko berkali-kali.
"Aduh, sakit tau!" pekik Joko.
"Kenapa kehidupan orang dewasa sangat rumit? Tadi mereka senang bertemu berpelukan, lalu kini berkelahi," keluh Rama.
Ana lantas menutup mata Rama lalu membalikkan tubuh anak kecil itu.
"Jangan dilihat, lah! Jangan disimak! Kamu belum cukup umur!" seru Ana yang mengajak Rama pergi meninggalkan dua hantu tersebut saling memukul satu sama lain.
Mendadak kemudian, Risa merasakan sangat mual. Dia sampai tak tahan untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
"Tante Risa kenapa, tuh?" tanya Rama.
"Aku masuk angin kali," sahut Risa.
Ana mengernyit dan mengamati Risa dengan saksama.
"Jangan-jangan kamu itu seperti aku, Sa?" tanya Ana.
"Maksud kamu?" Risa menoleh.
Ana melirik ke arah perut Risa.
"Hmmm, aku curiga kalau kamu lagi hamil," ucap Ana menjentikan jari jemarinya.
"Apa? Aku hamil?" Risa memekik tak percaya.
"Iya, hamil anak jin hihihi." Ana bergegas menarik tangan Rama membawanya pulang.
"Anaaaaaaaa, bagaimana ini?!" Risa mengejar Ana seraya berteriak memanggil nama Ana.
Ana hanya tersenyum dan bersenandung seraya menggandeng tangan Rama.
"Kenapa Tante Risa hamil anak jin, Mama Ana?" tanya Rama.
"Hmmmm, repot jelasinnya nih!" Ana menepuk dahinya.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...