
Bab 109 DPT
Panji yang terkena hantaman Risa, lantas menarik wanita itu dan membenturkannya ke batang pohon besar.
"Halo, Mbak Risa! Mas Panji apa belum bilang ke Mbak Risa, kalau sebaiknya dia menurut dan tunggu di mobil saja?" Sosok Widi muncul dari balik pohon dan tersenyum meledek Risa.
Risa tampak lemas dan tak berdaya, tetapi masih bisa melihat jelas wanita yang sedang menertawakannya itu.
"Kamu urus dia! Biar aku kejar anak tadi!" titah Panji.
"Anak kecil begitu paling bisa sampai mana, Mas, Mas. Dia pasti tersesat, udah tenang aja," ucap Widi.
"Kamu yakin?" Panji mengucap tak percaya.
Widi mengangguk. Lantas ia menarik rambut belakang Risa sampai Risa menjerit.
"Masih ingat saat kamu menantangku tempo hari? Masih ingat saat kamu mempermalukan aku, Mbak Risa?" tanya Widi menarik kepala belakang Risa.
"Cuih! Kamu memang pantas dipermalukan! Wanita iblis!" Risa menghadiahi Widi dengan semburan air liur yang bercampur darah.
Kala menghantam batang pohon tadi, Risa sempat memuntahkan darah segar.
"Kurang ajar!"
Widi menusuk pinggang Risa dengan sebuah pisau lipat di tangannya. Risa berteriak sekuat tenaga seraya berlinangan air mata. Wanita sadis itu bahkan mengoyak perut Risa kemudian dengan sangat mengerikan.
"Ayo, kita tinggalkan dia di sini! Biar dia nikmati detik-detik ajal yang akan menjemputnya," ucap Widi.
Risa sayup-sayup melihat Widi dan Panji pergi. Tubuhnya menggigil, dingin, dan kelopak matanya mulai berat. Dadanya terasa sesak. Dan perlahan kemudian, ia tak bisa lagi meraup oksigen di sekitarnya.
"Maafkan aku, Na, maaf aku harus pergi," batinnya lalu kedua matanya itu terpejam seiring napas yang terhenti.
***
Di rumah sakit tempat Ana dirawat.
Ana dan Jaya masih menatap tak percaya seraya menangis. Panji memberikan video tentang pembantaian di depan rumah Bu Yayah. Mereka tak percaya kalau harus kehilangan Bayu terutama.
"Di mana anakku? Di maba ibuku?!" seru Jaya.
"Risa dan Rama juga di mana?!" pekik Ana.
"Kalau kalian mau mereka selamat, maka kalian harus menurut. Ayo, kembali ke istana!" ajak Panji.
Ingin rasanya Jaya memukul pria sialan itu, tetapi Ana menahannya.
__ADS_1
"Kita ikuti kemauannya," lirih Ana.
"Tapi, Sayang … kamu masih lemah!" tukas Jaya.
"Aku kuat, kok, kita hadapi ini bersama!" sahut Ana.
Panji tertawa, "Baiklah kalau begitu, aku akan mengurus administrasi rumah sakit ini. Aku akan bilang kalau kamu ingin pindah rumah sakit. Ide yang bagus, bukan?" Panji segera melangkah keluar.
Namun, langkah Panji terhenti di daun pintu. Pria itu lantas mengancam Jaya dan Ana, "Ingat, jangan coba-coba kabur atau mereka mati!"
Selepas kepergian Panji, Ana masih menangis mengkhawatirkan keadaan putranya, Risa, Rama, dan Ibu Melati.
"Aku janji, aku akan menyelamatkan mereka." Jaya memeluk Ana dengan erat.
Selepas sepuluh menit menunggu, seorang suster yang menjadi kaki tangan Panji datang. Ia melepas selang infus yang tertancap di punggung lengan Ana. Lalu, ia meminta Ana untuk berganti pakaian.
Tak alam kemudian, Panji datang dan meminta Ana serta Jaya untuk bergegas. Panji meminta keduanya untuk mengikutinya menuju sedan hitam yang berada di parkiran.
***
Sesampainya di istana Kerajaan Garuda, beberapa abdi dalam menjemput Ana.
"Di mana anakku?" Ana mulai panik.
"Tenang saja, Ratu Ana, mereka akan membawamu menuju ke putramu itu," sahut Panji.
"Itu tak akan terjadi, Paduka Raja." Panji menepis tangan Jaya, "Ikuti aturanku di sini jika ingin semua berjalan sesuai rencana yang kau inginkan.
Ana mencoba menenangkan Jaya, "tenanglah, kita ikuti kemauannya demi Anjaya dan semuanya."
Dua abdi dalam, lantas membawa Ana menuju ke kamarnya. Sementara Panji membawa Jaya menemui Mbah Karso.
Ana menarik napas dalam ketika sampai di kamarnya. Dia amati kembali tempat memuja cinta bersama Jaya. Sesungguhnya Ana merindukan kamar tersebut.
Ana meminta para abdi dalam untuk membuatkannya dua minuman teh manis dan juga air hangat untuk mandi. Jadi, ketika Jaya berada di kamar itu, maka salah satu minuman teh manis itu sudah didinginkan dan dimasukkan ke dalam lemari es. Jaya sangat suka es teh manis.
Ana membuka jendela belakang yang memperlihatkan kebun. Wilayah yang memang terkenal angker saat itu. Namun, Ana sudah biasa meskipun masih saja ada suara-suara menyeramkan, atau benda-benda digerakkan, atau malah ada sosok hantu yang lari-larian di kebun belakang. Akan tetapi mereka tak pernah berani menampakkan diri. Toh, Ana merasa tidak masalah.
Ana menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, ia mendengar suara tangisan seorang wanita yang ada di dalam kamar mandi.
"Risa? Kok bisa ada di kamar mandi aku?" tanya Ana.
Risa yang tengah meringkuk di sudut kamar mandi, mendongakkan kepalanya. Ia segera menghamburkan diri untuk memeluk Ana.
"Maafkan aku, Na, maafkan aku." Risa terisak.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kan, Sa?" tanya Ana.
"Maaf aku tidak bisa menjaga Anjaya dengan baik. Maaf kan aku," ucap Risa.
"Jaya baik-baik saja, kan, Sa? Ya udah kalau gitu nggak usah khawatir. Aku malah sedih karena kehilangan Bayu." Ana mulai menitikkan air matanya.
"Iya, hiks hiks. Dia mengorbankan dirinya untuk menolong Anjaya," sahut Risa.
"Kamu keluar dari sini dan cari tahu di mana Anjaya berada, ya," pinta Ana seraya membuka pintu, tetapi pintu kamar itu ternyata dikunci.
"Oh, tidak! Mereka sengaja mengunci aku rupanya," lirih Ana.
"Sekali lagi maaf ya, Na. Aku tidak bisa menolongmu," ucap Risa seraya terisak.
"Nggak apa, Sa. Beneran nggak apa-apa." Ana memeluk Risa.
Ana merasakan tubuh sahabatnya terasa dingin. Namun, pikiran buruk itu langsung Ana tepis. Dia tak mau berpikir yang macam-macam tentang Risa, yang pasti dia tak akan rela kehilangan Risa.
Ana yang kelelahan akhirnya terlelap setelah Risa memintanya untuk istirahat.
...***...
Suara seseorang yang sedang membuka kunci terdengar di kamar Ana. Risa mengguncang tubuh Ana agar bangun.
"Siapa yang datang, Sa?" bisik Ana.
"Aku juga nggak tau," sahut Risa.
Seorang wanita memasuki kamar Ana, melangkah masuk dengan yakin seraya tersenyum. Ana dan Risa terperanjat ketika melihat wajah yang sangat mereka kenal itu.
"Mbak Widi!" pekik Ana dan Risa bersamaan.
"Biasa aja, dong! Nggak usah ngomong kenceng sama saya. Apa kamu nggak kangen sama aku?" Widi duduk di samping Ana.
"Kamu harusnya sudah mati, kan? Jadi Panji tidak menghukum mati kamu, dia malah menyelamatkanmu, ya kan?" selidik Ana.
"Tepat sekali!" Widi menjentik tangan Ana.
Widi yang ternyata masih hidup, lantas menceritakan bagaimana mereka menyekap Ratu Melati dan bayinya Ana. Widi juga mengaku telah menusuk Ratu Melati. Wanita itu dengan bangga menceritakan kejahatannya bersama Panji dan Mbah Karso.
"Harusnya tadi kau salam perpisahan dulu, kenapa percaya begitu saja pada Mas Panji dan Mbah Karso, hahaha. Mereka hanya butuh darah keturunan Mangkulangit. Dan sisanya tergantung belas kasihan Mbah Karso mau membiarkan Raja Jaya hidup atau membuatnya mati perlahan. Sangat menyenangkan hihihi," tukas Widi.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...