Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 87 - Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Bab 87 DPT


Bus yang Ana tumpangi tiba-tiba terjebak kemacetan parah. Terjadi kecelakaan di ruas jalan depan mobil yang mereka tumpangi. Beberapa kendaraan di belakangnya memperlambat laju bahkan sengaja berhenti hanya untuk menonton dan bukannya berniat untuk membantu.


"Ini apa, sih? Kok, bisa macet?" keluh Risa yang tak tahan dan akhirnya turun dari bus tersebut. Bayu menyusul Risa kemudian.


"Ada kecelakaan mobil di depan sana!" kata Jaya setelah sudah memuaskan rasa penasarannya lebih dulu.


"Aku males, ah. Aku nggak mau kepo," ucap Ana yang takut jika bertemu para hantu dari korban kecelakaan tersebut.


Risa dan Bayu lantas berlari menuju bis untuk menemui Ana dan Jaya. Wajah mereka pucat pasi.


"Parah, Na!" seru Risa.


"Iya, parah banget!" sahut Bayu menimpali setelah melihat kecelakaan tersebut.


"Ada kecelakaan apa memangnya?" tanya Ana.


"Ada mobil kontainer nabrak banyak motor sama mobil. Mana deket sekolahan! Ih, pokoknya serem banget tadi lihatnya," ucap Risa.


"Banyak korban, dong?" tanya Ana.


"Kayaknya banyak deh, Na. Mana tadi aku lihat ada yang nabrak tiang listrik terus ketimpa mobilnya sampai bagian depannya ringsek," ucap Risa.


"Bentar, Sa. Jangan terusin ngomongnya. Kalian cium bau sesuatu, nggak?" tanya Ana seraya mengendus.


Ana mencium bau anyir darah segar yang semerbak menusuk rongga hidungnya. Aroma busuk itu sampai membuat perutnya terasa mual seolah hendak memaksa isi perut keluar dari dalamnya.


"Eh iya loh, bau apa ini, ya?" tanya Risa seraya ikut mengendus sampai ke ketiak Bayu.


"Heh, emangnya aku bau apa?!" sungut Bayu.


"Ho oh, Yu. Bau bau dikit kamu," ucap Risa seraya terkekeh.


"Heh, kalau ngomong sembarangan aja, nih!" Bayu mengeluh kesal.


"Dih, baunya kayak darah amis gitu," ucap Ana.


"Aku nggak cium bau apa pun, kok," sahut Jaya.


"Masa sih? Tapi ini kayaknya tambah bau soalnya–" ucapan Ana terhenti kala melihat ke arah samping bus dekat jendelanya.


Ana memberi kode dengan lirikan mata ke samping jendela nya. Hawa dingin yang membuat bulu kuduknya meremang langsung terasa. Risa dan Bayu saling menatap begitu juga dengan Jaya. Ana memberi kode untuk menunduk. Namun, hantu yang dilihat Ana malah masuk ke dalam bus.


Risa melihat sepatu kets berwarna merah sudah tersobek di beberapa bagian seperti habis terseret dari aspal. Kaki dan tangannya memar lebam dengan ruas jari yang menampakkan tulangnya berwarna putih. Sosok perempuan muda itu berwajah pusat pasi dengan tubuh penuh luka, nanah dan juga darah masih mengucur dengan segarnya. Hantu itu berdiri di samping Risa.

__ADS_1


"Duh, ini kenapa malah pindah di samping aku, sih?" lirih Risa yang lantas merasa kedua lututnya gemetar saat mencoba berpindah tempat untuk duduk.


"Kalian bisa lihat saya, kan?" tanya hantu perempuan muda itu.


Tak ada yang menjawab karena Bayu dan Risa pura-pura sibuk menghitung jendela bus. Sedangkan Ana sibuk menepuk nyamuk yang sebenarnya tak ada di dalam bus itu. Hantu perempuan itu lantas berpindah menghadap Jaya.


"Mereka bisa lihat kita, kan?" tanya hantu itu.


Jaya menggeleng lalu melompat ke luar bus untuk sementara menghindar saja daripada nanti membuat Ana susah.


"Mbak, duitnya jatuh tuh!" Hantu perempuan itu tak hilang akal dia menunjuk ke arah kaki Risa.


Sontak saja Bayu dan Risa menoleh ke bawah.


"Mana duitnya, Yu?" tanya Risa.


"Hadeh… kalau soal duit kenapa radar kamu kenceng, Sa?!" gumam Ana.


"Nah, benar kan kalian bisa lihat saya. Ayo, saya mohon tolong saya," pintanya.


"Gimana cara nolongnya?" tanya Ana akhirnya.


"Duh, repot deh kalau udah nanggepin mau nolong hantu," gumam Risa.


Hantu perempuan itu lantas duduk di samping Ana.


"Mbak, maaf ya. Aku mau keluar bentar," ucap Ana.


Ana bangkit lalu keluar dari bus.


"Ana, mau ke mana?" tanya Risa


"Mau muntah!" Ana langsung melakukan tembakan maut dari mulutnya tepat di hadapan Jaya yang sedang berdiri di samping bus.


"Ana! Kenapa aku dimuntahin?!" Jaya bersungut-sungut.


"Maaf, Sayang. Aku nggak kuat nahan baunya tadi jadi eneg sendiri," sahut Ana.


"Mbak nya norak banget ya pake mabok gitu kaya anak TK diajak jalan-jalan jauh terus mabok," cibir kenek bus dari dalam bus.


"Ih, si Bapak mulutnya ember banget! Ngomong-ngomong kenapa bis nya nggak jalan-jalan, sih?" tanya Risa.


"Ya karena nggak bisa jalan, Mbak. Tuh, yang depan aja belum gerak maju. Kalau ini nis bisa terbang yang udah gerak dari tadi, hahaha," ucap si kenek mencoba bercanda.


"Ih, garing!" sungut Risa.

__ADS_1


Ana membeli air mineral dan tisu basah pada pedagang asongan sekitar yang lewat. Ia lantas membersihkan kain kafan Jaya.


"Coba kita tanya si mbak ini mau minta tolong apa," kata Risa.


Ana lantas kembali naik ke dalam bus bersama Jaya. Hantu perempuan itu lalu tersenyum ke arah Ana.


"Hiyyy … sumpah serem banget! Jangan senyum-senyum gitu, Mbak," tukas Ana yang bersembunyi di belakang Jaya.


"Kamu dilihatin orang-orang tau, Na, kalau kayak gini," kata Jaya.


"Habisnya serem tau! Mana bau anyir. Aku takut muntah," sahut Ana.


"Serem mana sama debt collector yang dulu ngejar kamu, Na," celetuk Risa.


"Sereman mereka, sih, hehehe," sahut Ana.


"Kalau aku yang ditanya, pasti bilang sereman Mbak Risa kalau lagi marah," ledek Bayu.


"Heh, kampreto delaroce! Nih ya, asal kamu tau ya, kalau aku lagi marah pasti aku masih cantik. Terus marahnya juga elegan kayak ibu psikolog anak gitu," kata Risa membual.


"Idih kasian amat itu kalau nanti ada yang konseling malah sawan ketakutan nggak mau balik konsul lagi," celetuk Ana.


"Diam, deh! Jangan mulai bercanda!" Risa mengerucutkan bibirnya untuk mencibir.


"Risa kalau lagi marah makin gemesin tau! Jadi pengen cium gitu," ucap Bayu menggoda Risa.


Jaya yang mendengar penuturan genit Bayu langsung mendorong bahu pemuda


itu. Bayu yang kehilangan keseimbangan karena terkejut akan dorongan tangan Jaya, malah balik mendorong Jaya sampai jatuh ke permukaan aspal jalanan di sampingnya.


"Sayang kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Ana panik pada Jaya.


Risa sampai menertawai. Ana lantas mengikuti sosok hantu perempuan tadi.


Ana kini melihat ada satu jasad pria sudah menelungkup di pinggir jalan. Dia juga melihat beberapa lembar daun pisang sudah menutupi tubuh jasad itu. Tak lama kemudian, suara sirine polisi dan ambulans datang bersahutan karena tiba bersamaan ke tempat lokasi. Juna turun dari mobil miliknya.


"Juna?!" pekik Ana.


"Loh, Ana masih di sini?" Juna balik bertanya.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2