
Bab 57 DPT
Mbah Karso dan Panji saling menatap satu sama lain. Lalu mereka menyeret Wahyu mendekat ke arah jembatan tua tempat Iblis Rahwana itu muncul. Mbah Karso tampak menarik sosok hitam itu. Wahyu sangat terperanjat kala melihat sosok raksasa yang sangat menakutkan itu. Raut wajah Mbah Karso juga berubah menjadi gelap.
Perlawanan Wahyu terhadap Iblis Rahwana dimulai. Terlihat pria itu sangat kelelahan dan kesulitan dalam menghadapi sosok iblis tersebut. Pada akhirnya Wahyu kalah. Pria itu tewas di tangan sang iblis. Peristiwa itu menandakan kalau Wahyu berdusta. Dia bukan darah daging dari Raja Sumardjo, keturunan murni Mangkulangit. Mbah Karso lantas meminta semuanya untuk bersembunyi sampai Iblis Rahwana itu pergi.
...***...
"Apa yang terjadi?" tanya Ana pada Jaya saat suaminya itu kembali.
"Dia bukan saudara tiriku. Dasar pria sialan! Berani-beraninya dia membohongi kita dengan mengaku sebagai anak dari ayahku," ucap Jaya sangat kesal.
"Maksudnya? Dia bukan anak ayahmu? Itu artinya dia kalah? Dia tak bisa menyegel Iblis Rahwana?" tanya Ana.
Jaya mengangguk dan berkata, "dia bahkan tewas di tangan iblis tersebut."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ana.
"Minta Risa untuk menemui Raja Harun. Kita minta solusi melawan Iblis Rahwana!" titah Jaya.
Ana lantas menitipkan Rama pada Bayu. Dia bergegas bersama Jaya dan Risa menemui Raja Harun di alam gaibnya.
“Kita harus mengadakan upacara sihir pada malam ini. Namun, hal pertama yang harus kita lakukan yaitu merekrut dua manusia yang telah meninggal baru-baru ini. Saya ingin menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka,” ucap Raja Harun.
Setelah itu, Raja Harun meminta para pelayannya untuk mempersiapkan barang-barang yang kerap digunakan untuk upacara ritual sihir. Jaya menatap sungai penuh kecemasan.
"Apa cara ini akan berhasil?" tanya Jaya.
"Aku akan mencobanya. Jika cara ini tidak berhasil, itu artinya aku yang akan melawan Iblis Rahwana," ucap Raja Harun.
"Bagaimana jika kau kalah?" tanya Jaya.
__ADS_1
Raja Harun hanya tersenyum. Jaya menarik tangan Raja Harun.
"Katakan padaku! Bagaimana jika kau kalah?!" seru Jaya.
"Itu artinya aku sudah musnah," lirihnya.
"Kau musnah? Sebaiknya jangan korbankan dirimu demi kerajaanku," ucap Jaya.
"Aku hanya sedang melindungi Risa," ucap Raja Harun melayangkan senyum lalu bersiap melakukan ritual sihirnya.
"Boneka apa itu?" tanya Ana pada Raja Harun.
Raja Harun lalu menjelaskan tentang boneka yang mirip boneka santet tersebut. Boneka santet atau sering juga dikenal dengan nama boneka voodoo, adalah sebuah boneka yang terbuat dari karung goni atau kain perca, dan dibuat sedemikian rupa supaya mirip dengan orang yang dijadikan sasaran.
Bagian-bagian pada boneka ini biasanya dilengkapi dengan aksesoris yang berasal dari orang aslinya, misalnya rambutnya diambilkan dari rambut orang yang incar, pakaian, atau pun aksesoris lainnya. Intinya, ilmu boneka santet harus bisa merepresentasikan orang yang asli, supaya bisa bekerja. Namun, boneka milik Raja Harun bukanlah boneka santet. Boneka tersebut akan digunakan untuk menangkap hantu korban Iblis Rahwana.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Jaya.
Ana dan Risa diminta menjauh. Raja Harun sedang mencoba peruntungannya mengendalikan arwah yang terakhir dihabisi Iblis Rahwana yaitu Wahyu. Arwah pria itu sempat menghilang sebelumnya. Namun, setelah itu tak terjadi apa pun pada boneka itu. Raja Harun masih saja terdiam sampai dia menanyakan hal yang sama. Akhirnya dia selesai dan berdehem.
"Tunggulah sampai tengah malam, baru boneka ini akan bereaksi," ucap Raja Harun.
"Tengah malam? Kenapa harus tengah malam?" tanya Jaya lagi.
"Ritual sihir ini memang harus dilakukan pada tengah malam tepat pukul dua belas, Pangeran Jaya," jawab Mbah Karso.
"Kenapa harus seperti itu, ya?" tanya Ana yang juga mulai penasaran.
"Karena jam dua belas malam adalah waktu terbaik untuk para hantu berkeliaran. Dan sekarang belum waktunya," ucap Raja Harun yang masih terlihat tenang dan untuk sementara tidak terburu-buru.
Ana dan Risa diminta untuk memeriksa tumpukan barang untuk upacara ritual pemanggilan arwah. Setelah Raja Harun memastikan barang-barang sihir itu sudah siap dan lengkap, ia meraih satu cawan emas yang ditutupi kain hitam.
__ADS_1
Cawan emas itu diletakkan di atas meja kecil berbentuk lingkaran. Jaya sempat melirik apa isi dalam mangkuk itu. Raja Harun lalu mengeluarkan kaki ayam hitam yang terendam darah hitam ayam itu sendiri. Ana dan Risa diminta untuk duduk di sebuah ruangan dan diminta membuat boneka kain kembali. Tujuannya agar mereka tak fokus dan tak menyadari jika nanti Raja Harun akan pergi melawan Iblis Rahwana.
"Aku tak mengerti kenapa banyak sekali benda ini? Bahkan ada kaki ayam hitam juga. Padahal kau bilang kita hanya butuh boneka ritual ini untuk menangkap hantunya Wahyu yang entah mau kau apakan. Jadi untuk apa ini semua?" tanya Jaya.
"Saya tahu upacara ini hanya menggunakan boneka untuk merekrut hantu, tapi benda-benda ini sangat penting. Kita harus menghormati para arwah sebelumya," ucap Raja Harun.
"Menghormati para arwah sebelumnya? Yang benar saja! Si Wahyu ini bahkan tadi mencoba menipuku dan semua anggota kerajaan. Dia bilang dia anak ayahku, nyatanya bukan. Akhirnya dia mati juga kan di tangan Iblis Rahwana," ucap Jaya.
"Dia memang tidak baik awalnya. Tapi, sebenarnya para hantu itu sama dengan kita manusia. Kalau kau ingin dihormati, maka begitu juga dengan para hantu tersebut," imbuh Raja Harun.
"Huh, tetap saja aku masih merasa kesal," sungut Jays.
"Jika para hantu merasakan penghormatan dari kita manusia, maka mereka akan menghormati kita. Jika mereka tidak menerima barang-barang ritual ini, maka mereka juga akan menahan diri untuk bertemu dengan kita dan membantu kita nantinya," jelas Raja Harun.
"Huh, sombong amat udah jadi hantu aja juga pada gila penghormatan," ucap Jaya.
"Bukankah kau juga hantu yang ingin dihormati?" Raja Harun tertawa.
"Hah? Aku masih hidup, ya! Aku hanya masih tak percaya dengan hal semacam ini. Apalagi kata-kata mu barusan yang bilang kalau para hantu itu akan menahan diri dengan tak mudah untuk menurut," kata Jaya.
"Ini saatnya. Aku akan mengikat dua arwah korban Iblis Rahwana dan menyatu dengan aura mereka untuk melawan iblis tersebut," ucap Raja Harun.
"Tapi bagaimana nanti … ah sudahlah! Pastikan saja kau kembali dengan selamat!" Jaya memeluk Raja Harun seketika.
Dia merasa raja jin di wilayah Pulau Garuda itu sudah menjadi sahabatnya. Sahabat yang baik. Jaya ingin saat dia kembali menjadi raja yang adil bijaksana dan memiliki kekuatan dalam mempertahankan kerajaannya nanti, Raja Harun akan berada di sisinya untuk mendampinginya menjaga wilayah kerajaan.
"Pastikan kau kembali!" seru Jaya pada Raja Harun.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See u next chapter!...