Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 32 - Masuk ke Alam Jin


__ADS_3

Bab 32 Dinikahi Pocong Tampan


Risa menemani Ana di kamarnya. Ana terlihat sangat gusar. Dia tak terima jika Laras harus meninggal karena gantung diri. Ana yakin ada yang membunuh Laras. Begitu juga dengan Risa yang yakin seperti itu.


"Ya udah kita tenang dulu, Na. Nanti kita sama Bayu cari tahu tentang kematian Laras. Terutama kita harus cari bukti tentang kejahatan Ibu Dewi," tukas Risa.


"Tapi, kenapa Mas Panji diam aja nggak membela aku?" tanya Ana.


"Panji juga takut, Na. Dia bilang nggak ada bukti juga, kan?" Jaya menyela.


"Hmmmm, kerajaan kamu emang menyimpan banyak misteri yang sulit untuk dipecahkan termasuk santet kamu." Ana melenguh.


"Kamu lagi ngomong sama Jaya, ya?" tanya Risa.


Ana mengangguk.


"Aku tidur duluan, ya. Kamu lanjutin aja ngobrolnya sama Jaya." Risa lantas merebahkan diri di atas sofa yang ada di kamar Ana.


Rasa kantuk sudah tak tertahan lagi dia rasakan. Risa menarik selimut lalu terlelap.


...***...


Keesokan harinya, Ana dan Risa menghadiri pemakaman Laras. Bu Dewi menjalankan perannya dengan baik. Dia menangis pilu seolah kehilangan putri kandungnya.


Tiba-tiba, makam Laras bergerak seperti gempa bumi tektonik yang membuat tanahnya amblas. Risa terperosok ke dalamnya bahkan sampai bertatapan dengan wajah Laras yang terbuka.


"Kak Risa, tolong aku!" Laras buka suara dengan mata melotot.


Sontak saja Risa berteriak ketakutan sampai tak sadarkan diri. Ana meminta Bayu dan beberapa pengawal untuk mengangkat tubuh Risa. Mbah Karso langsung memeriksa kondisi Risa.


"Bagaimana keadaan Risa, Mbah?" tanya Ana.


"Mbak Risa nggak kenapa-kenapa. Mungkin hanya syok," ucap Mbah Karso.


"Ya udah Mbah, terima kasih. Biar saya jagain Risa," ujar Ana.


Malam berlalu, Ana masih berada di dalam kamar Risa sampai terlelap. Jaya bahkan menemaninya dengan duduk di samping Ana. Tiba-tiba, embusan angin kencang datang menghadang ketiganya. Membuat mereka sampai terpental dan jatuh tersungkur saking kuatnya embusan angin.

__ADS_1


"Apa kau tak apa-apa, Ana?" tanya Jaya mengulurkan tangan pada Ana untuk berpegangan padanya.


Dia meminta Ana agar berusaha menguatkan posisi berdirinya dari hempasan angin yang tiba-tiba berhembus kencang tadi. Sementara itu, Risa yang baru saja terjaga mulai panik dan agak takut.


"Jangan takut, Ana. Kamu tenang saja. Kamu jangan panik!" pinta Jaya yang berusaha berjalan lebih dulu di hadapan Ana.


Pasalnya, mereka kini tidak sedang berada di kamar Risa. Mereka tiba-tiba saja ada di tengah hutan yang lebat dan gelap pekat.


"Ini di mana?" tanya Ana.


"Aku rasa kita masuk ke alam gaib," tukas Jaya.


Tidak lama kemudian, keadaan berangsur membaik dan kembali seperti semula. Seketika angin pun berhenti dan langit yang gelap itu pun menjadi cerah.


"Alam gaib sebelah mana? Masuknya dari mana coba? Masa kena tiupan angin aja masuk ke alam gaib?" sungut Ana.


Ana menoleh pada Risa yang masih berdiri menatap ke arah Jaya. Tubuhnya gemetar saat mengamati sosok pocong itu. Jaya juga sadar kalau dirinya sedang diamati oleh Risa.


"A-ana, apa itu Jaya?" tanya Risa.


"Hah? Kamu bisa lihat Jaya?" Ana balik bertanya.


"Wah, jangan-jangan gara-gara kamu masuk ke kuburan Laras, kamu jadi bisa lihat makhluk astral," ucap Ana.


Namun, tak lama kemudian, ada gumpalan awan hitam yang pekat datang menghampiri. Perlahan-lahan asapnya menguap dan memunculkan sosok makhluk menjijikkan. Tubuh dengan kulit berbintil dan berkeriput itu memakai baju compang-camping. Terlihat hidungnya lancip bagai nenek sihir, gigi tajam tak beraturan, dan bau anyir bercampur darah benar-benar membuat siapa pun akan bergidik melihat atau dekat-dekat dengannya.


"Kamu siapa? Apa kamu yang membawa kami ke sini?" tanya Ana mengerutkan kening.


"Halo, selamat datang di alam lelembut. Kalian jangan panik, ya! Tenanglah dan ikuti aku!" Sosok nenek keriput itu menyeringai.


Ana menatap Jaya dan Risa bergantian. Sepertinya, mereka memang harus mengikuti sosok nenek berbintil itu. Setelah beberapa menit berjalan, di hadapan mereka tampak sebuah istana besar berdiri kokoh di antara tanah lapang yang gersang. Namun, lapangan itu juga dikelilingi pohon- pohon besar.


Saat mendekat menuju istana, suasana sekitar mulai berubah. Di sepanjang jalan yang mengarah ke istana tersebut di samping kiri dan kanan ditumbuhi tanaman bunga-bunga beraneka ragam warna yang mengeluarkan aroma harum semerbak.


"Apa kau nenek sihir?" tanya Ana.


"Haha. Aku nenek sihir? Tentu saja bukan," jawabnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka sampai di halaman istana yang megah. Mereka akhirnya melangkah ke arah istana megah tersebut.


"Panggil aku Nyi Siti, bukan nenek sihir," tukas nenek tua itu.


"Baiklah, Nyi Siti. Ummm, saya penasaran apa itu sebuah istana?" tanya Ana.


Nenek itu mengangguk. Saat pintu besar istana itu terbuka lebar, muncullah seorang penjaga menyapa.


"Selamat datang di istana Raja Harun." Sosok itu tersenyum penuh kehangatan.


"Ayo, kita masuk ke sana!" sambung sang nenek seraya mengajak Ana dan lainnya untuk segera mendekati istana megah itu.


"Tapi–" Ana berusaha menolak.


"Sudahlah, kau jangan khawatir!" potong Nyi Siti yang melangkahkan kedua kakinya untuk segera mendekati bangunan yang berdiri megah di sekitar padang rumput yang membentang luas itu.


Jaya tidak banyak bicara lagi, ia pun meminta Ana dan Risa untuk segera melangkah mengikuti sosok nenek peyot itu. Meskipun dalam pikirannya diselimuti berbagai pertanyaan dan kecemasan.


Setibanya di depan pintu gerbang istana tersebut, ketiganya sudah disambut dengan para pengawal istana yang lain itu.


"Apa ini yang diinginkan Raja Harun?" Seorang pengawal bertubuh kekar tetapi memiliki bulu seperti genderuwo, menyambut kedatangan Ana dan yang lainnya.


Para pengawal itu tampak berpenampilan mengerikan, wajahnya seperti hantu berambut gimbal dan bertaring serta


mempunyai warna kulit berburu dan kehitam-hitaman. Mereka merupakan kaum Jin. Dan sudah dapat dipastikan kalau Ana dan yang lainnya berada di alam Jin.


Di belakang pengawal itu, pintu gerbang berderit kencang seiring dengan terbukanya pintu gerbang istana tersebut. Tampak beberapa prajurit jin yang lain dan sudah bersiap siaga dengan memegang berbagai persenjataan di tangan mereka.


"Waduh, tambah banyak aja. Kampret banget, nih!" gumam Jaya.


Di belakang para prajurit jin itu ada sesosok pria yang tubuhnya lebih besar dengan bermahkotakan emas. Dia mengenakan jubah kebesaran dari kerajaan. Dari penampilannya, sosok tersebut pastinya pimpinan para prajurit jin tersebut. Bahkan Ana yakin dia sang raja di istana itu.


"Selamat datang di istanaku!" seru makhluk yang mengenakan mahkota itu. Ia tersenyum lebar dan tertawa menelisik ke arah Ana dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Tak sia-sia aku mengundang kamu ke sini," ucapnya hendak meraih tangan Ana dan mengecup punggung tangan wanita itu. Akan tetapi, Jaya menepisnya.


"Jangan sentuh istriku!" ancam Jaya.

__ADS_1


...******...


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2