
Bab 65 DPT
Sosok hantu perempuan sudah menunggu di dalam cermin yang ada di kamar Ana. Sosok hantu itu adalah si kuntilanak yang sempat melihat Jaya tadi.
"Ketemu!" tuturnya yang sumringah melihat Jaya.
"Kampret!" sungut Jaya yang lalu menoleh pada Ana dan bersembunyi di balik punggung suaminya.
"Akhirnya, aku menemukanmu Mardjo!" serunya.
"Hah? Mardjo? Maksudnya Sumardjo Mangkulangit, Raja Garuda?" tanya Ana.
Pria di belakangnya itu masih ketakutan melihat sosok perempuan mengenakan daster putih dengan rambut panjang terurai sampai selutut. Kepala hantu wanita itu mengangguk.
"Kamu siapanya ayah saya?" tanya Jaya menunjuk si hantu dari belakang tubuh Jaya.
"Heh, tunjukkan dong kalau kamu pemberani," tegur Ana.
"Ini aku lagi coba memberanikan diri," ucap Jaya.
Risa dan Bayu yang sedang membersihkan sprei di kamar Bayu lalu akan berlanjut ke kamar Ana lantas mendengar pembicaraan Ana, Jaya, dan sosok kuntilanak tersebut. Keduanyq lantas menghampiri kamar Ana.
"Ada apa ini? Astagfirullah ada setan!" seru Risa yang kompak menahan langka dengan Bayu.
"Dia bilang dia kenal Raja Sumardjo. Dia pikir kalau Jaya itu Raja Sumardjo," ucap Ana.
"Hah? Kenalan Raja Sumarjo, kok bisa?" tanya Risa.
Ana mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
"Ini kenapa pada bisa lihat saya, ya?" Sosok kuntilanak itu menangis dan menunduk saat datang. Ia menutupi wajahnya dengan rambut.
"Itu kenapa lagi coba?" tanya Risa.
"Saya malu," lirih hantu wanita itu.
"Kenapa malu?" tanya Ana.
Hantu wanita itu lantas mengangkat wajahnya dan memperlihatkan luka sayatan melintang di wajah. Luka itu berongga penuh darah dan nanah sampai memperlihatkan tulang pipinya.
"Astagfirullah, pantes aja mukanya gitu," ucap Ana yang menutup wajahnya seketika.
Risa juga melakukan hal yang sama. Sementara Bayu sudah bersembunyi di balik ranjang.
"Pantes aja dari tadi mukanya ditutupi rambut," lirih Jaya.
"Kalau Mbak malu jangan memperlihatkan diri seperti itu. Mbak kunti harus percaya diri. Percayalah semua wanita itu cantik," ucap Ana tiba-tiba.
"Gesrek nih sih Ana," bisik Risa.
Bayu mengangguk.
"Tapi, ini daya tarik saya buat nakutin manusia di sekitar hotel sini. Ummm, tapinya juga kalau ternyata ada manusia manusia yang bisa lihat saya dan biasa aja kayak kalian gini, saya jadi nggak pede. Kalian pasti mau ngatain saya kayak si tuyul tadi," ucap hantu itu seraya terisak dan kembali menunduk.
"Oh, si tuyul yang bego tadi? Ah, dia mah nggak ada apa-apa nya dibanding Mbak Kunti," ucap Ana.
__ADS_1
"Na, kamu lagi hamil jangan ngatain sembarangan nanti bayinya mirip, loh," ucap Risa.
"Astagfirullah! Amit-amit jabang bayi. Maafin Mami ya Anjaya. Kamu mah ganteng kayak Papi Jaya," ucap Ana seraya mengusap perutnya berkali-kali.
"Papi?" tanya Jaya.
"Iya, biar keren aja Mami sama Papi," ucap Ana.
"Biarin aja Jaya biar dia seneng," ucap Risa.
Jaya akhirnya mengangguk.
"Eh iya, gimana bisa kamu kenal sama ayah saya?" tanya Jaya lagi.
"Kami pernah sekolah bareng," sahutnya.
"Sekolah bareng? Di mana?" tanya Jaya lagi.
"Di sekolah dukun punya Mbah Rano Karno," sahutnya lagi seraya tertawa dan menyisir rambutnya berkali-kali ke samping.
Ana dan Risa saling menatap lalu tertawa bersamaan.
"Kalian kenapa, sih?" tanya Bayu.
"Lucu nama dukunnya Rano Karno kayak bintang film terkenal. Terus sekolah dukun, hahaha," sahut Ana.
"Ayah saya sekolah dukun?" tanya Jaya tak percaya.
"Iya, kami sekolah dukun buat memperdalam ilmu kebatinan dan ilmu kanuragan. Aku pikir Mardjo bohong saat mengaku keturunan raja, ternyata kalian bilang dia ayah kamu itu Raja Sumardjo, Raja Garuda. Tau gitu dulu aku mau pas diajak ikut dia ke kampungnya. Duh, kalau dinget-inget, aku bisa tuh dulu jadi ratu di Kerajaan Garuda," ucapnya weraua terkekeh.
Risa dan Ana menatap sinis pada si hantu kuntilanak.
Jaya juga penasaran dan berkata, "ceritain waktu kamu sama ayah saya sekolah dukun juga, dong!"
Hantu perempuan itu menunjuk kursi di samping cermin. Ia meminta Bayu untuk menyerahkan padanya. Risa segera menarik Bayu.
"Turutin, Bay, daripada nanti kamu digangguin," ucap Risa.
Bayu akhirnya menurut dan mempersilakan kuntilanak itu untuk duduk di kursi yang disiapkan untuknya. Ana dan Jaya sudah duduk di atas ranjang. Risa juga menyusul dan meminta Bayu untuk duduk di sampingnya juga.
"Siapa nama kamu tadi?" tanya Ana.
"Nama saya, Tantri. Saya dan Mardjo berguru dengan Mbah Rano Karno, Eyang Rano nama tenarnya."
Tiga puluh tahun yang lalu, Tantri dan Raja Sumardjo maisu berusia dua puluh lima tahun. Mereka sama-sama dipertemukan saat mencari padepokan perdukunan, atau sekolah dukun.
Nama Mbah Rano Karno begitu mentereng sebagai dukun ilmu hitam yang sakti. Kenapa harus mencari dukun ilmu hitam? Karena menurut kakeknya Jaya, ilmu hitam banyak ditebar untuk menggulingkan pemerintahan. Ilmu yang dikirimkan itu akan membunuh tanpa menyentuh sehingga menghilangkan jejak dan bukti untuk dicari.
Banyak pasien dari pelosok negeri berbondong-bondong datang ke tempat praktiknya Eyang Rano. Pria yang berusia seratus tahun lebih tetapi masih terlihat gagah seperti masih berusia lima puluh tahun itu, membuka praktik ilmu hitam di rumahnya sendiri.
Rumah bergaya Rumah Joglo. Halamannya luas dengan banyak pepohonan buah seperti durian, rambutan, bahkan pohon nangka yang di atasnya banyak bersemayam hantu kuntilanak, anak buahnya Eyang Rano. Bangunan itu tepat di seberang hotel tempat Ana dan lainnya menginap. Bangunan yang sudah kuno dan lama ditinggalkan tadi.
Eyang Rano juga memiliki jin-jin yang mungkin usianya lebih dari seribu tahun. Mereka siap diperintah untuk menjalankan aksinya mengirimkan teluh atau menangkal teluh bagi para pasiennya.
Eyang Rano menjalani banyak ritual karena dia bertekad menjadi dukun ilmu hitam paling sakti di dunia. Pria itu sebenarnya memiliki latar belakang pengalaman buruk yang ia lalui di sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, Eyang Rano bertekad sekuat hati untuk mengobarkan api amarahnya dengan cara menyebarkan teluh demi membawa dendam yang selalu menyelimuti jalan hidupnya.
__ADS_1
Ana meminta Risa memesan makan malam karena sembari mendengarkan ceritanya Tantri, sepertinya enak jika dibarengi dengan makan malam. Akhirnya Risa menghubungi lobby hotel untuk memesan makanan. Bayu juga tak lupa ikut memesan kopi pada Risa.
"Saya juga minta kopi pahit," sahut Tantri.
Risa menoleh, "lah ngelunjak ini setan. Kamu juga mau kopi pahit, Jay?" tanya Risa.
"Boleh tuh, pesen aja!" sahut Ana.
Jaya juga mengangguk.
"Dih, aneh," sungut Risa tetapi menuruti semua permintaan pesanan kala itu.
"Terus si Eyang Rano tadi gimana lanjutannya?" tanya Ana.
Tantri lantas melanjutkan lagi ceritanya. Eyang Rano pergi ke Bukit Emas katanya. Dia bahkan pergi ke bukit tersebut untuk mencari makhluk halus yang terkenal kuat di sana. Bahkan Iblis Rahwana juga berasal dari sana. Setelah sekian banyak makhluk halus yang berusaha mengganggu Eyang Rano, hatinya bergidik ketika ada iblis perempuan yang datang. Dia bernama Sekarpati yang datang menghampiri.
Di sekujur tubuh Sekarpati ada kobaran api dengan pendar cahaya merah menyala-nyala yang mampu menyapu pohon-pohon di sekitar sehingga ikut berayun, bahkan tak sedikit yang terbakar. Awalnya Eyang Rano terlihat takut di dalam hatinya. Dirinya mencoba bertahan menahan perasaan
Sekarpati mengubah wujudnya dengan menjadi seorang wanita cantik. Mereka malah melakukan hubungan terlarang untuk melakukan komunikasi batin, dan menuntun Eyang Rano pada sebuah perjanjian yang nantinya berujung maut. Namun, Eyang Rano sudah bertekad akan bertahan. Dia siap menjadi seorang hamba yang setia pada iblis wanita tersebut di dunia hingga ia mati nanti.
"Tunggu dulu, Sekarpati? Itu siapanya si Rahwana? Jangan-jangan bestie nya lagi," celetuk Ana.
"Rahwana? Sepertinya aku pernah mendengarnya. Oh iya, Mardjo ingin memiliki iblis tersebut," ucap Tantri.
"Lanjut dulu cerita si Eyang Rano, siapa tau ternyata dia yang kirim santet ke aku," sahut Jaya.
Tantri lantas melanjutkan kisah Eyang Rano yang ia ketahui. Iblis Sekarpati memiliki aura berupa api yang berwarna merah dan berpendar di sekitar tubuhnya. Dia menjadi sekutu dari Eyang Rano yang terbilang paling kuat di antara makhluk lain di tempat itu. Sekarpati menurunkan ilmu hitam kepada Eyang Rano yang membuatnya menjadi dukun terkuat semasa hidupnya.
Berkat kemampuan sakti itu, Eyang Rani membuka praktik perdukunan dan sekolah dukun yang terbilang mahal. Kesaktiannya membuat dia dibanjiri pasien yang puas akan keberhasilannya. Seperti dalam praktik pesugihan, walaupun harus menandatangani kontrak dengan mahar yang terbilang mahal, toh para pasien bersedia menerimanya.
Mahar pesugihan tersebut dibagi menjadi dua tipe. Ada yang mempersembahkan mahar berupa makanan atau benda seperti buah atau makanan untuk jin. Ada juga berupa kuningan yang diberi darah atau tumbal dari anggota keluarganya pasien.
Tumbal darah ini bisa dalam bentuk janin, atau pun anak balita yang nantinya ketika janin itu terlahir akan menjadi anak cacat atau istilah medisnya down syndrome. Biasanya anak itu akan diistimewakan oleh keluarganya karena sudah dijadikan tumbal dan penarik kekayaan bagi keluarganya tersebut.
Praktik pesugihan ini sangat nyata memberikan imbalan, seketika bisa membuat pasien Eyang Rano menjadi kaya mendadak. Padahal, mereka tidak tahu bahwa pesugihan itu asalnya dari harta milik tujuh turunan mereka sendiri.
"Apa ayah aku juga melakukan pesugihan?" gumam Jaya.
"Tapi kamu anak satu satunya dan nggak cacat. Ih amit-amit jabang bayi!" Ana kembali mengusap perutnya berkali-kali.
Ia juga tak habis pikir dengan masih banyaknya orang-orang yang masih saja melakukan praktik pesugihan dan menghalalkan cara serta syarat apa pun yang harus dipenuhi.
"Harusnya mereka berpikir matang-matang sebelum hendak melakukan pesugihan. Dampaknya tidak hanya akan mereka rasakan sendiri. Toh, aku yakin efek dari pesugihan itu akan turun temurun dan dirasakan oleh keturunan setelahnya sampai tujuh turunan," tukas Risa menimpali.
"Bener tuh, Sa. Kasian anak cucunya nanti," sahut Ana.
Tantri melanjutkan kisahnya kalau Eyang Rano punya sisi gelap lainnya. Ia juga melayani praktik aborsi yang sebenarnya bisa saja dilakukan oleh mantri atau dukun bayi biasa. Namun, untuk sarana ritual gaibnya yang membutuhkan janin bayi tersebut, Eyang Rano membuka jasa praktik aborsi ini karena dia bisa memanfaatkan janin untuk memperkuat dan menjadikan kekuatannya lebih sakti.
"Aku korban dari praktik aborsinya yang gagal setelah ia membuatku hamil," ucap Tantri.
"APA?"
Ana, Risa, Jaya, dan Bayu menyahut bersamaan.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...