Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 130 - Sosok Kera Besar


__ADS_3

Bab 130 DPT


"Mbah Karso, buka pintunya!" seru Ana.


Dari dalam kamar itu nyaris terlalu sunyi. Sekejap tiba-tiba jantung Ana berdegup kencang. la merasakan firasat yang buruk tentang semua ini. Ana takut terjadi sesuatu pada Anjaya.


Ana mendorong pintu dengan bagian dari tubuhnya, tetapi ia tak cukup kuat untuk membuat bagian depan pintu bergeming. Ana mulai berlari ke sana ke mari, berharap bisa menemukan sesuatu yang keras untuk menghantamkannya ke pintu tersebut.


Sampai pandangan matanya tertuju pada sekotak penuh benda-benda perkakas yang tergeletak di salah satu ruangan. Ia mengambil palu dan kembali menghantamkannya pada bagian kenop pintu. Dia hantamkan berkali-kali sampai engselnya terlepas juga. Dengan tenaga yang tersisa, Ana terus memukulkannya sampai terdengar suara pasak penyangga terjatuh menimbulkan debaman yang keras.


Ana mendorong pintunya seketika. Ana seketika terhenyak kala melihat sesuatu yang gila. Sosok tinggi, hitam, besar, bertubuh gorila, sedang berjongkok dengan membelakangi dirinya. la sedang melakukan sesuatu yang tak dapat Ana mengerti. Makhluk itu berhadapan dengan tubuh mungil Anjaya yang terbaring di lantai.


Ana terkesiap sejenak, ia tidak pernah melihat makhluk yang seperti ini selain iblis Rahwana dan Raja Jin Utara. Namun, mereka tentu saja tidak seperti dari bangsa yang sama. Meski Ana belum melihat rupa sosok itu, tubuhnya seketika merasakan gemetar yang hebat. Suhu udara di sekelilingnya juga tiba-tiba terasa dingin, membuat Ana hanya bisa diam mematung di belakangnya.


Ana mulai menyadari sesuatu sedang menetes dari atas langit- langit. Wanita itu memberanikan diri dengan beralih mendongakkan wajah untuk melihat ke atas. Pupil matanya melebar, dengan mulut menganga. Di atas langit-langit itu, Ana melihat tubuh Mbah Karso menempel dengan bagian dasa memiliki rongga, berlubang dan meneteskan darah segar. Bau anyir nan amis langsung Ana rasakan menyeruak ke dalam indera penciumannya.


"A-apa, apa yang sedang terjadi ini? Bagaimana bisa Mbah Karso ada di sana dan dia … mati?"


Darah segar Mbah Karso menetes terus menerus jatuh ke atas lantai dan beraroma anyir. Pria tua itu tak bergerak sama sekali. Melihat hal itu, lantas Ana menjerit, memanggil keras nama putranya.


Tiba-tiba, makhluk hitam besar yang selama ini meringkuk membelakanginya menoleh. Ana seketika tersentak memandang wajahnya. Rupa seekor gorila yang tubuhnya seperti manusia itu tersenyum.


Seketika makhluk itu berdiri, ia melihat Ana dengan leher kepala miring, seperti senang dengan kedatangannya. Ana mulai melangkah mundur. Dia benar-benar ketakutan dengan sosok asing yang begitu mengerikan di hadapannya. Namun, ia sempat tertuju melihat ke arah Anjaya yang tergeletak di lantai di belakang makhluk itu.

__ADS_1


"Lepaskan putraku!" pinta Ana.


Meskipun tersudut di tembok bagian lorong, ia tetap ingin menyelamatkan Anjaya dari sosok mengerikan itu. Saat makhluk itu masih berjalan mendekati dirinya, makhluk itu seperti mengatakan sesuatu kepada Ana, tetapi Ana tak mengerti dengan hal ini.


Ana mencoba untuk hanya dapat pasrah melihat tangan besar, gemuk dan berbulu hitam itu ketika sedang menjangkau tubuhnya. Saat itulah sosok Iblis Rahwana muncul bersamaan dengan wujud yang Ana kenal.


Selang waktu, dua sosok mengerikan itu saling memandang satu sama lain. Cukup lama terjadi intimidasi di antara mereka berdua sampai akhirnya Ana tak sanggup menahan lagi. Ana merangkak di bawah dua makhluk itu untuk meraih Anjaya.


Tak lama kemudian, sosok kera besar itu mendekat pada Anjaya. Ia mengusap kepala Anjaya. Sementara Rahwana melangkah mundur. Kedua makhluk itu kembali bertatapan. Lalu, keduanya pergi menghilang meninggalkan tempat ini.


Ana merasakan tubuhnya mati rasa. Untuk berdiri saja, ia sudah tidak sanggup lagi. Namun, ia teringat pada Anjaya dan mencoba menggendongnya. Ana mencoba untuk bangkit sebelum merangkak menuju ke luar ruangan.


Suara berdebam mengejutkan Ana. Suara dari tempat di mana Mbah Karso tubuhnya tadi masih menempel di dinding sebelum akhirnya jatuh menghantam ke lantai. Genangan darah seketika memenuhi isi dalam ruangan tersebut. Dengan wajah tidak percaya, Ana mencoba menengok ke arah tubuh Mbah Karso yang sudah tidak bergerak sama sekali.


Ana terperanjat melihat lubang besar di dada dalam tubuh pria tua itu jelas menganga seperti penyakit yang tidak pernah Ana lihat selama ini. Atau seperti terjangan peluru besi berukuran besar sehingga menimbulkan lubang menganga seperti itu.


Ana mencoba memikirkan setiap detail yang terjadi, mengorek mencari informasi apakah ada yang dia lupakan. Apakah mungkin bila makhluk itu kiriman dari seseorang untuk menghabisi dirinya dan putranya? Tetapi, kenapa Mbah Karso yang tewas? Padahal jelas-jelas musuh besar keluarganya adalah Mbah Karso.


Lalu, apakah karena kekuatan Iblis Rahwana yang ada pada Jaya yang membuat Ana dan Anjaya selalu dalam bahaya dan dikelilingi musuh? Namun anehnya lagi, makhluk yang seperti kera tadi tidak melukai Anjaya sama sekali.


Di tengah ketakutan mendalam Ana melihat jasad tak tertolong Mbah Karso, Ana mendengar suara pedang saling beradu di halaman depan pendopo tersebut. la mendengar suara langkah kaki yang juga mendekat.


"Jaya!"

__ADS_1


"Ana! Anjaya! Kalian nggak apa-apa, kan?" Jaya langsung memeluk istrinya dengan erat.


Jaya memperhatikan detail tubuh Ana, ada luka di dahinya. Satu kaki Ana juga tampak terluka dan mulai kesulitan berjalan. Lalu, dia memperhatikan tubuh Anjaya yang untungnya tak terluka sedikit pun.


"Ada yang mengirim makhluk gaib ke tempat ini, Sayang. Dia membunuh Mbah Karso," ucap Ana.


"Aku tahu. Eyang Setyo sudah memberitahukan semuanya. Dia curiga pada Raja Gagak yang menculikmu. Ternyata Mbah Karso dihidupkan kembali oleh para pembelot itu," ucap Jaya menjelaskan.


"Lalu, makhluk kera besar tadi milik Eyang Setyo? Dia datang menolong Anjaya sampai membuat Mbah Karso mati mengerikan seperti itu," ucap Ana melirik ke arah ruangan tempat pria tua tadi mati.


"Bukan. Dia milik Anjaya," sahut Jaya.


"Apa?! Milik Anjaya?! Tapi, bagaimana bisa?" Rasa pusing dan nyeri yang berdenyut hebat mendera pada diri Ana.


"Sudah nanti aku jelaskan semuanya! Sekarang ini kau harus benar-benar pulih," tukas Jaya.


Burhan dan Risa datang mendekat. Risa langsung memeluk Ana. Dia bahkan menangis ketakutan karena tak ingin terjadi sesuatu mengerikan pada Ana.


"Para pembelot sudah dilumpuhkan, Paduka Raja! Eyang Setyo meminta kalian bergegas pergi dari tempat ini karena akan segera dihancurkan!" ucap Burhan.


"Baiklah kalau begitu siapkan kendaraan untuk istri dan anakku. Kita pergi dari tempat ini sekarang!" titah Jaya.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2